mission (not so) impossible (anymore) 3

having seen the most wanted of my top list movies in this semester, i totally disappointed. MI:3 is sooo standard. Okay, we've seen all the tricks in this movie. such a "standard" communication technology, magnetic bomb, explosion. it's so present. it's not about future, though.. Why Cruise, don't have any other idea how to make people amazed? and why am i not surprised? hehehehe, kidding. i decide to see this movie at the first day show here in Jakarta just killing the time and wait for the traffic to be normal again. it's about the mayday riots in Jakarta, it makes transportation stagnant :(

i'm here not to criticize this movies. it has a nice story though. yeah, what kind of story would you like to see from a hero like Ethan Mathew Hunt? see the movie by your self then..

i don't know why do they (the paramount pictures?) choose Indonesia first than any other country (CMIIW) [see here] . is there any suspicion of this country to made a pirated copy of this movie? ;) i dunno, just a harsh accusation. :) or maybe Indonesia is a qualified country just like why Nokia pick Indonesia to launch their Nokia Communicator 9500 Series? hmmm...

Well, enough with those unpleasant things. i occasionally amazed with what the story tell me about. a tiny nitroglycerin-magnesium bomb implanted in brain thru one's nose? hmm.. i never thought about it. Another story is how Hunt managed to break a 56(?) story building just by swinging from the taller building. this movies told me that a country-within-country, Vatican, has a very secure boundaries. or it just a hyperbolic one? :) wondering if Indonesia could have had of those kind of securities item to watch guard the boundaries. No citizen could trespass the boundaries without any prior notice from customs... :)

~justanimpossibledream~personal blogsite    

Hobi-hobi Berserakan 2 : Aku Suka Musik…

Awalnya, aku pengen les piano karena Ndoro udah les piano duluan. Tapi… lama-kelamaan bosen juga les piano, rasanya lagunya gitu-gitu aja. Terutama di akhir-akhir masa SD dan awal SMP. Sempet beberapa kali pengen keluar, tapi gak boleh sama Ibu. Nah, begitu udah kenal yang namanya lagu populer… barulah aku mulai seneng les piano.

Pergaulanku dengan musik, selain dengan piano, juga dengan paduan suara. Salah satu alasanku pengen masuk ITB (selain ka
rena dekat rumah Mbah Bandung jadi ngirit ongkos dan waktu, terus karena kampusnya feels like home) adalah karena PSM-ITB. Bukan karena aku pengen belajar nyanyi atau karena PSM-ITB adalah paduan suara paling top (duh seandainya saja yang ini beneran…), tapi karena Ndoro itu (PSM-ITB juga) kayaknya asik banget kalo lagi main atau jalan-jalan sama temen-temen PSM-nya. Ternyata setelah masuk PSM, aku mendapatkan banyak hal, bukan hanya temen-temen yang asik, more than I expected pokoknya deh.

Apa sih yang menarik dari PSM? Selain teman-temannya yang sudah seperti sodara sendiri dan puny
a kelakukan yang unik, sekrenya yang sudah seperti rumah sendiri, tentu saja di sana kita juga mendapatkan sarana untuk melampiaskan hasrat terpendam / aktualisasi diri / melakukan penampilan (yah... ada aja kan sisi narsisis dari diri kita?). Terus seringkali bete juga tiap hari mikirin nol-satu-nol-satu dan if-then-else yang garing di jurusan, pengen melakukan sesuatu yang lain seperti misalnya nyanyi-nyanyi... nah kalo nyanyi-nyanyi sendiri... ntar dibilang gila, kalopun ada sarananya seperti karaoke... kurang pede kalo sendirian. Di PSM ini lah aku bisa nyanyi-nyanyi tanpa dibilang gila, dah gitu banyak temennya pas nyanyi, karena emang PSM kerjaannya nyanyi rame-rame. Dengan nyanyi-nyanyi, si nol-satu-nol-satu tadi bisa terlupakan sejenak, digantikan dengan do-re-mi-fa-sol.

Untuk menyambung ke hobi musikku yang selanjutnya. Mungkin aku mesti sedikit cerita ttg tahun 2002. Tahun terakhir di PSM, ketika aku "kuliah di PSM, dan nyambi di IF-ITB". Waktu itu kita mencoba konsep baru untuk konser, yaitu bikin choral revue. Choral revue adalah pertunjukkan musikal seperti di Broadway yang dibawakan oleh paduan suara. Kebetulan choral revue yang kita bawakan ini terdiri dari beberapa bundle lagu medley dari jaman 1900-an sampe 1990-an.

Ternyata… di antara sekian banyak lagu yang dibawakan, aku paling menikmati lagu swing, terus lagu-lagunya Gershwin yang “café bangeeetttt….” (termasuk kategori jazz standard). Kalo lagu swing itu, rasanya membuat ingin berdansa ‘til broad daylight… Sedangkan lagu-lagu yang café banget tadi rasanya bikin relax, romantis, dan hangat gitu loh… Di situ lah aku mulai berkenalan dengan musik jazz.

Dalam standard jazz, kalo piano biasanya membuat suasana jadi romantis. Selain piano, ada beberapa alat musik yang menimbulkan kehangatan dalam repertoire-repertoire jazz standard yang suka aku dengarkan: Trumpet dan Saxophone. Apalagi kalo Saxophone yang suaranya “tebal”, duile… asik banget dah… Dari situ lah… keluarnya ide untuk belajar Sax. Selanjutnya yaaa… seperti yang pernah aku ceritakan di posting sebelumnya.

Hobi-hobi Berserakan 4 : The Final Frontier…

Hobiku yang satu ini dimulai waktu Star Trek: The Next Generation diputar di RCTI (tahun 1991). Aku pernah ceritakan di posting tentang Star Trek Oya, waktu aku kelas 6 SD, aku suka nulis cerita-cerita yang tokohnya dari Star Trek bareng si Vita. Tapi versi kelas 6 SD ya... kalo sekarang baca cerita-cerita itu lagi (masih ada loh...), hihihi... duh malunya....

Star Trek itu seperti punya dunia sendiri, dia punya realitas sendiri, dimana berlaku norma-norma yang ditentukan sendiri oleh pengarangnya. Nah, sebenernya kan dunia Star Trek itu disusun untuk kepentingan hiburan semata, tapi penggemar Star Trek tuh bisa hafal loh ketentuan-ketentuan, norma-norma, dan batasan-batasan yang ada di dunia Star Trek. Bahkan sampe ada yang menghayatinya. Mereka (para penggemar Star Trek) bisa berdiskusi dan berpolemik mengenai apa yang terjadi di dunia Star Trek, seolah-olah dunia Star Trek adalah realitas mereka sehari-hari.

Contohnya gini: Misalkan kita lemparkan pertanyaan, tahun berapa sih First Contact dengan Vulcan terjadi?
Terus dimana lokasinya? Semua trekkies (penggemar Star Trek) pasti akan menjawab sama: 2063, di Montana. Seolah-olah kejadian tersebut memang tertulis di sejarah. Sama seperti kalo kita menjawab pertanyaan: kapan sih perang Diponegoro terjadi? Jawabnya pasti: 1825-1830 kan... karena itu yang tertulis di catatan sejarah kita, sesuai dengan kejadian di realitas kita. Para trekkies itu menghayati sejarah dunia Star Trek, seolah-olah itu sejarah dunia kita sendiri.

Ya gitu deh... kalo ngomongin Star Trek. Apalagi kalo sudah ngomongin parallel universe dengan multi-realitasnya atau time travel dengan paradoksnya... huehehehe... mumet dah... tapi justru di situ lah asiknya...

Aku sendiri sekarang sudah gak begitu ngikutin Star Trek lagi. Terutama sejak Mr.Data mati dan Star Trek bubar. Tapi aku masih tergabung di milis penggemar Star Trek di Indonesia, dan sesekali nge-check kabar terbaru tentang Star Trek di http://www.startrek.com/. Kadang-kadang kalo baca diskusi yang begitu heboh di milis itu, aku cengar-cengir sendiri. Hihihi... gila banget, diskusinya begitu heboh, dah kayak diskusi di lingkungan akademis aja, padahal yang diomongin kan sesuatu yang gak nyata, hanya rekaan si penulis cerita Star Trek.... Terus setiap fenomena di dunia Star Trek ada dasar sains-nya, tapi sainsnya juga boongan, hanya berlaku di dunia Star Trek.

Foto: Duh, ampun om Klingon... saya jangan diapa-apain... tadi saya nyangkain om adalah patung lilin... maap om... (btw, hak sepatunya tinggi banget om?)

yayasan? punya orang kaya atau punya orang mau kaya?

Banyak orang mendirikan yayasan untuk membangun sekolah kemudian mendapatkan keuntungan dari operasional sekolah. Sah-sah saja mereka melakukannya. Tapi apakah kita tahu sejarahnya pendirian yayasan?
Yayasan dimulai dari orang-orang barat yang sudah merasa sangat kaya dan ingin mendonasikan uangnya ke kegiatan sosial. Sesuai dengan hukum alam, jika kita mengelurkan sedekah maka bukan harta kita yang hilang tapi malah bertambah. Sama dengan mereka, kekayaannya semakin banyak.
Kemudian orang kita mengambil penafsiran yang salah, dimana mendirikan yayasan untuk membuat sekolah. Jadi pada akhirnya lebih menyimpang lagi yaitu mendirikan yayasan untuk bisnis.
Jadi kalau di barat, yayasan didirikan orang kaya untuk bersosial sedangkan di indonesia, yayasan didirikan orang supaya kaya..

yayasan? punya orang kaya atau punya orang mau kaya?

Banyak orang mendirikan yayasan untuk membangun sekolah kemudian mendapatkan keuntungan dari operasional sekolah. Sah-sah saja mereka melakukannya. Tapi apakah kita tahu sejarahnya pendirian yayasan?
Yayasan dimulai dari orang-orang barat yang sudah merasa sangat kaya dan ingin mendonasikan uangnya ke kegiatan sosial. Sesuai dengan hukum alam, jika kita mengelurkan sedekah maka bukan harta kita yang hilang tapi malah bertambah. Sama dengan mereka, kekayaannya semakin banyak.
Kemudian orang kita mengambil penafsiran yang salah, dimana mendirikan yayasan untuk membuat sekolah. Jadi pada akhirnya lebih menyimpang lagi yaitu mendirikan yayasan untuk bisnis.
Jadi kalau di barat, yayasan didirikan orang kaya untuk bersosial sedangkan di indonesia, yayasan didirikan orang supaya kaya..

Long Weekend I & III : Kuliner Bandung

Rasanya aku sudah sering membahas tentang makanan di Bandung, tapi emang wisata kuliner di kota ini gak ada matinye...

Kunjungan pas libur 4 hari (31 Maret-1 April), aku emang niat makan batagor. Jadi aku beli batagor Pasar Simpang, yang surprisingly jadi jauh lebih empuk dibandingkan biasanya... dengan mudahnya bisa dipotong pake sendok (gak perlu pisau!), bahkan setelah batagor itu nginep semalam dan dipanasin lagi paginya.


Selain itu pergi ke Potluck (lagi), nah... kali ini minum Iced Chocolate. Iced Chocolate-nya lebih enak daripada Oh La La, karena gak ngeres kayak Iced Chocolate-nya Oh La La. Jadi Iced Choco-nya Oh La La itu dikasih butiran-butiran coklat, yang sejujurnya sih agak mengganggu, meskipun cairan coklatnya sendiri sebenernya enak.

Selain Iced Choco, makan apple pie yang guedeee banget. Menurut perkiraan, bakalan gak abis nih… tapi… karena lama banget nunggu temennya Ndulo gak datang-datang, abis juga tuh apple pie, meskipun kismisnya gak ikutan dimakan.

Dari Potluck, kita ke Dago Atas untuk makan malam (masih jam 6 padahal). Kita sebuah cafe di Bukit Dago, namanya cafe Congo kalo gak salah. Café ini agak aneh… abisnya berbeda dengan sodara-sodaranya yang berada di sekitar situ, café ini gak masang papan penunjuk arah sama sekali. Padahal jalannya cukup mblusuk-mblusuk loh… Kalo ngeliat gang masuknya, gak bakalan nyangka deh kalo di dalamnya ada café. Makanannya sih standar café, enak, harganya cukup terjangkau untuk kantong mahasiswa (ini menurut pengakuan yang masih mahasiswa loh). Di tengah cafe ada lapangan besar yang penuh dengan lampu-lampu... hmm... kayaknya seru juga kalo lapangan itu jadi dance floor di open air.

Malamnya, setelah datang ke M-Nite, kita ke Café Milan di Jl. Pelajar Pejuang. Hmm... udah bertahun-tahun aku tinggal di Bandung, sampe udah pindah ke Jakarta lagi, baru kali itu aku masuk ke cafe Milan. Konon kabarnya sih es krimnya enak (ternyata EMANG IYA!!..hihihihi...). Pizza-nya juga keliatannya enak (sori gak makan, udah kenyang seeehhh...).

Minggu kemarin (14-15 April) aku ke Bandung lagi. Kunjungan kuliner pertama ke... Warung Lela..!! Untungnya setelah sekian lama gak ke sana, aku masih ingat jalannya yang agak banyak belok-belok dan naik-turun itu. Sampe di sana... uh-oh.. pennnuuuuhhh baaaannnggeeeettttt.... dapet parkir aja lumayan jauh, terus masih mesti ngantre lagi buat dapet tempat duduk. Tapi ngantrenya sudah dikoordinir sama korlapnya sih. Kita nunggu kira-kira 15 menitan. Aku pesan Mie Ayam Jamur, yang lain pesan Yamien. Untungnya yang lain bilang makanannya enak dan lain daripada yang lain, jadi gak rugi lah pake acara naik mobil jauh mblusuk-mblusuk dan ngantre.

Besoknya nyari lotek. Setelah konsultasi sama Imam dan NDC, akhirnya diputuskan untuk mencari lotek pasar Cihapit. Menurutku sih leb
ih enak daripada lotek di jus ember (Ciumbeleuit 49), tapi kata bapak gak seperti ekspektasi.

Habis dari lotek, terus beli Cinnamon Roll di Jl. Flores. Duh enak deh... rotinya lembut, terus kayumanisnya pun kerasa banget. Tadinya hanya beli sekotak. Terus ketika balik ke mobil, nyobain sedikit, ternyata enak, akhirnya beli 2 kotak lagi. Sekotak isi 6 itu harganya 12 rebu rupiah. Lumayan deh, buat alternatif oleh-oleh, biar gak brownies melulu, atau molen melulu. Tapi sayangnya... 1 porsinya ukurannya kecil, dan jumlahnya kurang banyaaakkk.. hehehehe...

Nah.. yang terakhir ini sih bukan di Bandung, tapi di rumah aja. Pas hari Minggu setelah dari Bandung, kita bikin sukiyaki di rumah. Pake kecap kikoman, pake sayur-mayur,
jamur-jamuran, mentega (buat numisnya), dan tentu saja daging. Ceritanya terinspirasi sama guru kemponya bapak jaman dahulu kala. Karena tidak tersedia daging sukiyaki yang tipis-tipis itu, terpaksa diganti dengan Beef Bacon, jadinya terlalu asin deh. Ini die foto-foto sukiyaki-nya...

Ini sayur mayur dan tahu yang masih mentah...







Ini "daging sukiyaki" alias beef bacon yang masih mentah...







Ini waktu sukiyakinya lagi dimasak...







Ini waktu sukiyakinya siap disantap.... :-P

cara buat tab control pada visual C++ 6.0 (2)

sori kelupaan:
6, Pada kelas Utama(ProjectDLG kalau dialog based), diinit dialog:
m_tab.InsertItem(0, _T("Tab One"));
m_tab.InsertItem(1, _T("Tab Two"));
m_tab.InsertItem(2, _T("Tab Three"));
m_tab.Init();
mtab adalah variabel anggota dari kelas D.
Silakan coba, kalo ada problem bias kontak saya

cara buat tab control pada visual C++ 6.0 (2)

sori kelupaan:
6, Pada kelas Utama(ProjectDLG kalau dialog based), diinit dialog:
m_tab.InsertItem(0, _T("Tab One"));
m_tab.InsertItem(1, _T("Tab Two"));
m_tab.InsertItem(2, _T("Tab Three"));
m_tab.Init();
mtab adalah variabel anggota dari kelas D.
Silakan coba, kalo ada problem bias kontak saya

cara buat tab control

Bagi anda yang pernah pake visual C++ 6.0 tentu pernah dibikin pusing untuk membuat aplikasi yang mempunyai tab. Berbeda sekali kalau anda membuat tab dengan menggunakan visual Basic. Mungkin tulisan berikut bisa menjadi alternatif bagi anda dalam pembuatan menu tab.
Untuk membuat tab:
1. Buat 3 kelas baru yang berasal dari penambahan resource dialog baru. Kelas tersebut mempunyai base class dialog.Misalnya kelas A,B,C
2. Buat 1 kelas baru yang mengelola 3 objek dari kelas diatas. KElas tersebut diturunkan dari CTabCtrl. Namakan kelas tersebut D
3. Pada konstruktor kelas D, tambahkan variabel anggota dari kelas A,B,C namakan variabel anggota tsb mis: var1,var2,var3 sebagai variabel pointer
4. Pada fungsi init di kelas D, tambahkan beberapa perintah sbb:
var1->Create(IDD_TAB_ONE, this); /*IDD_TAB_ONE dalah ID dari form dialog dair kelas A */
var2->Create(IDD_TAB_TWO, this);
/*IDD_TAB_TWO dalah ID dari form dialog dari kelas B */
var3->Create(IDD_TAB_THREE, this);
/*IDD_TAB_THREE dalah ID dari form dialog dari kelas C */
var1->ShowWindow(SW_SHOW);
var2->ShowWindow(SW_HIDE);
var3->ShowWindow(SW_HIDE);
SetRectangle();

5. Pada fungsi SetRectangle, buatlah perintah sebagai berikut:
void D::SetRectangle()
{
CRect tabRect, itemRect;
int nX, nY, nXc, nYc;

GetClientRect(&tabRect);
GetItemRect(0, &itemRect);

nX=itemRect.left;
nY=itemRect.bottom+1;
nXc=tabRect.right-itemRect.left-1;
nYc=tabRect.bottom-nY-1;

var1->SetWindowPos(&wndTop, nX, nY, nXc, nYc, SWP_SHOWWINDOW);
var2->SetWindowPos(&wndTop, nX, nY, nXc, nYc, SWP_HIDEWINDOW);
var3->SetWindowPos(&wndTop, nX, nY, nXc, nYc, SWP_HIDEWINDOW);

}
}

cara buat tab control

Bagi anda yang pernah pake visual C++ 6.0 tentu pernah dibikin pusing untuk membuat aplikasi yang mempunyai tab. Berbeda sekali kalau anda membuat tab dengan menggunakan visual Basic. Mungkin tulisan berikut bisa menjadi alternatif bagi anda dalam pembuatan menu tab.
Untuk membuat tab:
1. Buat 3 kelas baru yang berasal dari penambahan resource dialog baru. Kelas tersebut mempunyai base class dialog.Misalnya kelas A,B,C
2. Buat 1 kelas baru yang mengelola 3 objek dari kelas diatas. KElas tersebut diturunkan dari CTabCtrl. Namakan kelas tersebut D
3. Pada konstruktor kelas D, tambahkan variabel anggota dari kelas A,B,C namakan variabel anggota tsb mis: var1,var2,var3 sebagai variabel pointer
4. Pada fungsi init di kelas D, tambahkan beberapa perintah sbb:
var1->Create(IDD_TAB_ONE, this); /*IDD_TAB_ONE dalah ID dari form dialog dair kelas A */
var2->Create(IDD_TAB_TWO, this);
/*IDD_TAB_TWO dalah ID dari form dialog dari kelas B */
var3->Create(IDD_TAB_THREE, this);
/*IDD_TAB_THREE dalah ID dari form dialog dari kelas C */
var1->ShowWindow(SW_SHOW);
var2->ShowWindow(SW_HIDE);
var3->ShowWindow(SW_HIDE);
SetRectangle();

5. Pada fungsi SetRectangle, buatlah perintah sebagai berikut:
void D::SetRectangle()
{
CRect tabRect, itemRect;
int nX, nY, nXc, nYc;

GetClientRect(&tabRect);
GetItemRect(0, &itemRect);

nX=itemRect.left;
nY=itemRect.bottom+1;
nXc=tabRect.right-itemRect.left-1;
nYc=tabRect.bottom-nY-1;

var1->SetWindowPos(&wndTop, nX, nY, nXc, nYc, SWP_SHOWWINDOW);
var2->SetWindowPos(&wndTop, nX, nY, nXc, nYc, SWP_HIDEWINDOW);
var3->SetWindowPos(&wndTop, nX, nY, nXc, nYc, SWP_HIDEWINDOW);

}
}