Telemarketing
Jadi begini... belakangan ini sering banget ditelpon sama beberapa orang dari penerbit kartu kredit yang aku gunakan produknya. Mereka gak menawarkan sesuatu yang besar. Cuman fitur-fitur tambahan dari kartu kredit yang sudah bertahun-tahun aku gunakan. Seperti misalnya proteksi pembayaran tagihan, sejenis insurance gitu deh, dengan premi yang gak besar, yang mana misalkan terjadi kita sakit atau gimana, bisa terbebas dari kewajiban untuk bayar tagihan.
Waktu nelponnya tuh kadang enggak banget. Misalnya pas jam kantor, duh... kadang kalo lagi mikir sesuatu, konsentrasi jadi buyar... Terus semalam... dia nelpon jam 8 malam... untung saja aku belum tidur, kalo sudah.. wah bisa-bisa bete deh. Pernah lagi waktu aku di Bali, aku badly needed some sleep kan... pas jalan dari Ubud ke Denpasar, nah enak banget tuh buat tidur... mobilnya AC-nya dingin, temen yang bawa mobil juga nyetirnya enak, abis makan Bebek Bengil pula. Ada telepon masuk, kupikir dari teman atau orang kantor, aaarrrgghhh... tak taunya telemarketer yang maksa banget biar aku menyetujui untuk bergabung dengan asuransi kesehatan yang preminya "cuma" 7500 per hari.
Setelah berkali-kali ditelpon, akhirnya aku nangkep pola kerja mereka:
1. Awalnya mereka akan menjelaskan tentang keuntungan produk/fitur itu. Ya iyalah... tapi yang dijelaskan keuntungannya doang, terms & conditions secara keseluruhan gak mungkin bisa dijelaskan via telepon. Pasti kan ada batasan2 juga...
2. Mereka akan bilang kalo biayanya itu kecil. Beneran kecil atau enggak... yah itu sih tergantung masing-masing orang... contoh asuransi kesehatan itu... kalo yang belum di-cover dimana-mana, 7500 mungkin emang pantas, tapi kalo yang udah dapet fasilitas dari kantor, lain lagi ceritanya. Jadi meskipun biayanya keliatan kecil, kita harus bener-bener pikirkan, emang perlu gak sih?
3. Di beberapa kasus, mereka kadang gak menjelaskan bahwa untuk mengaktifkan fitur itu ada biaya tambahan. Contoh nih... Transfer Balance... salah satu vendor kartu kredit yang aku gunakan menawarkan untuk memindahkan tagihan dari kartu kreditku yang penerbitnya adalah bank tempat rekening gajiku ke kartu kredit keluaran mereka... aku hampir oke-in aja, sampe aku tanya: Ini Gratis kan? Ealah... si mas-mas yang nelpon cengengesan, dia bilang biayanya 25000... Yeee... ngapain juga kan, rugi 2 kali dunk... wong biasanya juga aku bayar kartu kredit yang itu pakek ATM-nya bank tempat rekening gajiku... itu udah kena charge 5000... lha ini... masa' nambah lagi biaya yang sebenernya gak perlu.
4. Nah terus ujung-ujungnya mereka akan menverifikasi data-data kita (seperti tanggal lahir, nama kecil ibu kandung, dst) abis itu menyimpulkan kalo kita sudah menyetujui untuk mengaktifkan fitur yang ditawarkan. Kalo udah gitu, biasanya aku mengeluarkan jurus: "Saya gak bilang kalo saya setuju untuk bla...bla...bla... loh". Kemudian aku akan mengeluarkan alasan aku gak mau mengaktifkan via telepon karena aku gak bisa mikir panjang dan mempelajari lebih jauh tentang konsekuensi dari pengaktifkan fitur tersebut, aku juga akan bilang kalo aku lebih nyaman mengisi form dan menandatangani sesuatu untuk permintaan semacam itu. Mereka akan menjelaskan kalo percakapan telepon itu direkam... jadi bisa buat tanda bukti, sehingga aku gak perlu repot-repot isi form. Aku masih meragukan validitas dari rekaman... gimana coba, wong aku cuman bilang "hm-hm... uh-huh... hmm..." terus menjawab pertanyaan verifikasi sambil sedikit grumbling... kan gak jelas banget... itu emang suaraku apa bukan...
Yah begitulah... di era konsumerisme ini...segala channel dicoba untuk menambah pemasukan... yang perlu diingat adalah para telemarketer itu... they're just doing their jobs... jadi kita juga gak boleh gimana-gimana banget... yang penting iling lan waspodo... wakakak... maksudnya harus sadar terus. Kalo memutuskan sesuatu harus bener-bener udah dipikirkan, jangan main bilang iya-iya aja.
Kadang-kadang aku merasa kalo lagi dipaksa untuk aktifkan salah satu fitur beriuran bulanan hampir mirip dengan ditelepon seseorang yang kita tauk tapi gak kenal-kenal amat, terus dipaksa untuk menjawab: "Loe mau jadi pacar gue gak?"... Nah, kurang lebih udah tauk kan kita bakalan jawab apa..?? Kecuali kalo lagi dapet wangsit kali yeee... jawabannya bisa unexpected... hehehehe
My first time far from home 2008-09-16 08:52:00
My first time far from home 2008-09-15 10:44:00
Rock of Ages
I got this hymn song when I came to a Sunday Service in The Redeemed Christian Church of God, King’s Connection Parish, Karlskrona this morning. That was my first time to join the service in this town. Here is the lyric and I hope you enjoy it and be blessed:
[1] Rock of Ages, cleft for me
Let me hide myself in Thee
Let the water and the blood
From Thy wounded side which flowed
Be sin the double cure
Save from wrath and make pure
[2] Not the labor of my hands
Can fulfill Thy law’s demands
Could my zeal no respite know
Could my tears forever know
All for sin could not atone
Thou must save, and Thou alone
[3] Nothing in my hand I bring
Simply to the cross I cling
Naked, come to Thee for dress
Helpless look to Thee for grace
Foul, I to the fountain fly
Wash me, Savior or I die
[4] While I draw this fleeting breath
When mine eyes shall close in death
When I soar to worlds unknown
See Thee on Thy judgment throne
Rock of Ages, cleft for me
Let me hide myself in Thee
We also can find this song in Kidung Jemaat No. 37 a, “Batu Karang yang Teguh”. You may find the history of this song here.

Penemuan “Harta Karun”
Brosur dan tiket Star Trek World Tour
Ternyata kita dateng ke pameran itu tgl 16 Januari 2000 di Suntec City, masuk pakek tiket pelajar.
Unsent letter yang ditujukan buat teman SMU-ku
Suratnya udah disegel di dalam amplop. I wonder.. Waktu itu nulis apa ya? Pasti masi pakek tulisan tangan. Old-fashioned banget.. Mengingat sekarang dah maniak email. Aku gak buka segelnya, lebih baik gak baca sama sekali... hehehe...
Foto Ponakan dan Snoopy-Snoopy
Sepertinya diambil sebelum aku pindah ke Bandung. Artinya ponakanku itu masih umur 2 tahun. Dikasih topi lebar dan dikelilingi Snoopy-Snoopy di atas tempat tidurku, giling... iseng banget yak... Sekarang ponakanku itu udah masuk SMP lo...
Catatan-catatan ke-PSM-an
Macem-macem... ada catatan pengeluaran waktu KPS, list penyanyi KPS, to do list KPS, trus yang berkaitan sama FPS juga ada. Ada amplop-amplop FPS...
Buku OSKM 98
Ahahaha.... aku gak enjoy OSKM 98, gak punya pengalaman manis juga di OSKM... tapi toh ketawa juga liat buku item jelek itu.
KTM Sementara
Waktu tahun 1999 aku pernah kehilangan dompet. Bersama dengan hilangnya dompet itu, hilang juga KTM yang merangkap sebagai ATM BNI (tapi gak pernah aku pakai fitur ATM-nya)... Waktu lagi nunggu KTM baru selesai dibuat, dikasih selembar kertas buat KTM sementara...
Pasfoto item-putih dengan rambut bondol
Pasfoto yang diambil tahun 1998. Seger banget ekspresiku... soale lagi seneng tuh... udah ketauan mau sekolah dimana...
1 set bola bekel dan bijinya
Gak tauk waktu ke Carita kok iseng banget, mbawa seperangkat alat maen bekel... dah gitu ternyata temen-temen pada mau diajakin main bekel. Terus tauk gak sih... ternyata nih... cowok-cowok tuh lebih jago maen bekel loh... cuman pas SD kita gak tauk aja... secara pas SD mereka gak pernah mau diajakin maen bekel. Tapi lain cerita setelah mereka kuliah... mereka mau diajakin maen bekel, dan kemudian menguasai permainan dengan ukuran tangan mereka yang emang ditakdirkan untuk lebih besar dari para cewek, sehingga bisa menggenggam bola bekel dengan lebih mantabhhh...
Perjalanan ke Jakarta – Part 2
Jumat 15 Agustus 2008, telepon genggam saya berdering. Di layar monitor tertulis bahwa telepon yang masuk berasal dari Kedutaan Swedia. Aha…ini pasti berkaitan dengan aplikasi residence permit yang saya ajukan beberapa minggu lalu. Dan ternyata benar, seorang wanita staf lokal Kedutaan mengatakan bahwa aplikasi residence permit saya sudah disetujui dan meminta saya untuk mengirimkan paspor untuk di’cap’ (sebenarnya ‘cuma’ ditempel sebuah stiker). Artinya, saya punya surat ijin memasuki Swedia. Sebuah sukacita besar meliputi segenap hati, karena keseluruhan prosesnya hanya memakan waktu sekitar 4 minggu (prosedur normal sekitar 6-8 minggu). Terima kasih Tuhan untuk kasih karuniaMu dan pekerjaan ajaib yang Engkau lakukan. Terima kasih buat dukungan teman-teman (Mauritz, B’Wardiman, M’Teja, B’Doly, K’Tiur, B’Daniel) selama masa penantian ini.
Senin 18 Agustus 2008, disaat seluruh rakyat Indonesia masih dalam sukacita perayaan hari kemerdekaan, saya bertolak ke Jakarta untuk mengantar langsung ke Kedutaan. Sekitar pukul 9 pagi, pesawat Lion mendarat mulus di Cengkareng. Dan seperti pada perjalanan sebelumnya, saya segera menuju kediaman seorang teman di belakang Mall Ambasador. Kali ini semuanya berjalan lancar dan saya tiba di rumah dan bertemu dengan sang teman tersebut. Setelah makan siang bersama, teman tersebut harus pergi menemui keluarganya yang sedang berkunjung ke Jakarta. Saya tinggal di rumah dan beristirahat (alias tidur).
Selasa pagi, pukul 9 pagi, saya berangkat menuju Kedutaan Swedia di Menara Kuningan. Saya segera bertemu dengan staf yang menelpon saya beberapa hari lalu dan menyerahkan paspor sembari menerima tanda bukti penyerahan paspor. Sebelum pulang, saya bertanya kapan kira-kira paspor tersebut bisa diambil kembali. Staf tersebut tidak mengatakan dengan pasti, hanya berjanji akan menelpon jika telah selesai.
Pukul 2 sore, seorang teman menelpon untuk pergi membeli beberapa jaket dan sweater di Pasar Pagi Mangga Dua hari itu juga. Sebenarnya kami sudah berjanji untuk pergi esok harinya, tapi ternyata mereka punya rencana lain esok. Ok, ga ada masalah. Saya pun segera bergegas menuju hotel tempat mereka menginap. Masalah muncul ketika saya tiba di halte busway Karet, tak satupun busway menuju Kota beroperasi. Tak jelas apa alasannya. Karena tak ada bis lain yang menuju Kota, saya pun memilih menggunakan taksi. Berbincang sejenak dengan pak supir, saya mendapat informasi bahwa kalau busway tidak beroperasi, maka pasti ada sesuatu di sekitar Istana Merdeka dan Monas.
Bingo, mulai dari perempatan Indosat sampai depan Istana Merdeka ramai dikunjungi orang yang menonton parade - entah parade apa, mungkin masih berkaitan dengan hari kemerdekaan. Setengah jalan ditutup dari arah Istana Merdeka ke Thamrin. Ah, macet bukan main. Karena mengejar jadwal Pasar Pagi yang buka sampai pukul 5 sore, saya pun berganti taksi dengan harapan bisa tiba lebih cepat. Dan akhirnya saya pun tiba pukul 4. 30 sore itu. Dalam perjalanan itu, kembali telepon saya berdering dan di layar tertulis Kedutaan Swedia. Staf yang sama menginformasikan bahwa paspor saya sudah di ‘cap’ dan bisa diambil besok. Terima kasih Tuhan.
Saya bertemu dengan sang teman tersebut dan kami langsung menuju toko yang memang menjual jaket dan sweater musim dingin. Setelah memilih-milih dan tawar menawar, akhirnya kami membeli beberapa pakaian yang pas. Mengingat saat itu masih sore dan jam pulang kantor, kami pun memilih untuk makan malam di pertokoan tersebut. Pukul 7.30 malam kami pulang ke kediaman masing-masing.
Keesokan harinya saya kembali datang ke Kedutaan dan mengambil paspor. Seorang wanita di meja di resepsionis memberikan paspor tersebut seraya berkata, “Selamat jalan”. Selesai sudah maksud perjalanan saya ke Jakarta, saya pun memutuskan untuk segera kembali ke Medan hari itu juga. Pukul 4 sore, saya menuju bandara Cengkareng menggunakan bis bandara. Pesawat yang akan membawa saya ke Medan adalalah Sriwijaya Air pada pukul 6 sore.
Ah…Europe mission telah di depan mata. Europe, I am coming in…

New Blogs, New Forums and more!
We’ve been busy the last few weeks working on some new features! Here’s a look at what’s new.
New Blogs 2.0
Friendster Blogs have been upgraded to a new platform. The new blogs are easier to use, customize, and edit!
We’re in the process of migrating all of the old blogs over. If you have a Friendster blog and you’re not already moved over, you can speed things up by clicking on this link.
Some things you should know about your new blog:
- It is possible that your blog layout or colors may not appear exactly as they were on your old blog, you can edit or add new customizations to your blog by clicking the “Designs†tab or “Themes†button when you access your blog from your home page
- All of the photos you’ve uploaded to your old blog will be moved to your new blog. When they are moved, they will be in your Blogs Media Library (Manage Tab–> Media Library). Don’t worry, we’ll move all your photos for you!
- If you experience any inconsistencies with your blog during the next few weeks, please bear with us and please do let us know what you find so we can build a better product!
If you don’t yet have a Friendster Blog, just go to My Profile > Blogs on the site to create one.
New Forums 2.0
Join the discussions today in the NEW Friendster Forums! We’ve just re-launched forums, and they’re now available globally. Participate with others and discuss entertainment, lifestyle, dating, parenting, music, movies, TV, relationships and more. We’ve made it easy to rate topics and find those that are the highest rated— just look for the red stars!
We’d like to hear your thoughts about the all-new Forums. We’re currently collecting feedback from users and fixing bugs. We’ve also already started working on the next version of forums based on user feedback!
Text Alerts Now Available in Singapore, Malaysia, and Indonesia
If you are in Singapore, Malaysia or Indonesia, you can subscribe to Friendster Text Alerts and receive Friendster updates right on your phone! You can subscribe to friend requests, messages, comments, and bulletins. You can also text Friendster to post shoutouts, approve friend requests, send messages, post bulletins, and more.
It’s easy to subscribe, simply visit the mobile registration page and supply us with your mobile number and choose the alerts you wish to receive. Your Text Alerts link directly to our new mobile site, available globally at m.friendster.com.
More New Apps!
Have you added an app yet? We are adding new apps to our directory every week. Check out the New Releases tab in the Apps Directory to see what’s new.
Friendster Developers - OpenSocial Stabilization
We received great feedback from the developer community regarding our recent OpenSocial launch- we have addressed your concerns and fixed high priority bugs. If you’d like to get started with building an OpenSocial app on Friendster.
Click here for OpenSocial documentation.
