Penyetaraan Ijasah Luar Negeri – Another Bureaucracy Process

Bagi orang-orang yang telah menempuh under-/post- graduate studies (S1, S2, S3) di luar negeri dan ingin bekerja di sektor pendidikan di Indonesia, maka dia harus melakukan proses penyetaraan ijasahnya di Kementrian Riset dan Teknologi. Italia, setahu saya, juga mensyarakatkan proses penyetaraan serupa (Dichiarazione di Valore – Declaration of Equivalent Value) jika kita hendak menempuh S3 namun memiliki ijasah S2 dari foreign universities.

Tahun 2010, saat saya menyetarakan ijasah S2 di Kemendikbud, Senayan, prosesnya tidak lama. Meskipun saya harus datang sendiri ke Jakarta, namun seingat saya tidaklah ribet. Seluruh dokumen pendukung harus lengkap. Sekitar seminggu kemudian, ada pemberitahuan kalau SK penyetaraannya sudah selesai via email. Kemudian saya harus datang lagi ke Jakarta untuk mengambilnya.

Tahun 2018, saya menyetarakan kembali ijasah S3. Menurut informasi yang saya peroleh dan juga tertulis di situsnya, penyetaraan ijasah bisa dilakukan via online. Artinya, seluruh dokumen pendukung cukup diupload di situs mereka, termasuk form registrasinya. Kita pun bisa melakukan pengecekan status terakhir aplikasi kita, apakah berhasil diajukan, sedang diproses, atau selesai (diterima). Great job for Kemenristek, thanks!

Namun demikian, ini sudah 3 minggu sejak saya registrasi, dan masih tidak ada kabar apapun. Saat di cek, status aplikasi saya adalah “Ditunjuk ke Tim Penilai”. Anehnya, saya tidak menemukan arti status tersebut. Lets see and wait for a couple of weeks. Finger crossed.

nuansa bening

hmm, tiada yang hebat dan mempesona
ketika kau lewat di hadapanku
biasa saja
waktu perkenalan lewatlah sudah
ada yang menarik pancaran diri
terus mengganggu

mendengar cerita sehari-hari
yang wajar tapi tetap mengasyikkan

hmm, tiada kejutan pesona diri
pertama kujabat jemari tanganmu
biasa saja

masa pertalian terjalin sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu
tak mau pergi

dirimu nuansa-nuansa ilham
hamparan laut tiada bertepi

masa pertalian terjalin sudah
ada yang menarik bayang-bayangmu
tak mau pergi

menatap nuansa nuansa bening
tulusnya doa bercinta

kini terasa sungguh
semakin engkau jauh
semakin terasa dekat

akan ku kembangkan
kasih yang kau tanam
di dalam hatiku


sleep one hour more…


Ternyata hari ini adalah hari terakhir DST (Daylight Saving Time) yang dimulai 30 Maret lalu. Artinya bahwa mulai hari ini perbedaan waktu antara Swedia dan Greenwich adalah 1 jam dan antara Karlskrona dan Indonesia adalah 6 jam. Jadi kalo sekarang pukul 16.14, maka di Medan sudah pukul 22.14. Kabaiknya adalah kalo tadi pagi saya punya tambahan waktu tidur 1 jam dari biasanya, hehehehe…

      

You will be charged 300 kr..


Pernah ga sih ngebayangain hanya untuk membuka pintu kamar yang terkunci, kita mesti membayar 300 SEK atau sekitar Rp. 410 rb-an  (1 SEK = 1,373.76 IDR) kepada orang yang membukakan pintu tersebut? Memang kalo dipikir-pikir tak masuk akal. Namun peristiwa itu hampir saja terjadi pada saya pagi ini (1/10). Pfyuh….

Pagi ini mestinya saya ada kuliah pukul 9 pagi. Itu artinya paling lambat saya mesti berangkat pukul 8 pagi dengan bus yang memakan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Pukul 7.20 saya bergegas mandi. Biasanya saya selalu menutup pintu kamar dan membawa kunci ke kamar mandi. Yang sedikit ‘aneh’ dengan pintu kamar saya adalah untuk membuka dari luar, saya harus menggunakan kunci. Tanpa kunci, bisa dipastikan saya tidak akan pernah masuk tanpa merusak pintu tersebut.

Setelah selesai mandi, saya baru ingat kalo tidak ada kunci kamar di kantong celana saya. Waduh….gawat nih. Kekhawatiran pun terjadi dan saya tak bisa masuk kamar dan pergi ke kampus. Apa yang mau dilakukan? Telepon, laptop, jaket dan semuanya ada di kamar. Yang tersisa hanya handuk dan peralatan mandi. Teman saya menawarkan laptopnya untuk menghubungi Landlord dan melaporkan kejadian ini untuk segera membuka pintu.

Telepon pertama diangkat dan mereka berjanji akan datang dalam 30 menit. Tapi 1 jam berlalu (sudah jam 9 pagi) tak ada petugas yang datang. Telepon kedua juga diangkat dan dialihkan ke Security Guard. Tapi jawaban petugas ini membuat saya shock.

“If we come and open the door, you will be charged 300 kr in cash. Have you called the Karlskronahemn? It’s free if they do it.”

Oh man… Dah gila apa orang-orang ini?

Untuk ketiga kalinya saya menghubungi Landlord dan saya disambungkan ke maintenance. Lagi-lagi jawaban ini membuat saya shock.

“I can open it, but you have to pay 200 kr in cash. Or just wait until 10 o’clock and they will open it for free.”

Emang dunia sudah gila. Ya sudahlah, saya pun menunggu sampai pukul 10 pagi. Alhasil, saya pun dipastikan tidak hadir dalam kuliah tersebut.

Pukul 10 pagi, saya menelepon kembali namun tak satupun yang mengangkat. Seorang teman mengatakan mereka sengaja tidak mengangkat karena tau bahwa kau akan menelpon kembali. Mereka ingin kau membayar - tidak gratis. Sial, kenapa di sini juga masih ditemukan kalo bisa sulit kenapa dipermudah? Dengan mulai gusar, pukul 11 saya telpon kembali. Kali ini saya disambungkan dengan maintenance dan saya mendapatkan jawaban yang melegakan. Mereka akan datang antara pukul 12 dan 1 siang. Ah…sungguh melegakan.

Hampir jam 1 siang, mereka pun datang. Sialnya, sebelum membuka pintu dia bilang,

“After I open this door, could you show me your passport?”

Bah, dah ga bisa masuk kamar selama 5 jam, kini ditanyain passport lagi, kayak imigran gelap diinterogasi pihak imigrasi. Sungguh hari ini hari yang sungguh berbeda dari hari sebelumnya.

Pelajaran penting yang saya dapat hari ini adalah tidak ada tempat bagi kecerobohan dan kelalaian. Kecerobohan adalah konfirmasi sikap bahwa kita sebenarnya tidak sungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu. Terlalu besar harga yang mesti dibayar untuk sebuah kecerobohan yang tampaknya sepele.

      

Perjalanan ke Jakarta – Part 2


Jumat 15 Agustus 2008, telepon genggam saya berdering. Di layar monitor tertulis bahwa telepon yang masuk berasal dari Kedutaan Swedia. Aha…ini pasti berkaitan dengan aplikasi residence permit yang saya ajukan beberapa minggu lalu. Dan ternyata benar, seorang wanita staf lokal Kedutaan mengatakan bahwa aplikasi residence permit saya sudah disetujui dan meminta saya untuk mengirimkan paspor untuk di’cap’ (sebenarnya ‘cuma’ ditempel sebuah stiker). Artinya, saya punya surat ijin memasuki Swedia. Sebuah sukacita besar meliputi segenap hati, karena keseluruhan prosesnya hanya memakan waktu sekitar 4 minggu (prosedur normal sekitar 6-8 minggu). Terima kasih Tuhan untuk kasih karuniaMu dan pekerjaan ajaib yang Engkau lakukan. Terima kasih buat dukungan teman-teman (Mauritz, B’Wardiman, M’Teja, B’Doly, K’Tiur, B’Daniel) selama masa penantian ini.

Senin 18 Agustus 2008, disaat seluruh rakyat Indonesia masih dalam sukacita perayaan hari kemerdekaan, saya bertolak ke Jakarta untuk mengantar langsung ke Kedutaan. Sekitar pukul 9 pagi, pesawat Lion mendarat mulus di Cengkareng. Dan seperti pada perjalanan sebelumnya, saya segera menuju kediaman seorang teman di belakang Mall Ambasador. Kali ini semuanya berjalan lancar dan saya tiba di rumah dan bertemu dengan sang teman tersebut. Setelah makan siang bersama, teman tersebut harus pergi menemui keluarganya yang sedang berkunjung ke Jakarta. Saya tinggal di rumah dan beristirahat (alias tidur).

Selasa pagi, pukul 9 pagi, saya berangkat menuju Kedutaan Swedia di Menara Kuningan. Saya segera bertemu dengan staf yang menelpon saya beberapa hari lalu dan menyerahkan paspor sembari menerima tanda bukti penyerahan paspor. Sebelum pulang, saya bertanya kapan kira-kira paspor tersebut bisa diambil kembali. Staf tersebut tidak mengatakan dengan pasti, hanya berjanji akan menelpon jika telah selesai.

Pukul 2 sore, seorang teman menelpon untuk pergi membeli beberapa jaket dan sweater di Pasar Pagi Mangga Dua hari itu juga. Sebenarnya kami sudah berjanji untuk pergi esok harinya, tapi ternyata mereka punya rencana lain esok. Ok, ga ada masalah. Saya pun segera bergegas menuju hotel tempat mereka menginap. Masalah muncul ketika saya tiba di halte busway Karet, tak satupun busway menuju Kota beroperasi. Tak jelas apa alasannya. Karena tak ada bis lain yang menuju Kota, saya pun memilih menggunakan taksi. Berbincang sejenak dengan pak supir, saya mendapat informasi bahwa kalau busway tidak beroperasi, maka pasti ada sesuatu di sekitar Istana Merdeka dan Monas.

Bingo, mulai dari perempatan Indosat sampai depan Istana Merdeka ramai dikunjungi orang yang menonton parade - entah parade apa, mungkin masih berkaitan dengan hari kemerdekaan. Setengah jalan ditutup dari arah Istana Merdeka ke Thamrin. Ah, macet bukan main. Karena mengejar jadwal Pasar Pagi yang buka sampai pukul 5 sore, saya pun berganti taksi dengan harapan bisa tiba lebih cepat. Dan akhirnya saya pun tiba pukul 4. 30 sore itu. Dalam perjalanan itu, kembali telepon saya berdering dan di layar tertulis Kedutaan Swedia. Staf yang sama menginformasikan bahwa paspor saya sudah di ‘cap’ dan bisa diambil besok. Terima kasih Tuhan.

Saya bertemu dengan sang teman tersebut dan kami langsung menuju toko yang memang menjual jaket dan sweater musim dingin. Setelah memilih-milih dan tawar menawar, akhirnya kami membeli beberapa pakaian yang pas. Mengingat saat itu masih sore dan jam pulang kantor, kami pun memilih untuk makan malam di pertokoan tersebut. Pukul 7.30 malam kami pulang ke kediaman masing-masing.

Keesokan harinya saya kembali datang ke Kedutaan dan mengambil paspor. Seorang wanita di meja di resepsionis memberikan paspor tersebut seraya berkata, “Selamat jalan”.  Selesai sudah maksud perjalanan saya ke Jakarta, saya pun memutuskan untuk segera kembali ke Medan hari itu juga. Pukul 4 sore, saya menuju bandara Cengkareng menggunakan bis bandara. Pesawat yang akan membawa saya ke Medan adalalah Sriwijaya Air pada pukul 6 sore.

Ah…Europe mission telah di depan mata. Europe, I am coming in…

Perjalanan ke Jakarta – Part 1


Siapa suruh datang Jakarta
Siapa suruh datang Jakarta
sendiri susah sendiri rasa
edo’e…. sayang….

(Koes Plus - Siapa Suruh Datang Jakarta)

Selasa malam (22/7), kira-kira pukul 21.10 pesawat Mandala jurusan MES-CGK akhirnya mendarat mulus di landasan pacu Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta. Muncul sedikit rasa gentar saat menginjakkan kaki kembali di Jakarta yang sudah ditinggalkan sejak beberapa tahun lalu. Berita-berita kriminal yang acap kali muncul dalam siaran berita televisi seakan-akan mengingatkan bahwa betapa kerasnya hidup di ibukota ini. Pukul 21.30, saya keluar dari terminal kedatangan dan segera bergegas ke tempat pemberhentian bus damri yang akan membawa saya keluar dari bandara ini. Namun sialnya, bus damri jurusan Blok M baru saja lewat dari sana. Alhasil terpaksa saya menunggu dengan harap-harap cemas apakah masih ada bus dengan jurusan yang sama beroperasi meski waktu sudah menunjukkan pukul hampir 10 malam sementara tempat yang dituju masih jauh. Seorang bapak dengan pakaian dinas perhubungan dan memegang sebuah handie-talkie, mengatakan bahwa bus dengan jurusan tersebut masih ada.

Setengah jam berlalu, bus yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya dengan mengingat kembali ruas-ruas jalan di Jakarta, saya memilih naik jurusan Pasar Minggu karena sang kenek mengatakan bahwa bus tersebut akan melewati tugu Pancoran. Aha…kalau begitu, berarti bus ini akan lewat jalan Gatot Subroto, dan saya bisa turun di perempatan Kuningan dan melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi ke Mal Ambasador, Casablanca. Namun saya salah perhitungan sedikit, karena sepanjang jalan bus tersebut masuk tol dan baru keluar di Pancoran. Tak apalah, saya pikir, karena dari Pancoran ke Ambasador tidak terlalu jauh lagi.

Di Ambasador, saya mestinya bertemu dengan seorang teman dan menginap di tempatnya. Saya sudah wanti-wanti ke dia, bahwa saya sudah di Jakarta dan sedang on the way ke sana. Lagi-lagi nasib sial, tak sekalipun telpon saya ke handphone-nya diangkat - dia ketiduran. Ah…..terpaksa saya mengubah rencana dan menginap di rumah tulang (red - paman, saudara perempuan dari ibu) di kawasan UKI, Cawang. Sebenarnya saya tidak terlalu suka tinggal di sana, bukan karena ada masalah dengan keluarga tulang, namun lokasinya menurut saya cukup jauh dari kota (kawasan sudirman, kuningan dkk). Belum lagi jalur itu (depan UKI, MT Haryono, Gatot Subroto, dkk) sangat macet pagi dan sore membuat saya mesti pulang cepat agar tidak kemalaman tiba di rumah.

Saya tiba di depan rumah pukul 11.30 malam, semua orang sudah tidur. Akhirnya dengan mata yang masih ngantuk, pagar dibuka langsung oleh tulang. Basa-basi sebentar, akhirnya tulang kembali masuk kamar dan saya naik ke lantai dua. Kalau saya kebetulan ke Jakarta dan menginap di sana, saya biasanya tidur di kamar anak lelakinya di lantai dua. Berharap segera mendapat tempat tidur yang empuk, saya mencoba membuka pintu kamar. Dua kali saya coba namun tidak pernah terbuka. Ah….kesialan ketiga yang terjadi beruntun dalam waktu tiga jam. Akhirnya saya pun mencoba tidur di kursi panjang yang ada di sana. Huhh…bukannya tidur nyenyak, malah jadi sasaran gigitan nyamuk. Sudah capek, becek, gak ada ojek - eh, gak bisa tidur maksudnya. Alhasil malam itu saya cuma bisa tidur selama dua jam plus badan merah-merah bekas garukan. Tapi untunglah, dua jam itu cukup efektif untuk beraktivitas sepanjang hari berikutnya.

Piuffhhhhh…..ini jakarta bung! Siapa suruh datang Jakarta….

fedora core 9


saat menjadi mahasiswa di tahun pertama, sistem operasi yang pertama kali saya kenal secara resmi adalah linux red hat. hampir semua komputer yang ada menggunakan sistem diskless (atau thin client). dan sejak saat itu pula, distro linux yang paling sering saya gunakan sampai hari ini adalah si topi merah itu.

beberapa hari ini saya meng-install fedora core 9 ( fc-9 ) di notebook saya menggantikan pendahulunya yaitu fedora core 8 ( fc-8 ) yang sudah bekerja di sana sejak dirilisnya os tersebut. selain karena ingin mencoba kde 4 yang menjadi default workspace fc-9 ini, saya merasa kurang puas atas performa fc-8. entah kenapa saya tidak bisa menggunakan wireless connection - hanya wired connection alias harus pake kabel. dengan fc-9, masalah tadi selesai dengan mulus…..

masalah berikutnya dengan fedora adalah dia tidak menyediakan codec untuk memutar file multimedia seperti mp3, avi, wmv dan sebagainya. alhasil, terpaksalah saya harus mengunduhnya dari repository fc-9 yaitu di livna. setelah segala urusan dengan multimedia ini beres, mulailah saya melihat-lihat kde 4 ini. yuk, mari….

Indonesia oh Indonesia


Akhir minggu lalu, setelah mendengar pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak melalui siaran televisi, saya sempat chatting dengan seorang teman lama. Kami pernah sama-sama bersekolah di tempat yang sama namun berbeda jurusan. Sejak lulus, dia bekerja di salah satu BUMN terbesar yang mengurusi soal minyak di negeri ini.

Seperti biasa, pembicaraan dimulai dengan hal-hal ringan dan ngalor ngidul seperti orang timur kebanyakan. Apa kabar, dimana sekarang, apa yang lagi dikerjakan, bagaimana dengan si anu, di mana dia sekarang dst…dst… Seperti warga negara lainnya yang dipaksa menerima keadaan, mulailah saya tergelitik untuk bertanya seputar kenaikan BBM yang baru diumumkan tadi.

henry_sitorus: gmn-nya $%@ kok bisa naik harga bbm, bukannya banyak produksi minyak kita?
$%@: kan harga crude naik
henry_sitorus: apa itu crude?
$%@: minyak mentah
henry_sitorus: kalo naik harganya kan makin kayalah kita…
henry_sitorus: kok jadi naik harga bbm?
$%@: kita banyak import crude
$%@: kan mahal
henry_sitorus: loh, bukannya itu yang ditambang oleh &*SDF#) - crude? kok jadi diimpor?
$%@: produksi crude &*SDF#) itu kecil hen
$%@: di indo itu yg besar: c*****n, c****o ph, dll
$%@: &*SDF#)itu besar di pengolahan crude dan pemasaran
henry_sitorus: lalu crude dari c*****n, c****o ph dkk itu dikemanakan?
$%@: di regulasi, mreka berhak ekspor
……

henry_sitorus: kok bisa lebih kecil crude yang dipegang &*SDF#) dengan yang lain itu?
$%@: tanya sama org bpmigas lah D
henry_sitorus: jadi apanya kerja kalian di situ, kok bisa naik terus harga bbm…
henry_sitorus: makin susah aja hidup ini lama2…. -(
$%@: yg pegang regulasi crude kan bpmigas
$%@: &*SDF#) jual ke pemerintah dengan harga pasar
$%@: jadi, buat &*SDF#) ga da masalah mo harga subsidi ato non subsidi
…..

henry_sitorus: total produksi crude kita berapa? trus kebutuhan dalam negeri berapa?
henry_sitorus: punya hitung2annya itu….
$%@: klo total produksi crude –> cari di BPMIGAS
$%@: klo total kebutuhan BBM –> cari di BPHMIGAS
henry_sitorus: maksudku sampe keluar harga 7000/liter itu gmn caranya….
$%@: data ada, tapi not authorized :p

henry_sitorus: @#$#@$#@$#@$#@$#@$#@$#$#

Apakah benar negara ini adalah negara para bangsat? -(

Indonesia oh Indonesia……