Waktu Maulid Nabi hari minggu kemarin aku nonton film dokumenter tentang sejarah Islam di Pulau Jawa di Metro. Jujur aja, dibuat dengan sangat membosankan, khas film dokumenter. Tapi karena lagi semangat nonton, aku tonton aja sih, sampai habis. Tumben juga nggak terlalu pindah-pindah channel kayak biasanya. Ceritanya ya gitu-gitu aja sih, mulai dari zaman Walisanga.
Kenapa aku begitu semangat nonton?
1. Karena melihat nara sumbernya yang udah mbah-mbah, aku jadi semangat nonton,mencari kira-kira berikutnya bakal ada yang muda nggak. Kan kalau liat film dokumenter tentang sejarah Eropa biasanya nara sumbernya orang muda-muda. Atau kalau liat talkshow tentang teknologi di Indonesia juga pembicaranya muda-muda.
Hasilnya: Tidak ditemukan sejarahwan muda sepanjang film itu.
Sejarahwan muda… di mana kalian? Acungkan jari dong, kalau ada…
2. Di awal acara, naratornya bilang kalau Islam diterima di Indonesia karena disebarkan dengan damai, tanpa ada pemaksaan, dan menggunakan budaya setempat sebagai media penyebaran. Udah tau sih sebenarnya. Tapi tiba-tiba jadi kepikiran; menurutku, pada zaman sekarang generasi muda Islam cenderung meninggalkan budaya setempat. Jadi aku ingin tau bagaimana Sunan-Sunan menyebarkannya dengan cara yang tidak melanggar fiqih.
Hasilnya: Mereka melakukan pendekatan secara bertahap dengan melihat apa problem masyarakat waktu itu. Disebarkan dengan cara sederhana, yaitu menerapkan 5 larangan untuk menyembuhkan penyakit masyarakat, yaitu:
- dilarang mencuri
- dilarang berzina
- dilarang mabuk
- dilarang berjudi
- dilarang … (lupa euy yang satu lagi, kalau udah inget ntar kuisi deh)
Intinya adalah selesaikan problem masyarakat dulu, baru kemudian masuk ke masalah akidah. Malahan, Sunan Bonang menciptakan alat musik ‘Bonang’ untuk mengiringi pertunjukan wayang. Jadi Sunan-Sunan turut mengembangkan budaya Jawa.
Primbon Jawa
Di luar film itu, aku jadi ingat isi Primbon Jawa di rumah. Pada pernah baca primbon belum? Bukan www.primbon.com lho! tapi buku primbon. Kalau www.primbon.com sih menurutku mudharat-nya lebih banyak daripada baiknya. Kalau primbon di rumahku sih, sebagian ternyata isinya doa-doa Islam yang ditulis dalam tulisan Jawa (baik dalam Aksara Jawa maupun Huruf Latin dengan Ejaan Jawa). Doa sehari-hari, mulai doa makan, minum, tidur, masuk kamar mandi. Terus sebagian lagi tentang tanda-tanda alam. Ada juga sih tentang itungan atau pertanda-pertanda yang tidak logis seperti yang ada di www.primbon.com. Tapi menurutku itu mungkin statistik saja atau mungkin karena pengetahuan penulis pada waktu itu yang masih terbatas, seperti Gerhana Bulan yang dikira buyut kita Bathara Kala lagi makan bulan.
Jadi apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap primbon ini?
Kalau menurutku sih, primbon sebaiknya diperbarui:
disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan;
ditambah halaman doanya;
diminimalisir hal-hal yang tidak logis-nya
atau diberi keterangan bagian mana yang merupakan kepercayaan lama dan apa penggantinya.
Satu lagi: dibuat versi online-nya yang lebih baik daripada www.primbon.com.