Apr 30 2008
tindakan medis yang aneh…
Comments Off
Apr 28 2008
2-3 tahun lalu, aku punya cita-cita untuk bisa main saxophone. Maka… kubelilah sebuah saxophone second, kuberi nama si Weril. Setelah mencoba bermain sekali… dua kali… tiga kali… ternyata saxophone itu berisik. Bunyinya kayak klakson kapal… kupikir selama ini para saxophonist itu bisa kedengeran sampe kemana-mana karena bantuan sound system sajah…
Ndak tau ya, mungkin juga jadi kedengeran “berisik” karena lagu yang bisa kumainkan masih sangat sederhana, itupun salah-salah, relatif ndak ada bentuknya dibandingkan kalo aku bermain piano.
Mungkin juga… kalo aku sudah agak jago, para tetangga dan juga sesama penghuni rumah akan menikmati permainanku, tapi pastinya… seperti halnya piano, untuk mencapai “agak jago” aku harus melewati tahapan “berisik” tadi… yang gak sebentar.
Jadi… gimana ya?
Tadinya setelah aku selesai ngerjain thesis, aku mau ambil les saxophone., meneruskan cita-citaku 2 tahun lalu, yang tertunda. Tapi… terus membayangkan suara saxophoneku memecah kedamaian yang telah tercipta di Buncit Indah. Hmm… apa mending les piano aja lagi ya?
Jadi mikir lagi… sebenernya kenapa aku pengen bisa main saxophone? 1) Pengen punya grup musik, dimana aku bukan sebagai pianisnya. 2) Kayaknya asik ajah… 3) Keliatannya keren kalo bisa main alat musik langka gitu (maksudnya langka tuh gak sejamak gitar atau piano).
Trus sekarang jadi mikir… keren gak kalo aku bisa main piano lebih baik dari sekarang? Hmm..?? Les piano: Latiannya gak berisik. Sejelek-jeleknya, masih kedengeran bentuknya… Tetangga gak protes. Penghuni rumah apalagi. Malah kadang protes kalo aku tiba-tiba berhenti main. Soal grup musik, kalo gak mau jadi pianis mungkin bisa jadi vokalis => ambil kursus vokal!!
Kursus vokal tuh paling enak kayaknya… udah gak perlu nenteng2 alat, terus latian bisa kapan aja dan dimana aja.
Sekarang 60% jual aja karena berisik, 40% masih mikir pengen les saxophone. Hahaha, aku punya waktu sampe thesisku selesai (AYYOOO!!!). Abis itu kita putuskan mau les, atau mau jual… Kalo gak jadi les, ya lebih baik dijual, daripada menuh2in, mending dia diopeni (dirawat) oleh orang yang memang menggunakannya…
Jam 20.40 dan aku sudah nganttuuukk… duh kenapa sih ini. Gimana mau gak gembul (yeah, aku gak 50kg lagi, terasa dari ukuran pinggul)… biar kata makan dikit, kalo jam segini dah mapan turu… sami mawon.
Comments Off
Apr 27 2008
“Life’s like a box of chocolates. You never know what you’re gonna get.”
Kayaknya… mungkin quote itu gak berlaku buat aku. Karena… aku adalah orang yang menganggap bahwa SEMUA COKLAT ITU ENNAAAKK!!! Hahahaha… Jadi it doesn’t matter what we’re gonna get… ‘cos all chocolates are yummy. Termasuk yang pakek liquor, pakek isi duren juga (tapi baunya gak tahan hihihi).
Hihi, lagi kumat nih chocolate maniak-nya… gak bisa berhenti makan dark choc-nya hershey… Takut gemuk? Enggak juga sih, karena porsi makan lainnya dikurangi. Tapi yang belum terbukti adalah apakah coklat menyebabkan jerawat / tidak…
Comments Off
Apr 25 2008
Pelajaran hari ini adalah kalo kita mau sabar, kita akan mendapatkan yang enak. Banyak contoh yang terjadi padaku akhir-akhir ini.
Salah satu contoh adalah “terobosan” baru yang kuperkenalkan di kantor hari ini: celana capri.
Sebelumnya, tak terbayangkan olehku bahwa seorang Gita bisa pakek celana capri. Kenapa? Ya iyalah… betis tak dapat disembunyikan gitu loh… tapi menurut janjinya sang empunya merk, celana ini beda, bisa melangsingkan. Dan ternyata benar. Dipakai pun terasa nyaman. Terus dimana letak ke-sabar-annya? Yah, celana seri itu (bukan yang capri-nya), sudah lama aku pengen, tapi entah kenapa gak jadi, males, kemahalan, dst… tapi ternyata pas iseng, malah nemu ada diskon, pas nyoba… ternyata emang puas banget.
Saking senengnya aku sama celana itu, aku bertekad mau memakainya ke kantor, waktu hari Jumat yang berdress code Smart Casual. Kalo selama ini Casual itu didefinisikan sebagai jeans, sekarang aku mau bikin definisi sendiri. Untuk jadi Casual, bukan bahannya yang aku ganti, tapi panjangnya yang aku potong!!!
Jadilah tadi pagi aku datang dengan baju batik printing (ini bagian smartnya), sepatu (yang bisa formal bisa casual), dan celana capri warna khaki (ini bagian casualnya). Berbagai komentar berdatangan, untungnya tak ada yang dari boss…
Q: Kok bajunya gitu?
A: Ini baju Smart loh, Smart untuk melarikan diri dari banjir. Lagipula ini hari Jumat, kalo sholat Jumat wudhunya jadi gampang.
Q: Mbak, kok kasian sih… bisanya beli celananya cuman segitu panjang ya?
Q: Mau ke pantai ya?
A: Itu mau naik gunung (sambil nunjuk m Narma yang pakek celana cargo).
Tapi ada juga yang cukup mengejutkan, ketika mau pergi lunch dan ketemu ibu-ibu di lift.
Ibu2: Wah, boleh juga ya… saya juga mau pakek celana segitu aaahhh…. (sambil tersenyum sumringah)
Namun rupanya, celana capri gak cocok buat ngafe malam-malam: dingin!! Ada acara pembubaran panitia ITB Voices Nite. Jam 8.30 aja aku udah mulai 5 watt… terus mencoba makan ronde ketiga…. lumayan bangun lagi. tapi gak lama teler lagi, plus kedinginan gara-gara ber-capri… hahaha… akhirnya jam 10 cabski, pdhal belum nonton rekaman videonya.
Duh, sekarang… aku ngantuk. Badly need a good night sleep… Ayoh… Snoopy2, Srigala, dan Kuda… Get ready… to sleep.
Comments Off
Apr 21 2008
Hari ini hari kartini, tadi pagi aku udah kepikir mau pakek kebaya putihku sih, cuman ndak punya kain batik warna biru tua, padahal kan sekarang hari Senin…
Sebenernya apa sih, hasil perjuangannya ibu Kartini? Apa yang di-celebrate oleh para wanita Indonesia dengan perayaan hari kartini?
Dulu aku pikir… yang namanya emansipasi itu adalah persamaan hak antara pria dan wanita. Tapi sekarang aku kurang setuju dengan kata “persamaan” itu, apalagi seringkali emansipasi diinterpretasikan secara naif.
Pria dan perempuan itu memang secara lahiriah diciptakan berbeda, sehingga pria dan perempuan punya fungsi dan peran yang berbeda. Jadi “persamaan” tadi kurang tepat untuk digunakan, lebih pas kalo menggunakan kata “kesetaraan”. Setara… namun belum tentu sama. Setara… sesuai dengan porsinya masing-masing.
Ambil contoh dari sisi kekuatan fisik… Pria secara fisik jauh lebih kuat daripada perempuan kan? Nah, untuk pekerjaan2 yang membutuhkan kekuatan fisik, let’s say, tukang batu, apa perempuan mau mengambil pekerjaan seperti itu? Bisa saja, mungkin, tapi tentu performanya tidak akan sebagus rekan-rekannya yang pria.
Dari sisi kesopanan dan kepantasan juga… Aku akan mengambil contoh pekerjaanku sekarang. Jadi Ahli IT Operation & Services… tukang setting PC, admin, merangkap tukang tarik kabel. Secara teoritis aku memang bisa mengerjakan tarik2 kabel di user, tapi begitu aku mulai mbrangkang2 di bawah meja untuk mengecheck kabel yang masuk ke CPU… biasanya usernya yang akan gak enak sendiri dan menawarkan bantuannya untuk ngecheck kabel.
Belum lagi perempuan punya siklus, yang mau gak mau mempengaruhi mood, dan itu akan sangat mengganggu untuk pekerjaan-pekerjaan seperti juru masak yang membutuhkan konsistensi.
Jadi… masih mau memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban??
Semua ada perannya masing-masing, ada porsinya… Pada beberapa aspek, yang tidak memperhitungkan perbedaan atribut antara pria dan perempuan, persamaan hak dan kewajiban memang dapat diaplikasikan. Tapi selebihnya, mari kita pikirkan saja kesetaraan hak dan kewajiban, bagaimana perempuan dan pria bisa berbagi peran dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. (PPKN sekali bukan?)
Ibu Kartini… perjuangannya memang telah membuat perempuan Indonesia jauh lebih enak sekarang, karena perempuan Indonesia sekarang punya PILIHAN, mau berperan sebagai apa. Mau jadi Ibu Rumah Tangga? Mau jadi wanita karier? Mau pilih dua-duanya juga bisa…
Jadi, aku ikut merayakan hari Kartini bukan karena ibu Kartini memperjuangkan persamaan hak, tapi lebih karena pilihan yang tersedia buat kita, perempuan Indonesia…
Soal PILIHAN yang hanya dimiliki perempuan dan tidak dimiliki pria itu, kudapatkan dari diskusi dengan seorang bapak-bapak, suatu malam tanggal 27 November 2007.
Comments Off