Seperti yang pernah aku bilang, mau ngebahas lagu-lagu nih. Tadi aku nemu video clip Valentine-nya Jim Brickman dan Martina McBride di youtube. Video jadul gitu deh (sekitar 10 tahun yang lalu).
Pertama kali aku “ngeh†bahwa lagu ini ada dan dimainkan oleh siapa, adalah di sebuah café remang-remang (tapi gak cabul), dimainkan secara live, instrumental, dan akustik oleh sekelompok pemusik yang terdiri dari piano, cello, dan violin. Kalo gak salah sih waktu itu adalah Hari Valentine.
Setelah itu lagu ini seperti muncul kemana aku pergi. Hmm… gak se-ekstrim itu sih… tapi beberapa kali kudengarkan secara live waktu pergi ke café atau mall, dalam berbagai versi. Termasuk… akhirnya… versiku sendiri yang ancur-tapi-yang-penting-senang…
Sampe tadi pagi (sebelum menemukan clipnya), aku berasumsi bahwa lagu itu adalah lagu romantis yang berkisah tentang cinta sejati seseorang kepada orang lain. Titik. Gak ada keterangan lain lagi. Ternyata… aku salah... lagu ini gak cuma segitu.
Menurut comment yang ada di youtube, si JB (Jim Brickman) bilang bahwa lagu ini bisa aja untuk mewakili cinta secara umum (seperti yang kukira), tapi dia sendiri membuat lagu ini untuk berkisah tentang cinta sejati yang karena suatu sebab tertentu tidak dapat bersatu. Huhuhu… ternyata sedih…
Video klipnya juga menggambarkan hal itu loh… sepanjang video klip itu, sembari merhatiin tampang imyutnya si JB plus berusaha ngintip merk pianonya, aku melihat ternyata si Martina dan si JB gak pernah ada dalam 1 scene yang sama. Ekstrimnya, bahkan waktu si Martina muncul di sebelah grand piano, tiba-tiba si JB menghilang. Maksudnya scene itu adalah mereka… memang tidak dapat bersatu. Terus terakhirnya itu loh… di tengah gerimis salju, si cewek meletakkan bunga di atas makam kekasihnya yang meninggal pada tanggal 14 Februari. => sesuai judul lagunya sih… tapi scene itu jadi mengkonfirmasi bahwa lagu itu memang aslinya sedih…
Oya, trus ada satu frase lirik di lagu ini yang mengingatkan aku sama salah satu episode (lagi-lagi) Star Trek: The Next Generation… hehehehehe (nyengir kuda…) tapi beneran loh ini mengharukan, episode-nya bukan yang tipe jeder-jeder-boing-boing (penuh tembak2an) atau penuh technobabble, tapi tentang parenting, judulnya The Offspring.
Di episode itu si Data membuat “anak†yaitu seorang android yang memilih jenis kelamin perempuan, namanya Lal. Seperti kita tahu, Data itu kan emotionless, sedangkan si Lal ini bisa mengembangkan kemampuan emosi. Tapi karena dia tidak dirancang untuk memproses emosi, akhirnya dia mengalami cascade failure, singkat kata… dia error dan unrecoverable gitu deh…
Pas udah mau shut down, Lal bilang: “I Love You Father…â€, tentunya Data yang emotionless gak bisa bilang hal yang sama, dia kan gak bisa merasakan yang namanya cinta. Terus si Lal nambahin: “I will feel it for both of us.†Hhhhuuuhuhuhuhuhu… Indah ya?
If there were no tears, no way to feel inside.
I’d still feel for you…
Akhirnya… buat JB mungkin ini lagu sedih, tapi kalo buat aku sih enggak, setelah me-review lagu ini, kesimpulannya… lagu ini berkisah tentang cinta yang tanpa pamrih: mencintai hanya untuk mencintai, bukan berharap untuk dicintai kembali…
You’ve opened my eyes and shown me how to love unselfishly…
Ternyata… lagu ini lebih bermakna dari yang kukira sebelumnya…
Star Trek (update nih…)
Nostalgia Season 1
Akhirnya… setelah 15 tahun, aku nonton lagi Season 1 Star Trek: The Next Generation. Malahan jadi bingung, kok bisa ya… aku tertarik pada serial itu dari sejak episode pertama. Ternyata... dari kacamataku sekarang, episode-episode awal tuh rada-rada gak jelas gitu deh… apalagi kalo dibandingkan dengan episode di season-season akhir. Contohnya episode the Naked Now, yang ternyata benar-benar adaptasi dari episode the Naked Time-nya Star Trek: The Original Series. Udah gitu, rata-rata gak terlalu “beratâ€. Yang dimaksud â€berat†adalah penuh dengan pesan-pesan moral khas Star Trek seperti di season-season selanjutnya.
Karakter-karakternya tuh juga belum well-established. Mereka seperti masih... asing. Hmm... terus keliatan sih, yang belum mengenal karakter-karakter itu bukan hanya penonton, tapi juga para aktor dan penulisnya.
Trus soal dandanan... hihihi... Beverly tuh gayanya 80an banget, rambut model awan, cocok sekali kalo dipasangkan dengan baju kaos longgar dan rok span. Deanna Troi pake konde dan bajunya yang bikin keliatan jadi montok. Data dan Geordi masih sangat muda, apalagi kalo dibandingkan dengan Star Trek: Nemesis, tapi kalo dandanannya sih gak banyak berubah. Riker masih belum berjenggot, terus Worf... jidatnya modelnya beda dengan season-season selanjutnya. Wesley masih ABG. Mungkin satu-satunya yang gak banyak berubah adalah Captain Picard, karena dari awal dia emang udah tua kan...
Theme Song
Nah, sebelum lebaran kemaren, thanks to temanku yang ini, akhirnya dapat juga buku piano theme song-nya Star Trek dari sejak The Original Series sampe dengan Star Trek: First Contact. Ini komentarku...
Yang paling ribet adalah theme song-nya Star Trek: Wrath of Khan, sekilas kalo dilihat seperti salah satu nomer dari bukunya Carl Czerny, itu tuh... yang ngarang buku buat latian kelincahan dan kecepatan dalam bermain piano. Kayaknya mesti meluangkan waktu khusus kalo pengen belajar lagu itu.
Favoritku adalah First Contact. Lagu ini berbeda dari theme song Star Trek movies yang sebelum2nya. Kalo yang sebelum-sebelumnya lebih kedombrengan dan berkesan adventurous (mungkin karena semuanya march)... First Contact lebih soothing, terutama di bagian solo French Horn-nya (maksudnya: bait pertama, kalo di partitur piano ya gak ada French horn, tapi di lagu aslinya bagian itu dimainkan oleh French horn). Aku coba mainkan dengan sax-ku, hasilnya... sama sekali gak soothing, tetep aja kayak klakson kapal...hehehe....
Selain soothing vs march tadi, theme song yang laen banyak memilih nada-nada â€outer spaceâ€, sedangkan First Contact ini lebih down to earth, terbukti gak banyak not yang miring-miring (maksudnya yang menyimpang dari tangga nada normal). Theme song lain yang juga lumayan down to earth adalah Star Trek: The Voyage Home. Lucunya kedua film itu sama-sama “down to earth†alias mengambil setting di bumi, sedangkan sodara-sodaranya kan mengambil setting di “the other parts of the Galaxyâ€.
Theme song lain yang juga soothing dan down to earth adalah Star Trek: Insurrection (gak ada di buku itu), tapi settingnya gak di bumi, melainkan di Briar Patch. Jadi gak nyambung kan antara film dengan theme songnya… makanya filmnya kurang laku… hehehe… naon sih...
Yang paling berkesan â€Star Trek banggeeettt..†menurutku adalah theme songnya Star Trek: The Next Generation / Star Trek: The Motion Picture. Theme songnya sama, hanya aransemen-nya berbeda, yang Next Generation lebih march dari The Motion Picture. Kayaknya itu lagu yang paling banyak dipakai deh. Dari mulai The Motion Picture (1979), terus selama 7 tahun The Next Generation, terus movies-nya the Next Generation (7-10) semuanya menyelipkan lagu itu di end credit-nya. Kalo mendengar lagu itu langsung terbayang adalah wajahnya Picard and co. BTW, ternyata frase pertama dari lagu itu disebut “Enterprise Themeâ€, karena di Star Trek 8, 9, dan 10, scene dimana Enterprise-E muncul pertama kalinya, selalu diiringi dengan frase itu.
Trus ternyata theme song-nya The Original Series itu ada liriknya loh, tapi gak pernah dimainkan bersama liriknya, kayak gini nih:
Beyond the rim of the starlight,
My love is wand’ring in star-flight.
I know he’ll find, in star-clustered reaches,
Love, strange love a star-woman teaches.
I know his journey ends never;
His star trek will go on forever.
But tell him while he wanders his starry sea,
Remember, remember me.
Hmm, keliatan liriknya itu pas untuk mendeskripsikan Captain Kirk, si Interstellar Playboy...
Akhirnya… setelah 15 tahun, aku nonton lagi Season 1 Star Trek: The Next Generation. Malahan jadi bingung, kok bisa ya… aku tertarik pada serial itu dari sejak episode pertama. Ternyata... dari kacamataku sekarang, episode-episode awal tuh rada-rada gak jelas gitu deh… apalagi kalo dibandingkan dengan episode di season-season akhir. Contohnya episode the Naked Now, yang ternyata benar-benar adaptasi dari episode the Naked Time-nya Star Trek: The Original Series. Udah gitu, rata-rata gak terlalu “beratâ€. Yang dimaksud â€berat†adalah penuh dengan pesan-pesan moral khas Star Trek seperti di season-season selanjutnya.
Karakter-karakternya tuh juga belum well-established. Mereka seperti masih... asing. Hmm... terus keliatan sih, yang belum mengenal karakter-karakter itu bukan hanya penonton, tapi juga para aktor dan penulisnya.
Trus soal dandanan... hihihi... Beverly tuh gayanya 80an banget, rambut model awan, cocok sekali kalo dipasangkan dengan baju kaos longgar dan rok span. Deanna Troi pake konde dan bajunya yang bikin keliatan jadi montok. Data dan Geordi masih sangat muda, apalagi kalo dibandingkan dengan Star Trek: Nemesis, tapi kalo dandanannya sih gak banyak berubah. Riker masih belum berjenggot, terus Worf... jidatnya modelnya beda dengan season-season selanjutnya. Wesley masih ABG. Mungkin satu-satunya yang gak banyak berubah adalah Captain Picard, karena dari awal dia emang udah tua kan...
Theme Song
Nah, sebelum lebaran kemaren, thanks to temanku yang ini, akhirnya dapat juga buku piano theme song-nya Star Trek dari sejak The Original Series sampe dengan Star Trek: First Contact. Ini komentarku...
Yang paling ribet adalah theme song-nya Star Trek: Wrath of Khan, sekilas kalo dilihat seperti salah satu nomer dari bukunya Carl Czerny, itu tuh... yang ngarang buku buat latian kelincahan dan kecepatan dalam bermain piano. Kayaknya mesti meluangkan waktu khusus kalo pengen belajar lagu itu.
Favoritku adalah First Contact. Lagu ini berbeda dari theme song Star Trek movies yang sebelum2nya. Kalo yang sebelum-sebelumnya lebih kedombrengan dan berkesan adventurous (mungkin karena semuanya march)... First Contact lebih soothing, terutama di bagian solo French Horn-nya (maksudnya: bait pertama, kalo di partitur piano ya gak ada French horn, tapi di lagu aslinya bagian itu dimainkan oleh French horn). Aku coba mainkan dengan sax-ku, hasilnya... sama sekali gak soothing, tetep aja kayak klakson kapal...hehehe....
Selain soothing vs march tadi, theme song yang laen banyak memilih nada-nada â€outer spaceâ€, sedangkan First Contact ini lebih down to earth, terbukti gak banyak not yang miring-miring (maksudnya yang menyimpang dari tangga nada normal). Theme song lain yang juga lumayan down to earth adalah Star Trek: The Voyage Home. Lucunya kedua film itu sama-sama “down to earth†alias mengambil setting di bumi, sedangkan sodara-sodaranya kan mengambil setting di “the other parts of the Galaxyâ€.
Theme song lain yang juga soothing dan down to earth adalah Star Trek: Insurrection (gak ada di buku itu), tapi settingnya gak di bumi, melainkan di Briar Patch. Jadi gak nyambung kan antara film dengan theme songnya… makanya filmnya kurang laku… hehehe… naon sih...
Yang paling berkesan â€Star Trek banggeeettt..†menurutku adalah theme songnya Star Trek: The Next Generation / Star Trek: The Motion Picture. Theme songnya sama, hanya aransemen-nya berbeda, yang Next Generation lebih march dari The Motion Picture. Kayaknya itu lagu yang paling banyak dipakai deh. Dari mulai The Motion Picture (1979), terus selama 7 tahun The Next Generation, terus movies-nya the Next Generation (7-10) semuanya menyelipkan lagu itu di end credit-nya. Kalo mendengar lagu itu langsung terbayang adalah wajahnya Picard and co. BTW, ternyata frase pertama dari lagu itu disebut “Enterprise Themeâ€, karena di Star Trek 8, 9, dan 10, scene dimana Enterprise-E muncul pertama kalinya, selalu diiringi dengan frase itu.
Trus ternyata theme song-nya The Original Series itu ada liriknya loh, tapi gak pernah dimainkan bersama liriknya, kayak gini nih:
Beyond the rim of the starlight,
My love is wand’ring in star-flight.
I know he’ll find, in star-clustered reaches,
Love, strange love a star-woman teaches.
I know his journey ends never;
His star trek will go on forever.
But tell him while he wanders his starry sea,
Remember, remember me.
Hmm, keliatan liriknya itu pas untuk mendeskripsikan Captain Kirk, si Interstellar Playboy...
Tumbuh Bersama Star Trek
Dalam beberapa hari ini, aku akan sering posting tentang Star Trek, ceritanya dalam rangka 40 tahun Star Trek tanggal 8 September besok.
Kalo di belahan dunia lain, mungkin para trekkies (or trekkers?) berpesta dengan menghadiri berbagai event yang khusus diadakan untuk perayaan 40 tahun ini. Di sini? Aku gak tauk... mungkin para anggota milis indo-startrek mau bikin gathering? Aku belum pernah datang, belum pernah nongol di milis juga (hmm... tapi memang sekarang ini aku jarang meramaikan milis-milis yang aku ikuti, kecuali bpsti2003 kali ya). Mungkin... kalo memang ada gathering, aku pengen juga sekali-sekali datang dan bertemu dengan sesama â€manusia anehâ€. Sementara ini, aku meramaikan di blog saja deh... :-D
Sekarang aku mau cerita tentang memorable moments selama nonton Star Trek. Hmm... gak hanya nonton sih... tapi juga baca, bahkan sempat â€mencicipi†lari-lari di Enterprise-D.
Kita mulai dari awal dulu... pertama banget nonton Star Trek, sebenernya Star Trek II: Wrath of Khan... waktu Mr.Spock mati. Tapi hanya nonton gitu ajah... gak terus jadi tertarik banget... padahal scene di Engineering waktu Spock mati itu harusnya adalah scene paling mengharukan sepanjang sejarah Star Trek.
1 Mei 1991... First episode of TNG di RCTI... Very first time I saw Data... mungkin lebih tepatnya first time I noticed Data, adalah adegan di holodeck ketika Riker menyebutnya Pinnochio. Saat itulah Data menarik minatku. Aku nanya sama Ndoro: â€orang itu makhluk apaan sih? Kenapa warnanya seperti itu?â€. Waktu itu aku gak sadar bahwa Data...dan juga kawan-kawannya... bakalan menjadi hal yang kutunggu setiap minggunya di TV. Di situ lah aku mulai masuk ke dunia Star Trek…
Terus Best of Both Worlds I... waktu Picard nongol sebagai Locutus of Borg, pasti tampangku bloon banget deh... tapi kayaknya masih lebih bloon tampangnya si Riker kali yaa... Dari semua two-parter-nya TNG, itu yang paling bikin terbengong-bengong waktu keluar tulisan To Be Continued...
Terus ada lagi episode Brothers, dimana Data, Lore, dan Dr.Soong nongol bertiga, semuanya diperankan oleh Brent Spiner... Waktu nonton film-nya sih aku baik-baik sajah... tapi begitu ngeliat end creditnya... jreng-jreng... keluarlah nama si Brent Spiner sebagai Lore/Dr.Soong... HA? Kok bisa? Nah itu lah ceritanya kedodolanku... Jaman itu masih buta teknologi perfilman ceritanya... tapi bener loh... pertamanya aku mengira mereka itu memang 3 orang yang berbeda... meskipun kalo Data dan Lore, aku ragu-ragu... halus sekali penggabungannya... jadi pengen nonton lagi deh...
Hmm terus yang paling aku ingat dari ke 178 episode-nya TNG adalah All Good Things... Terutama scene terakhir. Waktu itu udah jam 2 malam... thanks to Laporan Khusus (masih jaman Orba kan...), jadinya filmnya diundur sejam, baru mulai jam 1 malam. Nah, di adegan meja poker itu, Picard gak mengeluarkan pidato-pidato yang menyatakan seberapa sayangnya dia sama crew-nya... Dia hanya memandangi mereka satu per satu. Kamera close-up ke mereka satu per satu... Nah... ketika itu lah... kok aku jadi pengen nangis terharu gitu ngeliatnya... berhubung lagi sendirian, ya sudah lah... ngapain ditahan-tahan...
Entahlah... sepertinya mereka memang intentionally membuat scene itu menjadi mengharukan.... atau hanya aku saja ya? Mungkin pada saat itu, aku tiba-tiba menyadari bahwa itulah saat-saat terakhir aku bakalan melihat mereka di serial TNG (kecuali rerun ya), setelah bertahun-tahun mereka menghiburku, akhirnya seperti kata si Q: all good things must come to an end...
Terus... setelah akhirnya mereka zooming out dan end creditnya masuk... aku ketawa... (hihi... gila kali yee... abis nangis terus ketawa sendiri)... karena buat nonton episode itu tuh... penantiannya lumayan lama... bayangin yaa... RCTI itu pinter banget menyiksa penggemar Star Trek yang gak punya resource lain selain RCTI!! Aku inget waktu itu 1 episode sebelum cliffhangernya season 6: Descent. Aku sudah berharap cemas pengen nonton Descent, itu kan episode yang ada Stephen Hawking-nya. Udah gitu, setelah itu masuk season 7 (yang terakhir). Ternyata... minggu depannya, bukannya Descent malah diganti DS9... ih.. sebel banget... kan penasaran!! Tapi untunglah, bagaikan dapat durian runtuh (hehe... padahal aku gak suka duren!), ternyata beberapa tahun kemudian, waktu aku kelas 2 SMA, mereka akhirnya memutar Descent dan season 7-nya TNG.
Gitu deh... All Good Things itu paling mengharukan, bahkan waktu Data mati di Nemesis aja aku gak sedih, mungkin karena aku gak terima: kenapa Data harus mati...!!!
Oke... kembali ke memorable moments lagi...
Star Trek: Generations... meskipun filmnya agak-agak garing (kalo dibandingin First Contact), tapi aku bener-bener terhibur sama yang satu ini. Karena jaman itu belum kenal internet, jadi gak tercemari oleh spoiler-spoiler yang sekarang marak berkeliaran di internet. Sehingga aku bener-bener dibikin kaget, ketawa, bengong, dst... Terkejut dan terus ketawa: mostly karena Data dan emotion chip-nya; Terkejut karena kebanyakan un-Data-like, tapi lucu dan tetap innocent. Terus â€terkejut dan bengongâ€: waktu Enterprise-D crash landing... Gak nyangka aja bakalan dijatuhkan seperti itu... starship yang sudah seperti â€rumah temen-temenkuâ€, karena saking seringnya ngeliat, kok tauk-tauk hancur begitu sajah... Ya waktu itu kan aku masih polos... gak tauk bahwa kalo starship hancur... artinya... di film selanjutnya bakalan ada starship baru lagi, dengan desain baru, yang supposed to be lebih cool, artinya lagi... keluar desain-desain baru untuk merchandise yang berhubungan dengan starship. Yah... itulah entertainment business.
Star Trek: First Contact... hmm... yang satu ini, aku suka banget... sampe sekarang sudah nonton berkali-kali, tapi masih belum bosan juga... kalo ditanya, bagian mana yang aku suka? Bingung jawabnya... suka semua sih... buat aku gak ada satupun yang membosankan di dalam film itu... tapi paling aku ingat adalah... waktu Data ngomong â€Resistance is Futile!†JEBRUT!! Dan dia pun memecahkan kaca coolant tanks dan mengakhiri semua itu.
Star Trek: World Tour... yang ini... bisa dibilang kebetulan... sebenernya sudah rencana lama mau pergi jalan-jalan, gak ada hubungan sama Star Trek, nah kebetulan dapat kesempatan pas libur lebaran tahun 2000. Sebulan sebelumnya, pas lagi browsing di Internet, ngeliat iklan Star Trek World Tour itu... mereka lagi buka pameran di S’pore... Pas kita lagi di sana, pameran itu masih ada. Tapi ternyata tiketnya mahal bok.... untungnya.... ternyata mereka sedia tiket student... harganya 1/3-nya kalo gak salah... Jadilah kita masuk ke pameran itu. Trus tak disangka-sangka, ternyata gak hanya pameran, tapi ada juga â€live show†seperti di Star Trek: The Experience di Las Vegas...
Jadi kita dibawa masuk ke suatu ruangan yang pura-puranya di salah satu base-nya Starfleet... abis itu karena ada keadaan darurat, kita di-â€transport†ke Enterprise-D... ya wis... abis itu kita dibawa muter-muter di Enterprise. Kemudian berakhir di salah satu shuttlecraft-nya Enterprise, yang kemudian â€mendarat†di toko souvenir Star Trek... hehehe... Sayangnya kita gak boleh ikutan â€maen piano†di console-console komputernya Enterprise-D...
Memorable moments lainnya...? Masih banyak lagi sebenarnya…
Sekarang Star Trek sudah hampir 40 tahun, aku sendiri sudah 15 tahun jadi penggemar. Bayangin… waktu Picard pertama kali masuk Enterprise, aku masih pakek seragam putih-biru (sori… SD-ku gak pakek putih-merah sih…hehe…), dan Picard masih juga jadi Captain di Enterprise ketika aku dinyanyikan lagu Sarjana oleh teman-teman PSM….
Happy anniversary Star Trek!!
Kalo di belahan dunia lain, mungkin para trekkies (or trekkers?) berpesta dengan menghadiri berbagai event yang khusus diadakan untuk perayaan 40 tahun ini. Di sini? Aku gak tauk... mungkin para anggota milis indo-startrek mau bikin gathering? Aku belum pernah datang, belum pernah nongol di milis juga (hmm... tapi memang sekarang ini aku jarang meramaikan milis-milis yang aku ikuti, kecuali bpsti2003 kali ya). Mungkin... kalo memang ada gathering, aku pengen juga sekali-sekali datang dan bertemu dengan sesama â€manusia anehâ€. Sementara ini, aku meramaikan di blog saja deh... :-D
Sekarang aku mau cerita tentang memorable moments selama nonton Star Trek. Hmm... gak hanya nonton sih... tapi juga baca, bahkan sempat â€mencicipi†lari-lari di Enterprise-D.
Kita mulai dari awal dulu... pertama banget nonton Star Trek, sebenernya Star Trek II: Wrath of Khan... waktu Mr.Spock mati. Tapi hanya nonton gitu ajah... gak terus jadi tertarik banget... padahal scene di Engineering waktu Spock mati itu harusnya adalah scene paling mengharukan sepanjang sejarah Star Trek.
1 Mei 1991... First episode of TNG di RCTI... Very first time I saw Data... mungkin lebih tepatnya first time I noticed Data, adalah adegan di holodeck ketika Riker menyebutnya Pinnochio. Saat itulah Data menarik minatku. Aku nanya sama Ndoro: â€orang itu makhluk apaan sih? Kenapa warnanya seperti itu?â€. Waktu itu aku gak sadar bahwa Data...dan juga kawan-kawannya... bakalan menjadi hal yang kutunggu setiap minggunya di TV. Di situ lah aku mulai masuk ke dunia Star Trek…
Terus Best of Both Worlds I... waktu Picard nongol sebagai Locutus of Borg, pasti tampangku bloon banget deh... tapi kayaknya masih lebih bloon tampangnya si Riker kali yaa... Dari semua two-parter-nya TNG, itu yang paling bikin terbengong-bengong waktu keluar tulisan To Be Continued...
Terus ada lagi episode Brothers, dimana Data, Lore, dan Dr.Soong nongol bertiga, semuanya diperankan oleh Brent Spiner... Waktu nonton film-nya sih aku baik-baik sajah... tapi begitu ngeliat end creditnya... jreng-jreng... keluarlah nama si Brent Spiner sebagai Lore/Dr.Soong... HA? Kok bisa? Nah itu lah ceritanya kedodolanku... Jaman itu masih buta teknologi perfilman ceritanya... tapi bener loh... pertamanya aku mengira mereka itu memang 3 orang yang berbeda... meskipun kalo Data dan Lore, aku ragu-ragu... halus sekali penggabungannya... jadi pengen nonton lagi deh...
Hmm terus yang paling aku ingat dari ke 178 episode-nya TNG adalah All Good Things... Terutama scene terakhir. Waktu itu udah jam 2 malam... thanks to Laporan Khusus (masih jaman Orba kan...), jadinya filmnya diundur sejam, baru mulai jam 1 malam. Nah, di adegan meja poker itu, Picard gak mengeluarkan pidato-pidato yang menyatakan seberapa sayangnya dia sama crew-nya... Dia hanya memandangi mereka satu per satu. Kamera close-up ke mereka satu per satu... Nah... ketika itu lah... kok aku jadi pengen nangis terharu gitu ngeliatnya... berhubung lagi sendirian, ya sudah lah... ngapain ditahan-tahan...
Entahlah... sepertinya mereka memang intentionally membuat scene itu menjadi mengharukan.... atau hanya aku saja ya? Mungkin pada saat itu, aku tiba-tiba menyadari bahwa itulah saat-saat terakhir aku bakalan melihat mereka di serial TNG (kecuali rerun ya), setelah bertahun-tahun mereka menghiburku, akhirnya seperti kata si Q: all good things must come to an end...
Terus... setelah akhirnya mereka zooming out dan end creditnya masuk... aku ketawa... (hihi... gila kali yee... abis nangis terus ketawa sendiri)... karena buat nonton episode itu tuh... penantiannya lumayan lama... bayangin yaa... RCTI itu pinter banget menyiksa penggemar Star Trek yang gak punya resource lain selain RCTI!! Aku inget waktu itu 1 episode sebelum cliffhangernya season 6: Descent. Aku sudah berharap cemas pengen nonton Descent, itu kan episode yang ada Stephen Hawking-nya. Udah gitu, setelah itu masuk season 7 (yang terakhir). Ternyata... minggu depannya, bukannya Descent malah diganti DS9... ih.. sebel banget... kan penasaran!! Tapi untunglah, bagaikan dapat durian runtuh (hehe... padahal aku gak suka duren!), ternyata beberapa tahun kemudian, waktu aku kelas 2 SMA, mereka akhirnya memutar Descent dan season 7-nya TNG.
Gitu deh... All Good Things itu paling mengharukan, bahkan waktu Data mati di Nemesis aja aku gak sedih, mungkin karena aku gak terima: kenapa Data harus mati...!!!
Oke... kembali ke memorable moments lagi...
Star Trek: Generations... meskipun filmnya agak-agak garing (kalo dibandingin First Contact), tapi aku bener-bener terhibur sama yang satu ini. Karena jaman itu belum kenal internet, jadi gak tercemari oleh spoiler-spoiler yang sekarang marak berkeliaran di internet. Sehingga aku bener-bener dibikin kaget, ketawa, bengong, dst... Terkejut dan terus ketawa: mostly karena Data dan emotion chip-nya; Terkejut karena kebanyakan un-Data-like, tapi lucu dan tetap innocent. Terus â€terkejut dan bengongâ€: waktu Enterprise-D crash landing... Gak nyangka aja bakalan dijatuhkan seperti itu... starship yang sudah seperti â€rumah temen-temenkuâ€, karena saking seringnya ngeliat, kok tauk-tauk hancur begitu sajah... Ya waktu itu kan aku masih polos... gak tauk bahwa kalo starship hancur... artinya... di film selanjutnya bakalan ada starship baru lagi, dengan desain baru, yang supposed to be lebih cool, artinya lagi... keluar desain-desain baru untuk merchandise yang berhubungan dengan starship. Yah... itulah entertainment business.
Star Trek: First Contact... hmm... yang satu ini, aku suka banget... sampe sekarang sudah nonton berkali-kali, tapi masih belum bosan juga... kalo ditanya, bagian mana yang aku suka? Bingung jawabnya... suka semua sih... buat aku gak ada satupun yang membosankan di dalam film itu... tapi paling aku ingat adalah... waktu Data ngomong â€Resistance is Futile!†JEBRUT!! Dan dia pun memecahkan kaca coolant tanks dan mengakhiri semua itu.
Star Trek: World Tour... yang ini... bisa dibilang kebetulan... sebenernya sudah rencana lama mau pergi jalan-jalan, gak ada hubungan sama Star Trek, nah kebetulan dapat kesempatan pas libur lebaran tahun 2000. Sebulan sebelumnya, pas lagi browsing di Internet, ngeliat iklan Star Trek World Tour itu... mereka lagi buka pameran di S’pore... Pas kita lagi di sana, pameran itu masih ada. Tapi ternyata tiketnya mahal bok.... untungnya.... ternyata mereka sedia tiket student... harganya 1/3-nya kalo gak salah... Jadilah kita masuk ke pameran itu. Trus tak disangka-sangka, ternyata gak hanya pameran, tapi ada juga â€live show†seperti di Star Trek: The Experience di Las Vegas...
Jadi kita dibawa masuk ke suatu ruangan yang pura-puranya di salah satu base-nya Starfleet... abis itu karena ada keadaan darurat, kita di-â€transport†ke Enterprise-D... ya wis... abis itu kita dibawa muter-muter di Enterprise. Kemudian berakhir di salah satu shuttlecraft-nya Enterprise, yang kemudian â€mendarat†di toko souvenir Star Trek... hehehe... Sayangnya kita gak boleh ikutan â€maen piano†di console-console komputernya Enterprise-D...
Memorable moments lainnya...? Masih banyak lagi sebenarnya…
Sekarang Star Trek sudah hampir 40 tahun, aku sendiri sudah 15 tahun jadi penggemar. Bayangin… waktu Picard pertama kali masuk Enterprise, aku masih pakek seragam putih-biru (sori… SD-ku gak pakek putih-merah sih…hehe…), dan Picard masih juga jadi Captain di Enterprise ketika aku dinyanyikan lagu Sarjana oleh teman-teman PSM….
Happy anniversary Star Trek!!
Put It On Screen, Mr.Worf!!
Vidcon tadi pagi, diceritakan secara Star Trek.
Pagi tadi, ada acara pelantikan, jadi kami (Bi, pak bos, dan aku) harus menyiarkan acara itu secara langsung dari HQ melalui subspace channel [baca: jaringan WAN] ke starbase-starbase kita [baca: region dan area operasi[, termasuk beberapa outpost yang bener-bener letaknya di pinggiran daerahnya Federation [baca: Sorong, Bunyu].
Karena sekarang belum bener-bener abad 24, jadi teknologinya masih serba darurat... kameranya terpaksa diselotep ke tripod, karena ternyata mereka gak matching. Sekrupnya si tripod gak bisa ngikat si kamera. Dah gitu... dari kamera ke subspace transmitternya [baca: server yang menjalankan Windows Media Encoder] terpaksa pake kabel yang disambung-sambung.... (duh, teknologi wireless aja belum di-implement).
Caranya gampang.... starbase-starbase itu tinggal â€open hailing frequency†aja ke HQ [open hailing frequency = contact ke IP address server]. Nanti si subspace transmitter mengirimkan gambar ke viewscreen mereka masing-masing.
Awalnya lancar... Tapi terus telepon mulai berdatangan... ada Starbase yang run on battery mode lah... (baca: mati lampu!!), terus Starbase-nya Dedy tiba-tiba menerima gambarnya patah-patah, wuah... pasti too much interference nih di subspace channel-nya, melalui comm channel (audio only) dia minta gambar di-decode ulang. Begitu Admiral Dirut selesai pidato, kita langsung men-decode ulang pakek kompresi yang lebih rendah... Jadi starbase-starbase itu terpaksa mengulang hailing mereka.
Dah gitu, gak lama setelah itu ada protes lagi, kali ini dari Starbase-nya Dudut dan Hayat... katanya kualitas gambar jadi jelek... hihihi... ya terang ajah... demi ngebelain interference yang ada di subspace channel antara HQ dengan Starbase-nya Dedy, kita memang menurunkan kualitas gambar, biar lebih compact.
Ya gitu deh... alhamdulilah akhirnya berjalan dengan lancar, gak ada gangguan dari Borg yang tiba-tiba menjalankan invasi, atau dari Q yang iseng-iseng mampir...
Yang aku bayangkan... di Starbase-starbase itu... teman-temanku melapor ke bosnya: â€Pak, ada subspace transmission dari Starfleet Command.†Terus pak/bu bosnya mereka tinggal bilang: â€Put it on screen, Mr... Worf?â€â€¦
Pagi tadi, ada acara pelantikan, jadi kami (Bi, pak bos, dan aku) harus menyiarkan acara itu secara langsung dari HQ melalui subspace channel [baca: jaringan WAN] ke starbase-starbase kita [baca: region dan area operasi[, termasuk beberapa outpost yang bener-bener letaknya di pinggiran daerahnya Federation [baca: Sorong, Bunyu].
Karena sekarang belum bener-bener abad 24, jadi teknologinya masih serba darurat... kameranya terpaksa diselotep ke tripod, karena ternyata mereka gak matching. Sekrupnya si tripod gak bisa ngikat si kamera. Dah gitu... dari kamera ke subspace transmitternya [baca: server yang menjalankan Windows Media Encoder] terpaksa pake kabel yang disambung-sambung.... (duh, teknologi wireless aja belum di-implement).
Caranya gampang.... starbase-starbase itu tinggal â€open hailing frequency†aja ke HQ [open hailing frequency = contact ke IP address server]. Nanti si subspace transmitter mengirimkan gambar ke viewscreen mereka masing-masing.
Awalnya lancar... Tapi terus telepon mulai berdatangan... ada Starbase yang run on battery mode lah... (baca: mati lampu!!), terus Starbase-nya Dedy tiba-tiba menerima gambarnya patah-patah, wuah... pasti too much interference nih di subspace channel-nya, melalui comm channel (audio only) dia minta gambar di-decode ulang. Begitu Admiral Dirut selesai pidato, kita langsung men-decode ulang pakek kompresi yang lebih rendah... Jadi starbase-starbase itu terpaksa mengulang hailing mereka.
Dah gitu, gak lama setelah itu ada protes lagi, kali ini dari Starbase-nya Dudut dan Hayat... katanya kualitas gambar jadi jelek... hihihi... ya terang ajah... demi ngebelain interference yang ada di subspace channel antara HQ dengan Starbase-nya Dedy, kita memang menurunkan kualitas gambar, biar lebih compact.
Ya gitu deh... alhamdulilah akhirnya berjalan dengan lancar, gak ada gangguan dari Borg yang tiba-tiba menjalankan invasi, atau dari Q yang iseng-iseng mampir...
Yang aku bayangkan... di Starbase-starbase itu... teman-temanku melapor ke bosnya: â€Pak, ada subspace transmission dari Starfleet Command.†Terus pak/bu bosnya mereka tinggal bilang: â€Put it on screen, Mr... Worf?â€â€¦
Liburan Kemerdekaan 3: Walking Machine Hero
Bagian terakhir dari liburan HUT RI aku habiskan bersama kawan lama: novel Star Trek. Rasanya sudah lama banget gak baca novel Star Trek. Hmm, sebenernya sih... gak segitunya... terakhir aku baca novel VOYAGER waktu awal tahun ini, tapi yang itu ceritanya standar aja, gak istimewa banget. Yang istimewa itu biasanya bikin kita terbawa di dalam rollercoaster emosi dari cerita novel tersebut.
Aku gak akan menulis review secara detail dari novel-novel yang aku baca kemaren, tapi ini dia beberapa yang istimewa:
I, Q (The Next Generation - TNG) - Cara penulisan novel ini sedikit berbeda dari novel Star Trek pada umumnya. Kalo biasanya storyteller-nya adalah si penulis, di novel ini storyteller-nya adalah Q, yang menceritakan pengalamannya sendiri. Di situ asiknya... karena dilengkapi dengan komentar-komentar lucu si Q (sebagai superior being) terhadap segala sesuatunya termasuk terhadap Picard dan Data (yang dianggap Q sebagai "lesser being"). Trus di novel ini Picard dan Data tidak digambarkan selalu serius dan cool, mereka kadang melakukan tindakan atau mengeluarkan statement bodoh atau bahkan annoying. Yah... mereka kan juga manusia.... (eh...salah ya? Data kan bukan manusia...). Jadinya aku cekikikan sendiri baca novel ini. Eh kok jadi banyak sih?
Homecoming 1 & 2 (Voyager) - kalo yang ini tentang nasibnya crew USS Voyager setelah mereka kembali ke Alpha Quadrant. Seneng aja, jadi ada penjelasan kan, setelah mereka sampai di Alpha Quadrant, kemudian apa yang terjadi pada crew-nya Voyager yang 1/2-nya bekaas "penjahat" itu. Ceritanya sebenernya biasa aja, tentang conspiracy gitu deh... tapi nasib crew Voyager itu yang bikin menarik.
Immortal Coil (TNG) - nah ini novel yang pertama kubaca kemaren, dan yang paling berkesan. Bercerita tentang misteri artificial intelligence di dunia Star Trek. Banyak banget kejutan-kejutan, sampe pada suatu titik... aku bertanya: loh... kenapa kok semua tokoh baru di novel itu ternyata android? (ups, spoiler)... bukannya di Writer's Bible-nya Star Trek ada ketentuan bahwa tidak ada android selain Data dan Lore ya? Terus ternyata tokoh yang aku duga sebagai "android juga", ternyata bukan android. Terus love story-nya juga gak norak. Tapi ujung-ujungnya... meskipun banyak AI muncul di cerita itu, ternyata Data, my walking machine hero, tetep merupakan sosok yang unik.
Ngomong-ngomong love story, mau tauk love story di Star Trek yang paling aku sebelin? Kisah cintanya Picard dengan Anij di Star Trek 9!! Sebel banget... gak suka... tokoh itu gak cocok buat jadi "The Captain's Woman".
Kembali ke novel...
Star Trek: Nemesis - yang ini? Aku gak jadi baca... itu yang membuatnya jadi istimewa!! Padahal... sejak tahun 2002 (waktu filmnya di-launching) aku mencari-cari novel ini. Dan sekarang... setelah mendapatkannya, ternyata aku ragu-ragu untuk membacanya... aku males membacanya. It's not the worst Star Trek movie loh, sebenernya it's not a bad Star Trek movie at all (meskipun revenue dari film itu menyatakan lain)... tapi... thanks to Data... aku jadi ilfil sama film / novel ini, karena dalam Nemesis, my beloved android mattiiii!!. Huhuhuhuhu...
Whooaa... yeah... sekarang aku mau cerita tentang Data. Mungkin sedikit terlambat, should have done it long time ago. Data adalah pahlawan masa remajaku, dulu sih aku sangat bangga sama Data, tapi pernah suatu masa, setelah bertambah usia... ternyata sulit untuk mengakui hal tersebut, bahkan sulit untuk mengakui bahwa I'm a Trekkie (or Trekker? Apapun deh...). Mungkin karena di masa itu aku berpikiran: ternyata aku norak sekali sih... hmm mungkin bukan norak, even worse: a freak...? Katanya... tanda-tanda seorang freak salah satunya adalah "suka Star Trek". Yah, tapi bodo amat deh, biarin aja dibilang freak (semua orang juga punya sisi yang bisa membuatnya dibilang freak kan?).
Waktu aku masih ABG, aku hanya melihat Data sebagai tokoh yang unik, lain dari tokoh lainnya yang umumnya manusia, superior (pintar, kuat, apalagi?). Kalo sekarang? Aku melihatnya tetap sebagai sosok yang superior, unik, dst...dst..., tapi satu hal yang menjadikannya dia berbeda adalah: Data itu polos... Tadinya kupikir Data itu so naive hanya karena dia emotionless... tapi setelah Data akhirnya meng-install emotion chip, ternyata dia tetap (dibuat) polos, naive, innocent... coba aja liat wajahnya (maksudku Data, bukan Brent Spiner), innocent banget... sepertinya menyenangkan berteman dengannya... dia bukan tipe orang yang suka menyembunyikan udang di balik bakwan, apalagi bala-bala (apakah replicator di USS Enterprise mampu membuat bala-bala?)...
Satu hal yang menarik tentang Data: he's an android kan... bukan seseorang yang secara natural memiliki orang tua, punya anak, punya sodara... tapi... dari semua tokoh di The Next Generation, ternyata... Data lah yang keluarganya paling dikenal oleh pemirsa. Dia punya ibu, dia punya bapak, punya siblings, punya anak, punya piaraan. Oya, aku menyebut keluarganya Data itu sebagai: Keluarga Yang Aneh... tapi ini buat lain kali aja ceritanya...
Aku gak akan menulis review secara detail dari novel-novel yang aku baca kemaren, tapi ini dia beberapa yang istimewa:
I, Q (The Next Generation - TNG) - Cara penulisan novel ini sedikit berbeda dari novel Star Trek pada umumnya. Kalo biasanya storyteller-nya adalah si penulis, di novel ini storyteller-nya adalah Q, yang menceritakan pengalamannya sendiri. Di situ asiknya... karena dilengkapi dengan komentar-komentar lucu si Q (sebagai superior being) terhadap segala sesuatunya termasuk terhadap Picard dan Data (yang dianggap Q sebagai "lesser being"). Trus di novel ini Picard dan Data tidak digambarkan selalu serius dan cool, mereka kadang melakukan tindakan atau mengeluarkan statement bodoh atau bahkan annoying. Yah... mereka kan juga manusia.... (eh...salah ya? Data kan bukan manusia...). Jadinya aku cekikikan sendiri baca novel ini. Eh kok jadi banyak sih?
Homecoming 1 & 2 (Voyager) - kalo yang ini tentang nasibnya crew USS Voyager setelah mereka kembali ke Alpha Quadrant. Seneng aja, jadi ada penjelasan kan, setelah mereka sampai di Alpha Quadrant, kemudian apa yang terjadi pada crew-nya Voyager yang 1/2-nya bekaas "penjahat" itu. Ceritanya sebenernya biasa aja, tentang conspiracy gitu deh... tapi nasib crew Voyager itu yang bikin menarik.
Immortal Coil (TNG) - nah ini novel yang pertama kubaca kemaren, dan yang paling berkesan. Bercerita tentang misteri artificial intelligence di dunia Star Trek. Banyak banget kejutan-kejutan, sampe pada suatu titik... aku bertanya: loh... kenapa kok semua tokoh baru di novel itu ternyata android? (ups, spoiler)... bukannya di Writer's Bible-nya Star Trek ada ketentuan bahwa tidak ada android selain Data dan Lore ya? Terus ternyata tokoh yang aku duga sebagai "android juga", ternyata bukan android. Terus love story-nya juga gak norak. Tapi ujung-ujungnya... meskipun banyak AI muncul di cerita itu, ternyata Data, my walking machine hero, tetep merupakan sosok yang unik.
Ngomong-ngomong love story, mau tauk love story di Star Trek yang paling aku sebelin? Kisah cintanya Picard dengan Anij di Star Trek 9!! Sebel banget... gak suka... tokoh itu gak cocok buat jadi "The Captain's Woman".
Kembali ke novel...
Star Trek: Nemesis - yang ini? Aku gak jadi baca... itu yang membuatnya jadi istimewa!! Padahal... sejak tahun 2002 (waktu filmnya di-launching) aku mencari-cari novel ini. Dan sekarang... setelah mendapatkannya, ternyata aku ragu-ragu untuk membacanya... aku males membacanya. It's not the worst Star Trek movie loh, sebenernya it's not a bad Star Trek movie at all (meskipun revenue dari film itu menyatakan lain)... tapi... thanks to Data... aku jadi ilfil sama film / novel ini, karena dalam Nemesis, my beloved android mattiiii!!. Huhuhuhuhu...
Whooaa... yeah... sekarang aku mau cerita tentang Data. Mungkin sedikit terlambat, should have done it long time ago. Data adalah pahlawan masa remajaku, dulu sih aku sangat bangga sama Data, tapi pernah suatu masa, setelah bertambah usia... ternyata sulit untuk mengakui hal tersebut, bahkan sulit untuk mengakui bahwa I'm a Trekkie (or Trekker? Apapun deh...). Mungkin karena di masa itu aku berpikiran: ternyata aku norak sekali sih... hmm mungkin bukan norak, even worse: a freak...? Katanya... tanda-tanda seorang freak salah satunya adalah "suka Star Trek". Yah, tapi bodo amat deh, biarin aja dibilang freak (semua orang juga punya sisi yang bisa membuatnya dibilang freak kan?).
Waktu aku masih ABG, aku hanya melihat Data sebagai tokoh yang unik, lain dari tokoh lainnya yang umumnya manusia, superior (pintar, kuat, apalagi?). Kalo sekarang? Aku melihatnya tetap sebagai sosok yang superior, unik, dst...dst..., tapi satu hal yang menjadikannya dia berbeda adalah: Data itu polos... Tadinya kupikir Data itu so naive hanya karena dia emotionless... tapi setelah Data akhirnya meng-install emotion chip, ternyata dia tetap (dibuat) polos, naive, innocent... coba aja liat wajahnya (maksudku Data, bukan Brent Spiner), innocent banget... sepertinya menyenangkan berteman dengannya... dia bukan tipe orang yang suka menyembunyikan udang di balik bakwan, apalagi bala-bala (apakah replicator di USS Enterprise mampu membuat bala-bala?)...
Satu hal yang menarik tentang Data: he's an android kan... bukan seseorang yang secara natural memiliki orang tua, punya anak, punya sodara... tapi... dari semua tokoh di The Next Generation, ternyata... Data lah yang keluarganya paling dikenal oleh pemirsa. Dia punya ibu, dia punya bapak, punya siblings, punya anak, punya piaraan. Oya, aku menyebut keluarganya Data itu sebagai: Keluarga Yang Aneh... tapi ini buat lain kali aja ceritanya...
Yah itulah...Data have been and will always be my favorite android... (tuh kan... sekarang aku bisa mengakuinya)... Hmm... oya, foto ini adalah kartu ulang tahun yang diberikan oleh 2 orang temanku waktu ulang tahunku ke-17. Makasih teman-teman... hihi... Btw, aku baru sadar beberapa minggu lalu, hadiah yang mereka berikan bersama kartu itu, ternyata lebih unik dari yang aku kira: "celengan Snoopy lagi memegang Saxophone". Wow... what a coincidence: Data, Snoopy, dan Saxophone... mungkin mereka dapet sejenis premonition ya? Aku kan gak pernah berpikir untuk belajar saxophone sampai akhir 2004...? (naon sih...)
Hobi-hobi Berserakan 4 : The Final Frontier…
Hobiku yang satu ini dimulai waktu Star Trek: The Next Generation diputar di RCTI (tahun 1991). Aku pernah ceritakan di posting tentang Star Trek Oya, waktu aku kelas 6 SD, aku suka nulis cerita-cerita yang tokohnya dari Star Trek bareng si Vita. Tapi versi kelas 6 SD ya... kalo sekarang baca cerita-cerita itu lagi (masih ada loh...), hihihi... duh malunya....
Star Trek itu seperti punya dunia sendiri, dia punya realitas sendiri, dimana berlaku norma-norma yang ditentukan sendiri oleh pengarangnya. Nah, sebenernya kan dunia Star Trek itu disusun untuk kepentingan hiburan semata, tapi penggemar Star Trek tuh bisa hafal loh ketentuan-ketentuan, norma-norma, dan batasan-batasan yang ada di dunia Star Trek. Bahkan sampe ada yang menghayatinya. Mereka (para penggemar Star Trek) bisa berdiskusi dan berpolemik mengenai apa yang terjadi di dunia Star Trek, seolah-olah dunia Star Trek adalah realitas mereka sehari-hari.
Contohnya gini: Misalkan kita lemparkan pertanyaan, tahun berapa sih First Contact dengan Vulcan terjadi? Terus dimana lokasinya? Semua trekkies (penggemar Star Trek) pasti akan menjawab sama: 2063, di Montana. Seolah-olah kejadian tersebut memang tertulis di sejarah. Sama seperti kalo kita menjawab pertanyaan: kapan sih perang Diponegoro terjadi? Jawabnya pasti: 1825-1830 kan... karena itu yang tertulis di catatan sejarah kita, sesuai dengan kejadian di realitas kita. Para trekkies itu menghayati sejarah dunia Star Trek, seolah-olah itu sejarah dunia kita sendiri.
Ya gitu deh... kalo ngomongin Star Trek. Apalagi kalo sudah ngomongin parallel universe dengan multi-realitasnya atau time travel dengan paradoksnya... huehehehe... mumet dah... tapi justru di situ lah asiknya...
Aku sendiri sekarang sudah gak begitu ngikutin Star Trek lagi. Terutama sejak Mr.Data mati dan Star Trek bubar. Tapi aku masih tergabung di milis penggemar Star Trek di Indonesia, dan sesekali nge-check kabar terbaru tentang Star Trek di http://www.startrek.com/. Kadang-kadang kalo baca diskusi yang begitu heboh di milis itu, aku cengar-cengir sendiri. Hihihi... gila banget, diskusinya begitu heboh, dah kayak diskusi di lingkungan akademis aja, padahal yang diomongin kan sesuatu yang gak nyata, hanya rekaan si penulis cerita Star Trek.... Terus setiap fenomena di dunia Star Trek ada dasar sains-nya, tapi sainsnya juga boongan, hanya berlaku di dunia Star Trek.
Foto: Duh, ampun om Klingon... saya jangan diapa-apain... tadi saya nyangkain om adalah patung lilin... maap om... (btw, hak sepatunya tinggi banget om?)
Star Trek itu seperti punya dunia sendiri, dia punya realitas sendiri, dimana berlaku norma-norma yang ditentukan sendiri oleh pengarangnya. Nah, sebenernya kan dunia Star Trek itu disusun untuk kepentingan hiburan semata, tapi penggemar Star Trek tuh bisa hafal loh ketentuan-ketentuan, norma-norma, dan batasan-batasan yang ada di dunia Star Trek. Bahkan sampe ada yang menghayatinya. Mereka (para penggemar Star Trek) bisa berdiskusi dan berpolemik mengenai apa yang terjadi di dunia Star Trek, seolah-olah dunia Star Trek adalah realitas mereka sehari-hari.Ya gitu deh... kalo ngomongin Star Trek. Apalagi kalo sudah ngomongin parallel universe dengan multi-realitasnya atau time travel dengan paradoksnya... huehehehe... mumet dah... tapi justru di situ lah asiknya...
Foto: Duh, ampun om Klingon... saya jangan diapa-apain... tadi saya nyangkain om adalah patung lilin... maap om... (btw, hak sepatunya tinggi banget om?)
