Karlskrona (Sweden) – living in a Scandinavian country

Genap sudah 1 bulan kami tinggal di Karlskrona, Swedia. Ini adalah pengalaman kedua saya tinggal di Karlskrona – balik lagi setelah 12 tahun (baca post saya sebelumnya di sini). Bedanya, kala itu saya datang sendirian untuk menempuh pendidikan S2 di Blekinge Tekniska Högskola. Saat ini, saya datang bersama keluarga (istri dan 2 anak – perempuan dan laki-laki) untuk bekerja di kampus yang sama. Ini juga bukan kali pertama kami tinggal di negara Skandinavia, karena kami pernah tinggal selama 1,5 tahun di Odense, Denmark. Apa bedanya tinggalnya di Denmark dan Swedia? Ya, itu juga pertanyaan kami sebelumnya dan inilah beberapa jawabannya dari pengalaman kami.

Visa processing time

Baik saat ke Denmark maupun ke Swedia, saya mengajukan visa kerja (sebagai lecturer/researcher) dan visa untuk keluarga bersama-sama. Informasi pengajuan visa ke Denmark bisa diperoleh di website SIRI. Saat itu universitas menginisiasi pengajuan visa untuk memperoleh nomor case untuk saya dan keluarga. Setelah itu, saya dan keluarga juga membuat aplikasi masing-masing melalui website tersebut. Setelah mendapat approval, kami harus pergi ke Kedutaan Denmark di Dublin untuk pengambilan foto dan finger print. Stiker visa ditempel di paspor kita untuk bisa masuk ke Denmark. In total, perlu sekitar 2 bulan untuk pengurusan visa kerja ke Denmark. Beberapa minggu setelah kami tiba di Denmark, kami dikirimkan resident permit card ke alamat rumah.

Saat ke Swedia, pengajuan visa diinisiasi dan diwakili oleh BTH. Kami cukup melampirkan semua berkas yang diperlukan. Ketelah 3 bulan kami mendapat informasi bahwa visa telah disetujui. Kami membuat janji ke Kedutaan Swedia di Jakarta untuk pengambilan foto dan finger print. Setelah itu, kami menunggu sekitar 4 minggu untuk mengambil resident permit card. Tidak ada stiker visa yang ditempel di paspor.

National Registration

Baik di Denmark maupun di Swedia, kami sekeluarga harus registrasi ke Odense Kommune dan Karlskrona Kommun. Di Denmark, ini penting untuk mendapat yellow card (sundhedskort) yang menunjukkan nama, alamat dan nomor CPR (Central Person Register). Yellow card ini adalah bukti bahwa kita boleh menerima layanan kesehatan di Denmark, Greenland dan Faroe Island. No CPR ini adalah single nomor untuk segala keperluan. Formatnya: DDMMYY-XXXX, 2 digit tanggal, bulan dan tahun dan 4 digit identifier yang tidak boleh dibagikan ke orang lain.

Apakah cukup itu saja? Belum. Kita harus mengurus NEM ID (dan sekaratng MIT ID) – semacam password khusus untuk mengakses layanan publik dan perbankan. Caranya, cukup ke Kommune saja. Cuma, jika kita membuatnya untuk pertama kali, harus membawa orang yang sudah mempunyai NEM ID dan Yellow card untuk verifikasi eksistensi kita. Bingung kan?

Di Swedia, registrasi juga diperlukan untuk mendapatkan personnummer, dengan format YYMMDD-XXXX, 2 digit tahun terakhir, bulan, tanggal dan 4 digit identifier. Untuk mendapatkan ini, kita mesti pergi ke Service Kontor, satu kantor bersama untuk mengurus semua layanan publik, seperti pajak, social insurace, pension, dan lainnya. Satu minggu setelah kami lapor ke kantor tersebut, kami mendapat surat mengenai personnumer kami sekeluarga.

Setelah personnumer, kita harus membuat Swedish ID card di kantor yang sama. Bedanya kita perlu book appointment dan membayar 400 SEK per orang (diatas 13 tahun). Jika kita mempunya residence permit, cukup bawa itu saja dan paspor untuk mengecek data. ID card kami selesai dibuat setelah sekitar 1 minggu. ID card adalah dokumen resmi yang diterima sebagai bukti identitas resmi di seluruh Swedia.

Cukup itu saja? Belum. Kita harus membuat BankID – semacam aplikasi untuk verifikasi data kita online (seperti NEM ID/MIT ID) di Denmark. Bagaimana cara membuatnya? Kita mesti punya akun bank dan mereka yang akan membantu membuat BankID.

Healthcare System

Di Denmark, kita harus memilih dokter, baiknya yang buka praktik dekat rumah. Namun biasanya penuh. Jadi kita bisa tanya ke Komune dimana yang masih bisa menerima. Dulu kami tinggal di Odense SØ, sementara dokter kami di Odense C – sekitar 4 km. Tidak bisa langsung pergi ke sana. Harus nelpon dulu di jam tertentu, yaitu antara jam 8-9 pagi. Yang menerima adalah perawat. Dia akan assesment apakah perlu datang ke klink atau tidak. Jika perlu, dia akan book appointment saat itu juga. Kita tidak perlu membayar jasa dokter. Jika diresepkan obat, kita cukup pergi ke apotik di mana pun dan tunjukkan yellow card tersebut. Apoteker akan memberikan obat yang diresepkan dan kita harus membayarnya. Setau saya, ada batas tertentu yang kita harus bayar. Jika sudah melampui batas tersebut, kita tidak perlu membayar obat lagi.

Bagaimana dengan kesehatan gigi? Tidak di-cover oleh yellow card. Namun ada asuransi sendiri. Kami dulu ikut di asuransi ini. Kami dulu menjadi pasien di klink gigi ini. Biayanya lumayan. Biaya untuk ngecek gigi setiap 6 bulan termasuk scaling itu sekitar 600 DKK.

Di Swedia, setelah menerima personnumer, kami menerima surat-surat bahwa kami didaftar di VÃ¥rdcentral tertentu. Kami belum pernah ke sana. Informasi dari rekan di sini, kita harus membayar sekitar 300 SEK untuk sekali datang. Bagaimana dengan dokter gigi? Ada 2 jenis klinik: publik dan private. Soal biaya, hampir sama. Bedanya, di klinik publik, bisa 1 tahun lebih kita ketemu dokter – setidaknya itu yang disampaikan perawat langung ke saya. Di private, tidak selama itu. Perawat di klinik private bilang kalo saya bisa ketemu dokter sekitar Mei 2023. Untuk anak-anak, semuanya gratis sampai umur 23 tahun.

School

Di Denmark, anak-anak usia sekolah pergi ke sekolah berbahasa Denmark, dan ini gratis. Di Odense, ada juga sekolah internasional, tapi harganya mahal sekali. Di Karlskrona, ada sekolah lokal berbahasa Swedia dan sekolah internasional. Keduanya gratis. Anak-anak juga diberikan makan siang gratis. Sekolah di Denmark dan Swedia juga menyediakan aktivitas after school untuk orang tua yang bekerja fulltime. Tapi ini harus bayar proporsinal sesuai income keluarga.

Benefits

Di Denmark, anak-anak mendapat child benefit sampai umur 18 tahun. Tapi bagi orang asing seperti kami, anak-anak baru mendapat setelah tinggal 6 bulan di Odense, dan itupun cuma 8.3%. Nilai persentasi ini akan naik terus hingga 100% setelah tinggal 6 tahun. Child benefit ini dibayarkan setiap quarter (3 bulan sekali) dan nilainya 4,380 DKK (tahun 2022). Child benefit ini dibagi 2 dan dikirim ke rekening ayah dan ibu.

Sama seperti di Denmark, kita tidak perlu mengajukan aplikasi khusus untuk child benefit di Swedia. Kita cuma harus mengajukan aplikasi dan mendapatkan approval Swedish social insurance dan otomatis child benefit akan diterima.

Living

Secara umum tinggal di Odense dan Karlskrona tidak ada perbedaan yang signifikan. Karena kami lebih dekat ke centrum, kami tinggal di apartement (lantai bawah). Di Odense kami tinggal di rumah tapak, 4 km dari centrum. Ada playground di belakang apartmen kami. Sekolah sekitar 1 km dari apartmen. BTH sekitar 500m jaraknya. Groceris? Paling dekat Willys (300m), Lidl (1km).

Kami pindah ke Karlkrona di musim dingin dan ditengah perang Ukrainia Rusia. Suhu di apartmen kami sekitar 20 derajat. Heating di apartemen kami terpusat di Kommun, jadi mereka yang atur jika terlalu dingin di luar, heatingnya lebih hangat dan sebaliknya. Di Odense, heating kami yang atur terutama malam di musim dingin, jadi bisa lebih hangat. Baik di Odense dan Karlskrona tidak ada AC, namun jendelanya besar dan lebar.

rawat inap & asuransi kesehatan

akhir desember tahun lalu, saya terpaksa menghabiskan 3 hari di sebuah rumah sakit swasta di dekat stasiun kereta api, bandung. diagnosa dokter terkena virus di lambung yang mengakibatkan mual dan susah makan. saya masuk ugd sekitar pukul satu siang. saya diperiksa oleh dokter spesialis penyakita dalam yang kebetulan sedang tugas jaga di ugd. dokter kemudian meminta saya melakukan pemeriksaan lab terhadap darah dan feces. setelah hasilnya keluar, dokter kemudian memberikan opsi rawat inap atau rawat jalan. tak lama berdiskusi, saya dan istri pun sepakat kalau saya saya rawat inap saja. dibanding rawat jalan, di rumah sakit sudah ada yg jaga, istri saya tidak perlu repot masak dan pekerjaan rumah lainnya (saya tak tega membiarkan melakukkannya sendiri – apalagi setelah diperiksa bahwa dia hamil). dengan rawat inap, saya tak perlu mengeluarkan ongkos rumah sakit sepeser pun, semua sudah ditanggung oleh asuransi kesehatan saya – prudential. thanks to prudential..  :-)

selama dirawat tersebut, saya mencatat beberapa hal kekurangan yang mencolok dari pelayanan rawat inap di rumah sakit ini. pertama adalah jadwal kunjungan dokter yang tidak tentu. hari kedua saya dirawat, dokter datang sekitar pukul 3 sore, sementara hari ketiga pukul 12 siang. ini sangat mengganggu saya. karena sudah lebih baik, saya ingin segera pulang di hari ketiga. akibatnya saya mesti menunggu dokter tersebut sampai siang. perawat pun tidak mengetahui dengan pasti kapan dokter datang. ini juga terjadi pada rawat jalan. meskipun di jadwal dokternya pukul 08-13, jangan harap dokter sudah ada di sana pukul 08. saya juga pernah dirawat di rumah sakit lain di sekitar dago beberapa tahun lalu, akibat tipus. di sana dokter pasti datang sekitar jam 10 pagi.

kedua, tidak ada aturan yang jelas dengan tv di kamar pasien. waktu itu saya menginap di kelas 2 dengan 3 pasien satu kamar dan 2 tv. di rs lain, setiap jam 9 atau 10 malam, biasanya lampu dimatikan sehingga pasien bisa tidur dengan tenang. di sini, bahkan tv pun masih dibiarkan nyala meskipun tidak ada yang menonton. tidak ada perawat yang mematikan tv tersebut, terpaksa saya yang turun dan mematikannya.

ketiga, tempat tidur pasien tidak pernah dibersihkan setiap pagi dan seprei tidak diganti.

keempat, menu harian pasien selalu tetap setiap pagi. di rs lain, perawat biasanya memberikan dua pilihan. di sini, tidak.

overall, saya menilai pelayanan rawat inap di rs ini tidak terlalu baik. satu-satunya yang positif adalah rs ini sudah memiliki kerjasama dengan prudential, sehingga kita cukup memberikan kartu pru dan mereka yang akan mengurusnya sendiri. :-bd

 


musim dingin sudah di depan pintu

beberapa minggu belakangan ini, suhu udara  menurun terus. seminggu terakhir sudah berkisar antara -3 di pagi hari dan 5 atau 6 derajat di siang hari. belum lagi hujan yang turun sepanjang hari, semakin membuat udara menjadi sangat dingin. aktivitas pun ikut tepengaruh- bagaimana tidak, suhu dingin membuat enggan bergerak dan ingin lebih berlama-lama selimutan di pagi hari. ya, musim dingin sudah di depan pintu. dimundurkannya waktu selama 1 jam per 25 oktober yang lalu, seolah-olah memulai masa-masa dengan waktu malam yang panjang.

hujan yang turun saat musim dingin bisa sampai di bumi dalam dua bentuk – air (seperti hujan yang kita kenal di Indonesia) dan salju (es). lokasinya yang dekat dengan laut membuat hujan air yang turun disertai dengan angin kencang. kalau sudah begitu, tak ada gunanya berpayung – hanya membuatnya menjadi cepat rusak. dan sudah bisa ditebak, udara yang sudah dingin itu pun menjadi dua kali lebih dingin. berbeda dengan hujan air, kalau salju sudah turun biasanya suhunya tidak terlalu dingin. namun demikian, saat berjalan kita mesti ekstra hati-hati. salju yang sudah menggumpal di jalan menjadi sangat licin.

oh ya, ngomong-ngomong tentang hujan, W.S. Rendra juga pernah terinspirasi olehnya dan menuliskan sebuah puisi. berikut ini adalah puisinya yang berjudul surat cinta. secara khusus, puisi ini didedikasikan untuk bulan purnama yang telah menerangi malam-malam gelap penuh kesunyian dan kesendirian di negeri orang… ;)

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !

Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !

Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan

Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa

Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku

Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu

Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !


closing down

beberapa saat lalu, saya sudah menutup account saya di facebook sampai batas waktu yang belum ditentukan. bagi kawan-kawan yang ingin menghubungi saya, silakan kirim pesan melalui blog ini atau berkirim email. saya berusaha akan membalas secepatnya.


sleep one hour more…


Ternyata hari ini adalah hari terakhir DST (Daylight Saving Time) yang dimulai 30 Maret lalu. Artinya bahwa mulai hari ini perbedaan waktu antara Swedia dan Greenwich adalah 1 jam dan antara Karlskrona dan Indonesia adalah 6 jam. Jadi kalo sekarang pukul 16.14, maka di Medan sudah pukul 22.14. Kabaiknya adalah kalo tadi pagi saya punya tambahan waktu tidur 1 jam dari biasanya, hehehehe…

      

You will be charged 300 kr..


Pernah ga sih ngebayangain hanya untuk membuka pintu kamar yang terkunci, kita mesti membayar 300 SEK atau sekitar Rp. 410 rb-an  (1 SEK = 1,373.76 IDR) kepada orang yang membukakan pintu tersebut? Memang kalo dipikir-pikir tak masuk akal. Namun peristiwa itu hampir saja terjadi pada saya pagi ini (1/10). Pfyuh….

Pagi ini mestinya saya ada kuliah pukul 9 pagi. Itu artinya paling lambat saya mesti berangkat pukul 8 pagi dengan bus yang memakan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Pukul 7.20 saya bergegas mandi. Biasanya saya selalu menutup pintu kamar dan membawa kunci ke kamar mandi. Yang sedikit ‘aneh’ dengan pintu kamar saya adalah untuk membuka dari luar, saya harus menggunakan kunci. Tanpa kunci, bisa dipastikan saya tidak akan pernah masuk tanpa merusak pintu tersebut.

Setelah selesai mandi, saya baru ingat kalo tidak ada kunci kamar di kantong celana saya. Waduh….gawat nih. Kekhawatiran pun terjadi dan saya tak bisa masuk kamar dan pergi ke kampus. Apa yang mau dilakukan? Telepon, laptop, jaket dan semuanya ada di kamar. Yang tersisa hanya handuk dan peralatan mandi. Teman saya menawarkan laptopnya untuk menghubungi Landlord dan melaporkan kejadian ini untuk segera membuka pintu.

Telepon pertama diangkat dan mereka berjanji akan datang dalam 30 menit. Tapi 1 jam berlalu (sudah jam 9 pagi) tak ada petugas yang datang. Telepon kedua juga diangkat dan dialihkan ke Security Guard. Tapi jawaban petugas ini membuat saya shock.

“If we come and open the door, you will be charged 300 kr in cash. Have you called the Karlskronahemn? It’s free if they do it.”

Oh man… Dah gila apa orang-orang ini?

Untuk ketiga kalinya saya menghubungi Landlord dan saya disambungkan ke maintenance. Lagi-lagi jawaban ini membuat saya shock.

“I can open it, but you have to pay 200 kr in cash. Or just wait until 10 o’clock and they will open it for free.”

Emang dunia sudah gila. Ya sudahlah, saya pun menunggu sampai pukul 10 pagi. Alhasil, saya pun dipastikan tidak hadir dalam kuliah tersebut.

Pukul 10 pagi, saya menelepon kembali namun tak satupun yang mengangkat. Seorang teman mengatakan mereka sengaja tidak mengangkat karena tau bahwa kau akan menelpon kembali. Mereka ingin kau membayar - tidak gratis. Sial, kenapa di sini juga masih ditemukan kalo bisa sulit kenapa dipermudah? Dengan mulai gusar, pukul 11 saya telpon kembali. Kali ini saya disambungkan dengan maintenance dan saya mendapatkan jawaban yang melegakan. Mereka akan datang antara pukul 12 dan 1 siang. Ah…sungguh melegakan.

Hampir jam 1 siang, mereka pun datang. Sialnya, sebelum membuka pintu dia bilang,

“After I open this door, could you show me your passport?”

Bah, dah ga bisa masuk kamar selama 5 jam, kini ditanyain passport lagi, kayak imigran gelap diinterogasi pihak imigrasi. Sungguh hari ini hari yang sungguh berbeda dari hari sebelumnya.

Pelajaran penting yang saya dapat hari ini adalah tidak ada tempat bagi kecerobohan dan kelalaian. Kecerobohan adalah konfirmasi sikap bahwa kita sebenarnya tidak sungguh-sungguh dalam melakukan segala sesuatu. Terlalu besar harga yang mesti dibayar untuk sebuah kecerobohan yang tampaknya sepele.

      

There is no place like home


That statement came from my flat mate, when we laundered the clothes in the laundry room few hours ago. I definitely agree with him. Maybe now you are living in a big house, or much better that your house, or you can eat various delicious foods and drinks where you can get at home. But you are not at home.

Let us here this song, Home by Michael Bubble

Another summer day
Has come and gone away
In Paris and Rome
But I wanna go home
Mmmmmmmm

Maybe surrounded by
A million people I
Still feel all alone
I just wanna go home
Oh, I miss you, you know

And I’ve been keeping all the letters that I wrote to you
Each one a line or two
“I’m fine baby, how are you?”
Well I would send them but I know that it’s just not enough
My words were cold and flat
And you deserve more than that

Another aeroplane
Another sunny place
I’m lucky I know
But I wanna go home
Mmmm, I’ve got to go home

Let me go home
I’m just too far from where you are
I wanna come home

And I feel just like I’m living someone else’s life
It’s like I just stepped outside
When everything was going right
And I know just why you could not
Come along with me
‘Cause this was not your dream
But you always believed in me

Another winter day has come
And gone away
In even Paris and Rome
And I wanna go home
Let me go home

And I’m surrounded by
A million people I
Still feel all alone
Oh, let me go home
Oh, I miss you, you know

Let me go home
I’ve had my run
Baby, I’m done
I gotta go home
Let me go home
It will all be all right
I’ll be home tonight
I’m coming back home

How about you? Can you find any place where you feel at home?

      

Perjalanan ke Jakarta – Part 2


Jumat 15 Agustus 2008, telepon genggam saya berdering. Di layar monitor tertulis bahwa telepon yang masuk berasal dari Kedutaan Swedia. Aha…ini pasti berkaitan dengan aplikasi residence permit yang saya ajukan beberapa minggu lalu. Dan ternyata benar, seorang wanita staf lokal Kedutaan mengatakan bahwa aplikasi residence permit saya sudah disetujui dan meminta saya untuk mengirimkan paspor untuk di’cap’ (sebenarnya ‘cuma’ ditempel sebuah stiker). Artinya, saya punya surat ijin memasuki Swedia. Sebuah sukacita besar meliputi segenap hati, karena keseluruhan prosesnya hanya memakan waktu sekitar 4 minggu (prosedur normal sekitar 6-8 minggu). Terima kasih Tuhan untuk kasih karuniaMu dan pekerjaan ajaib yang Engkau lakukan. Terima kasih buat dukungan teman-teman (Mauritz, B’Wardiman, M’Teja, B’Doly, K’Tiur, B’Daniel) selama masa penantian ini.

Senin 18 Agustus 2008, disaat seluruh rakyat Indonesia masih dalam sukacita perayaan hari kemerdekaan, saya bertolak ke Jakarta untuk mengantar langsung ke Kedutaan. Sekitar pukul 9 pagi, pesawat Lion mendarat mulus di Cengkareng. Dan seperti pada perjalanan sebelumnya, saya segera menuju kediaman seorang teman di belakang Mall Ambasador. Kali ini semuanya berjalan lancar dan saya tiba di rumah dan bertemu dengan sang teman tersebut. Setelah makan siang bersama, teman tersebut harus pergi menemui keluarganya yang sedang berkunjung ke Jakarta. Saya tinggal di rumah dan beristirahat (alias tidur).

Selasa pagi, pukul 9 pagi, saya berangkat menuju Kedutaan Swedia di Menara Kuningan. Saya segera bertemu dengan staf yang menelpon saya beberapa hari lalu dan menyerahkan paspor sembari menerima tanda bukti penyerahan paspor. Sebelum pulang, saya bertanya kapan kira-kira paspor tersebut bisa diambil kembali. Staf tersebut tidak mengatakan dengan pasti, hanya berjanji akan menelpon jika telah selesai.

Pukul 2 sore, seorang teman menelpon untuk pergi membeli beberapa jaket dan sweater di Pasar Pagi Mangga Dua hari itu juga. Sebenarnya kami sudah berjanji untuk pergi esok harinya, tapi ternyata mereka punya rencana lain esok. Ok, ga ada masalah. Saya pun segera bergegas menuju hotel tempat mereka menginap. Masalah muncul ketika saya tiba di halte busway Karet, tak satupun busway menuju Kota beroperasi. Tak jelas apa alasannya. Karena tak ada bis lain yang menuju Kota, saya pun memilih menggunakan taksi. Berbincang sejenak dengan pak supir, saya mendapat informasi bahwa kalau busway tidak beroperasi, maka pasti ada sesuatu di sekitar Istana Merdeka dan Monas.

Bingo, mulai dari perempatan Indosat sampai depan Istana Merdeka ramai dikunjungi orang yang menonton parade - entah parade apa, mungkin masih berkaitan dengan hari kemerdekaan. Setengah jalan ditutup dari arah Istana Merdeka ke Thamrin. Ah, macet bukan main. Karena mengejar jadwal Pasar Pagi yang buka sampai pukul 5 sore, saya pun berganti taksi dengan harapan bisa tiba lebih cepat. Dan akhirnya saya pun tiba pukul 4. 30 sore itu. Dalam perjalanan itu, kembali telepon saya berdering dan di layar tertulis Kedutaan Swedia. Staf yang sama menginformasikan bahwa paspor saya sudah di ‘cap’ dan bisa diambil besok. Terima kasih Tuhan.

Saya bertemu dengan sang teman tersebut dan kami langsung menuju toko yang memang menjual jaket dan sweater musim dingin. Setelah memilih-milih dan tawar menawar, akhirnya kami membeli beberapa pakaian yang pas. Mengingat saat itu masih sore dan jam pulang kantor, kami pun memilih untuk makan malam di pertokoan tersebut. Pukul 7.30 malam kami pulang ke kediaman masing-masing.

Keesokan harinya saya kembali datang ke Kedutaan dan mengambil paspor. Seorang wanita di meja di resepsionis memberikan paspor tersebut seraya berkata, “Selamat jalan”.  Selesai sudah maksud perjalanan saya ke Jakarta, saya pun memutuskan untuk segera kembali ke Medan hari itu juga. Pukul 4 sore, saya menuju bandara Cengkareng menggunakan bis bandara. Pesawat yang akan membawa saya ke Medan adalalah Sriwijaya Air pada pukul 6 sore.

Ah…Europe mission telah di depan mata. Europe, I am coming in…