Bengawan Solo

Bengawan solo... riwayatmu ini...

Siapa yang gak kenal lagu legendaris ini... Aku pernah nyanyi versi choir-nya, diaransemen oleh orang Filipina. Pernah juga dengar versi bossanova-nya. Pernah juga nyebrang sungainya yang asli...

...tapi belum pernah sepusing ini, mencari chord substitution untuk lagu Bengawan Solo. Hehehe...

Namanya juga proses pembelajaran, wajar kalo pake mumet dulu ya. Aku saat ini lagi belajar tentang chord substitution, gimana caranya mengganti chord asli dari suatu lagu, sehingga terdengar lebih... seksi. Dah baca berbagai refererensi yang aku punya ttg chord substitution, tapi belum menangkap esensinya nih.

Akhirnya... janji untuk membelikan diriku sendiri, segelas Iced Chocolate dari Bengawan Solo Coffee, setelah aku berhasil mencari chord pengganti untuk 1 lagu full. Heheheh... asalkan jangan terus chordnya.. mengalir sampai jaaauuhh... akhirnya ke laauuuuuutttt....

Budaya vs Agama

Waktu Maulid Nabi hari minggu kemarin aku nonton film dokumenter tentang sejarah Islam di Pulau Jawa di Metro. Jujur aja, dibuat dengan sangat membosankan, khas film dokumenter. Tapi karena lagi semangat nonton, aku tonton aja sih, sampai habis. Tumben juga nggak terlalu pindah-pindah channel kayak biasanya. Ceritanya ya gitu-gitu aja sih, mulai dari zaman Walisanga.

 

Kenapa aku begitu semangat nonton?

1. Karena melihat nara sumbernya yang udah mbah-mbah, aku jadi semangat nonton,mencari  kira-kira berikutnya bakal ada yang muda nggak. Kan kalau liat film dokumenter tentang sejarah Eropa biasanya nara sumbernya orang muda-muda. Atau kalau liat talkshow tentang teknologi di Indonesia juga pembicaranya muda-muda.

Hasilnya:
Tidak ditemukan sejarahwan muda sepanjang film itu.

Sejarahwan muda… di mana kalian? Acungkan jari dong, kalau ada…

 

2. Di awal acara, naratornya bilang kalau Islam diterima di Indonesia karena disebarkan dengan damai, tanpa ada pemaksaan, dan menggunakan budaya setempat sebagai media penyebaran. Udah tau sih sebenarnya. Tapi tiba-tiba jadi kepikiran; menurutku, pada zaman sekarang generasi muda Islam cenderung meninggalkan budaya setempat. Jadi aku ingin tau bagaimana Sunan-Sunan menyebarkannya dengan cara yang tidak melanggar fiqih.

Hasilnya:
Mereka melakukan pendekatan secara bertahap dengan melihat apa problem masyarakat waktu itu. Disebarkan dengan cara sederhana, yaitu menerapkan 5 larangan untuk menyembuhkan penyakit masyarakat, yaitu:

  1. dilarang mencuri
  2. dilarang berzina
  3. dilarang mabuk
  4. dilarang berjudi
  5. dilarang … (lupa euy yang satu lagi, kalau udah inget ntar kuisi deh)

Intinya adalah selesaikan problem masyarakat dulu, baru kemudian masuk ke masalah akidah. Malahan, Sunan Bonang menciptakan alat musik ‘Bonang’ untuk mengiringi pertunjukan wayang. Jadi Sunan-Sunan turut mengembangkan budaya Jawa.

Primbon Jawa

Di luar film itu, aku jadi ingat isi Primbon Jawa di rumah. Pada pernah baca primbon belum? Bukan www.primbon.com lho! tapi buku primbon. Kalau www.primbon.com sih menurutku mudharat-nya lebih banyak daripada baiknya. Kalau primbon di rumahku sih, sebagian ternyata isinya doa-doa Islam yang ditulis dalam tulisan Jawa (baik dalam Aksara Jawa maupun Huruf Latin dengan Ejaan Jawa). Doa sehari-hari, mulai doa makan, minum, tidur, masuk kamar mandi. Terus sebagian lagi tentang tanda-tanda alam. Ada juga sih tentang itungan atau pertanda-pertanda yang tidak logis seperti yang ada di www.primbon.com. Tapi menurutku itu mungkin statistik saja atau mungkin karena pengetahuan penulis pada waktu itu yang masih terbatas, seperti Gerhana Bulan yang dikira buyut kita Bathara Kala lagi makan bulan.

 

Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap primbon ini?

Kalau menurutku sih, primbon sebaiknya diperbarui:

disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan;
ditambah halaman doanya;
diminimalisir hal-hal yang tidak logis-nya
atau diberi keterangan bagian mana yang merupakan kepercayaan lama dan apa penggantinya.

Satu lagi: dibuat versi online-nya yang lebih baik daripada www.primbon.com.

Budaya vs Agama

Waktu Maulid Nabi hari minggu kemarin aku nonton film dokumenter tentang sejarah Islam di Pulau Jawa di Metro. Jujur aja, dibuat dengan sangat membosankan, khas film dokumenter. Tapi karena lagi semangat nonton, aku tonton aja sih, sampai habis. Tumben juga...

Musik (Entah Posting Keberapa Tentang Musik)…

Mimpi Aneh Lagi
Setelah mimpi yang aneh ini, semalam aku mimpi lagi. Unik mimpinya, dan masih berhubungan sama musik juga: aku bermimpi jalan-jalan ke Taman Mini bareng DAVE KOZ... hahahaha... yang aku ingat, si DK pake kemeja ungu yang dia pake pas ke JJF 2006, kita sempet naik kereta gantung, terus si DK juga bawa-bawa saxophone-nya (the Tenor one pula). Lucu juga mimpinya... menyenangkan... padahal semalam waktu mau tidur, lagu yang terakhir kudengarkan bukan lagunya DK loh.

Musik Itu Sodaranya Matematika
Yang pertama, musik itu bahasa universal. Matematika juga bahasa universal... 1 + 1 = 2, dimana-mana juga 1 + 1 = 2 (normally loh...). Saat ini aku gak bisa bahasa China, tapi tetep bisa beli barang di tokonya orang China yang gak bisa bahasa Inggris apalagi Indonesia, thanks to kalkulator.

Terus musik itu juga penuh dengan yang namanya menghitung. Mulai dari menghitung ketukan, terus mencari nada-nada penyusun suatu chord, pake menghitung jarak-jarak (interval) antar nada juga kan? <= tidak seperti mimpi DK tadi, yang ini memang berhubungan dengan yang terakhir aku baca sebelum tidur semalam: tentang progresi chord, pusssyyiinnggg...

Lucu ya? Padahal (katanya nih) skill yang berhubungan dengan eksakta (matematika) itu lebih banyak menggunakan otak kiri, sedangkan musik sendiri termasuk suatu bentuk art yang lebih banyak menggunakan otak kanan, dan ternyata keduanya bersaudara dan saling membutuhkan.

Saling membutuhkan? Tadi aku sudah menunjukkan contoh bagaimana penggunaan matematika di dalam musik. Kalo sebaliknya? Hehehe... coba aja nikmati matematika seperti kalo menikmati musik... Mungkin dengan demikian math tidak lagi jadi hal menyeramkan bagi anak-anak sekolahan. Hehehe... (teori macam mana ini...)

Fotografer vs Tukang Foto

Kalau ada orang lagi moto-moto di jalan, kayaknya pada mikir gini:

  1. kalo kameranya kamera saku: "Wah, ada turis…"
  2. kalo kameranya kamera pro: "Wah, ada wartawan!"
  3. kalo pake kamera hp: "Nyobain HP baru ya?!"
  4. kalau objek fotonya orang tak dikenal: "Orang ini ngecengin gua apa? Mo nomor HP ama alamat rumah  sekalian?"
  5. kalau moto mall plus pos-pos satpamnya: "Wah, kayaknya ada teroris lagi memetakan situasi!!"

Bener gak??

Apa ya bedanya fotografer ama tukang foto? Ada temen yang gak suka kalau dibilang tukang foto. Bukannya itu sama dengan fotografer ya? Atau Bahasa Indonesia-nya itu yang bikin suatu kata jadi bermakna jelek? Atau gini ya:

  • Jadi tukang foto (baca: fotografer) di luar negeri itu termasuk salah satu profesi yang bagus, disegani, banyak duit, banyak jalan2 juga. Jadi ndenger kata fotografer itu kebayangnya udah yang bagus-bagus.
  • Kalau di Indonesia, tukang foto itu termasuk profesi yang gak elit; temennya tukang sapu, tukang becak, tukang bangunan alias kuli, termasuk temennya kuli tinta juga. Biasanya tampang kucel, baju asal-asalan, tempat tinggalnya kios kaki lima dengan tulisan "afdruk kilat". Selalu pake kacamata item juga, biar serasa di ruang gelap terus.

Yang jelas, tukang foto di acara-acara penting itu cenderung ‘tidak diliat’ ama orang; bahkan sering dianggep gak ada. Kalau dianggap ada, emang ngganggu banget sih. Di acara pembukaan yang sunyi senyap, tiba-tiba ada suara "cepret". Trus dengan tidak sopan, jalan di depan podium trus tiba-tiba nglesot di bawah. "Cepret" lagi. Ndengernya aja gak enak, liatnya juga gak enak. Apalagi liat blitz-nya yang menyilaukan.

Tapi gak jelek-jelek amat jadi tukang foto. Coba kalau gak ada tukang foto, kita gak bisa liat foto Pak Karno lagi baca teks proklamasi. Pak Karno ama Pak Hatta lagi hormat ke Bendera Merah Putih tanggal 17 Agustus 1945. Kita gak tau wajah bakteri itu kayak gimana (di buku biologi) karena gak punya mikroskop (ups, kok gak nyambung ya).

Jadi gak usah malu jadi tukang foto. Kapan lagi bisa mantati orang banyak tanpa digugat? Heuheuheu.

di bawah lobus otak gw 2007-04-01 23:38:00

Wahai kaum wanita,
seandainya kamu mengerti kewajiban dirimu terhadap suamimu, tetntu seorang istri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan wajahnya (Pesan dari Aisyah RA kepada seluruh istri yg menyayangi suaminya)


awalnya sih, kaget juga ya. mbaca quotation itu di buku "Istri Berkarir, Suami Berlari: Mencegah laki-laki selingkuh". Sampai segitunya kah kewajiban sang istri terhadap suaminya? karena penasaran, jadinya tergodalah untuk membeli buku itu dan membacanya

sekilas, buku tersebut sebenarnya berusaha untuk menceritakan dari sudut pandang Agama Islam. Tapi, gak seperti buku-buku Islami lainnya, buku ini jarang sekali mengutip Al-Quran dan Al-Hadist. [wah, jadi ragu. ini buku dasarnya apaan ya?]

eniwey, kalo dipikir secara ringan, gak ada salahnya wanita bekerja. Lah, sekarang ini jaman susah bung! Tuntutan jaman yg memaksa suami dan istri bekerja. Sampe di sini, pemikiran ku masih in-line dengan khalayak ramai :) tapi wanita bekerja hingga jadi wanita karir? hmmm... ada sedikit konflik batin nih. Di otak dan pemikiranku udah ada sedikit pertentangan tentang hal itu. Tapi, ntar lah diceritain. Yang penting pingin mbaca buku ini dulu..

Sambil terus skiming, ada bab yg juga ada dipikiranku: "Kecantikanmu untuk siapa?" Kita liat bahwa banyak banget wanita-wanita cantik di luar sana. cantik di sini ku batasi dengan cantik karena berdandan. Tiap kali mo keluar rumah, dandannya bisa sampe berjam2. Tapi kalo di rumah doang, mereka dandan ga ya? kalo nggak, berarti mereka cuma dandan hanya untuk orang luar rumah dong... trus suami bangun dan ngeliat istrinya dalam keadaan gak dandan mgkn jadi kaget kali ya. Lho, kok istri gw gak punya alis? [hehehe.. ini karena sang istri mencukur alisnya biar bisa ganti2 bentuk alis :P] mgkn poin ini yg dicoba dikutip oleh pengarang untuk menyadarkan bahwa kecantikan seorang istri itu untuk siapa..

hmm.. masih banyak yg harus ku gali lagi di buku ini... I'll be right back after read this book.



[sebuah pengantar untuk menggugah pemikiranku sendiri tentang wanita karir, comments are welcome here]

di bawah lobus otak gw 2007-04-01 23:38:00

Wahai kaum wanita,
seandainya kamu mengerti kewajiban dirimu terhadap suamimu, tetntu seorang istri akan menyapu debu dari kedua telapak kaki suaminya dengan wajahnya (Pesan dari Aisyah RA kepada seluruh istri yg menyayangi suaminya)


awalnya sih, kaget juga ya. mbaca quotation itu di buku "Istri Berkarir, Suami Berlari: Mencegah laki-laki selingkuh". Sampai segitunya kah kewajiban sang istri terhadap suaminya? karena penasaran, jadinya tergodalah untuk membeli buku itu dan membacanya

sekilas, buku tersebut sebenarnya berusaha untuk menceritakan dari sudut pandang Agama Islam. Tapi, gak seperti buku-buku Islami lainnya, buku ini jarang sekali mengutip Al-Quran dan Al-Hadist. [wah, jadi ragu. ini buku dasarnya apaan ya?]

eniwey, kalo dipikir secara ringan, gak ada salahnya wanita bekerja. Lah, sekarang ini jaman susah bung! Tuntutan jaman yg memaksa suami dan istri bekerja. Sampe di sini, pemikiran ku masih in-line dengan khalayak ramai :) tapi wanita bekerja hingga jadi wanita karir? hmmm... ada sedikit konflik batin nih. Di otak dan pemikiranku udah ada sedikit pertentangan tentang hal itu. Tapi, ntar lah diceritain. Yang penting pingin mbaca buku ini dulu..

Sambil terus skiming, ada bab yg juga ada dipikiranku: "Kecantikanmu untuk siapa?" Kita liat bahwa banyak banget wanita-wanita cantik di luar sana. cantik di sini ku batasi dengan cantik karena berdandan. Tiap kali mo keluar rumah, dandannya bisa sampe berjam2. Tapi kalo di rumah doang, mereka dandan ga ya? kalo nggak, berarti mereka cuma dandan hanya untuk orang luar rumah dong... trus suami bangun dan ngeliat istrinya dalam keadaan gak dandan mgkn jadi kaget kali ya. Lho, kok istri gw gak punya alis? [hehehe.. ini karena sang istri mencukur alisnya biar bisa ganti2 bentuk alis :P] mgkn poin ini yg dicoba dikutip oleh pengarang untuk menyadarkan bahwa kecantikan seorang istri itu untuk siapa..

hmm.. masih banyak yg harus ku gali lagi di buku ini... I'll be right back after read this book.



[sebuah pengantar untuk menggugah pemikiranku sendiri tentang wanita karir, comments are welcome here]

Fotografer vs Tukang Foto

Kalau ada orang lagi moto-moto di jalan, kayaknya pada mikir gini: kalo kameranya kamera saku: Wah, ada turis... kalo kameranya kamera pro: Wah, ada wartawan! kalo pake kamera hp: Nyobain HP baru ya?! kalau objek fotonya orang tak dikenal: Orang...

Valentine (by JB)

Seperti yang pernah aku bilang, mau ngebahas lagu-lagu nih. Tadi aku nemu video clip Valentine-nya Jim Brickman dan Martina McBride di youtube. Video jadul gitu deh (sekitar 10 tahun yang lalu).

Pertama kali aku “ngeh” bahwa lagu ini ada dan dimainkan oleh siapa, adalah di sebuah café remang-remang (tapi gak cabul), dimainkan secara live, instrumental, dan akustik oleh sekelompok pemusik yang terdiri dari piano, cello, dan violin. Kalo gak salah sih waktu itu adalah Hari Valentine.

Setelah itu lagu ini seperti muncul kemana aku pergi. Hmm… gak se-ekstrim itu sih… tapi beberapa kali kudengarkan secara live waktu pergi ke café atau mall, dalam berbagai versi. Termasuk… akhirnya… versiku sendiri yang ancur-tapi-yang-penting-senang…

Sampe tadi pagi (sebelum menemukan clipnya), aku berasumsi bahwa lagu itu adalah lagu romantis yang berkisah tentang cinta sejati seseorang kepada orang lain. Titik. Gak ada keterangan lain lagi. Ternyata… aku salah... lagu ini gak cuma segitu.

Menurut comment yang ada di youtube, si JB (Jim Brickman) bilang bahwa lagu ini bisa aja untuk mewakili cinta secara umum (seperti yang kukira), tapi dia sendiri membuat lagu ini untuk berkisah tentang cinta sejati yang karena suatu sebab tertentu tidak dapat bersatu. Huhuhu… ternyata sedih…

Video klipnya juga menggambarkan hal itu loh… sepanjang video klip itu, sembari merhatiin tampang imyutnya si JB plus berusaha ngintip merk pianonya, aku melihat ternyata si Martina dan si JB gak pernah ada dalam 1 scene yang sama. Ekstrimnya, bahkan waktu si Martina muncul di sebelah grand piano, tiba-tiba si JB menghilang. Maksudnya scene itu adalah mereka… memang tidak dapat bersatu. Terus terakhirnya itu loh… di tengah gerimis salju, si cewek meletakkan bunga di atas makam kekasihnya yang meninggal pada tanggal 14 Februari. => sesuai judul lagunya sih… tapi scene itu jadi mengkonfirmasi bahwa lagu itu memang aslinya sedih…

Oya, trus ada satu frase lirik di lagu ini yang mengingatkan aku sama salah satu episode (lagi-lagi) Star Trek: The Next Generation… hehehehehe (nyengir kuda…) tapi beneran loh ini mengharukan, episode-nya bukan yang tipe jeder-jeder-boing-boing (penuh tembak2an) atau penuh technobabble, tapi tentang parenting, judulnya The Offspring.

Di episode itu si Data membuat “anak” yaitu seorang android yang memilih jenis kelamin perempuan, namanya Lal. Seperti kita tahu, Data itu kan emotionless, sedangkan si Lal ini bisa mengembangkan kemampuan emosi. Tapi karena dia tidak dirancang untuk memproses emosi, akhirnya dia mengalami cascade failure, singkat kata… dia error dan unrecoverable gitu deh…

Pas udah mau shut down, Lal bilang: “I Love You Father…”, tentunya Data yang emotionless gak bisa bilang hal yang sama, dia kan gak bisa merasakan yang namanya cinta. Terus si Lal nambahin: “I will feel it for both of us.” Hhhhuuuhuhuhuhuhu… Indah ya?

If there were no tears, no way to feel inside.
I’d still feel for you…


Akhirnya… buat JB mungkin ini lagu sedih, tapi kalo buat aku sih enggak, setelah me-review lagu ini, kesimpulannya… lagu ini berkisah tentang cinta yang tanpa pamrih: mencintai hanya untuk mencintai, bukan berharap untuk dicintai kembali…

You’ve opened my eyes and shown me how to love unselfishly…


Ternyata… lagu ini lebih bermakna dari yang kukira sebelumnya…