Surprise!!
Tangan kanan posisi melambai.
Tangan kanan nunjuk-nunjuk ke lantai.
Tangan kanan nunjuk-nunjuk ke tangan kiri.
Tangan kanan kembali ke posisi melambai, badan bergoyang ke kiri dan kanan seperti pohon kelapa tertiup angin.
Itu bukan jogetnya John Travolta, bukan juga joget Inul, apalagi senam kesegaran jasmani. Tapi... itu adalah aku lagi jalan di Plasa Semanggi sambil nelpon, tiba-tiba ngeliat si GENUS lewat, sehingga dengan PANIK-nya langsung berlari dan ngerem mendadak di depan si Genus (ini yang menciptakan posisi galasin), kemudian membuat gerakan-gerakan dengan bahasa tarzan tadi. Hehe...."panik" adalah nature-nya si Genus yang menular ke orang di sekitarnya.
Terjemahan bebasnya:
Tangan kanan dalam posisi melambai: “Haiii… It’s me!!â€
Tangan kanan nunjuk-nunjuk ke lantai: “Wait a moment ya, jangan kabur dulu.â€
Tangan kanan nunjuk-nunjuk ke telepon di tangan kiri: “Let me finish this call first ya.â€
Tangan kanan kembali ke posisi melambai, badan bergoyang ke kiri dan kanan seperti pohon kelapa tertiup angin: “What a pleasant surprise. Senangnya… Akhirnya ketemu juga…â€
Oya, perkenalkan... Genus adalah temanku anak PSM-ITB sekaligus anak IF-ITB angkatan 98. Beberapa minggu lalu dia baru pulang dari bertapa di negeri bendungan (yang penuh dengan dam-dam-dubidubi-dam-dam). Waktu aku baru aja balik dari Yogya, dia nelpon ngajak ketemuan dalam 2 minggu, karena pas lagi di Jakarta. But... ternyata selama 2 minggu itu aku ribet banget. Jadi 2 minggu itu akhirnya expired deh... Jadi... gimana gak heboh begitu gak sengaja ngeliat dia di Plangi.
Yah, pertemuan yang tak terduga dengan anak PSM, kadang membuatku kembali ke my-old-self yang heboh banget (...kalo dibandingkan dengan sekarang). Jadi inget... pernah ketemu secara tidak sengaja dengan NDC di Giant Bandung Supermall, dan reaksiku adalah berteriak dengan tidak selayaknya manusia bersuara alto. :-D
my people, my friends, …my enemies. Once, I wa…
Play Mozart, Get Rid of Your Bad Mood
Kadang-kadang kita lagi kusut banget, pengen cerita sama orang laen, tapi orang-orang yang biasa kita waduli lagi unavailable karena berbagai alasan Atau kasus lain, kita lagi kusut banget juga, tapi… gak jelas alasannya apa, jadi sami mawon kan, ujung-ujungnya gak bisa cerita juga.
Nah, kira-kira awal minggu ini, aku mengalami hal seperti itu… Pada saat yang bersamaan, kebetulan lagi penasaran sama Piano Sonata No.15 in C Major-nya Mozart. Hari Minggu sebelumnya, lagu itu dipake di pentas balet Namarina Youth Dance Company. Kebetulan lagi… hari itu lagi hari Extravaganza, artinya… aku gak bisa maen di piano Petrof yang posisinya di depan TV dan suaranya terdengar sampai ke tetangga.
Mulailah aku main Sonata tadi di Privia. Jreng… jreng… jreng… Dan ternyata… loh kok, kusut dan bete yang gak jelas itu berkurang. Rasanya menyenangkan main lagu itu. Trus aku mainkan lagi lagu lain di Sonatina Album: Sonatina-nya Kuhlau dan Clementi yang lebih sederhana, juga Haydn. Sampe akhirnya bad mood tadi menguap entah kemana.
Heran jadinya… aku bukan penggemar lagu klasik. Lebih senang memainkan lagu-lagu pop, bahkan sudah sebulan ini aku iseng ikutan les piano pop. Tapi kenapa justru Sonata-nya Mozart dkk yang bisa menghilangkan kebeteanku?
Lucunya… aku lebih senang main Sonata-Sonatine itu di Privia dibandingkan di Petrof. Tumben-tumbenan… Biasanya aku lebih senang Petrof, karena emang Petrof asli kan, sedangkan Privia adalah artificial piano…
Kenapa untuk kasus ini aku pilih Privia? Karena aku ini pianis curang. Hehehe… Privia itu jauh lebih ringan dari Petrof, sehingga waktu main tangga-tangga nada yang ada di dalam Sonata tadi jadi lebih gak berusaha, lebih gak pake mikir, dan terdengar lebih ringan. Jari-jariku kan gak terlatih…. :-D
Trus di Privia bisa lebih bebas mau main fortissimo (keras banget bok…) kayak apa juga, asalkan master volume-nya diturunkan, gak usah takut diprotes tetangga. Memainkan akhiran frase musik yang GONJRENG fortissimo atau bahkan imut-imut pianissimo juga turut berkontribusi memperbaiki mood loh. Ketika kita mencurahkan power kita untuk ber-fortissimo-ria, pada saat itu emosi kita ikut tersalurkan. Atau ketika kita memainkan sesuatu yang imut-imut lembut, rasanya semua jadi begitu indah…
Ternyata Sonata/Sonatina yang sederhana tapi cukup menantang bisa memperbaiki mood atau membantu meluruskan yang kusut-kusut dan mengurangi kebetean yang ada. Kalo maen lagu yang terlalu berat dan sulit, malah bisa jadi stress kali, atau kalo terlalu simple… malah jadi kebosanan.
Oya, Sonata-nya Mozart itu punya nickname: Sonata Semplice. Semplice kayaknya artinya “simple†deh. Ya cocok sih, lagu itu memang sederhana (kedengarannya), apalagi kalo dibandingkan karyanya Mozart yang lain. Hehe… tapi kalo soal memainkannya sih kriting juga bok…
Jadi… coba temukanlah lagumu sendiri… kalo lagi bad mood, lagi bete, lagi kusut, nyanyikan/mainkanlah lagu itu untuk mengusir segala kebetean tersebut…
Single vs Double
Uuwaaahhhhh Dankee!!!! Hihihihi hehehehe.. mmmmm…
Rambutan Bang Napi
Berhubung mejaku emang sangat homy buat mangkal anak-anak BPS TI yang dinas kemari, maka rambutan itu juga mangkal di atas mejaku. So... aku (dan laptopku si Dell-Takodel-Kodel) lah yang paling banyak menikmati rambutan bang Napi tadi. Yang lain cuma sambil numpang lewat aja ngambilin rambutannya (eh tapi banyak juga loh... ada mbak Ray, Dudut, mas Tedjo, bu Elida, pak Hestu, bahkan kak Uki juga ikutan makan).
Rambutannya bener-bener sip... rambutan rapiah, ngelotok banget, bijinya kecil-kecil, manis lagi. Sampe-sampe kuku tanganku yang baru paginya dipotong (maklum... sorenya mau les piano, harus bersih dan rapi kukunya) jadi perih-perih.
Keesokan paginya... Wualaaahh.... aku mules-mules... dalam perjalanan ke kantor pun aku milih tidur sambil mlungker sampe-sampe kemejaku lecek-lecek... Wah... gawat nih, kebanyakan makan rambutan kali yeee.... siangnya hujan turun dengan deras. Aku sampe males keluar... ngebayangin kalo ikutan pak Unggul atau pak Yus keluar ke Dephub, kayaknya bakalan tambah mules kena dingin... Jadinya makan siangku cuma kue bolu rasa keju aja hari ini...
Huhuhuy... Bang Napi... Rambutanmu yummy tapi bikin mules... atau karena aku gak cuci tangan dulu ya sebelum makan rambutan? Abis megang laptop, abis megang galon aqua, abis megang koran, terus langsung makan rambutan...??
Untung Aku Bukan Pujangga…
Kalo aku jadi penulis novel, mungkin bakalan membuat ceritanya gak utuh, seperti tokoh-tokoh sinetron yang suka aku cela-cela. Di sinetron itu umumnya tokohnya tidak seperti manusia seutuhnya: gak seimbang. Kalo yang namanya manusia dalam kehidupan sehari-hari itu kan punya sisi baik, tapi ada juga sisi buruknya. Kalo di sinetron itu kebanyakan tokohnya unbelievable banget. Yang jahat ya jaaahhhaaattt... banget, yang baik ya baaaiiikkk banget, sampe-sampe terlalu lemah dan gak bisa melawan ketika tertindas.
Terus ceritanya juga cenderung kayak fairy tale. Kalo tadinya menderita, atau miskin, terus di akhir film... doeng-doeng... tau-tau udah makmur, entah itu karena terima warisan, atau karena penyebab lain. Jarang banget yang cerita ttg juragan lele yang tadinya gak punya apa-apa, terus setelah bertahun-tahun membangun bisnis lele dari 1 kolam saja akhirnya sekarang jadi konglomerat lele [sampe sekarang masih terkagum-kagum, padahal ketemu the real life person-nya udah tahun 2001].
Tulisanku juga gak komplit, hanya bercerita ttg sisi menyenangkan dari kehidupan, aku cenderung gak menuliskan hal-hal yang kurang menyenangkan, gak seperti kehidupan seutuhnya. Kenapa? Gak tauk pastinya kenapa... Mungkin karena aku memang ingin selalu menganggap bahwa kehidupan ini menyenangkan. Kalopun ada hal yang tidak menyenangkan buat aku, aku coba untuk membuatnya jadi menyenangkan dengan memandangnya dari sisi lain (humor misalnya), sedangkan hal-hal yang tidak menyenangkan yang kulihat terjadi di sekitarku (tidak kualami sendiri), gak tega untuk menuliskannya kembali.
Peristiwa kurang menyenangkan yang ditulis untuk kutertawakan sendiri contohnya adalah: tragedi orkestra mbak WK, ancaman bom di kwarnas. Hal-hal kurang menyenangkan lainnya, yang gak mungkin ditulis dari kacamata humor, akhirnya gak masuk ke dalam blog-ku. Kalopun aku nyoba menuliskannya (contoh: tentang gusuran kaki lima di jalan buncit), hasilnya gak memuaskan gitu loh, karena gak tega sama obyeknya, gak tega juga sama yang baca.
Pujangga-pujangga atau penulis-penulis jagoan umumnya bisa membuat tulisan yang mengena, yang menyentuh para pembacanya... mereka mengambil bahan juga dari peristiwa-peristiwa kurang enak yang terjadi pada diri mereka atau lingkungan sekitar mereka (gak cuma yang enak-enak aja to...). Kemudian mereka mengekstrak hikmah, pelajaran, dan makna dari kejadian tersebut. Itu yang membuat kisah mereka menjadi komplit, utuh, seimbang.
Kesimpulannya... untung saja aku menulis memang hanya untuk iseng-iseng, ada yang baca ya sukur... ga ada yang baca ya udah. Lebih banyak berisi laporan, pikiran gak jelas, untuk hiburan pribadi semata, ntar kalo udah agak lama kubuka-buka lagi untuk diketawain sendiri (tapi belum gila loh...). Kalo tulisanku jelek, garing, kurang mengena, atau malahan mirip source code program, ya dilarang protes, karena ini memang blog-nya seorang praktisi IT (tapi tidak berbicara tentang IT), bukan blog-nya seorang pujangga... Weekkkk... :-P
6 months later ….
Yup sudah 6 bulan aku mulai hidup baru di Jakarta. Bukan hanya baru pindah tempat tinggal, tp yang lebih terasa adalah environtment baru. Dahulu aku sangat antipati dengan Jakarta. Aku selalu berpendapat Jakarta bagus untuk cari uang tapi tidak untuk stay. Makanya aku kerja di Bandung, tp sering mroyek di Jakarta…J. Ini nampaknya baik untukku tapi tidak baik untuk mahasiswa yang ku ajar (I really sorry for this guys). Bagaimana tidak? Aku harus rajin mengganti jadwal kuliah demi jadwal meeting di Jkt. Atau setidaknya persiapan mengajarku jadi kacau dengan urusan Jkt ini.
Sekarang aku pindah haluan ke Swasta. Belum genap 5 bulan di sebuah konsultan IT internasional, aku pindah ke salah satu perusahaan di area “Fast Moving Consumer Good – FMCGâ€. Akhirnya aku termasuk golongan “kutu loncat†juga (aku memaki diriku sendiri untuk ini), meski aku masih merasa melakukan ini semua dengan tidak semena-mena (terhadap perusahaan yang kutinggal). Mungkin juga ini hanya pembenaranku saja.
Di lain sisi, menurutku profesi di bidang IT memang sedang jadi primadona. Godaan untuk “mendapatkan lebih†selalu akan datang (setidaknya 2-4 tahun kedepan).
Ini adalah sisi ketiga dalam profesiku. Sisi pertama, aku menjadi orang yang memandu rekan lain beranjak dari bangku kuliah ke tempat kerja. Aku banyak bergumul dengan ilmu2 yang perlu dipersiapkan. Sisi kedua aku terjun langsung ke dunia industri/swasta, menjadi seorang konsultan IT. Yah, aku setuju dengan pak KK (Menristek kita sekarang), pekerjaan konsultan adalah memberitahukan seseorang tentang “jam berapa sekarang†dengan jam tangannya. Jadi kerjaan konsultan hanya melirik jam tangan orang yang bertanya….=))
Sisi ketiga yang sekarang mulai kutekuni adalah sebagai unit IT di perusahaan yang menggunakan IT untuk mendukung bisnisnya. Dulu perusahaan jenis ini jadi klien ku. Sekarang akulah klien itu…:))
Aku mulai menikmati alur hidupku di Jkt, meski aku masih dalam tahap menata kembali semuanya di sini. Ada keinginan untuk tetap berkontribusi langsung untuk dunia IT di negeri ini, entah melalui pendidikan atau yang lain (aku belum menemukan caranya). Aku punya perhatian besar untuk Open Source Software. Bukan untuk fanatik atau anti siapapun, tapi bagaimana mengambil manfaat ekonomis, sosial dan pendidikan dari OSS ini.
