Untung Aku Bukan Pujangga…

Setelah membaca postingan blog-ku dari jaman cabe belum pedes sampe yang terkini, aku berkesimpulan... bahwasanya... untung saja aku memilih profesi sebagai praktisi IT, bukan sebagai pujangga. Wehehehe...

Kalo aku jadi penulis novel, mungkin bakalan membuat ceritanya gak utuh, seperti tokoh-tokoh sinetron yang suka aku cela-cela. Di sinetron itu umumnya tokohnya tidak seperti manusia seutuhnya: gak seimbang. Kalo yang namanya manusia dalam kehidupan sehari-hari itu kan punya sisi baik, tapi ada juga sisi buruknya. Kalo di sinetron itu kebanyakan tokohnya unbelievable banget. Yang jahat ya jaaahhhaaattt... banget, yang baik ya baaaiiikkk banget, sampe-sampe terlalu lemah dan gak bisa melawan ketika tertindas.

Terus ceritanya juga cenderung kayak fairy tale. Kalo tadinya menderita, atau miskin, terus di akhir film... doeng-doeng... tau-tau udah makmur, entah itu karena terima warisan, atau karena penyebab lain. Jarang banget yang cerita ttg juragan lele yang tadinya gak punya apa-apa, terus setelah bertahun-tahun membangun bisnis lele dari 1 kolam saja akhirnya sekarang jadi konglomerat lele [sampe sekarang masih terkagum-kagum, padahal ketemu the real life person-nya udah tahun 2001].

Tulisanku juga gak komplit, hanya bercerita ttg sisi menyenangkan dari kehidupan, aku cenderung gak menuliskan hal-hal yang kurang menyenangkan, gak seperti kehidupan seutuhnya. Kenapa? Gak tauk pastinya kenapa... Mungkin karena aku memang ingin selalu menganggap bahwa kehidupan ini menyenangkan. Kalopun ada hal yang tidak menyenangkan buat aku, aku coba untuk membuatnya jadi menyenangkan dengan memandangnya dari sisi lain (humor misalnya), sedangkan hal-hal yang tidak menyenangkan yang kulihat terjadi di sekitarku (tidak kualami sendiri), gak tega untuk menuliskannya kembali.

Peristiwa kurang menyenangkan yang ditulis untuk kutertawakan sendiri contohnya adalah: tragedi orkestra mbak WK, ancaman bom di kwarnas. Hal-hal kurang menyenangkan lainnya, yang gak mungkin ditulis dari kacamata humor, akhirnya gak masuk ke dalam blog-ku. Kalopun aku nyoba menuliskannya (contoh: tentang gusuran kaki lima di jalan buncit), hasilnya gak memuaskan gitu loh, karena gak tega sama obyeknya, gak tega juga sama yang baca.

Pujangga-pujangga atau penulis-penulis jagoan umumnya bisa membuat tulisan yang mengena, yang menyentuh para pembacanya... mereka mengambil bahan juga dari peristiwa-peristiwa kurang enak yang terjadi pada diri mereka atau lingkungan sekitar mereka (gak cuma yang enak-enak aja to...). Kemudian mereka mengekstrak hikmah, pelajaran, dan makna dari kejadian tersebut. Itu yang membuat kisah mereka menjadi komplit, utuh, seimbang.

Kesimpulannya... untung saja aku menulis memang hanya untuk iseng-iseng, ada yang baca ya sukur... ga ada yang baca ya udah. Lebih banyak berisi laporan, pikiran gak jelas, untuk hiburan pribadi semata, ntar kalo udah agak lama kubuka-buka lagi untuk diketawain sendiri (tapi belum gila loh...). Kalo tulisanku jelek, garing, kurang mengena, atau malahan mirip source code program, ya dilarang protes, karena ini memang blog-nya seorang praktisi IT (tapi tidak berbicara tentang IT), bukan blog-nya seorang pujangga... Weekkkk... :-P

gw masih nyantai lho… beneran.. :)

akhirnya kesampaian juga untuk ‘reuni’ kecil-kecilan dengan temen-temen kuliah gw meski baru awal tahun 2007, ada beberapa execuse untuk tidak bisa dateng dengan alasan sibuk :P hayo, siapa yg udah mulai sibuk di tahun 2007 ini silakan ngacung? :D

awalnya sih, direncanakan untuk menjadikan TIS Square sebagai TKP [tempat ketemuan peserta]. udah gw buatin petunjuknya bagi yang gak tau dimana TIS Square, dan gw sekali lagi tegaskan bahwa TIS Square ada di MT Haryono, bukan di TB Simatupang [hehehe, iya kan, ki?] gw sih gak keberatan ke sono, toh deket rumah kos. Lagian ada gadis mungil, eh ibu muda, yg ngakunya bisa dateng kalo di TIS Square. Alasannya simple, karena tempat itu tepat di depan kantornya...


pun demikian, secara yang lain keberatan karena jauh dan diluar kesepakatan awal yaitu di sekitar thamrin-sudirman, maka TIS Square dipindahkan ke EX. Pilihan gadis tinggi putih nan cantik yang dianggap sebagai pegawai negeri ini pun pupus sudah, karena senayan city juga nggak terletak di sudirman-thamrin J sori ya ca, gw tau lu ama cahyo blom ke pernah ke sana... kapan-kapan aja deh ke sensi-nya yak ;)


tapi, di luar rencana ternyata sang bintang tamu sudah datang duluan ke TKP. pun di awal perjanjian, secara konsensus kami sepakat untuk bertemu di EX, sang bintang tamu dari Italy ini memutuskan untuk menunggu di Starbucks Plaza Indonesia [inget ya ki, Plaza Indonesia, bukan EX :P]. ini pun memaksa seorang lulusan SMA terbaik di Magelang yang sudah makin tambun ini berjalan dari EX ke Plaza Indonesia. Gak begitu jauh kan, Yo? Hehehe


di Plaza Indonesia, itu udah kaya gerombolan bandit aja yg menuh-menuhin koridor. Ada yg bawa tas segede-gede gambreng, ada yg hobinya ngalangin jalanan orang.. karena masih juga belum bisa memutuskan dimana tempat yg bisa digunakan untuk menampung orang-orang yg ngobrolnya aja kaya berantem :P setelah menunggu didil dan istrinya nan cantik itu datang, kami mengambil alih beberapa meter persegi di sebuah sudut lapangan makanan yang bernama lada merah.


ini beberapa screenshot dari perhelatan akbar :P dibilang akbar karena biasanya yang ngumpul paling2 Cuma 4 orang, sekarang udah kaya konferensi black hat aja...







itu untuk gambar pasangan-pasangan baru kita, nah untuk gambar tampang-tampang narsis ada di bawah ini....

<-- dari kiri ke kanan: adri, veri (IF99), cahyo, cica, shinta, ekki, iqbal, yudis, didil, tintin

dari kiri ke kanan-->
yah, tebak aja lah ndiri... masih sama ini kok tampang-tampangnya :)

nb:
ada yang mo nambahin poto-potonya? eh, di atas itu tata bahasanya si shinta lho... jd gw cuma minjem gramarnya doang :)

gw masih nyantai lho… beneran.. :)

akhirnya kesampaian juga untuk ‘reuni’ kecil-kecilan dengan temen-temen kuliah gw meski baru awal tahun 2007, ada beberapa execuse untuk tidak bisa dateng dengan alasan sibuk :P hayo, siapa yg udah mulai sibuk di tahun 2007 ini silakan ngacung? :D

awalnya sih, direncanakan untuk menjadikan TIS Square sebagai TKP [tempat ketemuan peserta]. udah gw buatin petunjuknya bagi yang gak tau dimana TIS Square, dan gw sekali lagi tegaskan bahwa TIS Square ada di MT Haryono, bukan di TB Simatupang [hehehe, iya kan, ki?] gw sih gak keberatan ke sono, toh deket rumah kos. Lagian ada gadis mungil, eh ibu muda, yg ngakunya bisa dateng kalo di TIS Square. Alasannya simple, karena tempat itu tepat di depan kantornya...


pun demikian, secara yang lain keberatan karena jauh dan diluar kesepakatan awal yaitu di sekitar thamrin-sudirman, maka TIS Square dipindahkan ke EX. Pilihan gadis tinggi putih nan cantik yang dianggap sebagai pegawai negeri ini pun pupus sudah, karena senayan city juga nggak terletak di sudirman-thamrin J sori ya ca, gw tau lu ama cahyo blom ke pernah ke sana... kapan-kapan aja deh ke sensi-nya yak ;)


tapi, di luar rencana ternyata sang bintang tamu sudah datang duluan ke TKP. pun di awal perjanjian, secara konsensus kami sepakat untuk bertemu di EX, sang bintang tamu dari Italy ini memutuskan untuk menunggu di Starbucks Plaza Indonesia [inget ya ki, Plaza Indonesia, bukan EX :P]. ini pun memaksa seorang lulusan SMA terbaik di Magelang yang sudah makin tambun ini berjalan dari EX ke Plaza Indonesia. Gak begitu jauh kan, Yo? Hehehe


di Plaza Indonesia, itu udah kaya gerombolan bandit aja yg menuh-menuhin koridor. Ada yg bawa tas segede-gede gambreng, ada yg hobinya ngalangin jalanan orang.. karena masih juga belum bisa memutuskan dimana tempat yg bisa digunakan untuk menampung orang-orang yg ngobrolnya aja kaya berantem :P setelah menunggu didil dan istrinya nan cantik itu datang, kami mengambil alih beberapa meter persegi di sebuah sudut lapangan makanan yang bernama lada merah.


ini beberapa screenshot dari perhelatan akbar :P dibilang akbar karena biasanya yang ngumpul paling2 Cuma 4 orang, sekarang udah kaya konferensi black hat aja...







itu untuk gambar pasangan-pasangan baru kita, nah untuk gambar tampang-tampang narsis ada di bawah ini....

<-- dari kiri ke kanan: adri, veri (IF99), cahyo, cica, shinta, ekki, iqbal, yudis, didil, tintin

dari kiri ke kanan-->
yah, tebak aja lah ndiri... masih sama ini kok tampang-tampangnya :)

nb:
ada yang mo nambahin poto-potonya? eh, di atas itu tata bahasanya si shinta lho... jd gw cuma minjem gramarnya doang :)

6 months later ….

Sm16banjir23_2 Yup sudah 6 bulan aku mulai hidup baru di Jakarta. Bukan hanya baru pindah tempat tinggal, tp yang lebih terasa adalah environtment baru. Dahulu aku sangat antipati dengan Jakarta. Aku selalu berpendapat Jakarta bagus untuk cari uang tapi tidak untuk stay. Makanya aku kerja di Bandung, tp sering mroyek di Jakarta…J. Ini nampaknya baik untukku tapi tidak baik untuk mahasiswa yang ku ajar (I really sorry for this guys). Bagaimana tidak? Aku harus rajin mengganti jadwal kuliah demi jadwal meeting di Jkt. Atau setidaknya persiapan mengajarku jadi kacau dengan urusan Jkt ini.

Moving_2  Sekarang aku pindah haluan ke Swasta. Belum genap 5 bulan di sebuah konsultan IT internasional, aku pindah ke salah satu perusahaan di area “Fast Moving Consumer Good – FMCG”. Akhirnya aku termasuk golongan “kutu loncat” juga (aku memaki diriku sendiri untuk ini), meski aku masih merasa melakukan ini semua dengan tidak semena-mena (terhadap perusahaan yang kutinggal). Mungkin juga ini hanya pembenaranku saja.

Di lain sisi, menurutku profesi di bidang IT memang sedang jadi primadona. Godaan untuk “mendapatkan lebih” selalu akan datang (setidaknya 2-4 tahun kedepan).

Ini adalah sisi ketiga dalam profesiku. Sisi pertama, aku menjadi orang yang memandu rekan lain beranjak dari bangku kuliah ke tempat kerja. Aku banyak bergumul dengan ilmu2 yang perlu dipersiapkan. Sisi kedua aku terjun langsung ke dunia industri/swasta, menjadi seorang konsultan IT. Yah, aku setuju dengan pak KK (Menristek kita sekarang),  pekerjaan konsultan adalah memberitahukan seseorang  tentang “jam berapa sekarang” dengan jam tangannya. Jadi kerjaan konsultan hanya melirik jam tangan orang yang bertanya….=))

Sisi ketiga yang sekarang mulai kutekuni adalah sebagai unit IT di perusahaan yang menggunakan IT untuk mendukung bisnisnya. Dulu perusahaan jenis ini jadi klien ku. Sekarang akulah klien itu…:))

Linuxopensource_eng72 Aku mulai menikmati alur hidupku di Jkt, meski aku masih dalam tahap menata kembali semuanya di sini. Ada keinginan untuk tetap berkontribusi langsung untuk dunia IT di negeri ini, entah melalui pendidikan atau yang lain (aku belum menemukan caranya). Aku punya perhatian besar untuk Open Source Software. Bukan untuk fanatik atau anti siapapun, tapi bagaimana mengambil manfaat ekonomis, sosial dan pendidikan dari OSS ini.

6 months later ….

Yup sudah 6 bulan aku mulai hidup baru di Jakarta. Bukan hanya baru pindah tempat tinggal, tp yang lebih terasa adalah environtment baru. Dahulu aku sangat antipati dengan Jakarta. Aku selalu berpendapat Jakarta bagus untuk cari uang tapi tidak...

Happy New Look

Tahun Baru...Penampilan Baru...
Blog ini tampil dengan penampilan baru, semoga bisa semakin rajin diisi...

Selain tampilan blog yang baru, di rumah juga sedang redesign interior. Sekitar 10 hari yang lalu hampir semua orang dikerahkan untuk angkat2 meja, lemari, sofa, dsb. Dengan dibantu desain dari Ami, barang2 itupun segera berpindah tempat. Menjelang malam barulah terlihat hasilnya. Wuih, ternyata sangat terasa efeknya... ruangan jadi terlihat lebih lega.

Untuk menambah hidup suasana, di ruang tamu pasang aquarium dan tanaman hijau di sudut. Hmm...adem, ditambah lagi suara gemericik air dari aquarium. Rafi senang sekali lihat ikan apalagi kalau dipersilakan celup2 tangan ke air :)

Kebon di samping rumah juga dirapikan. Pot tanaman yang sudah tidak dipakai dibersihkan dan diisi dengan tanaman baru. Weh... setelah dikumpul-kumpul ternyata banyak juga ya potnya, ada 20-an kali... Setelah diisi dengan berbagai tanaman, dijejerlah pot-pot itu di teras. Karena jumlah pot yang kosong lebih banyak dari tanaman yang dibeli, jadi aja beberapa pot masih nganggur. Ada yang mau nyumbang? hehe... dengan senang hati diterima, tapi jangan yang susah perawatannya ya... takut nggak keurus..

Baru seminggu menikmati tampilan baru, eh ternyata ada penghuni lain yang memutuskan pindah tempat. Jadi ya.. redesign lagi lah karena beberapa furniture dibawa oleh yang bersangkutan. Ruang tamu tidak banyak berubah. Ruang tengah yang biasanya penuh sekarang jadi legaaa... hehe...itu jadi ruang bermain Rafi sekarang. Rafi dengan riang bermain kesana-kemari tanpa penghalang. Bahkan sekarang kalau nyari Bunda bisa sampai ke dapur sendiri.