Belum lama ini 3 adikku berulang tahun dalam waktu yang berdekatan. Ketiganya punya zodiak yang sama yaitu Scorpio. Btw, adikku laki-laki semua. Baik itu adik kandung (3 orang) maupun adik ipar (3 orang juga). Suami dan diriku sama-sama anak sulung. So, aku nggak punya saudara perempuan. Anak pertama kami juga laki-laki. Praktis, aku perempuan sendiri diantara 8 lelaki :). Asyik...banyak bodyguard :D
Oke, balik lagi ke topik... ketiga adikku yang berulang tahun itu...
- Riko alias Acip tanggal 29 Oktober
- Basir ato Antok tanggal 31 Oktober
- Saiful tanggal 4 November
Sebagai kadonya aku bikin black forest :) ini dia nih...

Sebenernya sih udah lama pengen bikin. Waktu kemarin mo lebaran udah beli bahannya, tapi karena sepi di rumah cuma bertiga jadi ditunda bikinnya. Waktu ada acara buka bareng bulan lalu pernah bikin cake ini tapi cuma kebagian dikit dan uenak :) jadi pengen bikin lagi.
Foto-foto black forest yang masih utuh ada di Arif, belum sempat dicopy. Ceritanya tadi pagi udah siapin kamera untuk foto cake ini. Eh, tau-tau kamera yang di atas meja raib entah kemana saat ditinggal mandiin Rafi. Usut punya usut Riko juga nggak ada. Jadi asumsi kamera ada di dia. Udah manyun aja tuh diriku karena keinginan hati mo pasang foto black forest itu nggak jadi. Sementara Esda sudah nggak sabar mau makan cakenya. Ya sudahlah akhirnya kurelakan juga cake itu dipotong setelah difoto pakai HP Arif. Riko baru pulang sore hari dan black forest yang tersisa tinggal sepotong itu.
Belum lama ini 3 adikku berulang tahun dalam waktu yang berdekatan. Ketiganya punya zodiak yang sama yaitu Scorpio. Btw, adikku laki-laki semua. Baik itu adik kandung (3 orang) maupun adik ipar (3 orang juga). Suami dan diriku sama-sama anak sulung. So, aku nggak punya saudara perempuan. Anak pertama kami juga laki-laki. Praktis, aku perempuan sendiri diantara 8 lelaki :). Asyik...banyak bodyguard :D
Oke, balik lagi ke topik... ketiga adikku yang berulang tahun itu...
- Riko alias Acip tanggal 29 Oktober
- Basir ato Antok tanggal 31 Oktober
- Saiful tanggal 4 November
Sebagai kadonya aku bikin black forest :) ini dia nih...

Sebenernya sih udah lama pengen bikin. Waktu kemarin mo lebaran udah beli bahannya, tapi karena sepi di rumah cuma bertiga jadi ditunda bikinnya. Waktu ada acara buka bareng bulan lalu pernah bikin cake ini tapi cuma kebagian dikit dan uenak :) jadi pengen bikin lagi.
Foto-foto black forest yang masih utuh ada di Arif, belum sempat dicopy. Ceritanya tadi pagi udah siapin kamera untuk foto cake ini. Eh, tau-tau kamera yang di atas meja raib entah kemana saat ditinggal mandiin Rafi. Usut punya usut Riko juga nggak ada. Jadi asumsi kamera ada di dia. Udah manyun aja tuh diriku karena keinginan hati mo pasang foto black forest itu nggak jadi. Sementara Esda sudah nggak sabar mau makan cakenya. Ya sudahlah akhirnya kurelakan juga cake itu dipotong setelah difoto pakai HP Arif. Riko baru pulang sore hari dan black forest yang tersisa tinggal sepotong itu.
Hari ini Riko mudik ke Jambi naik bus. Kru Suteki juga bakalan mudik semua. Udah deh... penghuni rumah tinggal aku, suamiku dan Rafi. Di rumah yang biasa rame ini sekarang hanya akan ditinggali kami bertiga. Syukurlah ada Rafi yang ceria berceloteh dan tertawa sehingga suasana rumah tidak lengang.
Well, lebaran kali ini akan berbeda karena kami merayakannya jauh dari orang tua. Bukannya tidak ingin pulang bersilaturahim.... tapi apa daya.
Tanggal 15 Oktober 2006 yang lalu kami sudah senang membayangkan sebentar lagi sampai di rumah Jambi. Tiket yang sudah dibeli sebulan sebelumnya, dapat harga yang masih murah. Alangkah senangnya...
Tapi Allah punya Kuasa dan Rencana tersendiri. Setelah menunggu selama 6 jam akhirnya kami naik pesawat. Pukul 14.15 pesawat sampai di Jambi namun kabut asap cukup tebal. Beberapa kali pesawat mencoba landing sehingga bagi para penjemput cukup menggemaskan melihat pesawat yang berputar-putar di atas bandara. Namun akhirnya pilot memutuskan kembali ke Cengkareng karena khawatir akan keselamatan penumpang. Jadi hari itu kami berwisata udara menengok kabut asap di Jambi, GRATIS. Uang tiket dikembalikan dari maskapai penerbangan. Kangen kami harus cukup terobati dengan melihat pemandangan kota Jambi yang diselimuti asap dari atas pesawat. Dan sanak keluarga yang telah menantikan kedatangan kami(terutama kedatangan Rafi sih..) dan sudah bolak-balik jemput ke bandara sampe 3 kali harus merelakan kami yang tidak sampai menginjakkan kaki di Jambi.
Klo pulang ke Semarang, kami lebih nyaman naik kereta api karena bawa Rafi yang masih 8 bulan dan kaki suamiku termasuk panjang. Sedangkan kereta api dari Bandung ke Semarang hanya ada satu, tiket sampe dengan lebaran sudah habis sejak sebulan lalu.
Jadi, tahun ini kami akan merasakan berlebaran di Bandung. Jika sempat, pengen masak opor untuk suamiku biar berasa lebaran biarpun jauh dari ortu. Semoga saja bisa. Mengingat ga ada yang bantuin beres-beres rumah, ngurus Rafi, cuci baju, dsb.. tapi sedih juga klo ga ada makanan sementara warung-warung sudah mulai tutup. Sementara ini gas sedang habis. Tadi pagi sudah coba mau isi gas tapi tokonya pada tutup... hiks... Syukurlah masih ada koneksi internet 24 jam. Semoga ga mati lampu saat lebaran nanti. Bisa-bisa malah jadi nyepi ntar... :(
Hari ini Riko mudik ke Jambi naik bus. Kru Suteki juga bakalan mudik semua. Udah deh... penghuni rumah tinggal aku, suamiku dan Rafi. Di rumah yang biasa rame ini sekarang hanya akan ditinggali kami bertiga. Syukurlah ada Rafi yang ceria berceloteh dan tertawa sehingga suasana rumah tidak lengang.
Well, lebaran kali ini akan berbeda karena kami merayakannya jauh dari orang tua. Bukannya tidak ingin pulang bersilaturahim.... tapi apa daya.
Tanggal 15 Oktober 2006 yang lalu kami sudah senang membayangkan sebentar lagi sampai di rumah Jambi. Tiket yang sudah dibeli sebulan sebelumnya, dapat harga yang masih murah. Alangkah senangnya...
Tapi Allah punya Kuasa dan Rencana tersendiri. Setelah menunggu selama 6 jam akhirnya kami naik pesawat. Pukul 14.15 pesawat sampai di Jambi namun kabut asap cukup tebal. Beberapa kali pesawat mencoba landing sehingga bagi para penjemput cukup menggemaskan melihat pesawat yang berputar-putar di atas bandara. Namun akhirnya pilot memutuskan kembali ke Cengkareng karena khawatir akan keselamatan penumpang. Jadi hari itu kami berwisata udara menengok kabut asap di Jambi, GRATIS. Uang tiket dikembalikan dari maskapai penerbangan. Kangen kami harus cukup terobati dengan melihat pemandangan kota Jambi yang diselimuti asap dari atas pesawat. Dan sanak keluarga yang telah menantikan kedatangan kami(terutama kedatangan Rafi sih..) dan sudah bolak-balik jemput ke bandara sampe 3 kali harus merelakan kami yang tidak sampai menginjakkan kaki di Jambi.
Klo pulang ke Semarang, kami lebih nyaman naik kereta api karena bawa Rafi yang masih 8 bulan dan kaki suamiku termasuk panjang. Sedangkan kereta api dari Bandung ke Semarang hanya ada satu, tiket sampe dengan lebaran sudah habis sejak sebulan lalu.
Jadi, tahun ini kami akan merasakan berlebaran di Bandung. Jika sempat, pengen masak opor untuk suamiku biar berasa lebaran biarpun jauh dari ortu. Semoga saja bisa. Mengingat ga ada yang bantuin beres-beres rumah, ngurus Rafi, cuci baju, dsb.. tapi sedih juga klo ga ada makanan sementara warung-warung sudah mulai tutup. Sementara ini gas sedang habis. Tadi pagi sudah coba mau isi gas tapi tokonya pada tutup... hiks... Syukurlah masih ada koneksi internet 24 jam. Semoga ga mati lampu saat lebaran nanti. Bisa-bisa malah jadi nyepi ntar... :(


Oya, hari kamis sampe senin (17-21 agustus) kemarin Papa ama Aldo dan Aldi (kakek dan om-nya Rafi) datang ke Bandung dari Jambi. Seneng deh Rafi dikunjungi kakek dan omnya. Sampe bengong kalo udah liat Omnya main sendiri. FYI, omnya Rafi ini masih kecil2, Aldi (9 tahun) dan Aldo (11 tahun).
Kalau malem omnya maunya bobo' ama Rafi. Jadi sementara Ayah tidur di luar untuk beberapa malam. Aldo dan Aldi maunya bobo' di sebelah Rafi... yang mengkhawatirkan adalah Aldo karena biarpun baru 11 tahun beratnya sama dengan diriku (mungkin lebih..:p) Diriku saja kalau ketimpa kakinya terasa berat. Jadi setelah Aldo dan Aldi tidur segera saja memindahkan Rafi ke posisi aman dijauhkan dari jangkauan omnya. Hehe.. lucu juga mengingat waktu jumat malam, diriku sedang menelpon rumah semarang, dan begitu selesai telp nengok ke kamar Rafiku sudah tidur sendiri diapit oleh om Aldo dan om Aldi yang juga tertidur.
Well... ternyata masalah tidak hanya posisi... biarpun mereka anak2, ato justru karena mereka masih anak2 ya? kalau udah tidur gerakannya bisa kemana-mana. So... alhasil kasur kami tidak muat jika harus dihuni 4 orang. Diriku tidak mungkin tidur di luar dan membiarkan Rafi tidur bersama omnya tanpa pengawasan, Rafi juga tidak mungkin tidur di luar. Jadi mesti memilih Aldo ato Aldi yang bobo di luar. Berhubung Aldo berat banget untuk digendong, jadi pilihan jatuh ke Aldi untuk bobo bersama abangnya.
Beberapa hari mengasuh 3 anak cukup membuat diriku kewalahan. Belum kebayang deh klo tiba saatnya nanti aku sendiri punya 3 anak ato lebih. Sepertinya mesti punya asisten nih... Kemarin juga untuk beberapa hari minta bantuan sama mbak Eti yang rajin. Syukurlah ada beliau, jadi diriku tidak dipusingkan dengan urusan bersih2 rumah. Malahan rumah jadi lebih bersih dari biasanya. Andaikan mbak Eti bisa setiap hari menemani diriku, rasanya emang bener2 bisa jadi
pengobat hati dan punggung :)


Oya, hari kamis sampe senin (17-21 agustus) kemarin Papa ama Aldo dan Aldi (kakek dan om-nya Rafi) datang ke Bandung dari Jambi. Seneng deh Rafi dikunjungi kakek dan omnya. Sampe bengong kalo udah liat Omnya main sendiri. FYI, omnya Rafi ini masih kecil2, Aldi (9 tahun) dan Aldo (11 tahun).
Kalau malem omnya maunya bobo' ama Rafi. Jadi sementara Ayah tidur di luar untuk beberapa malam. Aldo dan Aldi maunya bobo' di sebelah Rafi... yang mengkhawatirkan adalah Aldo karena biarpun baru 11 tahun beratnya sama dengan diriku (mungkin lebih..:p) Diriku saja kalau ketimpa kakinya terasa berat. Jadi setelah Aldo dan Aldi tidur segera saja memindahkan Rafi ke posisi aman dijauhkan dari jangkauan omnya. Hehe.. lucu juga mengingat waktu jumat malam, diriku sedang menelpon rumah semarang, dan begitu selesai telp nengok ke kamar Rafiku sudah tidur sendiri diapit oleh om Aldo dan om Aldi yang juga tertidur.
Well... ternyata masalah tidak hanya posisi... biarpun mereka anak2, ato justru karena mereka masih anak2 ya? kalau udah tidur gerakannya bisa kemana-mana. So... alhasil kasur kami tidak muat jika harus dihuni 4 orang. Diriku tidak mungkin tidur di luar dan membiarkan Rafi tidur bersama omnya tanpa pengawasan, Rafi juga tidak mungkin tidur di luar. Jadi mesti memilih Aldo ato Aldi yang bobo di luar. Berhubung Aldo berat banget untuk digendong, jadi pilihan jatuh ke Aldi untuk bobo bersama abangnya.
Beberapa hari mengasuh 3 anak cukup membuat diriku kewalahan. Belum kebayang deh klo tiba saatnya nanti aku sendiri punya 3 anak ato lebih. Sepertinya mesti punya asisten nih... Kemarin juga untuk beberapa hari minta bantuan sama mbak Eti yang rajin. Syukurlah ada beliau, jadi diriku tidak dipusingkan dengan urusan bersih2 rumah. Malahan rumah jadi lebih bersih dari biasanya. Andaikan mbak Eti bisa setiap hari menemani diriku, rasanya emang bener2 bisa jadi
pengobat hati dan punggung :)