Yogya Lagi: Borobudur & Guide Amatiran

Sempet-sempetnya ke Borobudur dulu sebelum ke kondangan. Karena rekor Borobudur-ku sudah 4 kali (pas gerhana matahari tahun 1983, pas bareng SMP 41, bareng bapak ibu lagi tapi lupa kapan, bareng si Irva tahun 2005), jadilah aku dijadikan guide amatiran buat menjelaskan ke pak Salam.

Nah, terus pak Salam kan nanya, relief yang di tingkat Rupadhatu itu ceritanya apa. Hmmm... aku hanya ingat mas Ghani pernah menjelaskan Ramayana yang gak berakhir dengan bahagia itu, tapi itu dimana ya? Oh, ternyata di Prambanan. Jadi... kalo di Borobudur bukan Ramayana, artinya relief Borobudur bercerita ttg Mahabarata. Mulai deh aku bercerita ttg Mahabarata, ttg Kurawa dan Pandawa yang sepupuan dan berebut tahta. Terus komentarnya: kayak film India ya... aku tambahin aja: Ya, memang Mahabarata juga dari India...

Ternyata bok... nyampe di Jakarta, baru Ndoro bilang kalo Borobudur itu relief-nya bercerita ttg Sidharta Gautama. HUUUAAAA.... jadi salah dunk Mahabarata-nya?! Setelah aku ingat-ingat lagi, Mahabarata itu kan cerita agama Hindu, sedangkan Borobudur adalah candi agama Buddha. Gak matching bok!! Huahahaha... dasar amatiran...!!!

Yogya Lagi: Preambul

Yogya, ketiga kalinya dalam 3 bulan. Hehehe... Kali ini gak aku tulis secara sekuensial. Karena perjalanan ke Yogya kali ini cukup unik (tapi bukankah setiap perjalanan itu selalu unik ya?). Aku bakalan menulis per topik sajah...

Yogya Lagi: Preambul

Yogya, ketiga kalinya dalam 3 bulan. Hehehe... Kali ini gak aku tulis secara sekuensial. Karena perjalanan ke Yogya kali ini cukup unik (tapi bukankah setiap perjalanan itu selalu unik ya?). Aku bakalan menulis per topik sajah...

Shopping for Courses

The course listing page and the automated wait list portal maybe be the most visited site rite now at Schulich as students are extensively setting up their classes for the term. The most popular question ofcourse is which course ru...

Mana Sih Toiletnya?

Salah satu frequently asked question yang menjadi joke di antara para penggemar Star Trek adalah: “Where are the toilets on the starship Enterprise?".

Sepanjang 7 season Star Trek: The Next Generation aku gak pernah sekali pun ngeliat Captain Picard atau Commander Riker tiba-tiba kebelet dan pergi ke toilet. Bahkan gak satupun pintu di USS Enterprise yang tertangkap kamera bertuliskan "restroom". Di Star Trek: Voyager juga aku belum menemukannya. Katanya sih di Star Trek V dan si Star Trek: Enterprise pernah ada, tapi aku belum nge-check.

Hal yang jadi sekedar lelucon di Star Trek itu, kini terjadi di dunia nyata, di kota Jakarta ini, tepatnya di: Halte Bus TransJakarta!!

Sudah sejak lama aku bertanya-tanya: halte busway itu ada WC-nya gak sih? Terus kalo yang jualan tiket pengen pipis gimana ya? Tadinya aku pikir WC-nya itu berada di balik loket... kecil, claustrophobic, tapi cukup lah buat menunaikan kebutuhan alamiah manusia. Tapi aku gak pernah bener-bener memperhatikan. Pertama, kalo lagi naik mobil, gak pernah berhenti cukup lama di samping halte busway. Kedua, kalo lagi naik busway, pasti pikirannya adalah gimana caranya bisa cepet kebagian bis, dan pas dapetnya yang gak terlalu crowded gitu. Baru akhir-akhir ini, setelah di Buncit dibangun jalur busway beserta halte-haltenya, aku memperhatikan halte-halte tersebut. Akhirnya... WC Halte Busway menjadi topic diskusi di saat macet-macet.

Ternyata... halte busway itu ada yang memiliki WC. Untuk halte busway berukuran besar yang ada di Kuningan, WC-nya terletak di bawah tangga jembatan penyebrangan yang di tengah, belakang-belakangan sama ruang genset. Tapi... ada juga yang gak punya WC sama sekali. Contohnya halte yang terletak di depan kantor DPP PKS jalan Buncit. Haltenya minimalis, bukan interiornya bergaya minimalis loh, tapi tempatnya tuh super irit. Penjualan tiket dilakukan di loket yang terletak di "lantai 2" halte. Nah... Ndulo menebak bahwa mungkin saja WC-nya ada di "lantai 2". Tapi kayaknya gak mungkin... karena gak ada saluran airnya dari "lantai 2" ke bawah.

Gile banget kan... terus si mbak-mbak yang jualan tiket, harus kemana kalo pengen menunaikan kebutuhan alamiah tadi? Gak kebayang deh... Rada-rada kurang ajar memang, busway itu kan dibangun katanya dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan untuk penduduk Jakarta, tapi kenapa kok gak memperhatikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja deh... para pegawainya gak diberi fasilitas kerja yang cukup. Sepele memang: Toilet, tapi itu merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia kan. Gak ada toilet, artinya minum lebih sedikit, artinya... ya gak sehat.

Kalo Captain Picard kebelet, dia tinggal berbuat kesalahan, si director bilang "Cut!", dan kemudian Patrick Stewart pergi sebentar ke restroom terdekat. Sayangnya halte busway itu bukan sound stage seperti halnya Starship Enterprise, dimana ketiadaan toilet menjadi bahan tertawaan para fansnya...

Mana Sih Toiletnya?

Salah satu frequently asked question yang menjadi joke di antara para penggemar Star Trek adalah: “Where are the toilets on the starship Enterprise?".

Sepanjang 7 season Star Trek: The Next Generation aku gak pernah sekali pun ngeliat Captain Picard atau Commander Riker tiba-tiba kebelet dan pergi ke toilet. Bahkan gak satupun pintu di USS Enterprise yang tertangkap kamera bertuliskan "restroom". Di Star Trek: Voyager juga aku belum menemukannya. Katanya sih di Star Trek V dan si Star Trek: Enterprise pernah ada, tapi aku belum nge-check.

Hal yang jadi sekedar lelucon di Star Trek itu, kini terjadi di dunia nyata, di kota Jakarta ini, tepatnya di: Halte Bus TransJakarta!!

Sudah sejak lama aku bertanya-tanya: halte busway itu ada WC-nya gak sih? Terus kalo yang jualan tiket pengen pipis gimana ya? Tadinya aku pikir WC-nya itu berada di balik loket... kecil, claustrophobic, tapi cukup lah buat menunaikan kebutuhan alamiah manusia. Tapi aku gak pernah bener-bener memperhatikan. Pertama, kalo lagi naik mobil, gak pernah berhenti cukup lama di samping halte busway. Kedua, kalo lagi naik busway, pasti pikirannya adalah gimana caranya bisa cepet kebagian bis, dan pas dapetnya yang gak terlalu crowded gitu. Baru akhir-akhir ini, setelah di Buncit dibangun jalur busway beserta halte-haltenya, aku memperhatikan halte-halte tersebut. Akhirnya... WC Halte Busway menjadi topic diskusi di saat macet-macet.

Ternyata... halte busway itu ada yang memiliki WC. Untuk halte busway berukuran besar yang ada di Kuningan, WC-nya terletak di bawah tangga jembatan penyebrangan yang di tengah, belakang-belakangan sama ruang genset. Tapi... ada juga yang gak punya WC sama sekali. Contohnya halte yang terletak di depan kantor DPP PKS jalan Buncit. Haltenya minimalis, bukan interiornya bergaya minimalis loh, tapi tempatnya tuh super irit. Penjualan tiket dilakukan di loket yang terletak di "lantai 2" halte. Nah... Ndulo menebak bahwa mungkin saja WC-nya ada di "lantai 2". Tapi kayaknya gak mungkin... karena gak ada saluran airnya dari "lantai 2" ke bawah.

Gile banget kan... terus si mbak-mbak yang jualan tiket, harus kemana kalo pengen menunaikan kebutuhan alamiah tadi? Gak kebayang deh... Rada-rada kurang ajar memang, busway itu kan dibangun katanya dengan tujuan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan untuk penduduk Jakarta, tapi kenapa kok gak memperhatikan Kesehatan dan Keselamatan Kerja deh... para pegawainya gak diberi fasilitas kerja yang cukup. Sepele memang: Toilet, tapi itu merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia kan. Gak ada toilet, artinya minum lebih sedikit, artinya... ya gak sehat.

Kalo Captain Picard kebelet, dia tinggal berbuat kesalahan, si director bilang "Cut!", dan kemudian Patrick Stewart pergi sebentar ke restroom terdekat. Sayangnya halte busway itu bukan sound stage seperti halnya Starship Enterprise, dimana ketiadaan toilet menjadi bahan tertawaan para fansnya...

Tahun Baru Tampilan Baru

Saatnya mengganti tampilan blog ini. TAAADDDAAA....

Sebenarnya niatnya untuk background-nya fotonya gak segede itu, tapi pas ngoprek di Photoshop, gak nyadar kalo gambarnya di-scale-down. Pas ditempelin ke template, DOOEEENNGG... gede banget... tapi karena belum keluar dari batas sidebar column, jadi biarin aja deh, males lagi mau ngoreksi...

Komentarnya plis...

Tahun Baru Tampilan Baru

Saatnya mengganti tampilan blog ini. TAAADDDAAA....

Sebenarnya niatnya untuk background-nya fotonya gak segede itu, tapi pas ngoprek di Photoshop, gak nyadar kalo gambarnya di-scale-down. Pas ditempelin ke template, DOOEEENNGG... gede banget... tapi karena belum keluar dari batas sidebar column, jadi biarin aja deh, males lagi mau ngoreksi...

Komentarnya plis...

Bad Hair Year

Bad hair day... Hampir setiap orang pernah mengalaminya... suatu hari ketika rambut susah diatur, terlihat jelek banget, berantakan, acak-acakan, dst...

Aku mau cerita ttg rambut, plus cita-cita indahku tentang rambut. Mungkin banyak juga orang yang mengalami hal serupa: bermasalah dengan rambutnya sendiri.

Rambutku itu... aku kurang yakin masuk kategori apa... Lurus? Kalo kriteria rambut lurus itu seperti di iklan sampo, jelas gak termasuk kategori lurus. Kriting? Gak juga, apalagi kalo Edi Brokoli referensinya. Ikal? Ikal itu kan kriting yang gede-gede ya? Hmm... mungkin rambutku itu berada di antara ikal dan lurus. Gak lurus banget, juga gak ikal banget. Cita-citaku adalah pengen punya rambut seperti iklan sampo, yang lurus dan jatuh, biar gak perlu repot-repot ngeblow, gak perlu khawatir ada rambut bandel yang keluar-keluar kesana-kemari.

Dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini rasanya penuh dengan bad hair day deh... Tahun lalu aku masih bisa keluar rumah dengan rambut digerai (lihat foto).. Sedangkan tahun ini, hampir tiap hari gak pede sama rambut sehingga selalu dikuncir atau ditarik ke atas dengan jepit, hanya digerai setelah pulang dari salon. Akhir-akhir ini rasanya sih rambutku mudah sekali lepek. Baru sehari keramas, wangi samponya aja masih nempel di rambut, tapi rambutnya sudah lepek. Belum lagi adanya poni yang dilematis. Waktu minta dibikin poni itu, aku lagi bosan dengan potongan tanpa poni, awalnya sih asik pakek poni yang disisir ke samping tipikal cewek Bandung, tapi begitu poni itu bertambah panjang... mulai deh timbul masalah... yang poninya mumbul kayak jamur lah, yang jatuh-jatuh terus totally nutupin jidat, pokoknya untuk jadwal trimming selanjutnya, aku gak mau pakek poni khas cewek bandung lagi...

Ini dia model rambutku sepanjang tahun ini... yang membuat tahun ini menjadi Bad Hair Year...

Model Emak-emak
Dari semua foto dimana rambutku disisir seperti itu, ternyata foto di Java Jazz yang paling emak-emak (2 yang pertama). Waktu itu, karena gak mau terganggu sama urusan rambut, emang sengaja mengikat ke atas, tapi cara nyisirnya entah gimana jadi kayak emak-emak. Tapi mirip emak-emak bukan berarti gak oke, karena rambut emak-emak = rambut Captain Kathryn Janeway (Star Trek: Voyager)...huehehehe...
Model emak-emak ini juga ada variasinya sih... ada plainly emak-emak, ada juga emak-emak berbunga-bunga (yang ketiga)...

Model Ikat Setengah
Kayaknya ini yang paling mending, keliatan paling rapi di antara model-model lainnya... Tapi gak menunjang hobiku yang satu ini: tidur di mobil. Kalo dipake tidur di mobil, model ini gampang sekali bubar...




Model Ikat Kuda Biasa Bangeeettt...
Model ini paling sering digunakan, karena paling gampang dan cepat, tapi gak terlalu rapi... Dan setelah sehabis diikat kemudian dilepas, ikatannya berbekas, jadi aneh banget...




Model Iklan Sampo

Nah kalo yang ini bukan termasuk kategori Bad Hair... karena baru dicatok di salon. Pegel juga, lama ngerjainnya... Ini dia model rambut cita-citaku: lurus dan gak melayang-layang, tapi kalo tiap hari mesti nyatok biar kayak gini terus, walah... 75 + 25 = caepek deehh...

Pengennya sih tahun depan jadi Better Hair Year. Tapi gimana caranya ya? Gimana caranya biar gak cepet lepek lagi, biar gak cepet berketombe, biar lebih mudah diatur. Gak jelas sih... penyebab lepeknya tuh gak diketahui, begitu juga penyebab ketombe tanpa gatel tadi, jadi sulit untuk menentukan solusi yang tepat...

Tapi yang penting semangatnya dulu kali ya... semangat untuk menuju rambut yang lebih baik... Bubye Bad Hair Year...

Bad Hair Year

Bad hair day... Hampir setiap orang pernah mengalaminya... suatu hari ketika rambut susah diatur, terlihat jelek banget, berantakan, acak-acakan, dst...

Aku mau cerita ttg rambut, plus cita-cita indahku tentang rambut. Mungkin banyak juga orang yang mengalami hal serupa: bermasalah dengan rambutnya sendiri.

Rambutku itu... aku kurang yakin masuk kategori apa... Lurus? Kalo kriteria rambut lurus itu seperti di iklan sampo, jelas gak termasuk kategori lurus. Kriting? Gak juga, apalagi kalo Edi Brokoli referensinya. Ikal? Ikal itu kan kriting yang gede-gede ya? Hmm... mungkin rambutku itu berada di antara ikal dan lurus. Gak lurus banget, juga gak ikal banget. Cita-citaku adalah pengen punya rambut seperti iklan sampo, yang lurus dan jatuh, biar gak perlu repot-repot ngeblow, gak perlu khawatir ada rambut bandel yang keluar-keluar kesana-kemari.

Dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini rasanya penuh dengan bad hair day deh... Tahun lalu aku masih bisa keluar rumah dengan rambut digerai (lihat foto).. Sedangkan tahun ini, hampir tiap hari gak pede sama rambut sehingga selalu dikuncir atau ditarik ke atas dengan jepit, hanya digerai setelah pulang dari salon. Akhir-akhir ini rasanya sih rambutku mudah sekali lepek. Baru sehari keramas, wangi samponya aja masih nempel di rambut, tapi rambutnya sudah lepek. Belum lagi adanya poni yang dilematis. Waktu minta dibikin poni itu, aku lagi bosan dengan potongan tanpa poni, awalnya sih asik pakek poni yang disisir ke samping tipikal cewek Bandung, tapi begitu poni itu bertambah panjang... mulai deh timbul masalah... yang poninya mumbul kayak jamur lah, yang jatuh-jatuh terus totally nutupin jidat, pokoknya untuk jadwal trimming selanjutnya, aku gak mau pakek poni khas cewek bandung lagi...

Ini dia model rambutku sepanjang tahun ini... yang membuat tahun ini menjadi Bad Hair Year...

Model Emak-emak
Dari semua foto dimana rambutku disisir seperti itu, ternyata foto di Java Jazz yang paling emak-emak (2 yang pertama). Waktu itu, karena gak mau terganggu sama urusan rambut, emang sengaja mengikat ke atas, tapi cara nyisirnya entah gimana jadi kayak emak-emak. Tapi mirip emak-emak bukan berarti gak oke, karena rambut emak-emak = rambut Captain Kathryn Janeway (Star Trek: Voyager)...huehehehe...
Model emak-emak ini juga ada variasinya sih... ada plainly emak-emak, ada juga emak-emak berbunga-bunga (yang ketiga)...

Model Ikat Setengah
Kayaknya ini yang paling mending, keliatan paling rapi di antara model-model lainnya... Tapi gak menunjang hobiku yang satu ini: tidur di mobil. Kalo dipake tidur di mobil, model ini gampang sekali bubar...




Model Ikat Kuda Biasa Bangeeettt...
Model ini paling sering digunakan, karena paling gampang dan cepat, tapi gak terlalu rapi... Dan setelah sehabis diikat kemudian dilepas, ikatannya berbekas, jadi aneh banget...




Model Iklan Sampo

Nah kalo yang ini bukan termasuk kategori Bad Hair... karena baru dicatok di salon. Pegel juga, lama ngerjainnya... Ini dia model rambut cita-citaku: lurus dan gak melayang-layang, tapi kalo tiap hari mesti nyatok biar kayak gini terus, walah... 75 + 25 = caepek deehh...

Pengennya sih tahun depan jadi Better Hair Year. Tapi gimana caranya ya? Gimana caranya biar gak cepet lepek lagi, biar gak cepet berketombe, biar lebih mudah diatur. Gak jelas sih... penyebab lepeknya tuh gak diketahui, begitu juga penyebab ketombe tanpa gatel tadi, jadi sulit untuk menentukan solusi yang tepat...

Tapi yang penting semangatnya dulu kali ya... semangat untuk menuju rambut yang lebih baik... Bubye Bad Hair Year...