S O L I T U D E
how i dream of a solitude
just me and my dogs
live in virtue
-----------
Huah… dari kemaren pengen posting, tapi ga pengen panjang-panjang, eh akhirnya malah ga posting-posting. Berikut ini fakta mengenai Chiang Mai yang menurut kami cukup untuk membuat kami merasa betah di sini :
zona waktu yang sama dengan Indonesia, GMT+7, sehingga tidak perlu repot menyesuaikan waktu untuk menelpon ke orangtua :)
cuaca yang cukup mirip dengan Bandung, walaupun so far Bandung masih lebih dingin
lalu lintas yang tidak terlalu macet, sehingga jarak yang cukup jauh [...]
Several days back, I received an mail from my old best friend (Anggia) about a short documentary film in Globalism. Actually, I've know all these issues since I was a under graduate student, but there is something new here.... Everything is showed for people that grows up in the CAPITALISM spirit and environment in their perspective also.How companies (e.g., FORD, General Motors) have enormous
Several days back, I received an mail from my old best friend (Anggia) about a short documentary film in Globalism. Actually, I've know all these issues since I was a under graduate student, but there is something new here.... Everything is showed for people that grows up in the CAPITALISM spirit and environment in their perspective also.How companies (e.g., FORD, General Motors) have enormous
This is what we see from our room at the 9th floor, Riverside Condominium. This photo was taken on an evening after a hard rain.
Professionalism costs
was it? or is it?
Or am I using the same term for two different things? What I know is to build a professional image could cost something. Mostly it is so. I guess professionalism is not just the character or behaviour, but it goes also to the look. Naaa, could be just my wrong interpretation.
Building a trust, is it the same as building a professional image? Has anyone
Recently, I'm absent in writing in this Blog.I don't know... Why... maybe I'm too preoccupied to writing the things that are not part of my obligations.I thing I need to start this habit again.Huffa... [wake up from the laziness]Anyway, Laziness... I think it is the last tings that I'd admit even if it is so obvious. ;-)As today, I was blaming all the schedule as the main reason why I need move
Recently, I'm absent in writing in this Blog.I don't know... Why... maybe I'm too preoccupied to writing the things that are not part of my obligations.I thing I need to start this habit again.Huffa... [wake up from the laziness]Anyway, Laziness... I think it is the last tings that I'd admit even if it is so obvious. ;-)As today, I was blaming all the schedule as the main reason why I need move
Aku terbangun pertama kali sekitar jam 1/2 6, di luar hujan. Tapi baru bener-bener ON jam 7. Terus SMS-an sama si Sapi. Jam 1/2 8 sempet bangunin si Dedy, tapi ternyata abis itu dia tidur lagi. Dan si Ivan juga gak ada kabarnya. Apalagi Bagus sama Pandu.
Jam 8 aku mandi, abis itu nonton TV dan ngegosip bareng Sugeng dan Diani. Si Sugeng masak nasi goreng. Niat banget bok, mau masak nasi goreng pake bikin nasi dulu. Hihihi... Trus aku dan Diani makan nasi gorengnya (yang masak malahan enggak, hm... jadi curiga...). Abis itu aku dan Diani ketiduran di kursi tamu, sampe ada sesuatu menghalangi cahaya masuk ke ruang tamu: Dedy.
Aku, Ivan, dan Dedy pun berangkat ke Pasar Kebun Sayur, naik angkot. Aku sih hanya mencari tusuk konde dan toko kain Abdi saja. Gak mau bawa terlalu banyak ol-ol juga, bisa-bisa overweight bagasinya. Untungnya... aku bisa ingat lokasi toko yang baru sekali kukunjungi tiga tahun yang lalu tersebut. Pasarnya juga gak terlalu besar, coba kalo sebesar Pasar Senen, wah ya maap deh... bisa-bisa gak nemu kali.
Setelah itu kami naik angkot lagi ke BC buat makan siang. Di BC juga hanya sebentar, diajakin ke Gramed atau Matahari aku malas, selain malas berdiri-nya, terus yang begitu juga banyak di Jakarta, dah gitu lagi gak pake dandanan mall pula (yang terakhir ini, emang penting ya?).
Abis makan, nemenin Ivan nyari sepatu sebentar => prosesnya surprisingly bener-bener sebentar. Setelah itu minta pulang saja... hehe... mendingan main Privia, atau dengerin yang lainnya main Privia.
Kami naik angkot lagi, aku dan Ivan sudah siap-siap harus jalan kaki mendaki ke Gunung Pancur, tapi Dedy minta ke supir angkotnya supaya naik ke Gunung Pancur. Hmm, oke deh... gak jadi jalan kaki. Habis itu ngapain aja ya? Aku juga gak begitu ingat. Kayaknya gini sih... sempet simulasi Sekolah Piano. Aku menyebarkan cerita tentang les piano jaman Belanda yang gurunya galak-galak, kalo salah main, tangannya dipukul pakek penggaris. Karena gak menemukan penggaris, aku menggunakan centong nasi saja... hehehe... kemudian Ivan mengusulkan pake mandau saja. Wuah... itu namanya Sekolah Piano STPDN kali...
Setelah itu Ivan nonton TV, Dedy nguprek-nguprek software Teach Me Piano, sedangkan aku mainin The Disney Storybook.
Jam 5 Pandu datang, gantian Pandu yang main piano. Terus kita berusaha booking kepiting Kenari, tapi ternyata jawabannya gak niat gitu, katanya kepitingnya abis. Sampe nelpon 2 kali kitee... Trus Pandu dan Ivan ngambil motor dulu, Bagus datang. Ketika kita sudah siap semua... ada 1 masalah: helm-nya kurang 1. Pandu menawarkan untuk memakai saja helmnya yang katanya udah laaaaammmmaaaaaaa banget gak dipakai. Akhirnya dapet pinjeman helm dari pak Nyoto.
Oya, akhirnya gak jadi makan di Kenari, karena katanya gak ada kepitingnya. Kalo masih maksa ke Kenari, jadinya makan kursi dan meja kali ya? Trus ada 3 alternatif pengganti: Dapen, Teluk Bayur (dan aku pun mulai menyanyikan lagunya Tetty Kadi), dan Tambora. Dapen dan Teluk Bayur katanya dekat, tapi gak banyak porsi kepitingnya. Jadi pilihan jatuh ke Tambora, yang jauh. Sebenarnya anak-anak malasnya kalo tiba-tiba hujan saja. Bisa kacau balau tuh.
Di Tambora, kami memesan 3 PORSI Kepiting: Kepiting Saus Tambora yang mirip bumbu bali biasa, Kepiting Goreng Bawang Putih (Yummy...), Kepiting Lada Hitam. Aku gak ingat, siapa yang pertama mengusulkan untuk pesan 3, bukan 2 porsi saja. Yang jelas waktu kepitingnya datang, aku agak-agak cemas, ngabisinnya bisa gak ya?
Sebelum mulai makan kepiting, copot jam tangan, copot gelang, copot cincin dulu. Hehehe... Setelah itu... ssiiiikkkaaaatttt... lumayan... jadi belajar pake tang. Sekarang aku sudah lebih ahli, meskipun belum se-expert Bi atau yang lain. Menurut aku paling enak yang digoreng. Waktu ditugel, ctak!! dagingnya banyak dan bisa langsung disantap tanpa harus dipisahkan dari sekat-sekatnya. Menurut Ivan, yang digoreng memang lebih asik... karena lebih mudah digigit. Tapi aku tidak berani nyoba makan langsung gigit , gigiku kan payah... ntar bukannya kepitingnya yang tugel, malah gigiku yang tugel.
Selama makan kepiting, kita kena 3 kali mati lampu loh. Tapi Pandu sebagai master of pelistrikan tidak mau memberi saran-saran kepada yang punya toko untuk mengurangi beban listriknya. Dan akhirnya... kita mampu menghabiskan 1 1/2 ceting nasi dan 3 porsi kepiting.
Setelah itu kembali ke Pancur lagi. Tapi sebelumnya melakukan load balancing lagi... Aku yang tadinya dibonceng sama Ivan, ditukar dengan Dedy yang dibonceng Bagus. Dikhawatirkan si Bagus gak bisa naik ke Pancur kalo mbawa Dedy. Yang aku bingung (baru belakangan kepikir), kenapa gak sekalian aja dipindah ke Pandu ya, supaya Bagus gak bawa siapa-siapa...?? Hehe... maklum deh... RAM-nya dah penuh nih... penuh dengan kepiting. Plus prosesor juga udah panas, hari Sabtu-nya non-stop dinyalakan. Jadi lemot bok...
Di Pancur, karaokean dikit lagi, sampe hampir jam 10 kali ya? 5 menit setelah Dedy ndelosor di lantai... aku ngajak pulang. Di rumah Sugeng, sudah ada Ani dan anaknya. Si Ardi lagi dinas ke Banjar, jadi istrinya dititipkan di rumah Sugeng. Hari ini gak begitu lama... aku langsung naik tempat tidur.
Hari ini, kami ke Tenggarong. Cerita lengkapnya bisa dilihat di sini:
Tenggarong Trip @ Catatan Perjalanan GitaMalamnya baru jam 1/2 1 aku naik tempat tidur. Meskipun sudah sakit-sakit semua, tapi aku masih sempat SMSan sama Sapi. Dan lebih surprised lagi, waktu aku sudah tidur sekitar 1 jam-an, HPku bergetar, ternyata Sapi membalas SMS-ku. Weekkss... ngapain malam-malam gini mbakyu?