Mimpi Yang Aneh…

Semalam aku bermimpi… setting-nya bener, tapi waktunya gak bener, terus ada tokoh nyasar masuk situ…

Jadi… aku tiba-tiba ada di Sabuga – Sasana Budaya Ganesha. Auditórium-nya ITB yang segede gambreng itu, jaman kuliah dulu langganan masuk situ minimal setahun 3 kali, buat nyanyi di wisudaan orang-orang. Di dalam mimpiku ini, aku juga mau nyanyi wisudaan, tapi waktunya itu sekarang-sekarang ini. Aku ikutan nyanyi karena menggantikan anak-anak PSM yang pada pergi ke Xiamen untuk Choir Olympics. Anak-anak PSM yang tertinggal di Sabuga, aku gak kenal, hanya ada 1 wajah familiar dari PSM, kakak pianisku di PSM, tapi dia kan juga udah lama lulus… di mimpiku dia berperan sebagai sejenis Music Director. Terus ada satu lagi wajah familiar, tapi gak logis, karena dia teman kantorku, dan sama sekali bukan teman kuliah, juga bukan tukang nyanyi, aku heran kenapa dia bisa muncul di Sabuga. Tapi namanya juga mimpi… Meskipun aneh, tapi aku merasa temanku itu memang ada di tempat dan waktu yang seharusnya.

Nah, ternyata… PSM bukan hanya kekurangan penyanyi, mereka juga gak ada dirigen. Semua dirigen pergi ke Xiamen. Terus grand piano yang dikeluarkan juga jelek banget, kalo gak salah itu piano Aula Barat yang warna coklat tapi dalam keadaan rusak berat. Aku bersikeras bahwa Sabuga punya piano bagus. Terus aku nyari ke backstage, ternyata menemukan grand piano hitam Sabuga yang seharusnya. Karena anak-anak PSM yang tersisa sudah duduk manis di panggung, jadi ga ada yang bantu nuker piano, akhirnya aku dorong-dorong dua piano itu sendiri. Ternyata enteng (ini juga gak logis, harusnya berat).

Setelah piano siap di tempatnya… aku siap duduk di kursi piano, dan siap menunggu isyarat MC untuk memainkan Mars ITB. Yang ini logis, mirip seperti ritual aslinya. Tapi… dirigen kan belum ada… terus dua orang temanku yang dalam dunia nyata tidak saling mengenal itu tiba-tiba muncul… temanku yang pianis (sebagai Music Director) menyuruh teman kantorku untuk jadi dirigen Mars ITB… tapi temanku panik dan gak biasa, jadi dia minta tukeran. Karena kasian sama temanku akhirnya aku jadi dirigen Mars ITB, terus temen kantorku yang main piano, herannya dia tauk bagaimana memainkan iringan piano Mars ITB (di kehidupan nyata temenku ini gak bisa main piano). Trus hal janggal lainnya: kenapa bukan temanku yang pianis aja yang main piano, padahal dia jago banget main piano… terus kenapa wisudaan mesti pake music director segala… seolah-olah wisudaan adalah konser paduan suara yang njlimet.

Nah waktu lagi tengah-tengah nyanyi Mars ITB itulah aku denger ada yang bunyi-bunyi asing, ternyata HP-ku alarmnya bunyi. Udah jam ½ 5 pagi… tidur bentar lagi ah… tapi gak seperti biasanya yang habis mimpi terus lupa, mimpi semalam masih aku ingat jalan ceritanya… Apa artinya ya? Apakah aku harus bantu anak-anak PSM? Apakah temen kantorku tiba-tiba pengen ikut PSM? (loh? Gak mungkin yaa…) Ataukah aku sekedar kangen aja sama ritual di PSM? Hmm… mimpi yang aneh…

Kenangan Terindah?

Aku tulis di sini ya, sebagai salah satu reminder aja, kalo pas lagi di kantor, sambil browsing, sambil coding... bisa baca-baca ini sekalian. Buat apa sih? Tunggu aja tanggal mainnya, ntar dikasi reportasenya dech... :-D (buat yang udah tauk, dilarang ngasih clue...) Maklum deh, kalo soal hafalan kadang-kadang lemot, jadi harus banyak reminder... Ntar bikin reminder juga ah, di tempat tidur rumah... di tas (buat di jalan)... di toilet kantor... itu kan salah satu tempat yang rajin dikunjungi...) heheheh...

Darimu kutemukan hidupku
Bagiku kaulah cinta sejati

Bila yang tertulis untukku
Adalah yang terbaik untukmu
'Kan kujadikan kau kenangan
Yang terindah dalam hidupku

Namun tak 'kan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang t'lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah


My Other Half

Ngisi waktu malem-malem nih, ntar ½ 12 harus bangunin Ndulo. Abis itu gantian tidurnya. Heheheh…

Salah satu lagu kesukaan, dari Indra Lesmana nih…

Looking for my other half
And I got complete must on you
Astrology sight can be perfect clue
Is it true

I could make a step behind
But I stupidly can't deny
Sweet tenderly heart
Your smile, I kindly regret

If you would be shining my hours forever more
Then we could be sharing our moments happily in harmony

By the moonlight's magic rhyme
We have caught in the finest time
It's true, love is blind
And I've really found
With you

Liriknya… romantis banget sih enggak… tapi selain musiknya yang swing, rasanya lagu ini “gue banget”. Iya, aku memang dalam pencarian “my other half”. Sampe sekarang aku gak bisa mendefinisikan… seperti apa “other half” yang aku cari, gak ada bayangan. Kira-kira bakalan seperti apa ya pria itu, apa kesukaannya, apa yang dia gak suka, dst… dst… Kalo disuruh menulis requirement-nya (ala iklan lamaran kerja), kayaknya gak bisa deh. Tapi aku percaya, ketika waktunya tiba, aku akan tauk sendiri: yak… dialah yang kucari.

Mungkin aku termasuk orang yang percaya bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, jadi “other half” kita itu juga menunggu dengan caranya sendiri untuk saling menemukan. Bisa jadi dia sebenernya orang yang dekat dengan kita, hanya saja hati kita belum terbuka untuknya, atau malah kita akan menemukannya di tempat yang tidak terduga dan dengan cara yang tak terduga sebelumnya, atau bisa juga kita menemukannya dengan cara konvensional ala dongeng klasik. Kita gak akan tauk, sebelum semuanya terjadi.

Yah… buat aku, dan juga rekan-rekan seperjuangan, just keep praying lah ya… semoga Tuhan selalu memberikan petunjuk dan clue-clue yang membawa kita pada yang terbaik.

[mode sanguin on lagi]
Coba dicatat, tgl berapa sekarang… baru kali ini aku bisa nulis rada serius seperti di atas.

Hobi-hobi Berserakan 2 : Aku Suka Musik…

Awalnya, aku pengen les piano karena Ndoro udah les piano duluan. Tapi… lama-kelamaan bosen juga les piano, rasanya lagunya gitu-gitu aja. Terutama di akhir-akhir masa SD dan awal SMP. Sempet beberapa kali pengen keluar, tapi gak boleh sama Ibu. Nah, begitu udah kenal yang namanya lagu populer… barulah aku mulai seneng les piano.

Pergaulanku dengan musik, selain dengan piano, juga dengan paduan suara. Salah satu alasanku pengen masuk ITB (selain ka
rena dekat rumah Mbah Bandung jadi ngirit ongkos dan waktu, terus karena kampusnya feels like home) adalah karena PSM-ITB. Bukan karena aku pengen belajar nyanyi atau karena PSM-ITB adalah paduan suara paling top (duh seandainya saja yang ini beneran…), tapi karena Ndoro itu (PSM-ITB juga) kayaknya asik banget kalo lagi main atau jalan-jalan sama temen-temen PSM-nya. Ternyata setelah masuk PSM, aku mendapatkan banyak hal, bukan hanya temen-temen yang asik, more than I expected pokoknya deh.

Apa sih yang menarik dari PSM? Selain teman-temannya yang sudah seperti sodara sendiri dan puny
a kelakukan yang unik, sekrenya yang sudah seperti rumah sendiri, tentu saja di sana kita juga mendapatkan sarana untuk melampiaskan hasrat terpendam / aktualisasi diri / melakukan penampilan (yah... ada aja kan sisi narsisis dari diri kita?). Terus seringkali bete juga tiap hari mikirin nol-satu-nol-satu dan if-then-else yang garing di jurusan, pengen melakukan sesuatu yang lain seperti misalnya nyanyi-nyanyi... nah kalo nyanyi-nyanyi sendiri... ntar dibilang gila, kalopun ada sarananya seperti karaoke... kurang pede kalo sendirian. Di PSM ini lah aku bisa nyanyi-nyanyi tanpa dibilang gila, dah gitu banyak temennya pas nyanyi, karena emang PSM kerjaannya nyanyi rame-rame. Dengan nyanyi-nyanyi, si nol-satu-nol-satu tadi bisa terlupakan sejenak, digantikan dengan do-re-mi-fa-sol.

Untuk menyambung ke hobi musikku yang selanjutnya. Mungkin aku mesti sedikit cerita ttg tahun 2002. Tahun terakhir di PSM, ketika aku "kuliah di PSM, dan nyambi di IF-ITB". Waktu itu kita mencoba konsep baru untuk konser, yaitu bikin choral revue. Choral revue adalah pertunjukkan musikal seperti di Broadway yang dibawakan oleh paduan suara. Kebetulan choral revue yang kita bawakan ini terdiri dari beberapa bundle lagu medley dari jaman 1900-an sampe 1990-an.

Ternyata… di antara sekian banyak lagu yang dibawakan, aku paling menikmati lagu swing, terus lagu-lagunya Gershwin yang “café bangeeetttt….” (termasuk kategori jazz standard). Kalo lagu swing itu, rasanya membuat ingin berdansa ‘til broad daylight… Sedangkan lagu-lagu yang café banget tadi rasanya bikin relax, romantis, dan hangat gitu loh… Di situ lah aku mulai berkenalan dengan musik jazz.

Dalam standard jazz, kalo piano biasanya membuat suasana jadi romantis. Selain piano, ada beberapa alat musik yang menimbulkan kehangatan dalam repertoire-repertoire jazz standard yang suka aku dengarkan: Trumpet dan Saxophone. Apalagi kalo Saxophone yang suaranya “tebal”, duile… asik banget dah… Dari situ lah… keluarnya ide untuk belajar Sax. Selanjutnya yaaa… seperti yang pernah aku ceritakan di posting sebelumnya.

Sekarang Aku Mengerti…

Ini adalah cerita tentang pengalaman pertamaku dengan alat musik bernama saxophone.

Setelah survey kesana-kemari (dari berbagai website, forum diskusi tentang saxophone, dsb) dan minta pendapat sana-sini: Banyak yang tidak merekomendasikan saxophone buatan RRC, dan aku agak ragu-ragu dengan saxophone Jupiter yang sudah disurvey dan tinggal dibeli. Apakah harganya yang lumayan itu sesuai dengan nilai saxophone-nya? Hmm... Akhirnya aku memutuskan untuk membeli saxophone second-hand sebagai langkah awal.

Aku datang ke Bursa Alat Musik Tiup di rumahnya bu Tina, tepatnya di daerah Pasar Rebo. Aku mendapatkan alamat bu Tina dari mailing list indojazz dan juga dari majalah Intisari. Banyak yang merekomendasikan tempat bu Tina ini untuk urusan saxophone.

Bu Tina dan mas Didiet (anaknya bu Tina) langsung mengeluarkan beberapa kotak saxophone alto. Salah satunya Selmer Bundy. Hiiiyyy.... dengernya aja serem. Kesannya buat orang prof banget gitu loh (padahal gak ngaruh). Kata mas Didiet itu lumayan mahal, karena ”Selmer Bundy” itu tadi. Dah gitu saxophone itu gold-lacquered dan lapisannya udah mbladus. Duh... kayaknya susah ngerawatnya.

Ada juga yang vintage, alias bener-bener antik. Aku jadi inget saxophone-nya Michael Lington yang udah mbladus sana-sini. Kata bu Tina, para pemain prof justru banyak nyarinya yang mbladus gitu... Biar gak dibilang pemula (hmm... gak penting banget ya?)

Nah... aku langsung naksir sama saxophone nickle-plated Weril buatan Brazil. Kayaknya gak butuh perawatan macem-macem (terutama untuk lapisannya). Harganya pun cocok sama aku, mengingat aku belum bisa sama sekali. Rencananya kalo sudah lumayan, baru tukar tambah ke yang agak bagusan.

Belum puas aku lihat-lihat si Weril ini, tau-tau mas Didiet memberikan mouthpiece ke aku, dan menyuruhku untuk mulai meniup. Ini lumayan susah ternyata...

Instruksinya: Gigi atas menempel di mouthpiece, bibir bawah jangan terlalu rapat, sebuulll... Pertama kali niup, yang keluar cuma angin. Gak ada bunyi TOET... Setelah percobaan yang kesekian kali, akhirnya dapet juga tuh bunyi TOET yang dicari-cari. Jadi bunyi itu dihasilkan dari getaran reed yang terpasang di bawah mouthpiece. Dia bergetar karena udara yang keluar dari mulut kita.

Setelah berhasil ”membunyikan” mouthpiece. Mouthpiece tadi lantas dipasang di si Weril. Mulailah… aku mencoba membunyikan nada-nada. Karena belum kuat support nafasnya, akhirnya jadi pendek-pendek, itupun sukur-sukur bisa bunyi… Seringkali bunyinya jadi kayak peluit, atau gak naik 1 oktaf. Oya, karena bunyinya pendek-pendek, jadi serasa lagi berada di pelabuhan… bunyinya kayak klakson kapal: NOOOTTT…
Hihihihihi… ancur banget deh…

Setelah sedikit keringetan, bu Tina bilang mau diajarin sama suaminya. Wuih… lumayan juga tips-and-tricknya. Ternyata kalo nadanya rendah, biar gak naik 1 oktaf, harus sedikit dilonggarkan bibir bawah kita… Tips untuk melonggarkan bibir: CEMBERUT. Untuk mendapatkan nada yang tinggi, harus sedikit dirapatkan, kuncinya: TERSENYUM.

Waktu aku mulai sering dapat cara yang enak buat niup… bibir bawah rasanya geli-geli gitu deh, karena kena getaran reed. Terus pipiku rasanya penuh banget sama udara. Tapi sekarang aku mengerti… kenapa Dave Koz keliatan menggemaskan ketika meniup saxophone…. :-D

Masih Juga Tentang Musik

Pindah-pindah Toko Kaset
Aku mau cerita tentang kunjungan ke toko-toko kaset weekend ini.

Hari Jum'at (24 Maret) aku ke PS, ternyata Disc Tarra yang ada di basement sudah raib entah kemana. Perasaan baru aja ke situ bareng tante-tante MM-UGM. Ya sudah... aku ke Duta Suara saja. Beli Samson pesenannya Ndulo, sama beli CD Jazz Masa Kini. CD Jazz Masa Kini-nya sih lumayan. Ada yang asik lagunya, ada juga yang tergolong jazz mumet. Sampe sekarang belum sempet mendengarkan ulang. Tapi bravo lah buat generasi baru jazz Indonesia!!

Hari Sabtu, aku jalan-jalan ke Gramedia Matraman, ceritanya ada teman yang nyari tas laptop. Liat-liat ke Disc Tarra, tapi gak ada yang asik.

Hari Minggu, bagaikan dapet jackpot... ternyata bisa kelar kuliah jam 1/2 5. Wah... masih ada 1 1/2 jam lagi sebelum berangkat ke airport. Kemana ya? Ya sudah, kali ini tujuannya adalah Duta Suara Jl. Sabang.

Dengan membawa kopian buku kuliah yang berat banget itu, aku pergi ke Duta Suara. Seperti biasa... naik ke pojokan khusus Jazz yang di lantai 2. Coba ya... duile... di situ menemukan CD-CD Jim Brickman dengan harga normal (yang disebut "gak normal" adalah harga impor), contohnya albumnya yang Grace.

Karena CD gak ada yang menarik (dan juga karena lagi agak2 ngirit), akhirnya muter di tempat kaset. Mborong Red Paradise (album-nya Java Jazz yang menduduki posisi kanan bawah), terus 1 album Dave Koz (sayangnya gak ada Lukiman - maksudnya Lucky Man, album Dave Koz yang kedua, tahun 1993), terus best collectionnya Stan Getz, sesepuh jazz saxophonist. Ceritanya lagi pengen menumbuhkan motivasi nih...

Oya, mbak-mbaknya yang di kasir baik banget. Dia liat kotak kaset Dave Koz agak pecah, terus dia ngingetin loh... wah... untung deh, aku agak kurang teliti waktu ngambil. Jadi ambil yang baru deh.

Jam 6 kurang 15, bentar lagi harus berangkat ke airport. Iseng-iseng aku pindah ke Duta Suara mungil yang terletak gak berapa jauh dari Duta Suara yang besar. Nah, di situ lebih banyak lagi CD Jim Brickman, termasuk Disney Storybook loh. Wauw... untungnya harganya sama (malah sedikit lebih mahal) dari yang aku beli. Jadi gak mengalami penyesalan. Hehehe...

Aku masih usaha nyari Lukiman. Di tempat CD gak ada. Terus kasetnya juga nowhere to be seen. Eh...tapi ketika aku berjalan ke arah pintu keluar. Aku melihat kaset Dave Koz yang The Dance, di rak nomor dua dari bawah. Ketika aku geser, di belakangnya ada kaset Saxophonic, geser lagi. BINGO!! Lukiman!! Setengah tak percaya, aku ambil kaset itu. Terus geser lagi... ternyata di belakangnya Saxophonic lagi, gak ada Lukiman lagi. Padahal udah janjian sama temanku, kalo nemu Lukiman, mesti beli 2.

Setengah memelas, aku minta ke mbaknya: "Ada lagi gak mbaak?". Dia telponin ke toko sebelah. Ternyata gak ada. "Kalo CD-nya mbak?". Akhirnya dibantu juga sama mas-mas yang lagi beres-beres kaset. Gak ada juga. Wuuuaaa... ya sudah beli 1 saja dulu. Itu aja udah untung bisa nemu. Duh, senangnya...

Ke Yamaha Gatsu
Hari Senin (27 Maret), akhirnya aku berhasil juga sampe di Yamaha yang di Jl. Gatot Subroto. Mau nanya-nanya kursus musik. Setelah bertanya sama mas-mas yang ada di depan, aku dan Ndoro menuju lantai 3, tempat les musik.

Waktu liftnya terbuka, jreng... sekelompok anak kecil dan babysitternya keluar dari lift. Gruduk, gruduk, gruduk. Hihihi... lucunya... Anak-anak itu memang lucu-lucu, tapi aku juga lucu, karena mau les bareng sama anak-anak kecil yang lucu-lucu itu!!

Mas-mas yang di sekolah musik sangat kooperatif dan informatif. Bahkan kita ditunjukin buku musik yang dipakai sebagai materi les piano pop. (hihi... padahal kita bukan nanya les piano). Pokoknya keluar dari situ tuh sambil tersenyum puas deh.

Nungguin Patti Austin & Dave Koz di ANTV
Malamnya, nungguin siaran ulang Java Jazz di ANTV, kebetulan kali ini artisnya Patti Austin feat. Dave Koz. Pulang kantor tuh mandi dulu, terus mulai nguprek-nguprek privia, leyeh-leyeh (niatnya tidur, tapi ga jadi), makan malam, nguprek-nguprek privia lagi. Akhirnya... jam 1/2 11 sampe juga ke acara yang ditunggu-tunggu.

Patti Austin suaranya pancen oye... duile... hidup alto!! Aku memang suka mendengar penyanyi-penyanyi jazz alto. Mungkin juga... itu yang mengawali pergaulanku dengan musik jazz. Penyanyi alto yang suaranya gede-gede itu.

Tapi sebenarnya yang ditunggu adalah Dave Koz. Aku belum puaaasss... nonton Dave Koz. Sepertinya Dave Koz-nya sengaja disimpan, aku sampe nyaris ketiduran di sofa depan TV. Untung Ndulo bolak-balik nanya: "Mana nih Dave Koz-nya?", "Yah... dia tiduuurrr... katanya nunggu Dave Koz..."

Akhirnya lagu Smoke Gets in Your Eyes (bahasa Indonesianya: kelilipan) yang ditunggu-tunggu datang juga. Dan Dave Koz pun keluar... Horeee... hihihi... dia memang menggemaskan. Ternyata Smoke Gets ini lagu nomor 2 dari akhir. Lagu terakhir, Dave Koz ikutan maen lagi sih. Kalo di acara live-nya, kata koran sih Dave Koz sempet main Keliru dan juga You Make Me Smile. Uh oh, sayang sekali berakhir di meja editor...

Tentang Dave Koz
Dave Koz itu ganteng, tapi banyak artis lain yang juga ganteng. Lagunya Dave Koz enak-enak, Smooth Jazz gitu loh, tapi banyak juga musisi lain yang lagunya enak. Jadi kenapa dong dia menjadi “special”?

Dave Koz itu… MENGGEMASKAN!! Itulah kesan yang aku terima ketika nonton live-nya. Aksi panggungnya lucu, dan ketika dia memainkan saxophone-nya, wah ekspresi wajahnya itu loh... hihihi... bikin pengen mencubit pipinya. That’s what make him “special”. Beda dengan Kenny G atau Michael Lington yang kesannya cool dan jaim.

Sebelum Java Jazz, aku gak begitu memperhatikan yang namanya Dave Koz, yah just another saxophone guy lah. Kalopun ada yang membuatku terkesan, itu adalah lagu You Make Me Smile. Karena lagu itu kesannya playful banget, jadi benar-benar membuatku pingin senyum ketika mendengarnya. Selebihnya, biasa aja.

Penampilan Dave Koz di Java Jazz kemaren telah mengubah image Dave Koz di mataku dan membuatku memiliki beberapa penyesalan kecil. Yang pertama nih, aku pernah jalan-jalan ke Gramedia Matraman, terus lihat kaset Golden Slumbers: A Father’s Lullabies, albumnya Dave Koz yang isinya nina bobok, tapi waktu itu aku gak beli. Yang kedua, aku pernah beli CD Bajakan di Mangdu, salah satunya Golden Slumbers itu, ternyata terbawa temanku ke Jayapura, karena aku terlalu cuek gak telpon-telpon dia waktu dia masih di Jakarta (kejadian itu sebelum aku ke Java Jazz). Nah, di Golden Slumbers itu ada lagu Over The Rainbow. Lagu itu adalah lagu yang dimainkan Dave Koz, tepat ketika aku harus meninggalkan JHCC. Jadi sekarang aku penasaran banget sama Golden Slumbers itu. Hiks…

Kesimpulannya, aku memang belum puas nonton Dave Koz di Java Jazz. Mr.Koz... ayoo... ke sini lagi dooonnnkkk...!!!

Musik itu…

...Bahasa Universal

Perhatikan potongan lagu di bawah ini:







Lagu tersebut adalah lagu Top 40 sepanjang masa: Balonku. Ketika lagu-lagu Sheila on 7 ataupun Dewa sudah mulai ditinggalkan penggemarnya, lagu Balonku tetap dinyanyikan oleh anak-anak balita di seluruh Indonesia. Untuk yang lebih terbiasa dengan not angka, tulisannya akan menjadi seperti ini:







Ketika lagu tersebut dimainkan oleh orang Jawa, orang Sunda, orang Batak, orang Padang, orang Bule, orang Cina, orang Negro, dst... bunyinya tetap sama: Balonku.

Ketika lagu tersebut dimainkan dengan piano, gitar, biola, saxophone, harpa, warna suaranya menjadi berbeda, tapi bunyinya tetap sama: Balonku.

Ketika lagu tersebut dimainkan dengan gaya Sonata-nya Mozart, di-Brickmanize, dinyanyikan dengan jeritan-jeritannya Candil, atau dihambarkan oleh Clayderman, nuansanya jadi berbeda, bunyinya bisa jadi beda, tapi esensinya tetap sama: Balonku.

Itulah musik... siapapun yang memainkannya dan bagaimanapun cara menyampaikannya, orang yang mendengarkannya tetap mengerti, bahwa si pemain hendak menyampaikan lagu yang sama. Dave Koz gak harus berusaha bicara dalam bahasa Indonesia untuk menghibur penonton di Hall BNI, Viky Sianipar tetap bisa bicara dalam bahasa Batak-nya ketika mengajak kita "jalan-jalan" ke daerah Toba.

Hmm.. Kembali ke 2002, lirik lagu yang cukup pas untuk menggambarkan keuniversalan musik adalah:

Music is a language
A message to be spread
With power to unite us
Bonded by a common thread.

Jadi daripada gontok-gontokan antar manusia, mendingan kita bermusik!!

JJF 2006: Day 2

Arrival @ JHCC
Kalo hari ini, pulang kuliah aku ke Alia dulu, abis itu berangkat bareng si Dedy. Begitu sampe di pintu masuk, lagi-lagi tas digeledah. Kali ini aku pake sedikit trick supaya roti hasil ngembat dari UGM dan Wafer Tango-nya gak ketahuan. Wafer Tangonya dicemplungin di dalam tas, terus di bagian atas tas aku taroh kantong plastik isi kemeja dan kantong plastik isi sandal. Begitu mas-masnya ngeliat isi tasku yang paling atas, dia langsung malas buat ngaduk-ngaduk tasku.

Setelah lewat gerbang X-Ray, kita beli majalahnya Java Jazz, berhadiah 2 buah gelang karet warna-warni dengan tulisan Java Jazz blah-blah-blah...

Begitu masuk... kita jadi bingung sendiri, mau ngapain dulu ya? Keliling di lobi sambil liat-liat souvenir, tapi penuh banget euy kios souvenirnya... mau milih-milih juga susah. Dedy sempet ngajakin makan dulu, tapi masa’ baru jam 5 udah makan sih... meskipun jam 5 termasuk ”jam aneh” yang cocok buat makan di Java Jazz, tapi kalo makannya terlalu sore, tengah malam nanti bisa kelaparan. Jam 17.15, kita mendekat ke Assembly Hall 1, untuk nonton Viky Sianipar.

Viky Sianipar
Sori, aku bukannya SARA ya, tapi hehe... masuk ke konsernya Viky itu, kesannya… batak banget!! Sempet terheran-heran waktu si Viky teriak: HORAS!! Dan para penonton lainnya spontan menjawab serentak: HORAS!! Uh-oh, jangan2 hanya kami aja penonton yang bukan berasal dari Sumatera Utara? Hihihi…

Mendengarkan Viky, rasanya seperti dibawa ke Danau Toba dan sekitarnya. Lagu-lagunya Viky bisa menciptakan suasana magis yang sama dengan suasana magis di Danau Toba.

Tapi si Viky-nya sendiri gak mirip dengan yang kubayangkan. Kalo liat foto di cover CD-nya, gak kebayang kalo orangnya kayak kemaren itu: yang aku lihat ini jauh lebih funky dan lucu.

Salah satu yang berkesan adalah waktu si Viky memperkenalkan pemain gondangnya yang bule. Katanya si bule ini tadinya pemain perkusi biasa, terus ketika datang ke Indonesia dia melihat bahwa musik perkusi di Indonesia sangat kaya, buat dia Indonesia itu adalah surga perkusi. Akhirnya dia tinggal di sini dan mempelajari alat musik perkusi tradisional Indonesia. Selama memperkenalkan si bule ini, mereka berkomunikasi pake bahasa Inggris, tapi kemudian ketika si Viky menanyai si bule ini dengan bahasa Sunda, si bule dengan fasihnya menjawab dengan bahasa Sunda juga!! Wuah.. lebih fasih dari aku pula.

Dari Viky, kita cari-cari souvenir lagi. Akhirnya liat-liat di Hall BNI. Dapet kaos polo meskipun ukurannya agak kegedean. Waktu bayar, baru nyadar kalo duit semakin menipis dan di situ gak ada ATM. Whoopps… gak boleh boros-boros kalo gitu. Lagian belum beli makan malam.

Zefa dan Makan Malam
Dari Hall BNI, kita cari makan. Beli makan di lantai 2 lagi. Nukerin token lagi 100rb. Beli mie goreng dan ice lemon tea. Trus kita liat balkonnya agak kosong, kayaknya asik kalo bisa makan di situ sambil menikmati pemandangan di bawah. Lagipula saat itu sedang berlangsung konser Zefa (pianis jazz berumur 11 tahun) di lobby.

Kita menemukan tempat kosong, tapi ternyata banyak sampah2 box makanan berserakan di situ...hmm... tapi ah sudahlah... makan di soto sampah-nya balubur aja bisa, masa’ di situ gak bisa... hehehe... Setelah menemukan posisi duduk yang cukup enak (dan berfoto-foto sebentar), kita pun mulai makan. Saking asiknya nontonin Zefa, juga orang-orang yang lalu lalang di bawah, gak sadar kalo ternyata tempat kita duduk itu udah terkepung sama orang-orang yang ngantre mau masuk Plenary Hall buat nonton Bob James. Weekkss... terpaksa nyelap-nyelip untuk menyelamatkan diri.

Di Lower Ground
Habis makan aku ngajakin untuk nonton Forte Band: A Tribute to Bill Saragih di ruangan Merak, lantai lower ground. Tapi... ketika menuju sana... kita malah nyangkut di beberapa kios. Salah satunya adalah kios Aquarius. Hihi... tapi terus inget masalah ketiadaan ATM... wuah... kalo gak bisa pake credit card, kita gak boleh beli apa-apa nih. Akhirnya beli CD-nya Park Drive (penasaran sama band-nya Rayen) dan Magic Fingers-nya Balawan ( I love Dance of Janger...)

Di sebelahnya ada kios Yamaha. Mampir juga… liat-liat Saxophone dan Clarinet lagi. Tapi aku agak-agak kecewa sama kios Yamaha ini. Seharusnya mereka pro aktif gitu kek… ketika mereka melihat aku tertarik sama barang2 mereka, mbok ya disamperin dan ditanyain: “Ada yang bisa saya bantu mbak?”

Jadinya aku yang menyapa mereka duluan. Udah gitu jawabnya juga ogah-ogahan. Yang paling sebel waktu aku nanya-nanya tentang kursus. Pertama nanya kursus Clarinet, katanya gak ada. Trus nanya kursus piano buat orang dewasa. Masa’ dia jawab gini: ”Ya bisa aja sih... asal tahan latihan jarinya aja.”. Ih, gimana sih... kita kan calon konsumen. Dengan jawabannya itu, artinya dia men-discourage kita untuk les piano.

Soal belajar piano setelah dewasa ini, aku punya teman-teman di PSM yang tadinya sama sekali gak bisa maen piano, terus karena bergaul dengan piano di PSM, akhirnya mereka bisa juga. Nah... yang gak pake guru aja bisa... apalagi kalo pake guru...

Oya, meskipun rada sebel-sebel gitu, akhirnya aku dapat buku piano Great Jazz di kios Yamaha itu.

Keluar dari kios Yamaha kita memutuskan untuk menguangkan token-token makan kita, supaya persediaan uang yang menipis bisa bertambah. Duh... lumayan... kalo sampe kepaksa pulang naik taksi... Kita sempet liat-liat Disc Tarra, untungnya gak ada yang menarik... jadi gak beli-beli lagi... terus pas liat ke ruangan Merak, yaahh... Forte Band-nya udah habis... dan jam juga sudah menunjukkan jam ½ 9, waktunya Gadiz and Bass di lobby JHCC.

Gadiz V & Bass G
Waktu nyampe di lobby, Big Band-nya UPH masih maen lagu terakhir. Kita pun langsung memposisikan diri di depan panggungnya si Gadiz & Bass. Langsung duduk lesehan di atas lantai marmer. Setelah UPH selesai, gak butuh waktu lama, Gadiz & Bass langsung mulai main.

Komentarku: Wauw!! Keren banget... anak SMP-SD gitu loh!! Si Gadiz sudah lebih menguasai panggung, sementara itu Bass banyakan diem. Aku bener-bener menikmati pertunjukkan mereka... meskipun sayangnya Beautiful Asia yang kutunggu-tunggu ternyata gak dimainin. Dan konser ini diakhiri dengan pertanyaan: ”Masih pengen belajar Clarinet Git?”. Wuahhh... aku kan sudah mengambil keputusan, jangan disetani lagi dunk.










15 menit terakhir dari konsernya G&B agak menyiksa... karena duduk di lantai marmer dan kena AC yang dingin banget itu, gigiku mulai bunyi... terus di tangan kananku mulai ada bercak gatel merah, yang kalo gak segera bergerak atau melakukan sesuatu, bisa bertambah banyak. Begitu konser berakhir, dan orang2 bubaran... aku langsung mengambil kaos polo yang tadi kubeli, dan melapisi kaosku dengan kaos polo itu. Hehe... kapan lagi ganti baju di tengah-tengah lobby-nya JHCC. Tapi enak, jadi hangat... Dan ternyata kaos polonya gak segede yang dibayangkan.

Kemudian kita menyalami Gadiz & Bass, terus foto-foto sama mereka. Hehe... paling gak, sempet foto sama artis lah... Setelah liat hasil foto dengan mereka, komentar Dedy: Aku jadi keliatan HITAM, kalo komentarku: Aku jadi keliatan BESAR.

Indra Lesmana & Reborn
Kemudian kita menuju ke konsernya Indra Lesmana, di Hall BNI. Hmmm.... sejujurnya aku berharap dia main swing macamnya Rumah Ketujuh... tapi kalo bareng reborn... aku sudah bisa menduga sih... pasti dia main jazz-jazz tipe pusing. Yah... gak pa-pa lah... meskipun gak bisa menikmati, tetep aja keren...

Dave Koz
Begitu Indra selesai main... kita langsung ambil posisi di depan stage sebelah tempat Indra main tadi. Di situ bakalan ada Dave Koz... duh malam banget sih... yang menyenangkan, persiapannya sejak Indra kelar, sampe Dave Koz siap tampil tuh gak memakan waktu lama.

Jam ½ 11, konsernya Dave Koz pun mulai. Aku gak tauk deh, kenapa di konser ini aku lose control, dan bener2 terbawa emosi. Gak biasanya aku bersorak-sorai heboh ketika nonton konser. Mungkin karena ternyata si Dave Koz itu lucu dan aksi panggungnya seru, jadi selain menikmati musiknya, kita juga dibikin ketawa sama tingkah Dave Koz dan musisi-musisinya. Mungkin juga karena sudah malam banget juga (mulai sedikit teler neehh..). Atau karena ini mata acara yang sangat ditunggu-tunggu, yang tadinya sempet terancam gak jadi nonton.










Sebelum membawakan Keliru, si Dave Koz berusaha berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi ketauan nyonteknya... huehehehehe... tapi boleh lah usahanya. Oya, saking gak bisa diemnya si Dave Koz, foto-foto yang diambil jadi blur semua... hehehe... tapi ada juga yang cukup layak untuk dipajang di sini.

Yang sungguh menyebalkan, ketika kita keluar karena aku sudah dijemput, intro lagu Over The Rainbow mulai terdengar. Mendengar intro lagu tersebut, aku yang lagi berjalan nyelap-nyelip kerumunan orang udah gak inget orang2 sekitar, langsung aja aku ngerem mendadak dan berteriak: ”WAAAAA...!!! Over the Rainbow!!!!”. Yah... tapi terpaksa deh... ditinggalkan Over The Rainbownya, sudah kemalaman.

Malam ini jam 12 kurang ¼ sampai di Utan Kayu. Hmmm... tapi besok kan bisa longgar. Gak ada sekolah... gak usah ngantor... heheheheheh... (tersenyum puas)

JJF 2006: Day 1

Arrival @ JHCC
Pulang kuliah, aku langsung cabut ke JHCC. Sampe di pintu masuk JHCC… aku melihat setumpukan minuman dan snack di lantai. Itu apa ya? Wuah… ternyata ada razia makanan!! Sesuai dengan ketentuan yang tercantum di tiket, gak boleh bawa makanan ke dalam. Aku ikutan meletakkan botol air mineral-ku yang tinggal setengah penuh.

Sampe di dalam, yang pertama kulihat adalah orang, orang, dan orang melulu... Buanyak banget. Jadi agak-agak panik. How could I find my best friends kalo segitu penuhnya? Hehe… iya lupa, kan ada telepon. Tapi ketika aku nelpon Dedy pun, yang kedengaran justru latar belakang musik. Setelah sedikit berteriak-teriak, akhirnya ketauan juga kalo si Dedy dan Bulo lagi nonton Hiromi. Aku segera nyusul ke sana.

Hiromi
Konsernya Hiromi ada di Tebs Hall (Assembly Hall 3). Bulo keliatannya sangat menikmati, kalo Dedy bilang kadang2 agak mumet dengernya, aku sendiri cuma bisa terbengong-bengong ngeliat si Hiromi melakukan ”akrobat-akrobat jari” di pianonya. Uh oh, keren banget... lagunya memang kadang-kadang terlalu berat, tapi sebenernya harmoninya gak mumet-mumet banget, malah ”berat”-nya itu bisa dibilang dekat dengan ’berat”-nya musik klasik.

Si Hiromi main lagu yang dia persembahkan buat Bruce Lee dan Jackie Chan. Lucu banget. Dedy dan Bulo membayangkan lagu itu sebagai theme song-nya sebuah game, sedangkan aku membayangkan si Jackie Chan lagi mempraktekkan koreografi perkelahiannya yang selalu bikin aku pengen ketawa.

Michael Lington & Andi Rianto orch. feat. Shakila, Harvey Malaiholo, and Eric Bennet
Kelar dari Hiromi, kita langsung ngantre di Plennary Hall, mau nonton Michael Lington. Mayan panjang tuh antreannya. Di sini aku ketemu beberapa orang temen. Yang pertama adalah Erik Siahaan (PSM-ITB), huuuaaaa... Erik si Suara Emas!! dia bela-belain datang dari Medan untuk nonton selama 3 hari. Trus pengantre yang gak jauh di depan kita, ternyata adalah mas Aan (PSM-ITB) juga, tapi herannya tadi kok mas Aan gak ngeliat Erik ya?

Antrean semakin panjang, kita malah foto-foto di tengah antrean. Cheeezzz... Ketika pintu Plennary Hall dibuka, kita pun gruduk-gruduk masuk, dan segera berlari untuk mendapatkan tempat yang uwenak.

Kita dapat tempat berdiri lumayan ke depan. Gak lama Plennary Hall-nya terisi penuh. Dan acara pun dimulai. Michael Lington was a charming guy... Malam itu dia pake suit hitam, tapi keliatan sangat relaxed.




Di tengah-tengah konser, masuklah Shakila. She’s a beautiful lady with a beautiful voice, mereka bawain lagunya Joni Mitchell. Nah… kemudian si Lington panggil Harvey Malaiholo, ternyata mereka bawain salah satu lagu kenanganku: You’ve Got A Friend. ARRGGGHHH… keren banget. Mendengarkan lagu itu jadi membawa kenanganku kembali ke tahun 2002 yang indah. Aku cuma bisa terpesona waktu menikmatinya. Diam. Menatap ke atas panggung.


Setelah itu mereka juga menampilkan Eric Bennet dengan baju merah ngejrengnya.
Konser ditutup dengan Sorry Seems To Be The Hardest Word. Keluar dari Plennary Hall, aku ketemu Rino dan Melly (dua-duanya PSM).

Tompi
Dari Michael Lington, kita segera pindah ke Tompi di Telkomsel Hall. Akhirnya kesampean juga nonton Tompi secara live. Dia tuh ternyata live-nya lebih bagus dari di kaset. Bravo Tompi!! Yang unik, dia memperkenalkan anggota band-nya dengan cara menyanyi. Kalo kata Bulo: kayak Pantun Aceh aja... hihi... ya wajar dunk, si Tompi kan orang Aceh. Lagu terakhir-nya si Tompi adalah Selalu Denganmu, yang juga dibawakan lebih baik dari di CD.

Wafer Tango Kurma Madu
Dari Tompi, sebenarnya kita ngejar Maliq, tapi karena gak mulai-mulai dan perut sudah lapar, kita nongkrong di depan Hall BNI, dan ketemu si Yudi (BPS Simpruk). Mau beli makanan di Snack Bar, wuah... pake ngantre panjang. Akhirnya aku mengeluarkan hasil selundupan di tas: Tango Kurma Madu!! Sambil ndlosor di depan Hall BNI, kita makan Kurma Madu.

Si Erik memang sudah wanti-wanti, kalo bisa bawa makanan kecil yang bisa diselundupkan. Lumayan buat ganjel, karena kalo mau makan malam di jam normal, pasti ngantre. Jadi harus makan di jam yang abnormal, kalo gak malam banget, ya agak sorean. Erik sendiri katanya mau bawa sejenis energy bar gitu, cereal yang dimampatkan. Thanks ya E’i’, untuk sarannya...

Pameran Alat Musik
Karena Maliq gak mulai-mulai, jalan2 dulu ke Exhibition Hall B. Liat pameran alat musik. Segala macem alat musik ada di situ... yang elektronik, yang akustik, yang klasik, yang modern, yang mahal, yang murah. Tapi bisa dibilang kosong hall itu. Yang aneh... kok aku gak liat Yamaha ya? Hmm...

Maliq D’Essentials
Setelah melakukan transaksi di pameran alat musik, kita kembali ke Exhibition Hall A (Hall BNI), di situ Maliq sudah mulai. Hmm... tapi aku memang gak begitu bisa menikmati Maliq (atau karena lagi lapar berat ya?). Jadi gak usah comment ya.

Makan Malam
Kita hanya nonton 2 lagu di Maliq, karena rasanya sudah starving buanget... Setelah itu memutuskan untuk makan malam, dan berencana habis itu pulang. Makan malamnya di lantai 2. Sebelum beli makanan, kita mesti tukar uang jadi ”token” dulu. Token itu wujud fisiknya koin dari plastik. Kemudian token itu ditukarkan dengan kupon yang bertuliskan menu makanan, terakhir baru kupon menu itu ditukarkan dengan makanan. Rumit...

Menu makanan kita malam itu adalah Spaghetti! Kita memilih duduk di kursi-kursi rotan di lantai 2. Serasa di rumah deh... Kalo spaghetti-nya, rasanya biasa aja. Tapi karena sudah laper... ya sikat aja...

Selesai makan, kita poto-poto dulu di depan logo Jazz Zone dan juga di tempat artis-artis berfoto. Beberapa kali dengan gaya normal, gaya foto model, dan gaya ancur. Oya, logo Jazz Zone-nya lucu, membuat rambut kita jadi tampak merah.

Habis itu... kita pulang. Jam ½ 12 aku sampai di Utan Kayu.

The Disney Storybook

A dream is a wish your heart makes. When you're fast asleep. In dreams you will loose your heartache. Whatever you wish for you keep. Have faith in your dreams and someday. Your rainbow will come smiling through. No matter how your heart is grieving. If you keep on believing. The dream that you wish will come true.

A dream is a wish your heart makes. When you're feeling small. Alone in the night you whisper. Thinking no-one can hear you at all. You wake with the morning sunlight. To find fortune that is smiling on you. Don't let your heart be filled with sorrow. For all you know tomorrow. The dream that you wish will come true


Yang barusan adalah A Dream Is a Wish Your Heart Makes, dari soundtrack-nya Cinderella. Dibuat pada tahun jebot banget, tahun 1948. Lagu itu adalah salah satu dari 2 lagu favoritku dari album The Disney Storybook-nya Jim Brickman. Lucunya… 2 lagu itu (yang satu adalah Cruella De Vil) termasuk yang un-Brickman-like alias gak kedengeran ciri-ciri Jim Brickman-nya.

Aku bukan fans berat Jim Brickman, tapi Brickman ikut berandil dalam memperkenalkan aku kembali pada musik piano instrumental, dan juga memperkenalkan pada genre New Age. Aneh memang… aku sempat les piano selama bertahun-tahun, tapi nggak senang mendengarkan musik piano instrumental. Mau tahu sebabnya? Gara-gara… Richard Clayderman!!

Entah kenapa ya… kalo mendengarkan Richard Clayderman tuh jadi kehilangan semangat. Semua lagu yang dia mainkan jadi terdengar sama… apalagi kalo sudah percussion-nya masuk… uwaahh… lagu yang tadinya bagus jadi membosankan.

Contohnya adalah 18th Variation on Paganini-nya Rachmaninoff, lagu itu kan kesannya agung banget, ketika dimainkan oleh Clayderman, depannya sih bagus, begitu masuk percussion-nya… wuah… bubar deh keagungannya. Lebih menyenangkan yang dimainkan oleh Maxim, gak kehilangan keagungannya.

Padahal, waktu masih kelas 4 SD atau sekitar-sekitar situ deh… lagu non klasik pertama yang bisa aku mainkan adalah Ballade Pour Adeline, salah satu lagu andalannya si Clayderman… hehehehe… tapi entah mulai kapan, mungkin sejak SMA, “efek tidak semangat” dari Clayderman mulai terasa, sejak saat itu aku tidak mengkonsumsi lagi lagu-lagu Clayderman…begitu juga produk-produk piano instrumental lainnya, aku gak pernah menaruh perhatian kepada mereka… Kalo di rumah atau di mobil ada yang memutar lagu piano instrumental (terutama Clayderman), biasanya aku terus tidur… hihihi… ini namanya pianis yang tak tahu terima kasih.

Nah, bertahun-tahun kemudian… ternyata ada temanku yang selera musiknya beririsan denganku (kayak diagram Venn aja)… Kita seneng something jazzy, bedanya kalo aku lebih ke standard jazz (alias lagu café)… temenku ini lebih ke light jazz. Salah satu musisi favoritnya adalah Jim Brickman (eh padahal Brickman bukan jazz ya?).

Karena terus dibombardir sama komentar-komentar bagus tentang Jim Brickman, akhirnya ikutan dengerin juga. Bahkan sempet ngicip beberapa lagu untuk kumainkan sendiri, seperti Frere Jacques dan Twinkle Twinkle Little Star ala Brickman, juga Valentine. Oke deh, yang ini beda, gak bikin hilang semangat. Terus akhirnya aku juga kenalan sama lagu-lagunya David Lanz, Suzanne Ciani, George Winston, pianis yang mewakili genre New Age.

Lagu-lagu piano New Age itu menimbulkan efek relaxed. Kalo lagi capek, ribet, dll, terus dengerin lagu-lagunya mereka… hasilnya jadi tenang, santai, damai. Lagu-lagu kayak gitu yang diperlukan oleh masyarakat perkotaan yang hidupnya tiap hari dipenuhi dengan hingar-bingar. Lumayan untuk mengurangi stress.

Dalam perjalanan tahun baru kemaren, aku menemukan album The Disney Storybook. Albumnya Jim Brickman yang berisi soundtrack film-film Disney.

Wah, menyenangkan sekali… mendengarkan lagu Disney itu… seperti kembali ke jaman kecil. Di Namarina, ada satu kaset yang isinya lagu-lagu Disney sering digunakan untuk musik pengiring latihan balet. Selain itu… mendengarkan lagu Disney juga seperti kembali ke Gedung Bengkok ITB (yang sekarang tinggal kenangan) dengan piano Steinmeyer-nya dan “konser” dadakan bersama anak-anak PSM.

Terus… bagaimana hasilnya jika Disney di-Brickmanize? Beberapa lagu terdengar Brickman banget, tanpa meninggalkan nuansa lagu aslinya tentu saja, kayak Mary Poppins Medley, Someday My Prince Will Come, dan 1 nomor favoritku sejak dulu: When You Wish Upon a Star.
Tapi ada juga yang gak terdengar seperti Brickman, misalnya When I See an Elephant Fly, Cruella, I’m Amazed, dan A Dream is A Wish. Lagu yang menurut aku paling “enggak banget” termasuk dalam golongan yang un-Brickman-like (I’m Amazed), begitu juga yang paling aku senangi (Cruella dan A Dream).

Cruella itu café banget, duh suara contrabass dan trumpet-nya itu loh, membuatnya jadi terdengar romantis banget (padahal lagu aslinya kan gak romantis, wong nyeritain kebejatannya Cruella), sedangkan A Dream lebih ke arah R&B, terutama di tengah-tengahnya…

Kembali ke hubungan New Age dengan kehidupan perkotaan tadi… Pulang dari perjalanan tahun baru, aku kembali lembur untuk naikin data SAP. Termasuk seminggu yang dipenuhi dengan “jetlag” setiap hari, karena aktivitas banyak dan jadwal tidur kacau. Suatu malam, di Aston Atrium, sebelum tidur aku nyalakan The Disney Storybook itu di laptop. Rupanya sebelum albumnya habis, sudah keburu tidur, si Dell-Takodel-Kodel (laptop) bahkan nyala terus sampe kehabisan batre. Dan hoooreeeee…. Malam itu tidurnya jadi enak banget, sampe bangun kesiangan… (kemaren2 selalu berniat bangun kesiangan, tapi prakteknya… jam 6 otomatis melek). Kira-kira emang si musik ini bukan ya yang menyebabkan tidur enak? Entahlah… tapi asumsiku: iya.

Jadi terima kasih untuk Brickman (oke lah, juga untuk pakar Jim Brickman) yang telah membawaku kembali ke piano instrumental (dan new age). Terus sekarang… bagaimana dengan nasib musiknya Clayderman? Wah, sayangnya tetep aja gak seneng…. Hehehe…