Jumat 15 Agustus 2008, telepon genggam saya berdering. Di layar monitor tertulis bahwa telepon yang masuk berasal dari Kedutaan Swedia. Aha…ini pasti berkaitan dengan aplikasi residence permit yang saya ajukan beberapa minggu lalu. Dan ternyata benar, seorang wanita staf lokal Kedutaan mengatakan bahwa aplikasi residence permit saya sudah disetujui dan meminta saya untuk mengirimkan paspor untuk di’cap’ (sebenarnya ‘cuma’ ditempel sebuah stiker). Artinya, saya punya surat ijin memasuki Swedia. Sebuah sukacita besar meliputi segenap hati, karena keseluruhan prosesnya hanya memakan waktu sekitar 4 minggu (prosedur normal sekitar 6-8 minggu). Terima kasih Tuhan untuk kasih karuniaMu dan pekerjaan ajaib yang Engkau lakukan. Terima kasih buat dukungan teman-teman (Mauritz, B’Wardiman, M’Teja, B’Doly, K’Tiur, B’Daniel) selama masa penantian ini.
Senin 18 Agustus 2008, disaat seluruh rakyat Indonesia masih dalam sukacita perayaan hari kemerdekaan, saya bertolak ke Jakarta untuk mengantar langsung ke Kedutaan. Sekitar pukul 9 pagi, pesawat Lion mendarat mulus di Cengkareng. Dan seperti pada perjalanan sebelumnya, saya segera menuju kediaman seorang teman di belakang Mall Ambasador. Kali ini semuanya berjalan lancar dan saya tiba di rumah dan bertemu dengan sang teman tersebut. Setelah makan siang bersama, teman tersebut harus pergi menemui keluarganya yang sedang berkunjung ke Jakarta. Saya tinggal di rumah dan beristirahat (alias tidur).
Selasa pagi, pukul 9 pagi, saya berangkat menuju Kedutaan Swedia di Menara Kuningan. Saya segera bertemu dengan staf yang menelpon saya beberapa hari lalu dan menyerahkan paspor sembari menerima tanda bukti penyerahan paspor. Sebelum pulang, saya bertanya kapan kira-kira paspor tersebut bisa diambil kembali. Staf tersebut tidak mengatakan dengan pasti, hanya berjanji akan menelpon jika telah selesai.
Pukul 2 sore, seorang teman menelpon untuk pergi membeli beberapa jaket dan sweater di Pasar Pagi Mangga Dua hari itu juga. Sebenarnya kami sudah berjanji untuk pergi esok harinya, tapi ternyata mereka punya rencana lain esok. Ok, ga ada masalah. Saya pun segera bergegas menuju hotel tempat mereka menginap. Masalah muncul ketika saya tiba di halte busway Karet, tak satupun busway menuju Kota beroperasi. Tak jelas apa alasannya. Karena tak ada bis lain yang menuju Kota, saya pun memilih menggunakan taksi. Berbincang sejenak dengan pak supir, saya mendapat informasi bahwa kalau busway tidak beroperasi, maka pasti ada sesuatu di sekitar Istana Merdeka dan Monas.
Bingo, mulai dari perempatan Indosat sampai depan Istana Merdeka ramai dikunjungi orang yang menonton parade - entah parade apa, mungkin masih berkaitan dengan hari kemerdekaan. Setengah jalan ditutup dari arah Istana Merdeka ke Thamrin. Ah, macet bukan main. Karena mengejar jadwal Pasar Pagi yang buka sampai pukul 5 sore, saya pun berganti taksi dengan harapan bisa tiba lebih cepat. Dan akhirnya saya pun tiba pukul 4. 30 sore itu. Dalam perjalanan itu, kembali telepon saya berdering dan di layar tertulis Kedutaan Swedia. Staf yang sama menginformasikan bahwa paspor saya sudah di ‘cap’ dan bisa diambil besok. Terima kasih Tuhan.
Saya bertemu dengan sang teman tersebut dan kami langsung menuju toko yang memang menjual jaket dan sweater musim dingin. Setelah memilih-milih dan tawar menawar, akhirnya kami membeli beberapa pakaian yang pas. Mengingat saat itu masih sore dan jam pulang kantor, kami pun memilih untuk makan malam di pertokoan tersebut. Pukul 7.30 malam kami pulang ke kediaman masing-masing.
Keesokan harinya saya kembali datang ke Kedutaan dan mengambil paspor. Seorang wanita di meja di resepsionis memberikan paspor tersebut seraya berkata, “Selamat jalan”. Selesai sudah maksud perjalanan saya ke Jakarta, saya pun memutuskan untuk segera kembali ke Medan hari itu juga. Pukul 4 sore, saya menuju bandara Cengkareng menggunakan bis bandara. Pesawat yang akan membawa saya ke Medan adalalah Sriwijaya Air pada pukul 6 sore.
Ah…Europe mission telah di depan mata. Europe, I am coming in…
