Kuala Lumpur: Hari Ke-7

Hari terakhir!! Pagi-pagi... masih jalan-jalan dulu ke Sungei Wang/Bukit Bintang Plaza. Jam 10 belum pada buka... akhirnya liat-liat toko tas yang ada di sebrangnya Lot 10. Tapi gak beli apa-apa.

Abis itu sempet ke Bukit Bintang Plaza, nemu jepitan plastik dengan manik-manik harganya 10 ringgit/3 buah. Dari jauh mirip banget sama jepit rambut logam yang dibeli di Suria KLCC kemaren, bedanya hanya bahannya aja (dan juga harganya tentunya...). Terus sempet ke Metrojaya lagi. Liat-liat MPH Bookstore (tapi gak nemu yang dicari). Abis itu balik ke hotel.

Menjelang sampe hotel, aku memutuskan untuk ke Borders (di Times Square) sekali lagi. Tapi akhirnya gak beli apa-apa juga.

Setelah semua barang siap, jam 11 turun dan checkout. Pas mau naik taksi ke airport, ditawarin naik limousine hotel seharga 120 ringgit. Hiii... ogah banget. Dia sempet nurunin ke 100 ringgit, tapi ogah juga lah ya. Karena emang udah dari awal mau naik taksi biasa aja.

Untungnya taksi pertama yang distop menawarkan harga yang sangat reasonable: 70 ringgit. Kalo beli kupon taksi di airport kan 67 ringgit tuh, gak beda jauh kan? Mau naik KLIA Express berdua juga 70 ringgit, belum ngitung ongkos dari Melia ke KL Sentral dan tenaga yang keluar buat geret-geret koper naik turun tangga di KL Sentral (sekarang kan jadi 3 kopernya). Bagasi taksinya sempet ngebuka gitu pas kita baru muter di sekitar Bintang Walk, tapi segera tertutup lagi waktu taksinya lewat polisi tidur. Kekeke...

Ternyata... jauh juga ya KLIA itu. 75 km dari Kuala Lumpur bok!! Sama dengan Jakarta-Cikampek. Bayar tolnya hanya 5 ringgit loh, itupun udah included di 70 ringgit tadi, padahal kalo menurut aturan yang tertempel di taksi, biaya tol itu harusnya dibayar oleh passenger. Hmm... ternyata biaya tol di Indonesia itu mahal ya kalo dibandingkan di Malaysia??

Di tengah jalan sempet isi bensin dulu. Terus si pak supirnya sempet nunjukin persimpangan jalan tol yang menuju LCC Airport (tempat Air Asia). Huee... kirain yang namanya LCC Airport itu dekat dengan kota KL, ternyata jauh juga, sudah dekat ke KLIA gitu deh.

Perjalanan ke KLIA memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sampai di sana... agak tertipu sama antrean. Garuda Indonesia itu dapet di counter check-in di row A. Waktu kita liat di row A ngantrenya panjang banget. Walah!! Masa’ segini banyak orang mau Jakarta semua naik Garuda?? Yang boneng ajah...

Setelah agak berjinjit-jinjit, aku melihat counter check-in Garuda yang sebenernya, yaitu di balik orang-orang ngantre tadi (orang antre itu mau naik penerbangan Timur Tengah gitu deh).

Aku coba memutari orang-orang ngantre tadi, terus check in, tapi koper-koper belum bisa lewat. Gak lama, Ibu datang sambil mendorong trolley berisi koper-koper kita. Rupanya barusan dibukakan jalan oleh petugas airport, karena banyak calon penumpang Garuda kebingungan gak bisa bawa barangnya melewati antrean penumpang maskapai Timur Tengah tadi.

Selesai check-in masuk toko coklat dulu. Abis itu baru masuk ke Imegresen yang antreannya surprisingly pendek sekali. Dari Imegresen terus periksa barang-barang lagi di X-Ray, baru abis itu naik Skytrain lagi buat ke gate C31.

Sebelum ke gate C31, aku sempet foto-foto di spot yang sudah kuincar sejak pertama kali menginjakkan kaki di KLIA. Hihihi… ini dia hasilnya. Setelah itu beli Burger King dulu, karena sudah lewat jam makan, aku kelaparan, dan diperkirakan paling cepet baru 40 menit lagi dikasih makan di pesawat. Di depan Burger King foto-foto lagi (norak bener ya), baru abis itu ke C31.

Di C31, aku ketemu sama seorang kenalan yang ex-Multipolar. Sempet sama-sama pangling gitu, sambil mikir-mikir: “pernah ketemu dimana ya sama orang ini?”

Pas mau boarding... jreng... rupanya satu pesawat sama “gerombolan jaket hitam” yang ternyata adalah rombongan paspampres. Hmm... iya ya, mungkin presiden RI dateng ke sini dalam rangka ultah Malaysia kemaren ya??

Di pesawat nonton Just For Laughs (hmm… apa Garuda hanya punya film ini yak?). Terus makannya Ikan plus Nasi dan Terong. Ikannya penampakannya mirip ayam bakar. Aneh sekali...

Nyampe di Soekarno-Hatta jam 16.00. Dan akhirnya... Jakarta!!

Kuala Lumpur: Hari Ke-7

Hari terakhir!! Pagi-pagi... masih jalan-jalan dulu ke Sungei Wang/Bukit Bintang Plaza. Jam 10 belum pada buka... akhirnya liat-liat toko tas yang ada di sebrangnya Lot 10. Tapi gak beli apa-apa.

Abis itu sempet ke Bukit Bintang Plaza, nemu jepitan plastik dengan manik-manik harganya 10 ringgit/3 buah. Dari jauh mirip banget sama jepit rambut logam yang dibeli di Suria KLCC kemaren, bedanya hanya bahannya aja (dan juga harganya tentunya...). Terus sempet ke Metrojaya lagi. Liat-liat MPH Bookstore (tapi gak nemu yang dicari). Abis itu balik ke hotel.

Menjelang sampe hotel, aku memutuskan untuk ke Borders (di Times Square) sekali lagi. Tapi akhirnya gak beli apa-apa juga.

Setelah semua barang siap, jam 11 turun dan checkout. Pas mau naik taksi ke airport, ditawarin naik limousine hotel seharga 120 ringgit. Hiii... ogah banget. Dia sempet nurunin ke 100 ringgit, tapi ogah juga lah ya. Karena emang udah dari awal mau naik taksi biasa aja.

Untungnya taksi pertama yang distop menawarkan harga yang sangat reasonable: 70 ringgit. Kalo beli kupon taksi di airport kan 67 ringgit tuh, gak beda jauh kan? Mau naik KLIA Express berdua juga 70 ringgit, belum ngitung ongkos dari Melia ke KL Sentral dan tenaga yang keluar buat geret-geret koper naik turun tangga di KL Sentral (sekarang kan jadi 3 kopernya). Bagasi taksinya sempet ngebuka gitu pas kita baru muter di sekitar Bintang Walk, tapi segera tertutup lagi waktu taksinya lewat polisi tidur. Kekeke...

Ternyata... jauh juga ya KLIA itu. 75 km dari Kuala Lumpur bok!! Sama dengan Jakarta-Cikampek. Bayar tolnya hanya 5 ringgit loh, itupun udah included di 70 ringgit tadi, padahal kalo menurut aturan yang tertempel di taksi, biaya tol itu harusnya dibayar oleh passenger. Hmm... ternyata biaya tol di Indonesia itu mahal ya kalo dibandingkan di Malaysia??

Di tengah jalan sempet isi bensin dulu. Terus si pak supirnya sempet nunjukin persimpangan jalan tol yang menuju LCC Airport (tempat Air Asia). Huee... kirain yang namanya LCC Airport itu dekat dengan kota KL, ternyata jauh juga, sudah dekat ke KLIA gitu deh.

Perjalanan ke KLIA memakan waktu kurang lebih 1 jam. Sampai di sana... agak tertipu sama antrean. Garuda Indonesia itu dapet di counter check-in di row A. Waktu kita liat di row A ngantrenya panjang banget. Walah!! Masa’ segini banyak orang mau Jakarta semua naik Garuda?? Yang boneng ajah...

Setelah agak berjinjit-jinjit, aku melihat counter check-in Garuda yang sebenernya, yaitu di balik orang-orang ngantre tadi (orang antre itu mau naik penerbangan Timur Tengah gitu deh).

Aku coba memutari orang-orang ngantre tadi, terus check in, tapi koper-koper belum bisa lewat. Gak lama, Ibu datang sambil mendorong trolley berisi koper-koper kita. Rupanya barusan dibukakan jalan oleh petugas airport, karena banyak calon penumpang Garuda kebingungan gak bisa bawa barangnya melewati antrean penumpang maskapai Timur Tengah tadi.

Selesai check-in masuk toko coklat dulu. Abis itu baru masuk ke Imegresen yang antreannya surprisingly pendek sekali. Dari Imegresen terus periksa barang-barang lagi di X-Ray, baru abis itu naik Skytrain lagi buat ke gate C31.

Sebelum ke gate C31, aku sempet foto-foto di spot yang sudah kuincar sejak pertama kali menginjakkan kaki di KLIA. Hihihi… ini dia hasilnya. Setelah itu beli Burger King dulu, karena sudah lewat jam makan, aku kelaparan, dan diperkirakan paling cepet baru 40 menit lagi dikasih makan di pesawat. Di depan Burger King foto-foto lagi (norak bener ya), baru abis itu ke C31.

Di C31, aku ketemu sama seorang kenalan yang ex-Multipolar. Sempet sama-sama pangling gitu, sambil mikir-mikir: “pernah ketemu dimana ya sama orang ini?�

Pas mau boarding... jreng... rupanya satu pesawat sama “gerombolan jaket hitam� yang ternyata adalah rombongan paspampres. Hmm... iya ya, mungkin presiden RI dateng ke sini dalam rangka ultah Malaysia kemaren ya??

Di pesawat nonton Just For Laughs (hmm… apa Garuda hanya punya film ini yak?). Terus makannya Ikan plus Nasi dan Terong. Ikannya penampakannya mirip ayam bakar. Aneh sekali...

Nyampe di Soekarno-Hatta jam 16.00. Dan akhirnya... Jakarta!!

My sweet affair

It helps to know that everyone of us has their own story to tell and those stories are rarely smooth sailing drama that leads to a happy ending. My story with him continue to unfold as a pseudo affair that may not even substantiate even with him giving up his commitment. At least, that’s what I believe. But the more I spend time with him, the more I feel connected and comforted and the more I rely on the security of having him beside me for always. Last nite, we had another late rendezvous walking in the part of campus I’ve never once thought of exploring. And it was beautiful. The landscape of the campus from 100 m away. Makes you feel detached from the rest of the world. Sharing stories and memories that are priceless. Looking up at the stars, lying on the damp grass - which made me ended up catching a fever the following day. It was peaceful. To be with him and share moments of conversation without the intensity of physical flirting or any sort that usually creates tension and dilemma. Just 2 people sharing a warm conversation in the mute area of campus. As simple as that. We ended up having his car parked in front of my apt building listening to songs on the radio and singing along with it and goofing around with silly jokes.

He was intelligent, compassionate and a sight for sore eyes. I wish there were more guys like that in this world, so that I don’t have to share them with anyone else. That night, he was peaceful, unlike any other nights or afternoon I have spent with him. He seems to know where he wants to go in life, if not vaugely. You can feel a strong aura from his mere presence. I sat there, weak, unsure of myself and dilemmatic, not to mention holding back the urge to reach out to him. He hugged me and there were moments where we almost want to forget about everything else and just be. But my conscience was a hard as a steel and I could only hold back. He was special. Although he wasn’t mine. I guess I could only cherish these moments in my memories.. since it will not last.. Au revoir, beautiful one.. perhaps one day our roads will cross again..

My sweet affair

It helps to know that everyone of us has their own story to tell and those stories are rarely smooth sailing drama that leads to a happy ending. My story with him continue to unfold as a pseudo affair that...

Kembali ke Dunia Blog…

Hey... Aku kembali ber-blog-ria lagi nih... Setelah beberapa minggu menghilang.

Hal-hal yang kulakukan selama menghilang:
1) Dinas (dan jalan-jalan) ke tempat aku mengambil foto berikut ini. Hmm... tauk gak... aku sepertinya tergila-gila untuk berfoto di depan gedung tersebut. Hihihi... Selengkapnya bisa dibaca di blog Catatan Perjalananku (kalau sudah selesai ditulis ya, kalau belum... balik aja beberapa hari lagi).

2) Mempersiapkan home concert-nya tempat les pianoku. Main 2 lagu. Stress?? Ya enggak juga sih, sebenernya bukan pertama kali pentas dengan piano, tapi ini solo performance yang pertama. Biasanya selalu keroyokan sama koor, atau ada penyanyinya / alat musik lain.

3) Mengadopsi alat musik baru. Hihihi... the cute ressikan flute... eh... maksudnya the cute penny whistle.

Ah... ngantuk banget nih. Sekarang sudah waktu pulang kantor... dan aku semakin ngantuk. Badly need some workouts nih... biar gak ngantukan....

Kerja di Chiang Mai

Dah ada beberapa orang yang nanya: enak nggak sih kerja di Chiang Mai? Ada juga yang menyangka kalo aku studi S3 di sini, sedangkan yang lain pengen tau kerjaan di Chiang Mai ngapain sih? Setelah 4 bulan di Chiang Mai, saatnya cerita sedikit pengalaman di sini. Di sini aku kerja sebagai programmer (tepatnya senior programmer) di [...]

Why I turned down…

I can't believe I'm turning down the hottest guy I've met so far in my life. Amazing, smart, affectionate guy that I would just take on anytime. But for some reason my conscience took me over this nite, especially w...