Selidikilah, ya Allah, dan kenallah hatiku.
Ujilah dan kenalilah segenap pikiranku.
Dan lihatlah jika ada jalan-jalanku sesat.
Tuntunlah aku di jalan yang kekal.

Blog-blog IF98
I got this hymn song when I came to a Sunday Service in The Redeemed Christian Church of God, King’s Connection Parish, Karlskrona this morning. That was my first time to join the service in this town. Here is the lyric and I hope you enjoy it and be blessed:
[1] Rock of Ages, cleft for me
Let me hide myself in Thee
Let the water and the blood
From Thy wounded side which flowed
Be sin the double cure
Save from wrath and make pure
[2] Not the labor of my hands
Can fulfill Thy law’s demands
Could my zeal no respite know
Could my tears forever know
All for sin could not atone
Thou must save, and Thou alone
[3] Nothing in my hand I bring
Simply to the cross I cling
Naked, come to Thee for dress
Helpless look to Thee for grace
Foul, I to the fountain fly
Wash me, Savior or I die
[4] While I draw this fleeting breath
When mine eyes shall close in death
When I soar to worlds unknown
See Thee on Thy judgment throne
Rock of Ages, cleft for me
Let me hide myself in Thee
We also can find this song in Kidung Jemaat No. 37 a, “Batu Karang yang Teguh”. You may find the history of this song here.

Sejak beres-beres rumah awal bulan ini, saya belum pernah merapikan kembali beberapa buku yang terletak begitu saja di dalam lemari yang mulai berantakan. Dibandingkan jumlah buku yang ada di perpustakaan sekolah, jumlah buku yang saya miliki (baca: beli) tak terlalu banyak - mungkin sekitar 10 buah buku. Bukan karena saya tak suka baca buku, tetapi melihat harga buku yang makin mahal sekarang ini saya lebih memilih untuk mencari versi digital - kalau ada. Kalau Anda mengira saya membeli ebook tersebut, Anda salah besar. Dengan sedikit bantuan om google, saya justru mendapatkannya gratis di jagat maya (ya Tuhan, maafkan saya atas pembajakan ini….). Hanya beberapa buku yang saya pikir perlu dimiliki saja maka saya membelinya.
Dan saat merapikan buku-buku tersebut, saya menemukan sebuah buku yang berisi catatan yang menjadi perenungan saya. Tulisan-tulisan itu ditulis sekitar tahun 2005 - berarti tiga tahun yang lalu, tatkala saya membaca buku Purpose Driven Life (Rick Warren). Membaca kembali tulisan tersebut, saya merasa seperti seekor domba yang digiring kembali ke kandang oleh sang gembala karena domba tersebut sudah mulai mengambil jalan lain dan tersesat. Ijinkan saya menuliskan kembali apa yang menjadi pokok-pokok perenungan saya.
Banyak orang berkata bahwa hidup ini seperti sungai yang terus mengalir hingga ke laut. Tak jarang kita menemukan riak gelombang yang terjadi pada arus air yang mengalir. Namun satu hal yang pasti, bahwa riak-riak tersebut tidak sama meskipun dia berada pada aliran yang sama. Oleh karena itu, kita mesti bersiap tiap saat untuk menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi. Ada juga orang berkata bahwa hidup ini hanya sekali, untuk itu nikmatilah hidup ini dan jangan disia-siakan. Tapi pernahkah kita bertanya, jika hidup hanya sekali dan sesudah itu mati, untuk apa kita hidup di dunia ini? Bahkan pohon pisang saja diciptakan punya tujuan yaitu menghasilkan buah pisang dan menumbuhkan tunas baru yang pada akhirnya juga menghasilkan buah pisang baru agar kita dapat menikmatinya setiap hari.
Manusia diciptakan secara unik dan untuk satu tujuan yang sudah ditentukan oleh sang pencipta. Oleh karena itu, tujuan keberadaan kita di dunia ini tidak dapat disandarkan pada standar dunia ini pula atau pada apa kata orang. Banyak orang menggangap, bahwa tujuan hidup ini adalah meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Untuk itu banyak orang mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk sesuatu yang dianggap sebagai hal terpenting dalam hidup ini.
Segala hal diijinkan terjadi dalam hidup ini karena Tuhan seperti seorang tukang periuk yang sedang membentuk tanah liat untuk menghasilkan bejana yang indah. Di lubuk hati kita yang terdalam, terkadang kita merasa iri saat melihat orang lain memperoleh apa yang disebut sukses oleh dunia ini, punya penghasilan tinggi, istri atau suami yang cantik dan cakep, pendidikan tinggi, dan seterusnya, dan seterusnya. Di sisi lain, kita akan begitu merasa sangat bangga jika kita yang memperoleh semuanya itu. Dibutuhkan sebuah ketaatan dan kerendahan hati yang sangat dalam untuk bisa dibentuk oleh sang penjunan.
Hidup ini bukanlah tentang saya, tentang Anda atau kita masing-masing pribadi. Bukan apakah kita akan bekerja di perusahaan asing, atau memiliki jabatan dan penghasilan tinggi ataupun kesuksesan dan kegagalan kita lainnya. Hidup adalah tentang Tuhan sang pencipta, yang bekerja membentuk manusia dari debu dan tanah serta yang meniupkan nafas kehidupan ke dalamnya. Apa yang kita kerjakan sepanjang hidup ini tak lain adalah cerminan dari Tuhan itu sendiri. Adakah kita dalam keseharian lebih merefleksikan sang pencipta atau dengan angkuh dan egois kita menonjolkan ke-aku-an kita?
Hmmm….sepertinya memang lebih mudah membicarakannya daripada melakukannya. Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari rutinitas dan ibarat baterai yang perlu di-charge agar bisa tetap berfungsi, kita merenungkan kembali mengapa kita dihadirkan di dunia ini. Dan, sementara kita mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, marilah kita tetap bertekun pada apa yang telah dipercayakan kepada kita saat ini. Jika kita menjadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang baik dan cerdas. Jika kita menjadi pegawai, jadilah pegawai yang bekerja dengan jujur dan menyenangkan tuan kita. Jika kita dipercayakan menjadi seorang atasan, jadilah atasan yang bertanggung jawab. Bukan untuk kita sendiri melainkan semata-mata karena Tuhan sedang menyelesaikan rencanaNya yang indah dalam hidup kita masing-masing.
Jakarta, 2005
