unspoken words 2009-12-14 18:29:00
The Story of Cap and Trade
Dipakai sayang, disimpan saja?
Gajah Santa
Fish Spa
Jejaring Sosial dan Blog
musim dingin sudah di depan pintu
beberapa minggu belakangan ini, suhu udara menurun terus. seminggu terakhir sudah berkisar antara -3 di pagi hari dan 5 atau 6 derajat di siang hari. belum lagi hujan yang turun sepanjang hari, semakin membuat udara menjadi sangat dingin. aktivitas pun ikut tepengaruh- bagaimana tidak, suhu dingin membuat enggan bergerak dan ingin lebih berlama-lama selimutan di pagi hari. ya, musim dingin sudah di depan pintu. dimundurkannya waktu selama 1 jam per 25 oktober yang lalu, seolah-olah memulai masa-masa dengan waktu malam yang panjang.
hujan yang turun saat musim dingin bisa sampai di bumi dalam dua bentuk – air (seperti hujan yang kita kenal di Indonesia) dan salju (es). lokasinya yang dekat dengan laut membuat hujan air yang turun disertai dengan angin kencang. kalau sudah begitu, tak ada gunanya berpayung – hanya membuatnya menjadi cepat rusak. dan sudah bisa ditebak, udara yang sudah dingin itu pun menjadi dua kali lebih dingin. berbeda dengan hujan air, kalau salju sudah turun biasanya suhunya tidak terlalu dingin. namun demikian, saat berjalan kita mesti ekstra hati-hati. salju yang sudah menggumpal di jalan menjadi sangat licin.
oh ya, ngomong-ngomong tentang hujan, W.S. Rendra juga pernah terinspirasi olehnya dan menuliskan sebuah puisi. berikut ini adalah puisinya yang berjudul surat cinta. secara khusus, puisi ini didedikasikan untuk bulan purnama yang telah menerangi malam-malam gelap penuh kesunyian dan kesendirian di negeri orang…
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkanSelusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasaSemangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
bagai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padakuEngkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmuKutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !
