2,5 Tahun menjadi Ayah

Posting ini hanya sekedar sudut pandang saya dan pengalaman saya menjadi ayah bagi Jonathan. Pengalaman ini mungkin akan sangat berbeda dari cerita orang lain, dan bahkan akan berbeda lagi ketika kami memiliki anak lagi. Dulu saya nggak kebayang, jadi ayah … Continue reading

Mudik April 2013

Posting singkat ini sekedar sebagai pengingat aja, soalnya kalau tidak ditulis sekarang pasti bakal lupa. Kami memutuskan mudik di bulan April tahun ini, selain untuk menghindari panasnya Chiang Mai yang sedang mencapai puncaknya, kebetulan ada libur Songkran di Thailand. Kami … Continue reading

Cerita dari Kasim

Sebentar lagi aku mutasi dari Sorong. Banyak senangnya, tapi ada juga sedihnya. Kalau senangnya sudah bisa ditebak lah ya: dekat Omla, dekat ortu, dekat the KUDA!s, dekat segala macam seminar/workshop di hari wiken, dekat gank rajut, dll. Bisa sering-sering

Sedihnya apa? Yang pertama: sedih ninggalin kucing tiban alias si belangtiga di rumah dinas. Setelah Omla mutasi ke Jakarta, kami kukutan dari rumah dinas di Sorong. Selama belum mutasi fisik ke Jakarta, kalau lewat di kota Sorong (sebelum off ke Jakarta atau sebelum naik ke Kasim) aku selalu menyempatkan untuk mampir ke rumah, meletakkan 1/2 kg makanan kucing di halaman belakang ex-rumah dinas Sorong. 

Yang kedua: sedih meninggalkan udara segar dan lalu lintas bebas macet. Karena udaranya masih segar, meskipun di pinggir laut, di Kasim itu kalau tidur malam gak perlu pakai AC. Gak usah ditanya deh ya, kalo Jakarta tuh kayak apa.

Yang ketiga: sedih meninggalkan gank ibu-ibu mess S2. Waktu BPS di Simpruk, waktu berkantor di Sekuriti, waktu di Kwarnas, waktu di Satrio, dan di Prabumulih, aku selalu menemukan grup pertemanan yang lumayan dekat. Grup pertemanan ini yang membuat aku betah bekerja di tempat-tempat tersebut. Di Sorong ini, aku agak lambat untuk menemukan grup pertemanan. Temanku siapa aja? Bapak-bapak tim manajemen? Nyambungnya cuman di kerjaan aja. Di luar itu... yaa susah lah mau diajak ngomong soal masakan, soal ngosek kamar mandi, hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari. Kalo diajakin ngobrol tentang investasi, keuangan, dll, disangkanya ntar gue ngajarin lagiii....

Nah, ketika di Kasim, aku akhirnya menemukan lingkaran pertemanan itu. Ternyata aku nyambung dengan ibu-ibu outsourcing yang sama-sama tinggal di mess S2. Kami suka ketawa-ketiwi dan masak-masak untuk mengusir kebosanan dan kesebelan di Kasim. Yah, tapi untuk ibu-ibu ini sih, masih bisa sms-an, email-emailan, surat-suratan, meskipun kalau mau ketemuan mungkin susah sering-sering kayak dengan gank rajut BPS TI.

Yang keempat: Makanan!!! Yak betul.... Ikan Baronang Bakar Marinda misalnya, yang kayak begitu sulit ditemukan di tempat lain.... Belum lagi bahan-bahan makanan seperti singkong yang lebih superior dibandingkan singkong di Jawa.

Kurang lebih begitulah hal-hal yang bikin sedih. Tapi tentunya aku harus maju terus kan ya.... Karena toh senangnya masih lebih banyak dari sedihnya. Berikutnya aku akan cerita ttg kisah seru perjuangan kawan-kawan LS di Kasim.

Jekardah!

Hari Rabu minggu lalu, aku kembali mencicipi berbagai moda transportasi khas Jakarta. Udah 3 tahunan terakhir tinggal di daerah sepi yang kalo mau pulang-pergi kantor tinggal sepelemparan batu, jadi ngicip tranportasi Jakarta itu termasuk sesuatu banget. 

Moda transportasi yang pertama adalah: TRANSJAKARTA. Untuk berpindah dari Gambir ke Menara Standard Chartered, aku naik transjakarta jalur 2 dari halte Istiqlal, kemudian pindah ke jalur 1 di Harmoni. Kalau ini sih seperti biasa, pasti diwarnai dengan menunggu, mengantri, dan berdesakan. Untungnya hari itu antrian di Harmoni tidak terlalu panjang, meskipun mesti nunggu lama waktu di Istiqlal. Derajat kepenuhan bus tergolong biasa saja untuk jam pulang kerja, gak tau ya gimana jam 7 malam nanti....

Aku tiba dalam waktu yang cukup singkat, 1/2 jam saja dari Istiqlal ke halte Karet. Habis itu disambung jalan kaki ke Menara Standard Chartered. Sampai di Menara Stanchart, ternyata Omla nunggu di lobby depan bareng sama pak Bos Prabumulih. Hahaha... si Bapak mau pulang ke kost ceritanya. Cieeh, anak kost sekarang pak...

Setelah berhaha-hihi sebentar, aku dan Omla naik ke lantai 28. Gantian ber-haha-hihi dengan samtoje alias Mas Tejo. Ngobrol sebentar dengan Hayat dan Indy, ke toilet (yang masih begitu-begitu aja, tapi setidaknya jauh lebih eksklusif dan bersih daripada toilet di.... Kaa....*****), terus aku, Omla, dan Hayat pun beranjak pergi ke JCC.

Kami mau ke pameran furniture. Aku dan Omla mau lihat kasur. Hayat mau liat rak buku. Dan kami pun berpindah dari Menara Standchart ke JCC dengan menggunakan moda transportasi kedua: OJEK. Karena ber-3, jadi naik 3 ojek. Keren juga. Mereka menyediakan helm yang bersih dan wangi. Kayaknya persaingan antar tukang ojek mengharuskan mereka memberikan servis yang excellent.

Ojeknya nyelempit-nyelempit di gang-gang daerah Benhill. Tau-tau udah keluar di dekat Graha Jala Puspita aja... 10 menit saja, sampe deh di JCC. Mungkin tarifnya lebih mahal daripada naik taksi (apalagi kalau dihitung 3 orang), tapi waktu tempuhnya jauh lebih cepat.

Kami gak lama-lama di pameran. 1/2 jam saja. Karena yang dicari sudah jelas sih. Habis itu jalan pulang. Hayat naik ojek ke stasiun Palmerah. Aku dan Omla jalan kaki sampe ke pinggiran jalan Sudirman. Jauuuhh yaaa.... Sampe di sana nyari taksi, yang ternyata susah bangeett...

Akhirnya kami nyebrang ke sisi BEI. Tetep aja susah nyari taksi.... sehingga kami pun memutuskan naik moda transportasi ketiga: KOPAJA... yang kami kira P19... ke arah Blok M. Maksudnya kalo P19 gitu kan bisa berhenti di TB Simatupang terus nyambung P20 yang ke arah Senen.  Udah deket Blok M, aku baru sadar kalo itu bukan P19, melainkan S66. Berarti ya cuman bisa sampe Blok M.

Dari Blok M naik apa? Bisa S75, tapi macetnya amit-amit pastinya.... Ngebayangin bisnya ngantre di traffic light Tendean-Mampang aja putus asa.

Kemudian di depan hotel Ambhara, kami melihat banyak BAJAJ. Aku jadi pengen naik BAJAJ. Kayaknya bisa cepet nyampe rumah. Kami pun mencoba nawar BAJAJ. Bapaknya nawarin 50rebu lho... agak mahal sih, kalau untuk dari Blok M ke Buncit. Ditawar 40rebu gak mau dia, alasannya macet.

Ya sudahlah, 50rebu pun kami embat juga!!! Yiihhaaa.... Tapi emang cepet looohhh.... kebayang kan si Bajaj nyerobot-nyerobot jalur kanan waktu jalur kita macet. Di daerah Kemang Utara tuh yang cuman 1 jalur untuk 1 arah. Hahaha.... belum lagi kalo di turunan, dapet bonus ajrut-ajrutan, serasa lompat-lompat di spring bed. Aku dan Omla belum pernah naik bajaj barengan sebelumnya, jadi kami pun sempet berfoto di atas bajaj...

1/2 jam kurang, dari Blok M sudah sampai ke rumah. Hmm... jarang2 lho ada Bajaj masuk ke Buncit Indah. Biasanya cuman ada taksi atau ojek aja.

Sepertinya memang harus berdamai dengan transportasi Jakarta, mengingat dalam waktu dekat bakal kembali jadi orang Jakarta.

Sebulan Pindah Rumah

Sejak datang ke Chiang mai tahun 2007, kami tinggal di apartemen. Pernah terpikir pindah ke rumah, tapi rasanya kami belum siap untuk tinggal di rumah (masalah komunikasi dengan orang lokal dan khawatir dengan keamanan kota ini) dan kami merasa lebih … Continue reading

Si Belangtiga

Ini dia, yang bikin berat ketika kudu pindah dari rumah dinas Sorong:


Perkenalkan.... Si Belangtiga!!!

Jadi Belangtiga itu adalah kucing tiban, alias kucing liar yang datang ke rumah, terus lama-lama kita bersahabat. Dari namanya sudah tersurat bahwa dia merupakan kucing belang tiga.

Aku bukan pecinta kucing yang suka nguyel-nguyel kucing sampe dicium-cium. Ngelus-ngelus aja gak pernah. Cuman aku suka memelihara aja: ngasih makan, ngeliat si miauw kenyang setelah menghabiskan sisa-sisa makanan kami, terus sambil grooming.

Awalnya si Belangtiga ini kerjaannya ngaduk-ngaduk tong sampah di dapur KUDA! dan Omla. Karena bandel, kami suka menggertak supaya dia gak mendekati dapur kami. Jadi si Belangtiga pun takut sama kami. Tapi lama-lama, ketika punya sisa makanan, kami sering meninggalkan sisa makanan itu di halaman belakang. Ternyata si Belangtiga makan sisa makanan itu, dan dia jadi gak ngaduk-ngaduk tong sampah lagi.

Akhirnya jadi kebiasaan deh. Apalagi Omla seneng makan ikan goreng. Kepala dan tulang-tulang ikan itu pasti jadi santapan si Belangtiga. Lama-lama, dia jadi gak takut lagi sama kami. Bahkan gak malu-malu minta makan. Kami sih senang-senang saja, toh dia juga tidak mengganggu. Malahan makanan kami jadi lebih efisien dan efektif. Gak banyak sisa.

Beberapa minggu lagi, kami akan pindahan dari rumah dinas. Kemana? Yah, masih rahasia sih... Yang pasti, untuk alasan yang gak ada hubungannya: bukan cuman kami yang pindah dari kompleks, tetangga-tetangga kami sudah pada kabur duluan, karena ada perubahan sistem kerja.

Si Belangtiga sebenarnya kan kucing liar. Seandainya di kompleks situ masih banyak penghuninya, aku gak terlalu berat meninggalkan si Belangtiga. Dia bisa ngorek-ngorek dari tong sampah besarnya para tetangga. Tapi sekarang, karena gak ada penghuni, maka gak ada sampah sisa makanan.

Yah... semoga kamu bisa menemukan supplier makanan baru ya, Belangtiga... Pindah teritori atau gimana gitu... Atau berubah jadi vegetarian. Habis mau dibawa pindah ke tempat baru juga susah... ntar malah dia stress. Kucing kan binatang teritorial...