Mahiroh!!

Jaman masih sering merasa insecure dulu dan merasa gak pede karena belum punya patjar, aku sering berangan-angan bahwa seorang ksatria/pangeran berkuda putih akan datang untuk membebaskanku dari misery.  Ah tapi jaman sekarang mana ada ksatria berkuda putih, ada juga ksatria bergitar... Pada kenyataannya aku terbebas dengan sendirinya dari perasaan minder dan serba berkekurangan itu sebelum punya patjar, terus setelah itu yang beneran datang bukan ksatria tapi IT engineer, gak naik kuda putih pula. 

Waktu aku ABG, aku mengagumi Data the Android. He's my superhero. Kurang apa coba... Kuat, gak laper-laper, pandai, lincah, punya kecepatan super untuk segala hal, polos. Waktu itu sih mikirnya kayaknya asik kalau punya guardian seperti Data. Semua pasti terasa aman jaya... Sepasukan Borg aja bisa dilempar-lempar oleh Data kayak ngelempar bantal-guling. 

Sekarang aku punya idola baru: The elven warrior of Fellowship of The Ring. Di postingan sebelumnya sudah aku sebutkan apa yang aku idolakan dari Legolas. Aku pengen jadi seperti dia. Tapi setelah aku pikir-pikir, Legolas ini sebenernya mirip dengan tokoh ksatria berkuda putih. Karena dia kan Prince of Mirkwood, terus kuda-nya yang bernama Arod emang warna putih. 

Selain 3 fakta di atas yang berbicara tentang tokoh superhero idola, aku punya 1 kecenderungan yang jika digabungkan dengan 3 fakta tersebut akan menghasilkan kejadian hari Sabtu siang kemarin. Entah bagaimana aku cenderung untuk mengalami kejadian-kejadian yang comical. Maksudnya adalah kejadian yang banyak terjadi di comic atau di film comedy dan cukup absurd untuk dialami di dunia nyata. Dari mulai kecebur got, nabrak pintu MM UGM, entah berapa kali jatoh atau nendang sesuatu sampai luka/lebam, dan yang terakhir beberapa minggu lalu adalah kejeblos di raise floor kantor. 

Jadi begini kejadiannya... 

Sabtu, 8 Maret 2014, Mal Kota Kasablanka
Siang itu Omla harus ke kantor, daripada bengong aku minta di-drop di Kota Kasablanka, sekalian mau sowan ke Cotton On untuk menambah persediaan kostum olahraga diskonan. Aku sampe jam 10 kurang dikit, nunggu mallnya buka dulu. Setelah aku berkunjung ke Cotton On, Informa, Carrefour, dan Ace Hardware, Omla nyusul. 

Omla pengen window shopping di Ace Hardware sebentar, kemudian ngajak untuk ke Informa lagi di Lantai 3 untuk nukerin kartu member Informa. Waktu Omla lagi ke Informa, aku memutuskan untuk muter-muter di Lantai 3. Di dekat Disc Tarra, aku ketemu dengan kereta mainan. Seperti Choo-Choo-Train (atau apapun namanya itu) yang di Grand Indonesia, tapi lebih kecil dan terlihat lebih ringkih. Aku melihat ada yang aneh dengan kereta di Kokas itu: 1) kok gak ada "masinis"nya? trus gimana bisa tauk kalo ada rintangan di depan? apa sudah pake artificial intelligence? atau pake remote control? 2) kenapa kereta ini gak bunyi tuut-tuut-tuuuutt kayak kereta yang di GI atau Pejaten Village. Terus orang gimana tauknya kalo kereta itu mau lewat? Aku gak sempat berpikir terlalu panjang, karena Omla terus telpon, urusan di Informa sudah selesai. Aku pun balik ke dekat Informa. Setelah itu kami makan siang di Eat&Eat. 
 
Selesai makan, kami mau langsung pulang. Omla antre dulu di kasir Eat&Eat yang di sebrang Informa untuk refund kartu prabayarnya Eat&Eat. Aku nunggu di depan kios makanan bali-nya Eat&Eat sambil mainan HP. 

Nah... kemudian terjadilah peristiwa itu... 

Lagi-lagi asik-asik mainan HP, the next thing I knew I was sprawling face-down on the floor. Trus kaki kananku sakit dan gak bisa bergerak. Aku gak langsung sadar apa yang terjadi. Ketika aku nengok ke belakang... there it was: kereta mainan yang tadi aku pertanyakan safety-nya!! Rupanya aku ditabrak oleh kereta itu dari belakang, terus telapak kakiku kejepit di bawah kereta itu. Aku panik karena gak bisa membebaskan kakiku dari bawah kereta. 

Lagi tengah-tengah panik gitu, sekelebat aku lihat ada yang lari ke dekatku dari arah depan, waktu aku nengok balik ke depan... ternyata ada pria yang berusaha mendorong lokomotif itu menjauh dari kakiku. Trus tauk gak apa yang ada dalam pikiranku waktu itu? "WOW... There he is!! The knight on the white horse! Finally he comes! He saves me! MAHIIIRROOHH!!". I even half-expected that his white horse was mounted near the Eat&Eat cashier... 

Kakiku akhirnya bisa lepas dari bawah lokomotif. Terus ketika pangeran superhero tadi menolongku untuk berdiri, aku akhirnya melihat wajahnya. Siapakah dia? Cmd. Data? Legolas Thranduilion? Hahaha... ternyata the one and only: OMLA!! Huahahaha.... Kecewa gak? Kaget sih iya... karena ternyata bukan superhero beneran, hahaha... tapi tidak mengecewakan.... hahaha... at least, for me he's good enough to replace Cmd. Data or Legolas Thranduilion. 

Aku berdiri sambil masih gemetar, setengah karena kaget, setengah lagi karena sakit. Sepertinya minimal kakiku baret-baret dan bakalan lebam-lebam. Khawatirnya karena tadi posisinya aneh bakalan terkilir juga. Tapi saat itu sih bisa langsung berdiri dan bertumpu di kaki yang sakit itu. Meskipun gak enak. Setelah 5 menit barulah gemetarnya hilang. Saat itu kami udah ngantri lagi di cashier Eat&Eat untuk meneruskan proses refund. Gak kepikir untuk complain ke pengelola mall, karena waktu itu emang pengen cepet2 pergi ada urusan lain yang lebih menyenangkan. 

Dari lantai 3, kami langsung ke parkiran. Dan tau gak? Ternyata Omla lupa mobilnya diparkir dimana. Ouch! Tuh kan, itu juga hal lain yang absurd. Okee... jadi dengan kaki sakit, kami harus jalan keliling parkiran nih? Untungnya di mobilku ada tanda parkir kantor yang warna kuning gonjreng. Secara ajaib setelah gak berhasil menemukan mobil ketika jalan ke satu arah, aku bisa melihat tanda parkir gonjreng itu dari jarak jauh. Wow... jadi aku punya penglihatan setajam elf nih sekarang? Hihihi... 

Kami pun meneruskan perjalanan, terus pulang ke Buncit. Karena takut tadi sempat terkilir, sampe Buncit aku langsung rendam kaki yang luka dengan air es. Arrrggghhh... udah pasti sakit banget apalagi di bagian luka baretnya. Tapi setelah agak lama, akhirnya disimpulkan bahwa aku gak terkilir, tapi hanya baret dan lebam agak luas, sehingga gak perlu downtime seperti halnya kalo keseleo. 

Waktu habis terjadi, pastinya sebel banget. Tapi sorenya aku mulai ketawa-ketawa sendiri kalo inget. Bukan ngetawain ketabraknya (fakta ini tetep nyebelin), tapi ngetawain reaksiku ketika melihat ada yang berusaha menolong. Wong lagi dalam kondisi distress gitu, malah ngebayangin lagi diselametin sama superhero. Hahaha... hahaha... 

On a more serious note, I'm glad that the one who I imagined as my knight-on-the-white-horse turns out to be the man I choose to spend my life with, meskipun kuda putihnya diganti dengan avanza hitam yang gak ingat diparkir dimana.... 

*Mahiroh = My Hero dalam bahasa anak PSM-ITB, thanks to mas Abi-senior di PSM-ITB. 

 




Tablet dan anak-anak

Sebenarnya tulisan ini serupa dengan tulisan yang dulu mengenai: TV dan Tablet untuk anak-anak, tapi isinya sedikit berbeda terutama setelah baru pulang dari Indonesia dan melihat bagaimana orang tua lain memakai tabletnya. Banyak orang sangat khawatir dengan televisi untuk anak-anak. … Continue reading

Elf, Cave Troll, dan Latihan Betis

Sudah 3 hari, gaya jalanku kayak Cave Troll...

Cave Troll itu salah satu jenis makhluk hidup di novel Lord of The Rings... Kalau mau lebih jelas gimana penampakannya, bisa lihat di sini. Yes, setelah 20 tahun sukses jadi Trekker dan berkecimpung di abad 24, sekarang dengan suksesnya terjerat juga oleh dunia Middle-Earth-nya J.R.R Tolkien. 

Dari Tolkien, mari kita beranjak sejenak ke olahraga baruku: Pilates. Waktu bulan September tahun lalu aku ditanya sama Rani (guru Pilates-ku): kenapa pengen belajar pilates? Jawabanku adalah pengen mengembalikan fleksibilitas jaman muda biar gak cepet cedera dan pengen jadi sedikit lebih kecil di bagian pinggul. Yaa... tahun 2008 aku pake jeans ukuran 27, tahun 2013 aku pakai ukuran 30. 

Nah, balik ke Tolkien lagi. Setelah menjadi penggemar Tolkien, dan menonton rangkaian film Lord of The Rings-nya Peter Jackson yang Extended Edition, tujuanku untuk olahraga menjadi lebih "terarah". Sekarang aku pengen jadi seperti Elf!! Bukan jadi Elf yang cantik dan anggun seperti Arwen (dia agak montok sih sebenernya), tapi pengen jadi seperti Legolas... hahaha... ini beneran... 

Why him? Sebenarnya aku sudah tertarik dengan Legolas sejak tahun 2001, tapi karena waktu itu gak paham ceritanya The Fellowship of the Ring, dan gak punya seseorang yang bisa dijadikan narasumber, jadi aku gak mendalami Lord of The Rings, bahkan gak nonton The Two Towers dan Return of the King di tahun-tahun berikutnya. Jadi Legolas pun terlupakan.

Dan 12 tahun kemudian, aku menghabiskan malam Natal untuk menemani Omla menonton The Hobbit: Desolution of Smaug. He's a fan of Lord of The Rings. Dan di film Smaug itu, ada Legolas Banyak yang aku gak ngerti di film Smaug, bedanya adalah kali ini aku bisa tanya sepuasnya. Jadi aku memutuskan untuk membaca novel The Hobbit dan Lord of The Rings. Kemudian menonton Theatrical Edition-nya Lord of The Rings series dan The Hobbit: The Unexpected Journey. Masih gak puas juga, ditambah dengan Extended Edition-nya Lord of The Rings series. Ternyata emang menarik...

Di antara 9 anggota Fellowship of The Ring, yang paling bisa dijadikan panutan (buat aku) adalah Legolas. Beberapa kata yang menggambarkan Legolas: graceful, lean, long, strong, agile and flexible. Dia bergerak secara anggun (kayak penari balet), tapi gak kemayu, larinya aja anggun... Trus badannya tinggi dan langsing, kuat (yeah... he's an elven warrior!), gerakannya lincah dan flexible. Buktinya bisa diliat di barrel scene-nya Desolation of Smaug atau Oliphaunt Kill-nya Return of the King, atau Shield Surfing at Helm's Deep-nya The Two Towers, atau loncatan di Khazad-Dum -- it looked like grand jete!

Jadi aku menobatkan Legolas sebagai role model dalam berolahraga, karena goal-nya adalah pengen jadi lebih anggun, langsing, kuat, lincah, dan fleksibel. Sayangnya untuk jadi Legolas, kadang harus melewati masa-masa jadi Cave Troll dulu....

Hehe... ceritanya 4 hari yang lalu aku mencoba gerakan baru. It was quite simple actually... Calves Exercise (yaa... I always have "problem" with my calves)... just raising heels while carrying a couple of dumbbells. Tapi diulang sampai total 5 menit. Setelah selesai latihan sih baik-baik aja, malahan habis itu masih jalan-jalan ke Kota Kasablanka.

Sehari kemudian... baru deh kena DOMS alias Delayed Onset Muscle Soreness di bagian betis... sakit otot yang disebabkan oleh otot tersebut jarang digunakan sebelumnya. Walhasil jadi gak bisa jalan lurus tanpa kesakitan. Jadilah... jalan dengan gaya cave troll. Lambat, badan miring-miring agak bungkuk karena nahan sakit, dan kaki ditekuk terus. Gak anggun sama sekali.

Katanya Beauty is Pain. Ternyata pepatah itu gak hanya berlaku untuk prosedur yang terjadi di dokter kulit (atau dokter gigi), tapi juga terjadi di dunia olahraga. Tapi badai pasti berlalu... Selama yg kita lakukan sesuai dengan petunjuk, besar peluangnya untuk hasil yang setimpal. Jalani saja masa-masa Cave Troll ini... karena setelah berusaha beberapa bulan, Legolas sudah mulai terlihat dadah-dadah di depan sana. Aku sudah bisa pakai celana jeans yg kubeli tahun 2005, ukurannya 28. Aku sudah bisa melakukan split lagi meskipun baru sebelah kanan aja (artinya: better flexibility). Dan sudah gak mudah capek lagi (stronger). A few more inches to go... :-D



7th Wedding Anniversary

Sebenarnya anniversarynya kemarin, tapi kemarin ragu mau nulis apa. Kondisi saat ini masih seperti tahun sebelumnya: kami sangat berbahagia, kami sehat, kondisi keuangan baik, mobil yang kami pakai baik-baik saja, kami tidak kecelakaan, adik saya akhirnya akan menikah bulan depan, … Continue reading

Singapore: Menjelang Akhir Tahun 2013

Udah lama gak posting di blog yang ini. Bukannya gak pergi-pergi sih, sebenernya malah pergi ke tempat-tempat seru kayak Raja Ampat, tapi gak menemukan waktu untuk nulis postingannya aja. Nah, tgl 15-22 Desember 2013 kemarin habis dinas untuk workshop ke Singapore, biasa aja sih sebenernya tapi cukup menarik untuk didokumentasikan, untuk referensi di masa yang akan datang.

Tahun 2005-2006, aku pernah menghabiskan malam tahun baru di Singapore. Jadi sebenernya sudah tahu kalau menjelang akhir tahun, Singapore itu penuh. Tapi ternyata kali ini makin penuh, meskipun masih sebelum Natal. Mungkin karena makin banyak budget airlines yang bisa dipilih.

Keliling Shopping Centre
Selama 7 hari 7 malam di Singapore, aku menyempatkan diri mengunjungi.... 13 shopping centre. Jadi ini dia listnya:
Senin: 313@Sommerset, Raffles City (depan hotel), Marina Square
Selasa: Mustafa Centre, City Square, Plaza Singapura
Rabu: ION Orchard, Wisma Atria, Ngee Ann City
Kamis : Bugis Junction
Jum'at : ION Orchard, Lucky Plaza, Raffles City, CityLink
Sabtu : (balik lagi ke) ION, Wisma Atria, Ngee Ann, 313@Sommerset
Minggu: Shoppe @ Marina Bay Sands
Gara-gara keliling mall, berat jadi turun 1 kg. Tapi kaki dan pinggang jadi memanggil-manggil spa therapist.

Sempet ditanya sama Omla: apa yang istimewa dari mall di Singapore?
Ya kalo tokonya sih gitu-gitu aja, meskipun kalo lagi diskon bisa harganya lebih "banting" daripada diskonan di Endonesa. Kalo harga reguler sih malah lebih mahal dari di Endonesa (gara-gara kurs rupiah ke mata uang asing lagi rendah... huh...).

Jadi yang menyenangkan adalah mayoritas mall di sana punya shop directory yang lengkap dan banyak (kecuali Mustafa Centre dan Lucky Plaza keknya sih). Jadi kalau mencari toko tertentu, kita mudah menemukannya, gak buang-buang waktu dan tenaga. Paling demen sama shop directory-nya ION Orchard. Interactive dan bisa ngasih petunjuk arah dari tempat kita berdiri ke toko tertentu.

Aku sendiri bukan maniak belanja, tapi kemarin ini terhitung belanja cukup banyak (untuk standard-ku) sehingga tas-nya beranak sebanyak 1 hand-carry bag (masih untung bukan kopernya yg beranak). Karena tujuan utamanya pergi untuk kursus, jadi sudah pasti bawaannya bertambah dengan buku-buku kursus (3 eksemplar). Trus belanjaannya oleh-oleh buat keluarga terdekat, oleh-oleh makanan buat di kantor, sama barang belanjaan pribadi. Barang belanjaan pribadi-nya "cuman" : 2 pasang sepatu, 3 sport bra (ini doang kok yang agak kalap), 1 tank top, sama 1 set skin care merk Neutrogena. Itu udah banyak kalo buat aku.

Makan, makan, dan makan...
Waktu berangkat dari Jakarta, niatannya emang: aku pengen makan makanan khas Singapore. Sebisa-bisanya menghindari big-chain fast food macemnya McD, Burger King, dan KFC. Karena kalo begituan di Jakarta juga banyak.

Jadi: makan apa aja aku selama di sana?
1) Nasi Lemak-nya Old Chang Kee, yang ini disediakan oleh training provider. Maksudnya sih buat snack pagi, tapi karena porsinya gede, ya aku makan buat makan siang deh. Old Chang Kee sudah ada di Senayan City, tapi biasanya aku hanya makan Curry Puff (pastel) sama Milo Dino aja di sini.
2) Milo Dinosaurs! Entah berapa gelas. Aku biasa minum Milo Dino di Old Chang Kee Sency, tapi Old Chang Kee yang ada Singapore malah gak jualan Milo Dino. Ternyata Milo Dino di Singapore lebih enak dibanding di Endonesa. Hari Rabu setelah kembali ke Jakarta, aku minum Milo Dino di Ah Mei Pejaten Village. Hmm... rasanya beda, kurang kreos-kreos. Perbedaan ini bisa terjadi karena bubuk Milo yang dijual di tiap negara punya variasi kualitas. Sepertinya yang versi Indonesia lebih halus dan mudah larut, jadi kurang kreos-kreos.
3) Chicken Rice alias Nasi Ayam Hainam. Yang ini makan di food court Golden Shoe di dekat tempat kursus. Murah meriah dan enak.
4) Kaya Toast @ Ya Kun Kaya. Ini juga ada di Endonesa sih... tapi berhubung ini makanan khas Singapore, jadi harus makan di tempat asalnya.
5) Laksa Yong Tow Foo. Jadi isinya yong tau fu, tapi kuahnya laksa. Kenyang jaya makan ini, mungkin karena kuahnya santan.
6) Soup Yong Tau Fu. Ini versi asli dari yong tau fu, yang pake kuah kaldu ayam. Yang menarik, ternyata kios-kios yong tau fu itu mayoritas menulis bahwa masakannya tidak mengandung babi ataupun turunannya.
7) Hongkong Sytle Fried Beancurd. Yang ini bukan khas Singapore, tapi aku beli di salah satu kios Yong Tau Fu di Bugis. Tertarik sama gambarnya, kayaknya enak kreos-kreos. Ternyata? Ya enak sih... tapi di rumah ada makanan yang persis kayak begitu, namanya: Tahu Campur.
8). Parottha Meal @ Komalas. Makanan india! Karena sebagian penduduk Singapore berasal dari etnis India, jadi makan makanan India di Singapore itu harus. Apalagi kebanyakan resto India itu vegetarian. Nah ternyata kari untuk roti prata di resto India itu lebih sadis dibandingkan kari-nya roti cane-nya orang melayu. Peeedddeessss.... pisan. Tapi ketika aku kepedesan, bapak-bapak India di depanku malah nambah (ya iyalah... itu kan makanan rumahnya dia). Tapi biarpun kepedesan, aku mau mengulang kunjungan ke Komala lagi.
9) Yoshinoya. ini mah bukan khas Singapore ya, tapi udah kepepet kelaparan dan gak liat yang lain yang lebih menarik di tempat aku lagi berdiri.
10) Bibimbab. Ini juga bukan khas Singapore, tapi aku jarang makan makanan korea, dan kalo pas nemu Bibimbab dengan harga terjangkau, pasti kepengen. Yang ini menarik pengalaman mencarinya: Sambil nunggu Omla di Raffles City, aku nyoba nyari tempat makan yang gak terlalu penuh, menarik, dan sepertinya gak mengandung babi. Ternyata semua tempat di Raffles City penuh jaya. Akhirnya aku jalan ke stasiun Esplanade (via lorong bawah tanah antar Mall/Stasiun MRT). Di dekatnya ada food court kecil. Di situ ada kios makanan jepang dan korea yang masang stiker sertifikasi halal gede banget. Dan di sebelahnya ada kios minuman jual Milo Dino. Bibimbab + Milo Dino adalah kombinasi sempurna. Hajar deh....
11) Pita Pan. Nah yang ini makanan khas Mediterania. makanannya roti pita, hummus, falafel, gitu-gitu deh. Bukan khas Singapore juga. Falafelnya enak, tapi aku merasa lebih cocok sama makanan India.
12) Supper @ Charlie Brown Cafe. Ini makanan barat, yang bikin khas adalah Charlie Brown-nya. Kapan lagi bisa makan bareng Snoopy and Friends?

Jadi, selama beberapa hari di sana, aku berusaha untuk makan malam lebih awal. Karena menurut perkiraanku, kalau makan pas jam makan malam pasti akan penuh sekali. Ternyata... waktu jalan di Ngee Ann City hari Rabu, jam 6 (harusnya di luar masih terang, sama dengan jam 5 di Jakarta) aku menuju ke food court di basement. Jreng! Jreng! Waks... food courtnya peennnnuuuhhh banget... isinya keluarga2 lagi liburan. Nah itu lah pertama kali aku ngeh kalo ternyata: belum natalan aja Singapore udah penuh banget. Gimana kalo Natal sama Taon Baru nanti? Gak usah nunggu natalan, pas hari sabtu malamnya tgl 21 aja di depan Ngee Ann City udah macet manusia.

Wisata
Dua hari terakhir (Sabtu-Minggu) adalah waktunya berwisata. Karena aku dan Omla sudah pernah ke Singapore sebelumnya, jadi kami mengambil obyek wisata yang gak terlalu "mainstream" : Dome-dome-nya Garden by the Bay sama Singapore Science Centre. Sekalian di Science Centre lagi ada pameran Dinosaurus (Titans of the Past).

Komentar? Tiket masuknya emang pada mahal-mahal banget (untuk ukuran orang Indonesia yg tiket museumnya murah-murah). SGD25/orang untuk yang pameran Dino dan Science Centre, dan SGD28 untuk yang Flower Dome dan Cloud Forest-nya Garden by the Bay. Tapi puas banget sih emang...

Yang di Science Centre tu sampe kekurangan waktu. Display-nya tuh buanyak banget. Yang dewasa aja seneng, apalagi yang punya anak SD-SMP.

Yang Dinosaurus meskipun gak banyak banget displaynya, tapi robot dan display kerangka Dino-nya bagus dan didatangkan dari USA, tepatnya dari The Museum of Rockies, Montana. Jadi wajar kalo mahal. Banyak pengetahuan baru juga yang didapat. Seperti misalnya: ternyata ada dugaan bahwa T-Rex itu bukan predator, melainkan scavenger kayak Hyena, karena populasinya cukup tinggi. Terus dari susunan giginya: T-Rex anak-anak itu pemakan daging, sedangkan T-Rex dewasa itu bone-crusher. (pasti tulangnya dipresto dulu deh).

Selain Dinosaurus, pameran itu juga menampilkan hewan-hewan Zaman Es, kayak Mammoth alias gajah purba berbulu abon. Tapi tidak sekomplit yang dinosaurus.

Kalo Gardens by the Bay, sayang banget kami gak punya waktu seharian di sana.... Rasanya gak pengen keluar dari Dome, terutama yang Flower Dome. Udara di dalamnya enak banget, karena memang meniru iklim sub tropis pas lagi Spring. Tanamannya juga lucu-lucu, mungkin karena jarang lihat ya. Bener aja, begitu keluar dari Dome, ketemu dengan udara panas-nya Singapore. Langsung senep...

Untuk yang Cloud Forest, konstruksinya keren banget, ada air terjun buatannya, tapi aku sendiri gak terlalu menikmati karena ada bagian dimana kita harus jalan di deck yang "melayang". Ceritanya jalan di atas awan gitu. Aku melihat sedikit sekali tiang penyangga dan ga ada kabel penggantung. Goyang-goyang dong jadinya... apalagi ditambah dengan anak-anak kecil berlarian di atas deck itu.... Mungkin akan lebih menikmati kalo ke sananya pas gak musim liburan.

Hotel
Selama 7 malam di Singapore, aku menginap di 2 hotel yg berbeda. 6 malam pertama menginap di Carlton Hotel, karena masih di-cover biaya perjalanan dinas. Hotelnya biasa aja untuk kelas bintang 5, tapi lokasinya emang oke. Lokasinya di tempat yang gak terlalu rame, tapi dekat ke mall dan stasiun MRT. Menu sarapannya cukup lengkap tapi gak pernah ganti-ganti. Rasanya biasa aja sih, malah pilihan mentega roti-nya gak cocok buat aku. Tapi selama mereka punya yoghurt, buah, dan telur. Aman deh...

Hotel yang kedua adalah V Hotel Bencoolen. Ini bintang 3 1/2 atau 4 kecil. Kamarnya minimalis ukurannya, tapi fasilitasnya cukup lengkap. Dia ada 1 yang menang dibanding Carlton:  Showernya pake selang, gak ditempel di tembok... jadi bisa buat cebokan kalo habis BAB!! hahahaha.... Untuk orang Endonesa, itu penting banget.

Soal lokasi, V Hotel ini sebenernya cukup ideal. Karena gak jauh dari stasiun MRT Bras Basah, tapi jalan di depannya lagi ditutup, karena ada pembangunan stasiun MRT Bencoolen (part of the new Downtown Line). Aku gak ngambil paket yg pake sarapan, tapi tenang sajah... di dekatnya ada Sevel (7-11) dan ada food court Kopi Tiam yang buka 24 jam. Jadi soal makanan sih terjamin.

Transportasi
Selama di sana, ya naiknya MRT doang. Kebetulan ga ada kesempatan naik bus. Tadinya berencana mau naik bus dari Science Centre ke tengah kota, tapi waktunya terbatas jadi balik naik MRT lagi. Naaa... pas hari terakhir di Singapore (22 Desember), kebetulan bertepatan dengan pembukaan Downtown Line tahap 1. Jadilah kami nyobain untuk naik jalur itu meskipun cuman 1 stasiun aja dari Promenade ke Bayfront. Keretanya baru masih bau cat.

Yah seperti halnya orang-orang Jakarta lainnya yang habis dari Singapore, ketika tiba waktunya untuk balik kampung, pastinya berat ninggalin keteraturan yang ada di sana (terus dibandingkan dengan riweuhnya Jakarta).

Kurang lebih begitulah summary-nya. Biasa aja kan.... tapi aku sih pengen ke sana lagi dalam waktu dekat ini. Siapa tauk bisa sekalian nonton musical atau yang lain... Keteraturan dan kemudahan yang ada di sana itu bisa jadi semacam refreshment setelah tiap hari berkutat di Jakarta yang riweuh. Yang mana mau keluar dari gang rumah sendiri aja mesti pake ribet.








ho do boru ku..

3 desember 2013

putri sematawayang kami dilahirkan melalui operasi caesar. puji syukur tak terperi kami panjatkan ke hadiratNya. penantian panjang seluruh keluarga besar kami berakhir sudah. tangisnya pecah pada pukul 11.08 siang. para perawat mengukur: beratnya 3150 gr dan panjang 51 cm. geraknya aktif sekali. namanya priscille natalia karina sitorus. doa kami kiranya Tuhan semesta alam yang sudah dan sedang menolong kami orangtuanya hari ini, Tuhan yang sama pula memberkati dan menyertai perjalanan hidupnya. syukur kami menjadi semakin berlimpah ketika orang-orang terdekat kami mendampingi saat-saat kelahirannya.

Image

10 desember 2013

seminggu setelah kelahirannya, priscille harus kembali ke rumah sakit. bilirubinnya masih tinggi, 14 (normal < 11). ini sungguh memukul istri saya, karena keinginnya untuk memberikan asi eksklusif pun tidak terwujud. terlebih melihat priscille menangis di ruang perawatan sementara kami hanya bisa melihatnya dari luar – tanpa bisa melakukan apapun. ketika kami pulang ke rumah, sepi. tak ada gairah dan semangat, semua terenggut di rumah sakit. kami berlutut mohon pernyertaan Tuhan bagi priscille dan bagi kami.

dua hari kemudian, hasil lab terhadap bilirubinnya turun. ini berita yang sungguh melegakan kami semua. priscille pulang ke rumah diantar opungnya. seluruh isi rumah dan halaman bersuka cita. suara dan tangisnya yang sempat hilang kembali muncul. matahari baru kembali bersinar.


terima kasih tuhan (2)

oktober – november 2013

perjalanan yang berliku dan mendaki harus kami hadapi untuk menyiapkan seluruh dokumen yang dibutuhkan. adalah Dichiarazione di valore in loco (DV – Declaration of value) satu-satunya yang menjadi fokus. tantangan menjadi lebih berat karena DV ini haruslah yang dikeluarkan oleh Kedutaan Italia di Stockholm. tak pelak lagi kami harus mencari kontak person yang bisa membantu kami mengurusnya di Swedia. bersyukur, ada seorang teman yang bersedia membantu kami. kami sungguh diajar untuk bersabar dalam segala sesuatunya. satu hal yang kami rasakan adalah jika Tuhan yang membuka pintu, maka tidak ada seorangpun yang dapat menutupnya. dan Tuhan menyatakan rencananya sempurna dalam kehidupan kami. 27 november, kami dapat konfirmasi bahwa persyaratan untuk enrolment sudah terpenuhi.


terima kasih tuhan (1)

18 oktober 2013

kebahagiaan begitu membuncah saat melihat nama saya menjadi salah satu dari enam mahasiswa baru yang menerima beasiswa untuk mengikuti program S3 selama 3 tahun di Bolzano. isi dada seperti mau pecah. perjuangan memperoleh kesempatan S3 yang saya mulai 3 tahun lalu mendapat restu dari Tuhan. saya langsung memberitahu istri dan orang tua saya bahwa saya akan ke italia awal tahun depan. semua ikut terharu bahagia bersama saya..

19 oktober 2013

pagi itu, saya membaca persyaratan untuk proses enrolment. saya bertanya kepada istri saya, apakah kita ambil kesempatan ini? dia memastikan sayang, ini adalah impian kita. saya tertegun. saya sadar segala konsekuensi dari keputusan ini. Tuhan tolonglah kami, itulah doa kami. jika Engkau tak bersertaku, ku tak mau berjalan. Ku perlu Engkau, pimpin langkahku.


Libur panjang menutup tahun 2013

Tahun ini papa Jonathan dapat libur panjang sejak tanggal 28 Desember yang kebetulan jatuhnya hari Sabtu. Seharusnya tanggal 30 Desember 2013 belum hari libur, tapi kantor papa memutuskan biar liburnya panjang ya sekalian aja diliburkan. Karena kami ga pulang ke … Continue reading

Merry Christmas 2013 and Happy New Year 2014

Posting ini merupakan posting rutin jelang akhir tahun 2013. Berhubung ada libur panjang tapi kami tidak keluar kota, jadilah kami jalan-jalan mulu setiap hari walau hanya dalam kota Chiang Mai saja. Rasanya sejak Jonathan semakin besar hampir setiap hari libur … Continue reading