Little World

I can't help but notice that every class of MGMT 5250 held by Tholias, has always been a debate forum between the Canadians, representing the developed countries and non Canadians, i.e. underdeveloped/developing countries. Just throw a topic about the Canadian...

Understanding

Often, I think I understand something very well. (maybe "think" should be replaced by "feel")But....When I start to explain it by a writing artifact, then I feel I hit a wall.Maybe Einstein is right"You are not really understand it, when you can't explain it in simple manner".Thinking is reduction of feelingSpeaking is reduction of thinkingWriting is reduction of speakingso.... once I can write

Understanding

Often, I think I understand something very well. (maybe "think" should be replaced by "feel")But....When I start to explain it by a writing artifact, then I feel I hit a wall.Maybe Einstein is right"You are not really understand it, when you can't explain it in simple manner".Thinking is reduction of feelingSpeaking is reduction of thinkingWriting is reduction of speakingso.... once I can write

Wisata Kuliner – D’ Cost

Kali ini mau ngomong soal makanan. Hari minggu kemarin, karena istriku bt di rumah mati lampu cukup lama, dia ngajak makan di luar. Pengennya makan sea food di D'Cost. Awalnya sih gara2 liat di acara Good Morning on the Weekend Trans TV n dikomporin sama Sari. Katanya murah, nasi 1 per orang cuman seribu sepuasnya, es teh manis cuman 500rupiah, teh tawar seratus rupiah sepuasnya. Hmm sepertinya

Wisata Kuliner – D’ Cost

Kali ini mau ngomong soal makanan. Hari minggu kemarin, karena istriku bt di rumah mati lampu cukup lama, dia ngajak makan di luar. Pengennya makan sea food di D'Cost. Awalnya sih gara2 liat di acara Good Morning on the Weekend Trans TV n dikomporin sama Sari. Katanya murah, nasi 1 per orang cuman seribu sepuasnya, es teh manis cuman 500rupiah, teh tawar seratus rupiah sepuasnya. Hmm sepertinya

Mutilasi di tebet

Di suatu malam… cuaca dingin dan hujan rintik rintik, air bergelombang, dua mata air membuat lingkaran, adik minta topi kasih onde-onde.. *halaaaah, ga penting*

Suara seorang perempuan dengan usia kira-kira kepala tiga memecah keramaian… "Pak, kuping dua! Mata dua! Hidung satu! Kaki satu! Pipi satu! Otak satu!" Si bapak menyiapkan golok, pisau, memotong-motong dan memasukkan semuanya ke dalam sebuah mangkuk besar. Astagaaaa, sadis sekali perempuan ini.. Kemudian, orang-orang mulai berdatangan dan aksi mutilasi kembali terjadi. "Daging! Otak! Kaki!" dst.. dst..  Dan saya? Saya diam seribu bahasa. Rasa lapar dan nafsu makan saya hilang seketika terbang entah kemana.

Sementara, korban sudah tidak berbentuk lagi sebab semua bagian badannya sudah dipreteli untuk memenuhi permintaan orang-orang yg menjadi sadis karena kelaparan dan cuaca yg  dingin. Duh, kasihan sekali nasibmu…

=== Kejadian di atas adalah suasana yang katanya kerap terjadi di sebuah warung sop kambing. Saya cuma sekali kesana dan tidak berniat untuk kembali lagi ke sana ===

Shopaholic Antidote

Apakah kalian para single guys/girls suka banget shopping? Kalo dah ke mall atau bahkan pasar, gak bisa menahan keinginan untuk beli barang? Apalagi kalo ada excuse-excuse seperti: "Hmm... aku kan abis dapat bonus" atau "Aku belum punya sepatu yang model ini kok". Tanpa kita sadari, SREKKK... dah kegesek aja credit card kita.

Di saat mengalami situasi seperti itu, aku biasanya mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertentu pada diriku untuk mengalahkan keinginan berbelanja tersebut. Seringkali berhasil, tapi ada gagalnya juga sih... ah tapi lumayan kan, banyakan berhasilnya...

1) Pertanyaan yang berhubungan dengan finansial
Yang ini sih cukup standar, dimana-mana orang kalo mau beli barang pasti bertanya seperti ini: Mampu gak sih aku membeli barang itu? Kemahalan gak sih? Kalo posisinya kita lagi ada di tengah-tengah diskonan Matahari, biasanya pertanyaan semacam ini gak berhasil mengalahkan keinginan berbelanja.

2) Pertanyaan yang berhubungan dengan kebutuhan akan barang itu sendiri
Ini juga standar: Sebenernya aku bener-bener membutuhkan barang itu gak sih? Kalo obyeknya barang elektronik, masih bisa berhasil, tapi kalo baju dan sepatu, biasanya juga gak berhasil.

3) Pertanyaan yang berhubungan dengan tempat
Ini yang gak standar: Kalo misalkan aku beli sepatu lagi, rak sepatuku penuh gak ya? Beli baju lagi, lemarinya cukup gak ya? Nah... ini dia yang biasanya berhasil menggagalkan aku untuk berbelanja!! Baik itu sepatu, baju, bahkan buku (gile yaa... padahal buku gak boleh diperlakukan seperti itu...). Sepertinya cara ini gak bakalan berhasil untuk orang-orang yang gak punya masalah dengan tempat penyimpanan.

4) Pertanyaan yang berhubungan dengan barang lainnya yang sejenis
Terakhir kali aku beli barang seperti ini, rasanya belum sempat dipakai deh? Barang ini ada substitusinya yang lebih ekonomis gak ya? Kalo beli baju ini, aku punya matching-annya gak ya? Misalnya mau beli piano Steinway (gak mungkin banget ya? jalan-jalan ke mall kok tiba-tiba pengen piano Steinway), yah... ngapain beli Steinway kalo Sammick aja misalnya sudah mencukupi. Beli 1 Steinway udah dapet 15 Sammick, dah bisa bikin sekolah musik ukuran gede tuh.

5) Pertanyaan yang berhubungan dengan "alternatif lain selain berbelanja"
Nah, kalo ini sih, sering berhasil buat pencegahan belanja CD dan buku. Hmm... CD Tompi yang baru yaa... keliatannya bagus, tapi... si XX kan pasti beli, minjem aja aaahh...

6) Pertanyaan yang berhubungan dengan efek samping (terhadap diri sendiri dan terhadap orang lain)
Kalo aku beli barang ini, akibatnya apa ya? Misalnya beli CD yang brisik dan heboh banget lagunya, ntar berakibat diprotes tetangga. Atau beli Saxophone tanpa punya ruang kedap suara, itu juga bisa diprotes tetangga.

7) Pertanyaan yang berhubungan dengan portability dari barang tersebut
Aku bakal kerepotan gak ya kalo bawa barang ini? Tasku masih cukup gak untuk menampung barang ini? Yang ini sih pertanyaan yang membuatku gak pernah beli oleh-oleh berupa kerupuk mateng. Menurut aku, kerupuk itu meskipun ringan tapi portability-nya rendah, menuh-menuhin ruang, ngerepotin deh bawanya. Aku pernah dinas ke Balikpapan. Mendengar cerita tentang pasar Kebun Sayur, aku memang sudah berniat beli barang-barang tertentu, termasuk lampito yang tentunya dikirim lewat ekspedisi saja. Sengaja bawa koper 1/2 kosong. Sampai di sana... ternyata ada titipan dari orang sana, terus ada titipan dari pak bos. Wuah... akhirnya aku terpaksa menenteng-nenteng sebagian ol-ol masuk ke cabin pesawat, karena koperku gak cukup lagi. Repot...

8) Pertanyaan yang berhubungan dengan kecepatan konsumsi barang itu
Ini sangat berguna untuk mencegah pembelian makanan/minuman. Kalo aku beli makanan itu, aku mampu menghabiskannya gak ya?

9) Satu lagi, ini bukan pertanyaan, tapi tips: jangan pernah masuk supermarket atau department store dalam keadaan lapar. Ketika lapar, kita cenderung bat-bet-bat-bet ingin membeli ini-itu tanpa mempertimbangkannya terlebih dahulu.

Robot dan Musik

Ini sequel-nya tulisan Robot dan Kehidupan Sehari-hari. Kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku dengan musik dikaitkan dengan robot sebagai suatu entity yang tanpa emosi.

Tau gak... ini tak kasih tauk rahasia kecilku... dulu itu aku bisa dibilang hampir emotionless kalo nyanyi, main atau dengerin musik. Buat aku (dulu) musik itu yaa urutan nada-nada saja. Kalo ada liriknya ya dinyanyiin, ada dinamika ya dimainkan sesuai dinamika keras lembutnya. Mirip robot? Atau mirip kayak MIDI ya?

Dulu itu... aku menyukai suatu lagu, karena melodinya enak didenger (ini sih pakek emosi... sedikit), karena aransemennya keren, tapi jarang bener-bener terbawa emosi dari suatu lagu. Seringkali cuek bebek sama lirik lagunya. Kalo pun terbawa emosi, biasanya karena memori yang menyertai lagu itu. Misalnya lagu "Inikah Cinta"-nya ME, aku gak begitu peduli sama liriknya, tapi terkenang terus lagu itu hanya karena lagu itu adalah lagu kebangsaan waktu prom night.

Thanks to temen-temen di PSM-ITB, yang sudah ngajarin untuk "nyanyi dari hati". Apapun lirik yang dinyanyikan, aku harus mengerti, dan dari lubuk hati yang paling dalam berniat untuk menyampaikan hal itu (Kira-kira sih: "Everything I sing or say, I really mean them...").

Sedikit demi sedikit... aku mulai memperhatikan lirik lagu yang aku denger dan nyanyikan. Akhirnya... sekarang ini aku suka ter-"glodak!!" sendiri ketika dengerin lagu yang "dalem" alias bercerita tentang kehidupan aku dan orang-orang sekitarku. Ternyata musik jauh lebih indah ketika dinikmati secara menyeluruh...

Nah... aku jadi mikir tentang Mr.Data, dia kan emotionless (waktu di TV Series), padahal dia main musik, melukis, dan bikin puisi. Dia mungkin bisa menciptakan musik, karena musik itu kan sebenernya urutan nada-nada yang punya pola matematisnya sendiri, tapi apakah orang yang mendengarkan musik tersebut emosinya bisa tergugah ya? Misalkan dibuat robot penyanyi dengan suara seperti Ella Fitzgerald, apakah akan menimbulkan suasana hangat yang sama dengan Ella Fitzgerald yang asli? Haha... itu bisa jadi topik tugas akhir yang menarik untuk para mahasiswa cybernetic di Daystrom Institute...