Professionalism costs
was it? or is it?
Or am I using the same term for two different things? What I know is to build a professional image could cost something. Mostly it is so. I guess professionalism is not just the character or behaviour, but it goes also to the look. Naaa, could be just my wrong interpretation.
Building a trust, is it the same as building a professional image? Has anyone
Aku terbangun pertama kali sekitar jam 1/2 6, di luar hujan. Tapi baru bener-bener ON jam 7. Terus SMS-an sama si Sapi. Jam 1/2 8 sempet bangunin si Dedy, tapi ternyata abis itu dia tidur lagi. Dan si Ivan juga gak ada kabarnya. Apalagi Bagus sama Pandu.
Jam 8 aku mandi, abis itu nonton TV dan ngegosip bareng Sugeng dan Diani. Si Sugeng masak nasi goreng. Niat banget bok, mau masak nasi goreng pake bikin nasi dulu. Hihihi... Trus aku dan Diani makan nasi gorengnya (yang masak malahan enggak, hm... jadi curiga...). Abis itu aku dan Diani ketiduran di kursi tamu, sampe ada sesuatu menghalangi cahaya masuk ke ruang tamu: Dedy.
Aku, Ivan, dan Dedy pun berangkat ke Pasar Kebun Sayur, naik angkot. Aku sih hanya mencari tusuk konde dan toko kain Abdi saja. Gak mau bawa terlalu banyak ol-ol juga, bisa-bisa overweight bagasinya. Untungnya... aku bisa ingat lokasi toko yang baru sekali kukunjungi tiga tahun yang lalu tersebut. Pasarnya juga gak terlalu besar, coba kalo sebesar Pasar Senen, wah ya maap deh... bisa-bisa gak nemu kali.
Setelah itu kami naik angkot lagi ke BC buat makan siang. Di BC juga hanya sebentar, diajakin ke Gramed atau Matahari aku malas, selain malas berdiri-nya, terus yang begitu juga banyak di Jakarta, dah gitu lagi gak pake dandanan mall pula (yang terakhir ini, emang penting ya?).
Abis makan, nemenin Ivan nyari sepatu sebentar => prosesnya surprisingly bener-bener sebentar. Setelah itu minta pulang saja... hehe... mendingan main Privia, atau dengerin yang lainnya main Privia.
Kami naik angkot lagi, aku dan Ivan sudah siap-siap harus jalan kaki mendaki ke Gunung Pancur, tapi Dedy minta ke supir angkotnya supaya naik ke Gunung Pancur. Hmm, oke deh... gak jadi jalan kaki. Habis itu ngapain aja ya? Aku juga gak begitu ingat. Kayaknya gini sih... sempet simulasi Sekolah Piano. Aku menyebarkan cerita tentang les piano jaman Belanda yang gurunya galak-galak, kalo salah main, tangannya dipukul pakek penggaris. Karena gak menemukan penggaris, aku menggunakan centong nasi saja... hehehe... kemudian Ivan mengusulkan pake mandau saja. Wuah... itu namanya Sekolah Piano STPDN kali...
Setelah itu Ivan nonton TV, Dedy nguprek-nguprek software Teach Me Piano, sedangkan aku mainin The Disney Storybook.
Jam 5 Pandu datang, gantian Pandu yang main piano. Terus kita berusaha booking kepiting Kenari, tapi ternyata jawabannya gak niat gitu, katanya kepitingnya abis. Sampe nelpon 2 kali kitee... Trus Pandu dan Ivan ngambil motor dulu, Bagus datang. Ketika kita sudah siap semua... ada 1 masalah: helm-nya kurang 1. Pandu menawarkan untuk memakai saja helmnya yang katanya udah laaaaammmmaaaaaaa banget gak dipakai. Akhirnya dapet pinjeman helm dari pak Nyoto.
Oya, akhirnya gak jadi makan di Kenari, karena katanya gak ada kepitingnya. Kalo masih maksa ke Kenari, jadinya makan kursi dan meja kali ya? Trus ada 3 alternatif pengganti: Dapen, Teluk Bayur (dan aku pun mulai menyanyikan lagunya Tetty Kadi), dan Tambora. Dapen dan Teluk Bayur katanya dekat, tapi gak banyak porsi kepitingnya. Jadi pilihan jatuh ke Tambora, yang jauh. Sebenarnya anak-anak malasnya kalo tiba-tiba hujan saja. Bisa kacau balau tuh.
Di Tambora, kami memesan 3 PORSI Kepiting: Kepiting Saus Tambora yang mirip bumbu bali biasa, Kepiting Goreng Bawang Putih (Yummy...), Kepiting Lada Hitam. Aku gak ingat, siapa yang pertama mengusulkan untuk pesan 3, bukan 2 porsi saja. Yang jelas waktu kepitingnya datang, aku agak-agak cemas, ngabisinnya bisa gak ya?
Sebelum mulai makan kepiting, copot jam tangan, copot gelang, copot cincin dulu. Hehehe... Setelah itu... ssiiiikkkaaaatttt... lumayan... jadi belajar pake tang. Sekarang aku sudah lebih ahli, meskipun belum se-expert Bi atau yang lain. Menurut aku paling enak yang digoreng. Waktu ditugel, ctak!! dagingnya banyak dan bisa langsung disantap tanpa harus dipisahkan dari sekat-sekatnya. Menurut Ivan, yang digoreng memang lebih asik... karena lebih mudah digigit. Tapi aku tidak berani nyoba makan langsung gigit , gigiku kan payah... ntar bukannya kepitingnya yang tugel, malah gigiku yang tugel.
Selama makan kepiting, kita kena 3 kali mati lampu loh. Tapi Pandu sebagai master of pelistrikan tidak mau memberi saran-saran kepada yang punya toko untuk mengurangi beban listriknya. Dan akhirnya... kita mampu menghabiskan 1 1/2 ceting nasi dan 3 porsi kepiting.
Setelah itu kembali ke Pancur lagi. Tapi sebelumnya melakukan load balancing lagi... Aku yang tadinya dibonceng sama Ivan, ditukar dengan Dedy yang dibonceng Bagus. Dikhawatirkan si Bagus gak bisa naik ke Pancur kalo mbawa Dedy. Yang aku bingung (baru belakangan kepikir), kenapa gak sekalian aja dipindah ke Pandu ya, supaya Bagus gak bawa siapa-siapa...?? Hehe... maklum deh... RAM-nya dah penuh nih... penuh dengan kepiting. Plus prosesor juga udah panas, hari Sabtu-nya non-stop dinyalakan. Jadi lemot bok...
Di Pancur, karaokean dikit lagi, sampe hampir jam 10 kali ya? 5 menit setelah Dedy ndelosor di lantai... aku ngajak pulang. Di rumah Sugeng, sudah ada Ani dan anaknya. Si Ardi lagi dinas ke Banjar, jadi istrinya dititipkan di rumah Sugeng. Hari ini gak begitu lama... aku langsung naik tempat tidur.
Hari ini, kami ke Tenggarong. Cerita lengkapnya bisa dilihat di sini:
Tenggarong Trip @ Catatan Perjalanan GitaMalamnya baru jam 1/2 1 aku naik tempat tidur. Meskipun sudah sakit-sakit semua, tapi aku masih sempat SMSan sama Sapi. Dan lebih surprised lagi, waktu aku sudah tidur sekitar 1 jam-an, HPku bergetar, ternyata Sapi membalas SMS-ku. Weekkss... ngapain malam-malam gini mbakyu?
SMS Dini Hari
Jam 2 pagi aku bangun dan merogoh HP yang kuletakkan di "selokan" antar tempat tidur. Ha? Ada SMS? Ternyata SMS dari AirAsia, memberitahukan bahwa flight-ku diundur dari jam 11.15 menjadi 13.30. Paginya ditelpon lagi, ngasih tauk hal yang sama.
Leyeh-Leyeh
Enak juga... pagi-pagi di hari biasa gak ngantor. Bisa nonton TV, main piano, sarapan dengan baik dan benar (bubur oat, abon dengan banyak bawang goreng, dan kecap, hmm... baunya lebih sedap dari bubur ayam, rasanya? silakan dinilai sendiri saja...). Gak kerasa tauk-tauk udah jam 10.30.
Proses Ke Airport - Yang Ribet
Segera siap-siap, jam 11 kurang 10 sudah siap berangkat. Bapak nyuruh berangkat jam 10.30 sebenarnya, tapi menurut aku jam 11 juga cukup, aku males kelamaan ngegaring di airport, apalagi sekarang udah gak ada fasilitas gretongan dari Citibank. Biasanya ambil jalan tengah, hehehe... 10.45. Nah itu sudah 10.50 sebenarnya, harusnya langsung berangkat. Tapi ditawari makan siang, teringat bahwa gak dapet makanan gretong, aku memutuskan untuk makan dulu, tapi hi-speed lunch kali yee... Baru ambil nasi dan mau ambil kornet, HP-ku bunyi. Dedy?
Kemudian terjadilah... kedogolan akibat kurang konsentrasi, setelan volume HP-ku yang terlalu keras, juga sinyal telkomselnya Dedy yang naik turun. Ini versi yang aku dengar sambil makan:
"Git... bu Darso mau bicara.."
[Ha? Siapa pula bu Darso ini... apa urusannya dengan aku...di Region KTI ada ya yang namanya bu Darso??].
Dan "bu Darso" pun menawari aku untuk menginap di rumahnya. Aku bingung mau jawab apa, karena aku baru kali ini dengar ada yang namanya bu Darso, dan kenapa tau-tau dia menawari diriku menginap di rumahnya. Ya aku jawab sekenanya, intinya: liat nanti deh Bu. Aku mau mengenal bu Darso lebih jauh dulu sebelum memutuskan untuk nginep di rumahnya atau di mess.
Aku menyelesaikan my hi-speed lunch kira-kira bersamaan dengan menutup telepon dari bu Darso. Terus ke toilet dulu, karena mungkin perjalanan ke airport bakal macet, dan ketika kembali ke meja makan, HP-ku bunyi lagi. Gubrak... kapan berangkatnya nih... Setelah menunda pembicaraan dengan Ivan, baru aku berangkat.
Ternyata di jalan memang lumayan macet. Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Ivan, aku mikir-mikir tentang kedogolan-ku tadi. Bu Darso tadi sepertinya sudah tahu aku... siapakah itu? Terus aku teringat salah satu kalimatnya Dedy sebelumnya, katanya si Sugeng dan Diani mengundang untuk dateng ke selametan. Hmm... jangan-jangan bukan Darso tadi ya? Tapi Diani kali ya? Wuuuaaa... huhuhu... aku jadi gak enak... abis tadi aku bersikap gak kenal gitu.
Setelah melewati perjalanan yang rese' (di terusan mampang itu, berapa kali dibikin kriting sama sepeda motor), sampailah aku di terminal 1A. Setelah lapor diri, aku keluar lagi, maksudnya mau ambil uang di ATM Mandiri. Dompet mulai tiris. Kalo nanti gak ada yang jemput dan gak ada ATM di Sepinggan, aku gak punya uang untuk naik taksi. Namun... rupanya ATM-nya lagi kosong. Arrrgghhh... capek deh....
Ya wis, pasrah wae lah... semoga di Sepinggan ada ATM. Kemudian masuk ke ruang tunggu. Saatnya nelpon Dedy lagi... confirm tentang bu Darso tadi, karena mode-nya udah mode nunggu, bukan mode on-the-move lagi, setidaknya aku bisa lebih konsentrasi. Tapi alamaaakkk... si telkomsel Dedy gak bisa ditelpon lagi. Walah... piye iki... Jadi sempet nelpon Ivan dulu, minta tolong nyari Dedy, trus ngomongin soal 310 impiannya itu sebentar. Baru gak lama kemudian, si Dedy telepon balik.
Ternyata... emang betul, tadi itu Diani... aku langsung memohon-mohon maap gitu... sudah menyangkanya sebagai bu Darso. Hahaha... dan aku pun menerima tawaran untuk menginap di rumah Sugeng dan Diani.
My First AirAsia Experience
Jam 13.30 aku boarding, lumayan tepat waktu deh. Sedikit cemas, karena kursinya kan rebutan, gak pake nomor tempat duduk. Tapi untung deh, kalo orang lain kepengen duduk di deket jendela, aku lebih milih duduk di dekat gank. Karena penerbangannya lebih dari 1 jam, biasanya aku suka pengen ke toilet, untuk itu duduk di dekat gank lebih strategis.
Jarak antar seat cukup nyaman, gak kayak waktu naik Merpati atau Adam Air, yang mana kakiku aja gak bisa bergerak, apalagi orang-orang yang lebih tinggi dari aku. Trus AC-nya juga dingin. Meskipun tempat duduk tanpa nomor, ternyata loading penumpangnya gak lama, begitu penumpang dah komplit, langsung tutup pintu. Pesawatnya langsung mundur. Wuuaaa... berangkat deh aku...
Penerbangan hari itu lumayan kosong, aku aja dapat 3 seat untuk sendiri. Jadi bisa pindah-pindah, semula aku duduk di dekat gank, maunya sih tidur, tapi gak bisa tidur karena kedinginan, akhirnya aku pindah ke dekat jendela, biar kena matahari. Sepanjang jalan, aku baca novelisasi D'Bijis. Haha... ancur banget ternyata... agak-agak jijay bajay... Udah deket Balikpapan, melewati sekumpulan awan hujan yang tebel banget, agak tergojlak-gojlak heboh. Waduh... jangan-jangan di Balikpapan hujan nih. Hmm... mayan juga, misalkan gak dijemput, ATM-nya gak berfungsi, gak cukup uang buat naik taksi, HP-nya Dedy gak bisa di-call... ditambah hujan, aku harus gimana ya?
Jam 5 kurang 15 pesawat mendarat. Ternyata... di Sepinggan matahari bersinar cerah. Sampai-sampai aku harus melindungi mukaku dengan buku D'Bijis karena silaunya. Dalam waktu relatif singkat, koper-koper sudah tersedia di conveyor. Dan aku pun keluar, mulai celingak-celinguk kebingungan. Hehe... boong ding, gak ada acara kebingungan kok, begitu keluar dari hall kedatangan, langsung ada yang cengar-cengir di deket pagar pembatas.
Aku langsung dibawa ke rumah Sugeng, yang tetanggaan sama Ivan. Setelah berhaha-hehe, Dedy pulang. Terus aku bantu Diani dan Sugeng ngelap-ngelap perangkat makan sebentar, abis itu mandi. Sore itu acaranya selametan keluarga Sugeng. Untung saja aku pas bawa baju yang cukup appropriate untuk acara semacam itu (ini kan ceritanya liburan, biasanya aku hanya bawa t-shirt, t-shirt, dan t-shirt saja, paling resmi ya kaos polo).
Waktu orang-orang ngeliat ke piringku, mereka mengira aku malu-malu, makannya dikit. Hihi... padahal...sebenernya gak malu, dan makanannya pun yummy, aku juga gak lagi diet, tapi: "Aku nyisain tempat buat kepiting Kenari...hehehehe....". Ya, ini adalah kunjungan keduaku ke Balikpapan, di kunjungan pertama aku banyak menghabiskan waktu keluar masuk RSPB, karena gusiku bengkak, dan akupun gak makan kepiting. Terus terang saja... selama ini aku kurang lihai makan kepiting, mungkin karena kurang pengalaman. Aku sering kagum ngeliat Bi makan kepiting, keliatannya expert banget, dengan menggunakan tang segala. Sedangkan aku amatiran banget, gak pernah bisa mengambil banyak dagingnya. Makanya pengen latihan di kepiting Kenari, katanya kepitingnya gede-gede.
Anak Asuhku
Sebelum acara selesai, aku, Ivan, dan Dedy pamitan ke rumah Dedy. Nah ini diiaaaa.... yang kutunggu-tunggu: ketemu dengan anak asuhku. Hi my dear, how are you? Are you having a good time here? Miss you, miss our late night piano playings. Tapi ngomong-ngomong, yang duduk di depanmu ini... gak terus masuk angin ya? Bok, si Privia diletakkan tepat di bawah AC... kasian yang main dunk. Aku gak begitu peduli tadinya (maklum deh, dah biasa maen di tempat yang dingin, sumuk, berangin, bekas banjir, atau bahkan bau sekalipun), tapi terus si Dedy bilang: Kalo kedinginan matiin aja. Ha? Apanya yang dimatiin... tuing... aku melirik ke atas, doeng... oo... iya ya... tepat di bawah AC... :-P Kalo gini sih kemungkinan cedera akibat maen piano-nya bukan Carpal Tunnel Syndrome, melainkan Enter Wind...
Jam 10 aku dan Ivan pulang. Besok kan harus pagi-pagi. Waktu nyampe di rumah Sugeng, Diani udah setengah tidur. Tapi masih sempet ngobrol sebentar, gak lama Diani sudah pindah alam. Aku? Menurut teori seharusnya aku sudah ngantuk sekarang... tadi kan habis melakukan perjalanan dari Jakarta. Tapi aku malah nonton sinetron Wulan. Haha... padahal di Jakarta gak pernah blas nonton sinetron. Baru jam 1-an aku akhirnya pindah alam...
Sungguh mencengangkan... pulang dari jalan-jalan ke Balikpapan, yang penuh dengan kepiting, ikan bakar, juga dapet makan gratis dari Sugeng dan Diani, aku malah turun 2 kg. Yeah... kemaren sore nimbang, jreng-jreng: 51 kg, padahal sebelum berangkat aku sempat nimbang dan hampir mencapai angka 54 sepertinya (ya maklumlah... gak pake kacamata pas nimbang, meleset dikit gpp kan). Hmm... baru turun 2 kg, tapi sudah mulai terasa bedanya ketika berpakaian. Lebih banyak space-nya... Hahahaha...
Terus kemaren siang, sempet tidur siang, tapi baru sebentar (mungkin sekitar sejam) terus digagalkan oleh telepon yang bergetar, duh... tauk gitu di-silent teleponnya. Malamnya, jam 9 sudah masuk kamar, tadinya penasaran sama DVD JB, tapi baru selesai Biuti en de Bis sudah kumatikan saja.
Yang paling menyebalkan, jam 2 malam, aku terbangun karena sakit perut. Lari ke WC, terus setelah beberapa menit sempat kembali ke kamar, tapi baru duduk sebentar di tempat tidur, sakit lagi... lari lagi ke WC lagi, dan kali ini alhamdulilah sakitnya bener-bener hilang trus bisa tidur sampai pagi. Wualah... makan apa ya aku kemarin? Gak jelas sih... kayaknya gak ada yang harmful dalam 24 jam terakhir.
Di kantor, sepanjang hari aku ngantuk, apalagi udaranya lagi panas. Entahlah apa yang terjadi dengan AC Kwarnas yang kemaren dah diganti. Rasanya jadi capek gitu.. tapi surprisingly, bu Lisa bilang: You look fresher gita... Ha? Masa' sih? Hihihi... maybe I should give the credit to the holiday yaa... Despite the fresh look, I am feeling tired, just like my friends in Balikpapan. Ini namanya capek namun senang... Hmm, tidur cepet lagi kali ya? JB bisa besok-besok lagi. Kekekekekek....
God must be trying to give me some light.. otherwise it may be just a lovely coincindence.. Sat by a nice guy in class today.. smart, cute, very warm - n a moslem. We said hi to each other a...
You never know how meaningful your friendship with your girl friends are until you had the most unprecedented break up.. n before u know it ur sitting beside a Turkish moslem guy in a warm n cozy chinese restaurant surrounded...
Manyun
"Hi, und?"__"Und was?"__"Wie läuft's?"__"*Seufzt* Wie du siehst!"__"ja auch bei mir....Kaffee?"__"nee.."__"Schokolade?"__"Hab 9 stucks gegesen!"
Schon Frühling?!?! was hab ich im ganzletzten 6 Monaten getan??! Ich schreib noch kein Paper. Wieviel ? 16..20..40? Ich werde aufgeregt wenn ich ein für dieses Jahr schreiben kann. Und nun? noch 39 mehr yeeaahh! Ich brauche einen früheren
Tadi aku melarikan diri dari kantor. Pas jam makan siang sih... jadi gak terlalu bersalah kan? tapi balik ke kantornya sedikit molor. Pertama karena rada males beranjak dari Bakmi GM, dah gitu... ternyata macet pula di jalan. Di jalan aku nyanyi-nyanyi aja, mbuka buku yang baru aja kuterima di Bakmi GM, terus: "Baby mine... Don't you cry...".
Sampe di kantor jam 1/2 2. Baru 5 menit duduk dengan manis, pak bos besar melintas... terus: "Nanti jam 2 pada ke tempat saya ya, mau ngomongin aplikasi..." Huueee... telat 5 menit aja, bisa ketauan deh kalo melarikan diri... Terus pas nengok ke luar, walah... hujan bok... jadi kalo tadi telat, bisa kehujanan juga... Nyaris ajah...
Kenapa ya? Sudah 2-3 tahun yang namanya UAN selalu jadi hal menyeramkan? Tahun lalu banyak yang gak lulus, bahkan ada satu sekolahan yang peserta UAN-nya gak lulus semua. Tahun ini sampe terjadi kebocoran soal. Denger-denger kunci jawabannya dijual dengan harga jutaan rupiah. Apakah segitu sulitnya ya? Ataukah emang standarnya ketinggian, seharusnya anak SMA gak diuji dengan soal sesulit itu? Atau standarnya baik-baik saja, tapi para pendidik gak mampu untuk membuat para siswa untuk memenuhi standar tersebut?
Aku sih gak berkompetensi untuk menjawab semua pertanyaan itu. Yang pasti kasian aja ngeliatnya, usaha selama 3 tahun hanya dihargai selama beberapa hari ujian itu, dah gitu entah apa yang salah, ternyata banyak yang gak lulus, terus dicap sebagai anak yang (maap) bodoh sama seorang pejabat. Jadi mohon dimengerti motivasi dari anak-anak yang rela ngeluarin uang untuk beli kunci jawaban. Siapa sih yang pengen dibilang (maap lagi) bodoh? Pak pejabat yang bilang "bodoh", "malas", "gak usaha" tadi pasti marah kan kalo dibilang bodoh? (sebenernya aku gak ingat pastinya yang mana yang dia bilang, tapi intinya sih gitu deh...)
Gara-gara UAN heboh ini, aku jadi teringat jaman SMU dulu. Mau berbagi cerita dan tips nih...
Jaman aku SMU dulu, EBTANAS (yang sekarang bermetamorfosis jadi UAN) bukan sesuatu yang menakutkan. UMPTN lebih menakutkan kok... Apalagi untuk seseorang yang pengen banget dapet sekolahan yang enak-biaya-hemat-dekat-rumah-berhawa-dingin-dan-di-sekre-psm-nya-ada-piano-nganggur.
Bukan berarti kita merendahkan EBTANAS loh, klo gak lulus EBTANAS gak bisa ikut UMPTN juga kan... Mayoritas dari kita gak mempersiapkan diri KHUSUS untuk EBTANAS saja, karena persiapan EBTANAS sejalan dengan persiapan UMPTN. Sebenernya intinya kan ya belajar-belajar juga... sekalian gitu loh...
Ada juga temen-temen yang gak begitu pede bahwa mereka bisa mengerjakan sendiri soal-soal EBTANAS, tapi mereka gak sampe desperately gak pede sehingga nekat membeli kunci jawaban. Aku yakin, mereka bisa ngerjain sendiri tanpa ada bantuan dari yang lain, tapi namanya orang gak pede, ya sudah ngerasa kalah dulu sebelum perang, apalagi teman-teman yang mau membantu tersedia di depan mata. Untuk adik-adik SMU: Kalaupun harus kepepet terjadi kerja sama antar individu... yang paling penting harus ADIL, KOMPAK, dan HATI-HATI.
Maksudnya adil adalah semua orang harus kebagian. Ini untuk mencegah adanya pengkhianat di antara teman-teman yang tiba-tiba ngadu ke pengawas.
Maksudnya kompak adalah semua orang harus mau terlibat dalam penyebaran jawaban. Dulu kelasku sudah punya sistem, yang sudah berlatih selama hampir satu tahun. Untuk bapak-ibu guru: Itu dia kelemahannya pengaturan tempat duduk berdasarkan urutan abjad. Dari awal catur wulan 1 sampe EBTANAS, urutan duduk gak pernah berubah, jadi hirarki penyebaran contekan juga tetap.
Tapi... meskipun sudah terlatih dari ulangan ke ulangan dengan sistem penyebaran contekan tertentu, menyebarkan contekan di EBTANAS jauh lebih berisiko daripada di ulangan biasa atau ulangan umum. Kalo di ulangan biasa, pengawasnya adalah guru kita sendiri, yang pastinya mereka pengen kita semua lulus kan? Kalo sampe kertas contekan itu ketahuan, kita bisa hanya memberikan our angelic smiles dan masalah pun selesai. Tapi kalo EBTANAS, wah pengawasnya kan guru dari sekolah lain, bisa jadi gak kenal ampun... Jadi kita harus ekstra HATI-HATI. Jangan kebanyakan main mata atau isyarat-isyarat lainnya dengan teman, ntar bisa ketahuan. Karena sistem sudah terbentuk sejak awal, by the time of EBTANAS kita sudah saling mengerti tanpa harus isyarat-isyaratan. Dah gitu, bukti-bukti pun harus segera disingkirkan begitu ujian selesai. Kertas contekan harus dirobek-robek terus langsung dibuang.
Soal gimana caranya mengirim ke teman, harusnya adik-adik SMU jaman sekarang lebih inovatif, jadi gak perlu diceritain lagi deh. Kalo dulu sih... kadang-kadang iseng juga, pengen ngerjain temen... tisu yang seolah-olah ada ingusnya pun dipake buat bungkus kertas contekan. Huahahaha...
Nyontek adalah salah. Aku tidak pernah terlibat lagi setelah lulus SMU (kecuali waktu BPS kali ya?). "Sistem komunikasi" di kelasku itu terakhir digunakan ketika EBTANAS. Hal tersebut adalah salah satu yang menambah indah masa SMU. Itu adalah bentuk kenakalan yang kuturut terlibat di dalamnya semasa SMU. Kadang-kadang, ketika bertemu dengan teman sekelas di SMU, kami masih mentertawakan kenekatan kami dalam melakukan manuver-manuver tersebut di EBTANAS.
Tanpa manuver-manuver itu, bukan berarti si gak pede gak bisa ngerjain ujiannya, yang aku tahu sih teman-teman yang gak pede itu sudah ngerjain sendiri, dan ketika menerima kertas contekan, mereka menggunakannya untuk mencocokkan jawaban. Mereka juga selalu sadar bahwa si pemberi contekan juga manusia yang dapat berbuat salah, sehingga jawaban yang disebarkan belum tentu benar. Si pemberi contekan juga harus selektif dalam memberikan contekan, sebaiknya hanya di pelajaran-pelajaran yang memang "impossible" saja.
Satu hal positif yang dapat diambil dari kenakalan ini adalah teamwork-nya, dimana setiap individu memegang peranan penting dalam menjamin sampainya kertas contekan ke semua tangan yang memang harus menerimanya.
Buat adik-adik calon peserta UAN yang tergolong sebagai "si gak pede": teamwork itu penting, teman-teman kalian adalah aset kalian. Mungkin bukan sebagai sumber contekan atau sejenisnya, tapi mereka bisa juga digunakan untuk mengajari kalian supaya menjadi lebih mengerti dengan menggunakan bahasa yang berbeda dengan bapak-ibu guru.
Buat adik-adik yang tergolong "si pemberi contekan": bagi-bagi dunk... Gak harus berbagi contekan, buat yang gak pengen nakal. Tapi jangan pelit-pelit kalo ada temen yang nanya pelajaran, ilmu yang dibagi itu gak akan berkurang. Malahan ketika kita membagi ilmu, kita bisa mendapatkan feedback.
Buat pemerintah: plis dunk... dunia pendidikan lebih diperhatikan lagi, jangan hanya menyalahkan sekolah, menyalahkan siswa, dst-nya saja... siapa tauk memang soalnya yang gak bermutu... atau malah kurikulumnya memang aneh...
Semoga UAN tahun ini hasilnya baek, meskipun ada bocor soal segala. Amiiinnn...