Ini bukan tentang saya


Sejak beres-beres rumah awal bulan ini, saya belum pernah merapikan kembali beberapa buku yang terletak begitu saja di dalam lemari yang mulai berantakan. Dibandingkan jumlah buku yang ada di perpustakaan sekolah, jumlah buku yang saya miliki (baca: beli) tak terlalu banyak - mungkin sekitar 10 buah buku. Bukan karena saya tak suka baca buku, tetapi melihat harga buku yang makin mahal sekarang ini saya lebih memilih untuk mencari versi digital - kalau ada. Kalau Anda mengira saya membeli ebook tersebut, Anda salah besar. Dengan sedikit bantuan om google, saya justru mendapatkannya gratis di jagat maya (ya Tuhan, maafkan saya atas pembajakan ini….). Hanya beberapa buku yang saya pikir perlu dimiliki saja maka saya membelinya.

Dan saat merapikan buku-buku tersebut, saya menemukan sebuah buku yang berisi catatan yang menjadi perenungan saya. Tulisan-tulisan itu ditulis sekitar tahun 2005 - berarti tiga tahun yang lalu, tatkala saya membaca buku Purpose Driven Life (Rick Warren). Membaca kembali tulisan tersebut, saya merasa seperti seekor domba yang digiring kembali ke kandang oleh sang gembala karena domba tersebut sudah mulai mengambil jalan lain dan tersesat. Ijinkan saya menuliskan kembali apa yang menjadi pokok-pokok perenungan saya.

Banyak orang berkata bahwa hidup ini seperti sungai yang terus mengalir hingga ke laut. Tak jarang kita menemukan riak gelombang yang terjadi pada arus air yang mengalir. Namun satu hal yang pasti, bahwa riak-riak tersebut tidak sama meskipun dia berada pada aliran yang sama. Oleh karena itu, kita mesti bersiap tiap saat untuk menghadapi segala sesuatu yang mungkin terjadi. Ada juga orang berkata bahwa hidup ini hanya sekali, untuk itu nikmatilah hidup ini dan jangan disia-siakan. Tapi pernahkah kita bertanya, jika hidup hanya sekali dan sesudah itu mati, untuk apa kita hidup di dunia ini? Bahkan pohon pisang saja diciptakan punya tujuan yaitu menghasilkan buah pisang dan menumbuhkan tunas baru yang pada akhirnya juga menghasilkan buah pisang baru agar kita dapat menikmatinya setiap hari.

Manusia diciptakan secara unik dan untuk satu tujuan yang sudah ditentukan oleh sang pencipta. Oleh karena itu, tujuan keberadaan kita di dunia ini tidak dapat disandarkan pada standar dunia ini pula atau pada apa kata orang. Banyak orang menggangap, bahwa tujuan hidup ini adalah meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Untuk itu banyak orang mengorbankan banyak hal dalam hidupnya untuk sesuatu yang dianggap sebagai hal terpenting dalam hidup ini.

Segala hal diijinkan terjadi dalam hidup ini karena Tuhan seperti seorang tukang periuk yang sedang membentuk tanah liat untuk menghasilkan bejana yang indah. Di lubuk hati kita yang terdalam, terkadang kita merasa iri saat melihat orang lain memperoleh apa yang disebut sukses oleh dunia ini, punya penghasilan tinggi, istri atau suami yang cantik dan cakep, pendidikan tinggi, dan seterusnya, dan seterusnya. Di sisi lain, kita akan begitu merasa sangat bangga jika kita yang memperoleh semuanya itu. Dibutuhkan sebuah ketaatan dan kerendahan hati yang sangat dalam untuk bisa dibentuk oleh sang penjunan.

Hidup ini bukanlah tentang saya, tentang Anda atau kita masing-masing pribadi. Bukan apakah kita akan bekerja di perusahaan asing, atau memiliki jabatan dan penghasilan tinggi ataupun kesuksesan dan kegagalan kita lainnya. Hidup adalah tentang Tuhan sang pencipta, yang bekerja membentuk manusia dari debu dan tanah serta yang meniupkan nafas kehidupan ke dalamnya. Apa yang kita kerjakan sepanjang hidup ini tak lain adalah cerminan dari Tuhan itu sendiri. Adakah kita dalam keseharian lebih merefleksikan sang pencipta atau dengan angkuh dan egois kita menonjolkan ke-aku-an kita?

Hmmm….sepertinya memang lebih mudah membicarakannya daripada melakukannya. Mungkin kita perlu berhenti sejenak dari rutinitas dan ibarat baterai yang perlu di-charge agar bisa tetap berfungsi, kita merenungkan kembali mengapa kita dihadirkan di dunia ini. Dan, sementara kita mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, marilah kita tetap bertekun pada apa yang telah dipercayakan kepada kita saat ini. Jika kita menjadi mahasiswa, jadilah mahasiswa yang baik dan cerdas. Jika kita menjadi pegawai, jadilah pegawai yang bekerja dengan jujur dan menyenangkan tuan kita. Jika kita dipercayakan menjadi seorang atasan, jadilah atasan yang bertanggung jawab. Bukan untuk kita sendiri melainkan semata-mata karena Tuhan sedang menyelesaikan rencanaNya yang indah dalam hidup kita masing-masing.

Jakarta, 2005

pemimpin yg besar

Seseorang berkata kira-kira seperti ini :
Seorang pemimpin yang besar dan fenomenal, biasanya adalah orang yang hidupnya sunyi sepi. Kenapa? Karena tujuannya bukan untuk menyenangkan banyak orang, tetapi mencapai tujuan organisasi yg dipimpinnya.
Hmm....
Tiba-tiba seseorang di sebelah saya mendekat ke saya dan berkata dengan pelan : "Ris, gue dah merasa kaya gitu tuh sekarang..."

Saya tersenyum menanggapi perkataannya. Wow, bakalan jadi orang besar nih. Kalo dah jadi, jangan lupain saya ya.. :P

Jadi pertanyaannya, siapkah menjalani hidup yang sunyi sepi? hmm......... (mikir mikir serius)

pemimpin yg besar

Seseorang berkata kira-kira seperti ini :
Seorang pemimpin yang besar dan fenomenal, biasanya adalah orang yang hidupnya sunyi sepi. Kenapa? Karena tujuannya bukan untuk menyenangkan banyak orang, tetapi mencapai tujuan organisasi yg dipimpinnya.
Hmm....
Tiba-tiba seseorang di sebelah saya mendekat ke saya dan berkata dengan pelan : "Ris, gue dah merasa kaya gitu tuh sekarang..."

Saya tersenyum menanggapi perkataannya. Wow, bakalan jadi orang besar nih. Kalo dah jadi, jangan lupain saya ya.. :P

Jadi pertanyaannya, siapkah menjalani hidup yang sunyi sepi? hmm......... (mikir mikir serius)

Indonesia oh Indonesia


Akhir minggu lalu, setelah mendengar pengumuman kenaikan harga bahan bakar minyak melalui siaran televisi, saya sempat chatting dengan seorang teman lama. Kami pernah sama-sama bersekolah di tempat yang sama namun berbeda jurusan. Sejak lulus, dia bekerja di salah satu BUMN terbesar yang mengurusi soal minyak di negeri ini.

Seperti biasa, pembicaraan dimulai dengan hal-hal ringan dan ngalor ngidul seperti orang timur kebanyakan. Apa kabar, dimana sekarang, apa yang lagi dikerjakan, bagaimana dengan si anu, di mana dia sekarang dst…dst… Seperti warga negara lainnya yang dipaksa menerima keadaan, mulailah saya tergelitik untuk bertanya seputar kenaikan BBM yang baru diumumkan tadi.

henry_sitorus: gmn-nya $%@ kok bisa naik harga bbm, bukannya banyak produksi minyak kita?
$%@: kan harga crude naik
henry_sitorus: apa itu crude?
$%@: minyak mentah
henry_sitorus: kalo naik harganya kan makin kayalah kita…
henry_sitorus: kok jadi naik harga bbm?
$%@: kita banyak import crude
$%@: kan mahal
henry_sitorus: loh, bukannya itu yang ditambang oleh &*SDF#) - crude? kok jadi diimpor?
$%@: produksi crude &*SDF#) itu kecil hen
$%@: di indo itu yg besar: c*****n, c****o ph, dll
$%@: &*SDF#)itu besar di pengolahan crude dan pemasaran
henry_sitorus: lalu crude dari c*****n, c****o ph dkk itu dikemanakan?
$%@: di regulasi, mreka berhak ekspor
……

henry_sitorus: kok bisa lebih kecil crude yang dipegang &*SDF#) dengan yang lain itu?
$%@: tanya sama org bpmigas lah D
henry_sitorus: jadi apanya kerja kalian di situ, kok bisa naik terus harga bbm…
henry_sitorus: makin susah aja hidup ini lama2…. -(
$%@: yg pegang regulasi crude kan bpmigas
$%@: &*SDF#) jual ke pemerintah dengan harga pasar
$%@: jadi, buat &*SDF#) ga da masalah mo harga subsidi ato non subsidi
…..

henry_sitorus: total produksi crude kita berapa? trus kebutuhan dalam negeri berapa?
henry_sitorus: punya hitung2annya itu….
$%@: klo total produksi crude –> cari di BPMIGAS
$%@: klo total kebutuhan BBM –> cari di BPHMIGAS
henry_sitorus: maksudku sampe keluar harga 7000/liter itu gmn caranya….
$%@: data ada, tapi not authorized :p

henry_sitorus: @#$#@$#@$#@$#@$#@$#@$#$#

Apakah benar negara ini adalah negara para bangsat? -(

Indonesia oh Indonesia……

Piano, Es Doger, dan Arisan

Itu lah kegiatanku selama akhir minggu ini...

Hari Sabtu, selesai tour de Ragunan (pakek tandem, dan ternyata aku gak bisa duduk di belakang, takuuuuttt mbak Kujuuung... ups, inside joke), langsung buru-buru mandi, terus bawa sarapan, sarapan di mobil. Berangkat ke Utan Kayu. Nyaris ditilang polisi. Tapi ya... kalo kita gak salah terus distop polisi, apalagi kalo polisinya laki-laki, kita jangan mau ngaku salah, jangan takut sama gertak sambalnya si polisi... terutama kalo kita di daerah abu-abu, gak jelas salah atau bener. Kita mesti LEBIH GALAK dan LEBIH CEREWET daripada polisinya. Kalo perlu ajak berdebat, suruh dia keluarin pasal-pasal UU Lalin. Tunjukin kalo kita gak mau dibodoh-bodohin. Hasilnya...?? "Ya udah pak, silakan jalan terus..." mungkin dalam hati: "Sial, ternyata di belakang drivernya mobil itu ada mbak-mbak galak, cerewet, dan suaranya cempreng... gue hampir gak dikasi kesempatan ngomong. Gagal deh".

Trus, lanjut ke Utan Kayu lagi... tujuannya mau ambil piano digital titipan temanku trus nganter ke Serpong, naik si Kapsul. Setelah atur posisi barang2, weks... boookk... kompartemen belakang jadi peeennuuuhh banget. Karena rencana semula mau mbuka kursi tengah dan belakang, trus gak jadi karena aku maksa pengen ikut, terus kayaknya males juga bongkar-pasang kursi.

Awalnya mau lewat tol Tangerang, jadi kita lewat tengah kota, terus Harmoni, Tomang, masuk tol. Tapi... takut ditangkap polisi, karena bawa barang tidak menggunakan mobil barang. Sebenernya kita bisa saja mengeluarkan jurus berdebat cempreng lagi, minta aja dia tunjukin pasal-pasal yang mengatur tentang hal tersebut, dia belum tentu bawa salinan UU Lalin-nya kan? tapi daripada ribet, mendingan gak distop polisi sama sekali to?? Akhirnya kita memutuskan untuk lewat tol Wiyoto Wiyono saja. Begitu keluar dari jalan Utan Kayu, langsung masuk pintu tol Rawamangun, teruuusss... lewat tol ke arah Bogor, masuk tol BSD, keluar-keluar di exit BSD yang pertama. Sedikit muter, tapi mungkin lebih cepat dan gak ktemu polisi.

Setelah turunin barang, cari makan... abis itu... ke toko sepeda! Cari helm, standar, sama bel toet-toet. Tapi gak dapet semua... yang 1 gak sesuai spek, 1 lagi mesti mesen dulu, 1 lagi emang gak ada barangnya. Nyari ke toko sepeda yang lain lagi, sampe ke 3 toko... tapi gak berhasil juga. Akhirnya antar temanku balik, nyobain sepeda barunya yang saddle-nya wuempuk buanget itu... abis itu pulang sambil menyantap es doger, beli di perempatan.

Sampe rumah, mati lampu jam 5, weleh... gak sopan PLN... Untung cuman 1 1/2 jam saja... sebelum extravaganza main, udah nyala lagi.

Besoknya arisan di rumah, gembul nih... abis tiap kali motongin sesuatu... pasti sambil ngunyah... ngicipin yang lagi dipotongin itu... Entah berapa banyak acar timun kumakan...

Huuaahh... capfek, tapi gak pengen tidur nih, lebih pengen... hmm... you know... biar enteng, abis tadi banyak ngunyah, eheheheh... sudah makan yoghurt Activia, tapi efeknya belum terlihat langsung... kekekekek...

Derai-derai Cemara


Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil Anwar
1949