Angin Duduk

     Akhir-akhir ini aku suka ndengerin Ensiklopedi by Request di MQ FM. Sebenarnya dipicu oleh keinginan untuk memanfaatkan fitur HP dan nyobain headsetnya. Karena isinya menarik, lama-lama aku jadi ketagihan.

     Minggu lalu salah satu topik yang menarik adalah tentang angin duduk. Selama ini aku sering mendengar istilah angin duduk tapi tidak pernah tau apa angin duduk itu sebenarnya. Biar nggak lupa, aku tulis saja di sini. Tadi setelah nanya ke Mbah Google dan sedikit jalan-jalan di Internet, ternyata artikel yang dibacakan di Ensiklopedi by Request asalnya dari artikel  Angin Duduk Jangan Dipijat di Intisari. Yang kutulis di sini rangkumannya saja, biar aku gak lupa.

 

Apakah angin duduk itu?

  • Rasa masuk angin yang disertai keringat berbutir-butir besar atau rasa masuk angin yang disertai nyeri, rasa tertekan atau rasa berat di dada.
  • Merupakan gejala awal serangan jantung berat.
  • Istilah medisnya: flu-like-syndrom.

Bagaimana cara menanganinya?

  • Jangan dipijat atau dikerok! Bisa menyebabkan kematian!
  •  Bawa penderita segera ke rumah sakit, paling baik dalam keadaan berbaring karena yang diperlukan penderita adalah pemberian oksigen dan obat khusus (obat apa ya? obat khusus sakit jantung kali ya…)

 
     Menyeramkan ya… Semoga kita sehat-sehat aja lah. Tapi sakit itu merupakan penggugur dosa sih (berdasarkan HR Thabrani, hasil searching barusan, CMIIW). Sampai ada salah seorang teman yang pernah bilang ke aku kalau dia pingin sakit biar dosanya rontok. Menurutku kita sebaiknya jangan berharap sakit. Malahan, semoga kita tidak pernah sakit, tapi dosa kita tetap rontok dan diampuni Allah SWT. Amien.

Angin Duduk

Akhir-akhir ini aku suka ndengerin Ensiklopedi by Request di MQ FM. Sebenarnya dipicu oleh keinginan untuk memanfaatkan fitur HP dan nyobain headsetnya. Karena isinya menarik, lama-lama aku jadi ketagihan. Minggu lalu salah satu topik yang menarik adalah tentang angin...

Lullaby Favoritku Nih…

Starlight, starbright
Wishing on the first star of the night
I wish I may
I wish I might
Make all your dreams
Come true tonight

And as your drift
Off to sleep
Angels guard the memories you keep
Now close your eyes
And dream away
And you'll awaken on a brand new day


May the angels guard the memories you keep...
And wish you awakening on a brand new place...

Oahem... jadi ngantuk... :-D

Kapal Udara

Ini adalah salah satu lagu favoritku dan merupakan lagu yang aku tidak pernah lupa liriknya. Nggak tau, apa liriknya aslinya memang begini, atau versi di keluargaku aja.

Jreng jring kapal udara
Numpak sepur mudhun Jakarta
Jakarta akeh lamuke
Surabaya akeh dhuwite
Dhuwite satus selawe
Ditukokno onde-onde
Onde-onde isine kacang
Lambe ndomble kakehan mangan

yang artinya:

Jreng jring pesawat udara
Naik kereta api turun Jakarta
Jakarta banyak nyamuknya
Surabaya banyak uangnya
Uangnya seratus dua puluh lima
Buat beli onde-onde
Onde-onde isinya kacang
Mulut monyong terlalu banyak makan

Biasanya sih baris paling akhir diubah buat mengejek orang. Misalnya jadi ‘Kowe ndomble kakehan mangan’  (Kamu monyong terlalu banyak makan). Atau ejekan-ejekan lain yang penting berima. Tapi karena ejek-mengejek itu tidak baik dan bahkan larangannya ada di Al Qur’an, jadi jangan dipakai buat ejek-mengejek ya.

Kapal Udara

Ini adalah salah satu lagu favoritku dan merupakan lagu yang aku tidak pernah lupa liriknya. Nggak tau, apa liriknya aslinya memang begini, atau versi di keluargaku aja.Jreng jring kapal udaraNumpak sepur mudhun JakartaJakarta akeh lamukeSurabaya akeh dhuwiteDhuwite satus selaweDitukokno onde-ondeOnde-onde...

Buat Kamu Yang Mau Pulang

Aku tahu kamu gak akan mengerti apa yang akan kutulis di sini, tapi daripada aku membacakannya untukmu, malah jadi aneh, lebih baik aku tulis di sini kan?

Kamu adalah tamu yang tak diundang yang akhirnya menetap di rumahku. Kedatanganmu sungguh tak disangka-sangka, hmm… enggak sih… memang sudah direncanakan bahwa kamu harus datang ke rumahku, tapi hanya untuk singgah, bukan untuk menetap.

Awalnya aku senang ada teman baru. Tapi lama-lama aku jadi risih, karena kamu tidak seharusnya tinggal di rumahku, orang lain pun mulai heran kenapa kamu terus ada di rumahku. Semakin lama lagi… aku malah lupa kalo kamu ada di rumahku. Tapi akhir-akhir ini… setelah rasa cuek-ku hilang, aku lebih sering bersama denganmu dibandingkan dengan saudara tuamu yang memang bagian dari rumahku. Dan akhirnya aku merasa bahwa kamu adalah bagian dari kehidupanku sehari-hari…

Di pagi hari, setelah selesai mandi, aku selalu (mau gak mau) melihat dirimu. Sore hari, sering aku bersamamu, kadang sampai larut malam.

Kamu sering mendengarkan suaraku yang… seadanya tapi yang penting senang: dari mulai lagu alto badak, lagu Disney, lagu Josh Groban, sampe Kenangan Terindah.

Kamu beberapa kali jadi korban bunyi saxophone-ku, pernah juga kupaksa jadi partner main sax, meskipun akhirnya aku kewalahan sendiri.

Kamu juga jadi saksi tingkah polahku waktu pura-pura jadi Jaya Suprana, Jim Brickman, atau Richard Clayderman (yeah… dia kan? Si bikin lemes itu), ketika aku “tripping” di tengah-tengah lagu Simple Sonata-nya Mozart, atau ketika aku membuat gerakan-gerakan gak penting saat mendengar lagu Summer Samba.

Kamu dengan sabarnya melayani keingintahuanku terhadap Bengawan Solo, entah berapa kali lagu itu diulang-ulang (dengan refrain versiku yang terdengar sangat gak pas).

Kamu kadang melihat ketika aku lagi melo-melo, lagi suka cengar-cengir sendiri, lagi bete (dan butuh pelampiasan), juga pas lagi iseng…

Ya, kamu beberapa kali jadi sasaran keisenganku, yang melibatkan sebuah voice recorder, laptop dan kabel printer yang dicuri dari printer kamar.

Sejujurnya, kamu salah satu yang mendorongku untuk belajar lagi. Aku juga heran, kenapa gak dari dulu aku kepikiran untuk belajar lagi. Setelah kamu hampir setahun tinggal di rumahku, baru aku tergerak untuk mengambil kursus lagi. Terima kasih… kamu telah banyak menghiburku dan juga mendorongku menjadi lebih baik.

Hari ini… aku akan mengirimkanmu pulang. Ya… P-U-L-A-N-G. Ke tempat dimana seharusnya dirimu berada, yaitu bersama papah-mu. Selama 13 bulan ini kamu telah membahagiakan aku, sekarang saatnya kamu membahagiakan papahmu. Aku harap dengan kehadiranmu, papahmu bisa terhibur (minimal) seperti halnya diriku.

Lagu terakhir yang kemarin kumainkan untukmu sebelum aku mempersiapkan dirimu untuk pulang adalah lagu lullaby kesayanganku. Lagu itu merupakan ucapan best wish dariku, agar dirimu selamat sampai di rumah. Oya, aku menitipkan lagu lullaby itu bersama dirimu, selain itu aku juga menitipkan salah satu lagu kesukaan papahmu. Itu adalah caraku untuk titip salam buat papahmu (dan juga untuk om yang akan bantu papahmu mengurus dirimu <= semoga om yang ini gak nakal ya :-P).

Aku jadi ingat, beberapa bulan lalu aku sedikit bete ketika gak berhasil meminta papahmu untuk membawamu pulang. Sekarang, ketika kamu beneran mau pulang, aku malah merasa sedikit kehilangan, karena kamu terlanjur menjadi bagian dari kehidupan sehari-hariku. Tapi beneran deh, aku senang kok, kamu bisa pulang ke tempat papahmu, memang seharusnya kamu berada di sana kan?

Aku tahu bahwa selama kamu dalam perjalanan, sebelum papahmu menerima dirimu dengan selamat, aku akan mengkhawatirkanmu. Semoga kamu baik-baik saja dalam perjalanan, dan selamat sampai di rumah. Aku akan merindukanmu... :-)


Pertanyaannya: Siapakah "Kamu"? Kirimkan jawaban anda melalui SMS...

Di Sebuah Ruko, Menjelang 18.30

Anak kecil itu duduk sendirian saja tak jauh dariku. Kami sama-sama mengantri. Aku mengantri untuk bersenang-senang, sedangkan dia... aku gak tauk, semoga dia juga bersenang-senang di dalam sana nanti. Sepertinya dia gak sadar kalau sedang diperhatikan...

Dari ukurannya, sepertinya dia di awal-awal usia SD. Ketika dia duduk, kakinya masih menggantung, belum bisa menjejak ke lantai. Beberapa kali dia mengintip ke dalam ruangan yang diantrikannya. Whoopss... ternyata dia masih harus berjinjit untuk melihat melalui jendela kecil yang ada di pintu ruangan itu. Apakah dulu aku sekecil itu ketika menjalani hal yang sama dengannya? Aku gak ingat... yang kuingat hanya waktu itu kakiku juga masih belum bisa menjejak lantai, sehingga harus diganjal dingklik.

Yaa... Kami memang sama-sama mengantri... untuk masuk ke kelas les piano, bedanya aku les piano pop, yang kuprakarsai sendiri, dan aku menikmatinya. Sedangkan anak kecil itu... dia les piano klasik, dan aku gak tauk... apakah dia yang minta untuk ikut les ataukah orang tuanya yang menyuruhnya les piano, aku juga gak tauk... apakah dia menikmati les tersebut ataukah merasa terpaksa.

Sambil terus mengamatinya, aku berpikir... seperti apa jadinya nanti? Akankah hanya bertahan sebentar dan kemudian dia melupakan pelajaran pianonya ini? Ataukah dia akan menjadi the next Ananda Sukarlan atau Nial Djuliarso? Ataukah dia jadi pemain piano yang bermain untuk dirinya sendiri saja? Ataukah dia jadi pemain piano yang mengiringi koor kampusnya, bercita-cita untuk mengiringi konser, tapi giliran kesempatannya datang malah berkelit karena ada hal lain yang lebih menarik?

Siapa yang tahu...??

Waktu akhirnya pintu ruangan les terbuka, aku hanya memberikan senyum pada anak kecil itu, yang memandangku dengan pandangan polos. Have fun ya dik...

Posting Istirahat Siang

Gara-gara flu, kok aku jadi agak-agak budeg ya? Flunya gak seberapa (katanya ini yang akibat virus, belum akibat bakteri... buktinya gak bisa dibahas di sini, jijay bajay bok), tapi suara jadi bindeng, pronunciation jadi mirip kayak orang pake kawat gigi, dan jadi sedikit bolot.

Tapi seneng euy... ada lunch gretong dari bapak-bapak yang ultah... hehehehe... ayam bakar kalasan Sandjaja... ada ayamnya, ada tahu-tempe, ada rempela, ada udang, dan ada cuminya, yummy-yummy... duh harus makan banyak nih, biar flunya cepet melarikan diri. :-P

Maaf gak ada fotonya, waktu nyadar bahwa lucu juga kalo difoto, makanannya sudah keburu habis... heheheh...

Sekali-sekali Jadi Sedikit Melankolis Ah…

Beberapa hari lalu, sempet sedikit sebel dan kecewa sama sesuatu. Penyebabnya… udah gak penting lagi sih. Hmm…Ini hanya ngikutin sarannya Ndulo, katanya kalo lagi bermasalah… tulis aja di blog, kali aja yang lagi kita masalahin jadi “ngerasa”.

Alamaaakk… tapi aku gak pengen orangnya “ngerasa” tuh… biarkan aku saja yang tauk… (plus si ini, si itu, dan si anu… loh kok jadi banyak? Heheheh… gak sebanyak itu deh…). Eniwei… aku tetep nulis di blog, tapi bukan tentang penyebabnya, tapi justru apa yang berperan dalam menghapus sebel-sebel tadi. Belum tentu mempan untuk orang lain, tapi boleh-boleh aja kan kalo aku pengen bagi-bagi tips.

Yaa… ketika lagi ada pikiran yang mengganggu tadi, tentunya tidur juga jadi gak nyaman, malah bisa juga jadi susah tidur, padahal tidur itu katanya (dan emang terbukti) bermanfaat untuk me-reset pikiran kita supaya jadi lebih tenang, lebih lurus, lebih rasional, lebih apa lagi ya? Pokoknya gitu deh yaa…

Malam itu… setelah mengucapkan terima kasih pada bapak-bapak dan ibu-ibu pendengar setia (siaran radio kali…), aku ambil MP3 playerku, masuk selimut, dan mulai milih-milih lagu.

Hmm… koleksi laguku yang hanya terdiri dari 256MB itu bisa dibilang terbatas, paling hanya terdiri dari (in alphabetical order) DK, GF, IL, JB, JJ, KG, NJ, PJ, dan ST => kalo diterjemahkan jadi Dave Koz, Glenn Fredly, Indra Lesmana, Jim Brickman, JakJazz All Stars, Kenny G, Nial Djuliarso, Piano Jazz Lounge, dan soundtrack Star Trek. Aku menyelipkan initial-initial tadi di nama setiap file untuk ngurutin lagu-lagu itu di MP3 playerku.

Lagu pertama yang kupilih adalah DK, dari At The Movies tentunya, tapi rupanya lagu DK pun masih terlalu “berisik” malam itu, makin membuat kemrungsung kalo kata orang Jawa. Mungkin karena At The Movies diiringi oleh full orchestra. Kalo DK aja masih terlalu berisik, berarti GF lebih berisik lagi, apalagi IL dengan lagu-lagu swingnya.

Nah… Sesuai abjad, setelah DK, GF, dan IL, pilihan berikutnya adalah JB. JB lagunya ada juga kan yang pake lirik, macamnya Valentine, Destiny, dst. Itu juga masih terlalu berisik. Akhirnya aku berhenti di lagu JB yang berasal dari album Love Songs and Lullabies. Lagu-lagu itu sudah setahun lamanya tersimpan di laptopku, tapi aku gak pernah mendengarkannya dengan serius. Sesuai temanya, lullabies, tentunya lagu-lagu itu gak cocok dijadiin theme song kalo lagi bekerja atau ngerjain tugas kuliah, makanya gak pernah didengarkan. Tapi malam itu… lagu-lagu itu lah yang kuperlukan untuk menghilangkan sebel-sebel...

Lullabies-nya JB ini, yang paling aku inget adalah I See The Moon dan Night Prayer. Sangat sederhana… dimainkan Jim Brickman dengan pianonya (tentu saja dengan Brickman-style-nya). Kalopun ada alat musik lain, sangat minimal. Sungguh sangat menenangkan… Ketika mendengarkan lagu-lagu itu, semua jadi begitu indah, begitu polos, seolah-olah seisi dunia ini sepolos anak-anak yang pantas untuk mendapatkan lagu-lagu nina bobok tersebut.

Tapi JB tidak mempersembahkan nina-boboknya khusus untuk anak-anak, karena ternyata orang dewasa juga membutuhkan nina bobok. Kadang kala, kita merasa diperlakukan tidak adil, merasa kecewa terhadap suatu hal, terlalu banyak pikiran, atau simply mengalami bad day… Pada saat itulah kita perlu “kembali” ke masa kanak-kanak, ketika kita masih polos, gak punya pikiran aneh-aneh. Nina bobok yang sederhana bisa membantu kita menghilangkan pikiran yang aneh-aneh tadi… sehingga kita lebih terfokus pada basic need kita: tidur. Waktu kecil rasanya sih begitu ya, kalo ngantuk ya artinya harus tidur dan trus langsung tidur aja, gak pake mikirin: duh besok kerjaan yang anu gimana ya, terus kartu kredit besok harus bayar nih.... dst

Jadi gitu deh, untuk menghilangkan sebel-sebel, cobalah “kembali” menikmati polosnya masa kanak-kanak, hilangkan segala pikiran yang aneh-aneh, terutama pikiran yang bikin sebel tadi. Mendengarkan atau menyanyikan sesuatu yang very simple bisa membantu ke arah sana… nina bobok contohnya.

Proyek jangka panjang nih, aku jadi pengen nyoba mem-Brickmanize lagu nina bobok favoritku. Pastinya gak bakalan di-Brickmanize oleh si JB, karena lagu ini aku juga gak tauk darimana asalnya, liriknya pun sudah lupa: mari tidur anakku, hari kan sudah larut malam…, abis itu lupa liriknya… hanya ingat melodinya saja… hehehe…

Have a nice dream…

Bonus Feature (DVD kali…):
Dari peristiwa ini… pelajaran yang dapat kuambil… selain soal pentingnya nina bobok… adalah… eng-ing-eeennnggg… bahwa kebahagiaan itu justru ketika kita bisa memberi pada orang lain secara tulus => memberi apa aja, yang pasti hal-hal yang baik: perhatian, cinta, petunjuk (kalo ada orang kesasar… terus ternyata jadi gak nyasar lagi karena kita bantuin, ikut seneng kan?), bantuan, atau bahkan barang sekalipun. Ketika kita bisa membahagiakan orang lain, kita ikutan bahagia juga kan?

Aku gak bisa cerita detailnya gimana pelajaran kedua ttg memberi tadi bisa kusimpulkan… karena seperti aku bilang penyebab kesebelan udah gak penting lagi.

Trus weits… ketinggalan nih, terima kasih sekali lagi… buat para pendengar setia yang tauk udang di balik katsu-nya… baik pendengar yang telah memberikan feedback, dan mengingatkanku pada sesuatu yang kutulis sendiri (tentang the unselfish thing) maupun yang setia mendengarkan sambil tidur (untung kali ini gak pake suara-suara atau bau-bauan ajaib hehe… atau lebih cocok disebut penguping setia? hahaha… boing-boing-boing…) .

Hadiah Paskah untuk semua

Selamat Paskah! Hari minggu kemarin umat Kristiani memperingati hari paskah yaitu hari di mana Isa Almasih telah mengalahkan maut dengan bangkit dari kematian. Isa Almasih telah mati di kayu salib pada hari Jumat Agung. Dia mati untuk menebus dosa manusia dan Dia bangkit membuktikan hanya Dia yang mampu mengalahkan maut dan hanya melalui Dia ada keselamatan. Dialah [...]