I See The Moon

I see the moon, the moon sees me
The moon sees somebody I want to see
God bless the moon and God bless me
And God bless the somebody I want to see.


Puisi tersebut adalah salah satu "nursery rhyme" yang di-Brickmanize oleh Jim Brickman. Sudah beberapa hari ini merupakan lagu terakhir yang kudengarkan sebelum tidur. Orang dewasa juga perlu nina bobok loh... ;-)

Makanan India dan Nagabonar

Hari minggu pergi nonton Nagabonar di Jakarta Theatre. Sebelum nonton, makan siang dulu. Yang dipilih adalah...jreng-jreng... resto India yang ada di Sarinah. Emang lagi iseng sih, pengen nyoba sesuatu yang lain.

Aku pesen Chicken Curry Plain Naan. Roti bunder yang dimakan dengan kare. Sebenernya pernah juga makan makanan sejenis waktu di food court Plasa Senayan. Tapi kali ini beda... karena ternyata... kare-nya spicy banget-nget-nget, sampe gak bisa ngerasain lagi. Meskipun bercita-cita seperti Bondan Winarno yang doyan makan apa aja, tapi ternyata yang ini unacceptable di lidah.

Terus yaa... kalo pesen makanan di situ harap berhati-hati... tanyakan dengan teliti soal porsinya. Kemaren ngelirik pesenannya tetangga, porsinya unbelievable banget, jumbo... gede-gede... gak kebayang deh gimana ngabisinnya.

Tapi... aku sih gak kapok diajak makan makanan India. Kayaknya emang resto yang satu ini aja terlalu India banget, kalo diliat dari pengunjungnya juga India banget sih... Kalo ada yang ngajak ke resto India yang udah recommended by lidah lokal, haayyyuuukkk...

Sekarang tentang Nagabonar Jadi Dua...

Filmnya kocak banget. Hmm... mungkin gak sekocak itu kalo untuk orang lain, gak tauk juga, yang jelas... film ini banyak bersinggungan dengan kehidupan sehari-hariku. Bersinggungan secara kocak juga.

Contohnya... waktu si Nagabonar naik bajaj, terus bajajnya ragu-ragu mau belok-nggak-belok-nggak... kejadiannya tuh di deket Cut Meutia, pertigaan deket MM UGM situ, daerah jajahan sehari-hari. Dah gitu, di situ emang sering menyaksikan manuver bajaj nekat...hahaha...

Dah gitu ya... si Bonaga itu mengingatkan pada seorang teman loh. Apalagi waktu itu si Bonaga naik mobilnya yang kinclong, masuk ke perkebunan kelapa sawitnya. Jadi inget seseorang yang juga kinclong, tapi terbiasa keluar masuk dan berkotor-kotor di kebun kelapa sawit. Hehehe... lagi dimana ya dia... bedanya kalo Bonaga itu gadungan, sedangkan temanku itu asli... asli kotak-kotak maksudnya... hehehe... becanda loh...

Pokoknya puas deh nontonnya... ketawa-ketawa ngakak, untung gelap, jadi sekali-sekali gak behave gak apa-apa. Kalo ada yang bilang film itu bikin nangis, ya ada benernya juga sih... maksudnya bikin ketawa sampe keluar air mata kali ya? Hehe... seriuously, emang ada sih scene-scene yang bisa bikin nangis beneran, tapi karena dari tadi dah ketawa melulu, gak mampu lagi buat nangis deh...

Liburan Bersama Film-Film

     Liburan ini aku banyak nonton film. Mulai dari nonton bioskop (cuman satu film kok), nonton film di kompu, ampe nonton film-film di TV (yang di kompu juga karena punyanya tv tunner).

     Waktu hari Jumat siang aku nonton film Naga Bonar Jadi Dua. Nontonnya bareng ama Enik di Ciwalk, waktu hujan-hujan dan mobil yang diparkir di sebelah, kaca depannya (bagian sopir) tidak ditutup/bolong (dan aku masih penasaran kenapa dan bagaimananya). Kami nonton di Ciwalk karena ingin mencari tempat yang cukup sepi dan gak ngantri sih. Memang yang nonton dikit di situ, tapi ternyata sedikitnya penonton bukan berarti kenyamanan menonton. Enik cemberut sepanjang film dan ternyata karena terganggu oleh kecerewetan dan suara ketawa om yang di sebelahnya (Ikut berduka Nik…). Tapi ada yang lebih mengganggu lagi. Ada seorang wanita yang menerima telepon dan berbicara keras-keras. Ternyata adab sesama penonton menentukan kenyamanan dan ketenteraman nonton.

     Filmnya sih buagus buanget. Nontonnya seperti kalau kita baca buku Laskar Pelangi. Mengharukan campur lucu! Antara haru dan lucunya berganti dengan cepat dan tepat. Yah ada kurangnya dikit-dikit seperti gerakan Bonaga di jendela (waktu adegan ’sehati dengan bapaknya’) yang masih terlihat kaku dan dibuat-buat. Filmnya juga tercemari oleh ciuman si Monita (Mbak, Bonaga belum jadi suamimu tau, udah main sosor pipi aja). Tapi secara garis besar, termasuk salah satu film Indonesia yang top dan layak dibeli CD/DVD-nya.

     Malemnya aku nonton film Pirates of the Caribbean: Dead Man’s Chest di kompu. Dari dulu belum sempat nonton. Tapi menurutku filmnya tidak sebagus Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl. Ditambah lagi ada gangguan eksternal yang mengganggu kenyamanan menonton. Aku masih perlu belajar bersabar.

     Hari Sabtu berlalu tanpa film yang cukup berkesan. Tapi Minggu ini konflik di Commander in Chief-nya tambah seru aja, meskipun bukan episode terbaik (menurutku sih). Jadi wanita karir memang berat. Apalagi jadi presiden. Tapi yang jelas, keluarga adalah elemen terpenting dari kesuksesan orang yang berkarir. Hari libur berlalu dengan cepat. Semoga banyak hikmah yang bisa menjadi inspirasi untuk hari-hari berikutnya.

Liburan Bersama Film-Film

Liburan ini aku banyak nonton film. Mulai dari nonton bioskop (cuman satu film kok), nonton film di kompu, ampe nonton film-film di TV (yang di kompu juga karena punyanya tv tunner). Waktu hari Jumat siang aku nonton film Naga...

Jangan Beri Webcam pada Anak-Anak

     Oprah hari ini tentang parenting semua. Yang satu tentang pornografi anak, yang satu lagi tentang tidak boleh memanjakan anak.

Pornografi anak di Internet

     Bintang tamunya adalah anak lelaki bintang pornografi di Internet. Menyeramkan sekali! Dimulai dengan dapet webcam pada usia 13 tahun (tadi kurang jelas sih, webcamnya dikasih siapa), si bintang tamu ini  berkenalan dengan orang-orang yang dikiranya teman seumuran. Menyapa baik-baik, mengajak ngobrol, memuji bahwa dia anak yang tampan, berlanjut dengan menawarkan $50 jika dia mau membuka kaosnya. Awal yang sederhana dan berlanjut dengan diminta bugil hanya dalam waktu beberapa minggu. Betul-betul mengerikan!

     Si bintang tamu yang awalnya siswa teladan dan seorang ketua kelas ini berubah menjadi malas pergi ke sekolah, selalu punya alasan untuk menyendiri di dalam kamar. O ya, bugil itu ternyata masih bukan apa-apa! Diceritain nggak ya? ( Ngingetnya aja udah males. Nulisnya apalagi… P Ya selain disuruh berbuat tidak senonoh di depan webcam, si siswa teladan ini kemudian diminta kopi darat di Las Vegas dan di-apa-apa-in oleh seorang business-man. Bahkan dibelikan tempat tinggal agar bisa setiap saat dipanggil. Sampai akhirnya situs web yang dikelola si bintang tamu ini ketahuan oleh temannya dan dia menjadi bahan olok-olok di sekolah.

     Yang mengerikan pertama adalah ibunya tidak mengetahuinya sama sekali meskipun dia memiliki profesi yang berkaitan dengan perlindungan anak. Setiap kiriman barang hasil kerja haramnya datang, dia bilang itu hasil usaha pembuatan webnya. Ketika pergi ke Las Vegas, si bintang tamu memakai alasan ‘dia dan teman-temannya akan menghadiri konferensi tentang Internet di Nevada’. Karena memang si bintang tamu ini jagoan komputer, ibunya percaya saja. Udah kenal komputer dari umur 4 tahun, gitu…

     Yang jauh lebih mengerikan lagi adalah ketika ayah biologisnya mengetahui apa yang terjadi pada anaknya, si ayah mengajak mengamankan diri ke Mexico dan malah menanyakan, apa yang bisa dia bantu untuk membantu kelancaran bisnis si anak. Ayah yang tidak bertanggung jawab, mengeksploitasi anak, dan benar-benar tidak pantas disebut ayah! Dia malah membantu membawa aktris pornografi untuk menambah ketenaran anaknya. Dilanjutkan dengan si bintang tamu menjadi pencandu narkoba.

     Untungnya berakhir cukup bagus. Si bintang tamu diselamatkan oleh wartawan New York Times yang secara tidak sengaja menemukan situs webnya. Akhirnya dia lepas dari bisnis kotor itu, melaporkannya ke FBI, walau FBI tidak cukup cepat bergerak, baru 2 minggu kemudian. FBI aja 2 minggu, kalau Polri gimana ya? Semoga lebih cepat lah dan tidak korup. Jaringannya sedang dibongkar dengan mendata pelanggan si bintang tamu berdasarkan info dari perusahaan kartu kredit yang dia pakai. Kenyataan yang mengejutkan berikutnya adalah para pelaku pedofili itu ternyata sebagian besar adalah orang-orang yang sering berhubungan dengan anak kecil seperti guru, pengacara anak, bahkan orang yang bekerja di perlindungan anak.

     Oh ya, jangankan anak kecil. Aku aja yang akhir-akhir ini sering memakai webcam, jadi sering mendapat pesan aneh dari orang-orang asing. Padahal webcamku juga tidak untuk umum dan untuk melihatnya harus dengan izinku. Bugnya yahoo kah? Atau ada orang yahoo yang juga termasuk bagian dari jaringan pornografi? Padahal aku pakai jilbab gitu…. Super duper mengerikan!

Berani berkata tidak kepada anak

     Oprah yang jam tujuh malam tadi membahas tentang efek terlalu memanjakan anak. Biasanya, orang tua yang sibuk berkarir dan jarang di rumah cenderung untuk memanjakan anak-anaknya dengan memberikan barang-barang mewah. Banyak juga orang tua yang tidak mampu menolak rayuan anaknya.

     Ada beberapa akibat dari memanjakan anak, yaitu:
1. Anak jadi berani atau tidak hormat kepada orang tua, bahkan ada yang jadi agresif, bahkan memaki  atau memukul orang tuanya. Anak durhaka tepatnya.
2. Anak jadi tidak tahu apa artinya bangga atas usahanya sendiri.
3. Anak jadi tidak memiliki harga diri dan kemudian menjadi peminta-minta terus sepanjang hidupnya.

     Jadi, setidaknya ajarkan kepada anak agar dia bekerja keras terlebih dahulu, baru kemudian berikan yang dia minta. Tapi jangan lalu anak yang minta uang SPP nggak diberi ya, gara-gara nilainya di raport jelek. Bagi yang punya pembantu, jangan perbolehkan pembantu yang menata tempat tidur anak. Ajarkan agar anak kita mampu membereskan mainannya sendiri, menata tempat tidurnya sendiri, gosok gigi sendiri, mandi sendiri, dan akhirnya mampu merawat orang tuanya ketika udah ompong, pikun, dan ngompolan.

     Hmm, memang susah ya jadi orang tua. Semoga kita semua bisa jadi orang tua yang baik dan mampu melindungi keluarga kita dari kekejaman dunia. Amiiiiieeeeeeen (adegan ini jangan ditirukan ketika sholat berjama’ah).

Jangan Beri Webcam pada Anak-Anak

Oprah hari ini tentang parenting semua. Yang satu tentang pornografi anak, yang satu lagi tentang tidak boleh memanjakan anak. Pornografi anak di Internet Bintang tamunya adalah anak lelaki bintang pornografi di Internet. Menyeramkan sekali! Dimulai dengan dapet webcam pada...

Perkalian

Aku punya
kebiasaan ngasih beberapa soal perkalian ke diriku sendiri kalo kepalaku abis kebentur.
Untuk memastikan kalau aku gak amnesia aja sih. Tapi anehnya, beberapa hari
yang lalu waktu sikuku terbentur kusen pintu, kok aku juga langsung nginget-nginget
perkalian ya. Apa otakku dah pindah di siku ya….. Hmmm… D agak mending lah
daripada di dengkul. Saking seringnya
kebentur kepala sih, jadi latah perkalian deh! Itu juga kali ya, yang menyebabkan otakku diamankan ke siku.

 

Waktu aku kelas 1 SD, aku pernah bilang
ke ibuku kalau gak mau ngelanjutin sekolah setelah kelas 2 SD. Alasannya karena
aku gak mau susah-susah ngapalin perkalian. Hasil dari ngeliat mbakku sih, yang
kayaknya kasian banget waktu ngapalin perkalian. Sampe harus dibedheki (baca: dikasih tebakan)
perkalian tiap hari oleh ibuku dan ke mana-mana sambil komat-kamit ngapalin
perkalian. Tapi ternyata bisa juga aku lulus sarjana, heuheuheu.

 

Ternyata apa yang terjadi waktu aku kelas 3 SD? Aku jadi latah perkalian, hehe. Dan ibuku
sering ngegangguin dengan mbedheki
terus2an, padahal aku paling gak suka dibedheki.
Lucu ngingetnya. Ya setidaknya, skarang perkalian bisa jadi ‘alat uji tidak
amnesia’.

Perkalian

Aku punya kebiasaan ngasih beberapa soal perkalian ke diriku sendiri kalo kepalaku abis kebentur. Untuk memastikan kalau aku gak amnesia aja sih. Tapi anehnya, beberapa hari yang lalu waktu sikuku terbentur kusen pintu, kok aku juga langsung nginget-nginget perkalian ya....

Bengawan Solo

Bengawan solo... riwayatmu ini...

Siapa yang gak kenal lagu legendaris ini... Aku pernah nyanyi versi choir-nya, diaransemen oleh orang Filipina. Pernah juga dengar versi bossanova-nya. Pernah juga nyebrang sungainya yang asli...

...tapi belum pernah sepusing ini, mencari chord substitution untuk lagu Bengawan Solo. Hehehe...

Namanya juga proses pembelajaran, wajar kalo pake mumet dulu ya. Aku saat ini lagi belajar tentang chord substitution, gimana caranya mengganti chord asli dari suatu lagu, sehingga terdengar lebih... seksi. Dah baca berbagai refererensi yang aku punya ttg chord substitution, tapi belum menangkap esensinya nih.

Akhirnya... janji untuk membelikan diriku sendiri, segelas Iced Chocolate dari Bengawan Solo Coffee, setelah aku berhasil mencari chord pengganti untuk 1 lagu full. Heheheh... asalkan jangan terus chordnya.. mengalir sampai jaaauuhh... akhirnya ke laauuuuuutttt....

Budaya vs Agama

Waktu Maulid Nabi hari minggu kemarin aku nonton film dokumenter tentang sejarah Islam di Pulau Jawa di Metro. Jujur aja, dibuat dengan sangat membosankan, khas film dokumenter. Tapi karena lagi semangat nonton, aku tonton aja sih, sampai habis. Tumben juga nggak terlalu pindah-pindah channel kayak biasanya. Ceritanya ya gitu-gitu aja sih, mulai dari zaman Walisanga.

 

Kenapa aku begitu semangat nonton?

1. Karena melihat nara sumbernya yang udah mbah-mbah, aku jadi semangat nonton,mencari  kira-kira berikutnya bakal ada yang muda nggak. Kan kalau liat film dokumenter tentang sejarah Eropa biasanya nara sumbernya orang muda-muda. Atau kalau liat talkshow tentang teknologi di Indonesia juga pembicaranya muda-muda.

Hasilnya:
Tidak ditemukan sejarahwan muda sepanjang film itu.

Sejarahwan muda… di mana kalian? Acungkan jari dong, kalau ada…

 

2. Di awal acara, naratornya bilang kalau Islam diterima di Indonesia karena disebarkan dengan damai, tanpa ada pemaksaan, dan menggunakan budaya setempat sebagai media penyebaran. Udah tau sih sebenarnya. Tapi tiba-tiba jadi kepikiran; menurutku, pada zaman sekarang generasi muda Islam cenderung meninggalkan budaya setempat. Jadi aku ingin tau bagaimana Sunan-Sunan menyebarkannya dengan cara yang tidak melanggar fiqih.

Hasilnya:
Mereka melakukan pendekatan secara bertahap dengan melihat apa problem masyarakat waktu itu. Disebarkan dengan cara sederhana, yaitu menerapkan 5 larangan untuk menyembuhkan penyakit masyarakat, yaitu:

  1. dilarang mencuri
  2. dilarang berzina
  3. dilarang mabuk
  4. dilarang berjudi
  5. dilarang … (lupa euy yang satu lagi, kalau udah inget ntar kuisi deh)

Intinya adalah selesaikan problem masyarakat dulu, baru kemudian masuk ke masalah akidah. Malahan, Sunan Bonang menciptakan alat musik ‘Bonang’ untuk mengiringi pertunjukan wayang. Jadi Sunan-Sunan turut mengembangkan budaya Jawa.

Primbon Jawa

Di luar film itu, aku jadi ingat isi Primbon Jawa di rumah. Pada pernah baca primbon belum? Bukan www.primbon.com lho! tapi buku primbon. Kalau www.primbon.com sih menurutku mudharat-nya lebih banyak daripada baiknya. Kalau primbon di rumahku sih, sebagian ternyata isinya doa-doa Islam yang ditulis dalam tulisan Jawa (baik dalam Aksara Jawa maupun Huruf Latin dengan Ejaan Jawa). Doa sehari-hari, mulai doa makan, minum, tidur, masuk kamar mandi. Terus sebagian lagi tentang tanda-tanda alam. Ada juga sih tentang itungan atau pertanda-pertanda yang tidak logis seperti yang ada di www.primbon.com. Tapi menurutku itu mungkin statistik saja atau mungkin karena pengetahuan penulis pada waktu itu yang masih terbatas, seperti Gerhana Bulan yang dikira buyut kita Bathara Kala lagi makan bulan.

 

Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap primbon ini?

Kalau menurutku sih, primbon sebaiknya diperbarui:

disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan;
ditambah halaman doanya;
diminimalisir hal-hal yang tidak logis-nya
atau diberi keterangan bagian mana yang merupakan kepercayaan lama dan apa penggantinya.

Satu lagi: dibuat versi online-nya yang lebih baik daripada www.primbon.com.