when you should stop searching for the best?

memang sudah menjadi keinginan hampir semua orang untuk mencari yang terbaik bagi mereka. terbaik dalam segala hal. nggak pernah merasa puas dengan apa yang sekarang sudah dimiliki, atau malah pernah dimiliki. semua orang juga berhak atas penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, begitu kata temen gw. entah itu pekerjaan yang terbaik buat mereka, yang dapat memberikan apa yang mereka inginkan. salary yang tinggi mungkin. fasilitas kesehatan yang terjamin hingga akhir hayat dan beserta anak hingga umur tertentu. fasilitas pinjaman untuk mobil,atau rumah, atau apapun lah itu.

pencarian terbaik untuk pekerjaan juga nggak kalah serunya dengan pencarian terbaik untuk pendamping hidup. tapi bedanya apakah kalo memang sekarang mereka udah memiliki calon atau malah pendamping hidup, apakah mereka bisa dengan seenaknya memilih calon atau pendamping hidup yang lebih baik dari yg sudah dimiliki? apakah yg dipilih sekarang memang yang terbaik? kalo ketahuan nggak lebih baik, apa masih mencari yang lebih baik? atau malah balik dengan kisah lalu?

di dunia ini, selalu ada yang lebih baik. there is no the best of the best. di atas langit masih ada langit. dan menurut gw, terbaik yang menurut gw terbaik adalah

terbaik dalam kurun waktu tertentu hingga dgn kriteria tertentu yg telah terpenuhi, kita memutuskan untuk berhenti mencari yang terbaik

karena nggak mungkin kita mencari sesuatu yg terbaik buat kita tanpa ada batas waktu.

lihat saja pencari kerja, banyak banget keinginannya. mulai dari gaji yang lebih tinggi dari kerjaan sebelumnya sampe berbagai macam tunjangan yang didapat. pindah kantor sana, masuk kantor sini. perjuangan tiada henti. sampe kapan mo jadi bajing luncat?

terbaik adalah membandingkan. nggak bisa kl nggak diliat dan dirasakan. makanya gak heran terus menerus jadi bajing luncat. tapi pernah nggak berpikir kalo pencarian terbaik adalah pencarian yang harusnya menghasilkan keseimbangan antara dua pihak. pencari kerja merasakan bahwa tempatnya bekerja sekarang adalah tempat yg terbaik buat masa depannya, dan perusahaan menilai bahwa pegawai inilah yang terbaik buat masa depan perusahaan. tapi sangat susah kan mencari titik keseimbangan ini?

gw pernah mbaca kisah pendek dalam sebuah buku yg lupa judulnya. kisah tentang seorang pria yg sedang mencari istri terbaik dalam hidupnya. setelah dia mencari-cari, dia menemukan apa yang dia cari.tapi dia disadarkan, bahwa dia bukanlah kriteria suami yang terbaik bagi wanita yg dia temukan.

jadi, kapan kita harus berhenti mencari yang terbaik untuk pendamping hidup?

~a tribute to soul that hasn't stop searching for the best yet~

...i'm not the best at all, it is me, me and my lackness of everything
once nothing, then something, then everything. but why back to nothing?...
when one have stop searching, why other still search for the best?

take it slow, cause we’re just ordinary people

lagi iseng ngidupin iTunes di PC gw. Playing something that tickling my ears.. ya, John Legend nyanyiin lagu yg satu-satunya gw tau :) "Ordinary People", ini potongan liriknya..


Girl im in love with you, this ain't the honeymoon past the infatuation phase
Right in the thick of love, at times we get sick of love, it seems like we argue everyday

I know i misbehaved and you made your mistakes, And we both still got room left to grow
And though love sometimes hurts, I still put you first, And we'll make this thing work
But I think we should take it slow

We're just ordinary people We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people Maybe we should take it slow
This time we'll take it slow

This ain't a movie no, no fairy tale conclusion ya'll, It gets more confusing everyday
Sometimes it's heaven sent, We head back to hell again,
We kiss and we make up on the way

I hang up you call, We rise and we fall, And we feel just like walking away
But as our love advances, We take second chances, Though it's not a fantasy
I Still want you to stay

We're just ordinary people,
We don't know which way to go
Cuz we're ordinary people
Take it slow

Maybe we'll live and learn
Maybe we'll crash and burn
Maybe you'll stay, maybe you'll leave, maybe you'll return
Maybe you'll never find
Maybe we won't survive
But maybe we'll grow
We never know baby
you and I

John Legend - Ordinary People (Get Lifted)


konsep video klipnya juga kerrrreeeen, tapi dalem. Cuma sesimple latar belakang putih, dan John Legend bermain piano di tengah ruang. Tapi di selingi 3 pasangan yang sedang bertengkar. Pasangan pertama kayanya couples in love but in the middle of quarrel, in the end, the man slaps--yeah,slaps--the lady :(

pasangan kedua kayanya suami istri yang tengah bertengkar dan si Ibu menggendong anaknya meninggalkan sang ayah. Kayanya sang Ayah sedang membanggakan jasanya terhadap keluarga, makanya dia mencoba merebut sang anak dari pelukan ibunya.

Sedangkan pasangan yang ketiga adalah keluarga yang mempertahankan pendapat mereka terhadap anaknya. Tampaknya kedua orang tua mencoba untuk menanamkan apa yang mereka inginkan ke anaknya. keinginan anak berbeda dengan keinginan orangtuanya, dan jiwa pemberontak anaknya muncul dan terjadi pertengkaran diantara mereka.

di 40 detik video terakhir (yah, sudah semestinya berakhir kan?) ketiganya menyadari semua kesalahan mereka dan berbaikan. Sang cowo memeluk cewenya, ayah dan ibu berpelukan sambil memeluk anaknya yang masih kecil. Dan pasangan yg ketiga menunjukkan sang anak diwisuda :') Simply happy ending, which is hard to achieved in real world :)

padahal gw udah ndenger lagu ini tepat setahun yang lalu.. dipenghujung Januari 2005. Sekarang aja baru terdengar bahwa memang gw hanya manusia biasa.. manusia yang bisa melakukan kesalahan.. yah, kesalahan :(

ah, mungkin sudah waktunya untuk "slow down the pace"... terlalu banyak hasrat yang menggebu, terlalu banyak keinginan, terlalu banyak target pencapaian.. i feel time is too short. So little time too much to do..

Cinta di bulan Februari

Cinta di bulan Februari? Halah, lumayan jijay judulnya. Mari kita dengarkan lagu ini dahulu.



Apakah kita semua benar-benar tulus menyembah pada-Nya

Atau mungkin kita hanya takut pada neraka dan inginkan surga

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau bersujud kepada-Nya

Jika surga dan neraka tak pernah ada

Masihkah kau menyebut nama-Nya

Bisakah kita semua benar-benar sujud sepenuh hati

Karena sungguh memang Dia

Memang pantas disembah, memang pantas dipuja



Yap, lagu tersebut adalah lagu ciptaan Ahmad Dhani dalam album "Senyawa" Chrisye. Sudah agak lama memang, tapi saya baru butuh sekarang. Hihihi, jgn tanya kenapa? Hmm, penasaran ya? Oke oke, saya akan jawab di akhir tulisan ini. Ga usah marah gitu donk.



Lirik lagu tersebut mempertanyakan untuk apa sebenarnya kita beribadah. Karena kita takut pada neraka atau inginkan surga. Atau karena kita sepenuhnya sadar bahwa Dia memang pantas disembah dan dipuja. Secara lebih luas, lirik tersebut mempertanyakan latar belakang kita melakukan sesuatu, karena ada ancaman, ada harapan atau karena kita memang melakukan secara tulus.



Secara ini bulan Februari *hihihi*, jadi sebenarnya apa itu cinta? Jangan bilang pacarnya Rangga, ingat "cinta" dengan huruf kecil, bukan "Cinta". Lagian kita serius tau! Murnikah cinta kamu? Apakah kamu menginginkan sesuatu dari orang yang kamu cintai? Atau karena terpaksa kamu mencintai orang itu? Atau karena kamu memang benar-benar mencintai orang itu dengan tulus dan apa adanya?



Dalamnya laut hanya ikan paus, ikan lumba-lumba, Nemo dan orang-orang yang niat mengukur yang tau. Dalamnya hati manusia, tidak ada yang tau kecuali dirinya sendiri. Apa makna cinta buat kamu, hanya kamu yang memahaminya. Jawablah sendiri makna cinta dan kemurnian cintamu. Atau bahkan tidak perlu ditanya karena memang tidak ada hati dan kemurnian disitu?



*Kunci jawaban, karena saya butuh buat nge-blog :p

Singapore: Kawinan dan Perjalanan Pulang (1 Januari 2006)

Serba Instan
Pagi ini aku dapat giliran gak makan pagi di New Park Cafe, jadi menu makan paginya adalah Soupy Snax dan kentang Risotto. Tipikal orang Indonesia... cinta makanan instan.

Mustafa Center
Selesai makan pagi, kita jalan-jalan ke Mustafa Center yang terletak tepat di belakang hotel. Yang namanya M
ustafa Center itu dari luar kelihatannya kecil, tapi di dalamnya bok... ternyata gede banget. Mereka buka 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun.


Jualannya macem-macem banget dengan harga yang relatif murah. Dari mulai perhiasan emas, elektronik, makanan, baju-baju, souvenir, obat-obatan, tas, alat-alat rumah tangga, bahkan ada sarung cap gajah duduk. Contohnya mug bergambar Merlion, di Lucky Plaza harganya S$8, sedangkan di Mustafa Center hanya S$4.50. Yang bikin ngiler, di sana banyak tersedia coklat berbagai merk dan rasa dengan harga bersaing. Yummy…

Setelah puas muter-muter dan kelaparan, akhirnya kita balik ke hotel untuk Check Out dan menitipkan barang di Concierge. Lobby hotel itu seperti tempat penimbunan koper. Kayaknya semua orang menitipkan barangnya di Concierge.

IMM, Jurong East
Setelah check out, kita langsung menuju IMM di Jurong East. Ternyata… lumayan juga harus jalan kaki agak jauh dari stasiun MRT ke mall-nya. IMM itu sejenis ITC Mangga Dua. Barangnya lebih murah-murah, di sana juga ada Giant. Tapi… rasanya sih variasi barang yang dijual sekarang gak sebanyak 5 tahun yang lalu. Dulu ada toko sepatu gede yang harganya oke, sekarang udah gak ada lagi.

Di sana kita makan siang di KFC. KFC di situ bergabung dengan Pizza Hut dan Taco Bell. Aku pesan Bean Buritto dan Spicy Flava (sejenis Hot n Crispy tapi ditambah dengan Sweet n Sour Sauce). Cukup unik juga.

Gak seperti dulu, kali ini di IMM ternyata gak ada yang menarik, selain Baby Eeyore Kecil dan Pineapple Pie-nya Old Chang Kee (sesuai rekomendasi Rama).

Clementi dan sekitarnya

Dari IMM, naik shuttle bus ke stasiun Jurong East lagi (wuah, paling enggak jadi gak perlu jalan kaki!), terus naik MRT ke stasiun Clementi. Di sana kita nunggu dijemput sama Rama.

Dari stasiun Clementi kita naik bis ke rumah Rama. Di sana ngemil dikit (Pie-nya Old Chang Kee), minum, ganti baju, dan dandan. Setelah itu diantar Rama lagi sampai ke halte bis, kemudian kita naik bis lagi ke rumah Iwan.
Bisnya double decker loh... (di Jakarta pun gak pernah naik bis tingkat...)

Kawinannya Iwan agak unik. Dilakukan dengan adat Jawa, dandanan mantennya, dekorasi pelaminannya, semuanya sesuai dengan adat Jawa, tapi makanannya Melayu (Spicy semua). Trus ada gamelannya (katanya sih dari perkumpulan orang Yogya yang tinggal di Singapore), sedangkan souvenirnya didatangkan langsung dari Malang, berupa ukiran kaligrafi.

Dah gitu, kawinan di Indonesia itu tamunya salaman dulu sama manten, setelah itu baru makan. Di sana begitu datang kita makan dulu, setelah itu baru salaman dan foto sama mantennya. Habis itu baru boleh pulang. Agak canggung juga, abis gak tauk kebiasaannya gimana. Mana perut sudah kita isi penuh pula di IMM... karena memang lapar sejak jam ½ 12 tadi, terus juga gak yakin bakalan cocok sama masakannya. Ternyata emang makanannya spicy semua kan...

S
ekitar jam 5, kita meninggalkan rumah Iwan. Begitu masuk ke bis kota, BRESS...!!! hujan lebat turun... oh dear... ini dia perjalanan panjang di tengah hujan... Sampai di stasiun MRT Clementi, kita langsung naik MRT menuju ke Douby Ghout. Duh... MRT-nya penuh banget... Dari Douby Ghout terus oper ke arah Ferrer Park. Wuah... pegel juga rasanya... hampir sepanjang perjalanan gak kebagian tempat duduk, hiy... mulai agak-agak sakit pinggang neh...

Untungnya ketika kita sampai di Ferrer Park, sudah tidak hujan lagi. Kita pun jalan ke hotel lagi. Kemudian ganti pakaian di toilet hotel. Setelah itu memutuskan untuk naik taksi ke Changi, sudah terlalu teler untuk naik MRT. Porter yang bantu kita ngangkat barang ke taksi sepertinya dari Indonesia. Bahasa Indonesianya bagus banget, tapi kita gak sempet mengkonfirmasi.

Perjalanan Pulang
Perjalanan ke Changi memakan waktu kira-kira ½ jam, di dalam taksi aku tidur, dan baru terbangun waktu masuk kompleks Changi. Wah... ternyata dari New Park Hotel sampai dengan Changi menghabiskan biaya S$13.60.

Waktu turun dari taksi, kita sempet dibuat takjub oleh kepedulian pak supir taksi. Ndoro membayarkan sebesar S$14.00, dengan harapan sisanya bakal diambil oleh pak supir, ternyata 40 sen pun dia kembalikan. Sebenarnya itu adalah hal simple, tapi menunjukkan betapa si pak supir ini menyadari pentingnya service excellence, pokoknya jangan sampai konsumen dirugikan sepeser pun. Dah gitu, waktu dia melihat kita mulai mengangkat sendiri koper-koper dari bagasi, dia langsung panik sendiri dan melarang kita untuk ngangkat sendiri, bahkan kemudian dia juga mengambilkan kereta dorong.

Tiba di Changi kira-kira jam ½ 7 malam. Ada sesuatu yang kurang... ternyata di pintu masuk airport tidak ada Xray seperti layaknya di airport-airport di Indonesia. Kemudian kita langsung check-in di counter Garuda. Nah... di sini... yang namanya kartu �Frequent Flyer� bener-bener ada artinya. Kalo punya GFF (Garuda Frequent Flyer) antreannya lebih sepi. Sedangkan kalo di Soekarno-Hatta, counter check-in khusus GFF justru lebih penuh dibandingkan yang biasa, saking banyaknya yang punya GFF.

Waktu yang harus dihabiskan lumayan panjang, karena pesawat kita, GA833, jadwal takeoff-nya jam 21.45. Akhirnya window shopping dulu, tapi lama-lama capek, dan jetlag. Jadi kita pun mencari tempat nongkrong yang menyediakan makanan ringan sesuai selera. Kita menemukan toko oleh-oleh khas Singapore, Singapore Premium Food Gifts, yang menyediakan menu roti Kaya dan minuman coklat, lengkap dengan tempat nongkrongnya. Lumayan lama juga nongkrong di situ.

Jam ½ 9 kita keluar dari kios itu... waktu melihat ke display Departure, tertulis bahwa GA8332 diundur menjadi 22.15, hmm.... delay ½ jam donk. Dan gate-nya dipindahkan jadi gate 31 (semula tertulis 35 di boarding pass). Karena gate 31 belum dibuka, kita nunggu di kursi-kursi yang ada di depan gate 31.

Jam 21.20 gate 31 baru dibuka. Kita sudah ngantre paling depan untuk checking barang, tapi... waktu aku memberikan boarding pass ke mbak-mbak petugas. Si mbak bilang bahwa kita salah masuk gate, penerbangan kita GA833, bukan GA8332. Seharusnya kita di gate 37. APA?! Jadi dari tadi kita salah sangka...!!! Kita pikir display Departure itu kelebihan ngetik angka 2, ternyata memang itu adalah penerbangan yang berbeda.

Begitu keluar dari gate 31, sambil berjalan ke arah gate 37 yang ternyata letaknya di ujung lain dari sayap itu, kita melihat ke display Departure lagi. Ternyata GA833 sudah terletak di urutan pertama dan statusnya sudah Gate Closing. WHHUUAAA!!!! Pesawat itu sama sekali gak di-delay...

LARI!!!! Maksudnya... aku menyuruh Ndulo dan Ndoro lari duluan, karena aku sudah terlalu ngantuk dan jetlag untuk lari-lari... sementara aku setengah lari sambil menggeret-geret koper yang kuncinya patah. Yaa... hari itu terpaksa membawa 1 koper ke dalam kabin, karena kuncinya patah dalam perjalanan Jakarta-Singapore.

Untungnya... di depan gate 37 para penumpang masih ngantre lumayan panjang. Wah gile... untung aja gak sampe ketinggalan pesawat. Kita emang gak teliti sih... tapi mereka juga error loh, di boarding pass kan ditulis gate 35, tapi ternyata sebenarnya di gate 37....hehehe....

Tapi... kok penumpangnya banyak banget ya? Kayaknya ruang tunggunya sudah penuh, tapi masih juga ada yang ngantre... Ternyata oh ternyata... setelah kita boarding, terjawab juga keherananku: pesawatnya Airbus bok... gak naik 737 seperti waktu berangkat.

Perjalanan gak terasa lama.
Menu makanan kali ini adalah ikan, tapi sudah gak selera makan, mungkin karena tadi sudah makan roti Kaya. Karena jetlag banget, aku minum sedikit anggur, maksudnya biar kalo bobok bisa nyenyak banget, tentu saja minumnya gak sampe mabok, meskipun jadi sedikit lebih berbahagia, cengar-cengir...

Mendarat di Jakarta, seperti biasa pada ke toilet dulu, terus ngantri di Imigrasi gak terlalu lama. Nah setelah itu.... nunggu koper. Entah gimana... koper ini luar biasa lama. Sudah kopernya gak kunjung keluar, sekalinya keluar juga jarang-jarang... padahal jumlah koper yang harus dikeluarkan kan banyak, namanya juga Airbus yang terisi penuh. Saking lamanya, aku sampe jongkok di pinggiran ban berjalan.

Setelah mendapatkan kembali kedua koper yang dimasukkan bagasi, kita pun keluar dari airport... oya, naik dulu ke lantai Keberangkatan....karena biasanya dijemput di sana. Wuah... karena liftnya keliatannya gak bisa diharapkan, ya sudah.... terpaksa angkat koper sambil naik tangga.

Perjalanan dari Airport ke rumah memakan waktu gak sampai ½ jam (biasanya minimal 1 jam, kalo lagi macet banget bisa 2-3 jam). Waaaahhh... Besok harus kembali lagi ke �dunia nyata� bersama dengan data-data SAP yang kucintai!!

Singapore: Kawinan dan Perjalanan Pulang (1 Januari 2006)

Serba Instan
Pagi ini aku dapat giliran gak makan pagi di New Park Cafe, jadi menu makan paginya adalah Soupy Snax dan kentang Risotto. Tipikal orang Indonesia... cinta makanan instan.

Mustafa Center
Selesai makan pagi, kita jalan-jalan ke Mustafa Center yang terletak tepat di belakang hotel. Yang namanya M
ustafa Center itu dari luar kelihatannya kecil, tapi di dalamnya bok... ternyata gede banget. Mereka buka 24 jam sehari, 365 hari dalam setahun.


Jualannya macem-macem banget dengan harga yang relatif murah. Dari mulai perhiasan emas, elektronik, makanan, baju-baju, souvenir, obat-obatan, tas, alat-alat rumah tangga, bahkan ada sarung cap gajah duduk. Contohnya mug bergambar Merlion, di Lucky Plaza harganya S$8, sedangkan di Mustafa Center hanya S$4.50. Yang bikin ngiler, di sana banyak tersedia coklat berbagai merk dan rasa dengan harga bersaing. Yummy…

Setelah puas muter-muter dan kelaparan, akhirnya kita balik ke hotel untuk Check Out dan menitipkan barang di Concierge. Lobby hotel itu seperti tempat penimbunan koper. Kayaknya semua orang menitipkan barangnya di Concierge.

IMM, Jurong East
Setelah check out, kita langsung menuju IMM di Jurong East. Ternyata… lumayan juga harus jalan kaki agak jauh dari stasiun MRT ke mall-nya. IMM itu sejenis ITC Mangga Dua. Barangnya lebih murah-murah, di sana juga ada Giant. Tapi… rasanya sih variasi barang yang dijual sekarang gak sebanyak 5 tahun yang lalu. Dulu ada toko sepatu gede yang harganya oke, sekarang udah gak ada lagi.

Di sana kita makan siang di KFC. KFC di situ bergabung dengan Pizza Hut dan Taco Bell. Aku pesan Bean Buritto dan Spicy Flava (sejenis Hot n Crispy tapi ditambah dengan Sweet n Sour Sauce). Cukup unik juga.

Gak seperti dulu, kali ini di IMM ternyata gak ada yang menarik, selain Baby Eeyore Kecil dan Pineapple Pie-nya Old Chang Kee (sesuai rekomendasi Rama).

Clementi dan sekitarnya

Dari IMM, naik shuttle bus ke stasiun Jurong East lagi (wuah, paling enggak jadi gak perlu jalan kaki!), terus naik MRT ke stasiun Clementi. Di sana kita nunggu dijemput sama Rama.

Dari stasiun Clementi kita naik bis ke rumah Rama. Di sana ngemil dikit (Pie-nya Old Chang Kee), minum, ganti baju, dan dandan. Setelah itu diantar Rama lagi sampai ke halte bis, kemudian kita naik bis lagi ke rumah Iwan.
Bisnya double decker loh... (di Jakarta pun gak pernah naik bis tingkat...)

Kawinannya Iwan agak unik. Dilakukan dengan adat Jawa, dandanan mantennya, dekorasi pelaminannya, semuanya sesuai dengan adat Jawa, tapi makanannya Melayu (Spicy semua). Trus ada gamelannya (katanya sih dari perkumpulan orang Yogya yang tinggal di Singapore), sedangkan souvenirnya didatangkan langsung dari Malang, berupa ukiran kaligrafi.

Dah gitu, kawinan di Indonesia itu tamunya salaman dulu sama manten, setelah itu baru makan. Di sana begitu datang kita makan dulu, setelah itu baru salaman dan foto sama mantennya. Habis itu baru boleh pulang. Agak canggung juga, abis gak tauk kebiasaannya gimana. Mana perut sudah kita isi penuh pula di IMM... karena memang lapar sejak jam ½ 12 tadi, terus juga gak yakin bakalan cocok sama masakannya. Ternyata emang makanannya spicy semua kan...

S
ekitar jam 5, kita meninggalkan rumah Iwan. Begitu masuk ke bis kota, BRESS...!!! hujan lebat turun... oh dear... ini dia perjalanan panjang di tengah hujan... Sampai di stasiun MRT Clementi, kita langsung naik MRT menuju ke Douby Ghout. Duh... MRT-nya penuh banget... Dari Douby Ghout terus oper ke arah Ferrer Park. Wuah... pegel juga rasanya... hampir sepanjang perjalanan gak kebagian tempat duduk, hiy... mulai agak-agak sakit pinggang neh...

Untungnya ketika kita sampai di Ferrer Park, sudah tidak hujan lagi. Kita pun jalan ke hotel lagi. Kemudian ganti pakaian di toilet hotel. Setelah itu memutuskan untuk naik taksi ke Changi, sudah terlalu teler untuk naik MRT. Porter yang bantu kita ngangkat barang ke taksi sepertinya dari Indonesia. Bahasa Indonesianya bagus banget, tapi kita gak sempet mengkonfirmasi.

Perjalanan Pulang
Perjalanan ke Changi memakan waktu kira-kira ½ jam, di dalam taksi aku tidur, dan baru terbangun waktu masuk kompleks Changi. Wah... ternyata dari New Park Hotel sampai dengan Changi menghabiskan biaya S$13.60.

Waktu turun dari taksi, kita sempet dibuat takjub oleh kepedulian pak supir taksi. Ndoro membayarkan sebesar S$14.00, dengan harapan sisanya bakal diambil oleh pak supir, ternyata 40 sen pun dia kembalikan. Sebenarnya itu adalah hal simple, tapi menunjukkan betapa si pak supir ini menyadari pentingnya service excellence, pokoknya jangan sampai konsumen dirugikan sepeser pun. Dah gitu, waktu dia melihat kita mulai mengangkat sendiri koper-koper dari bagasi, dia langsung panik sendiri dan melarang kita untuk ngangkat sendiri, bahkan kemudian dia juga mengambilkan kereta dorong.

Tiba di Changi kira-kira jam ½ 7 malam. Ada sesuatu yang kurang... ternyata di pintu masuk airport tidak ada Xray seperti layaknya di airport-airport di Indonesia. Kemudian kita langsung check-in di counter Garuda. Nah... di sini... yang namanya kartu ”Frequent Flyer” bener-bener ada artinya. Kalo punya GFF (Garuda Frequent Flyer) antreannya lebih sepi. Sedangkan kalo di Soekarno-Hatta, counter check-in khusus GFF justru lebih penuh dibandingkan yang biasa, saking banyaknya yang punya GFF.

Waktu yang harus dihabiskan lumayan panjang, karena pesawat kita, GA833, jadwal takeoff-nya jam 21.45. Akhirnya window shopping dulu, tapi lama-lama capek, dan jetlag. Jadi kita pun mencari tempat nongkrong yang menyediakan makanan ringan sesuai selera. Kita menemukan toko oleh-oleh khas Singapore, Singapore Premium Food Gifts, yang menyediakan menu roti Kaya dan minuman coklat, lengkap dengan tempat nongkrongnya. Lumayan lama juga nongkrong di situ.

Jam ½ 9 kita keluar dari kios itu... waktu melihat ke display Departure, tertulis bahwa GA8332 diundur menjadi 22.15, hmm.... delay ½ jam donk. Dan gate-nya dipindahkan jadi gate 31 (semula tertulis 35 di boarding pass). Karena gate 31 belum dibuka, kita nunggu di kursi-kursi yang ada di depan gate 31.

Jam 21.20 gate 31 baru dibuka. Kita sudah ngantre paling depan untuk checking barang, tapi... waktu aku memberikan boarding pass ke mbak-mbak petugas. Si mbak bilang bahwa kita salah masuk gate, penerbangan kita GA833, bukan GA8332. Seharusnya kita di gate 37. APA?! Jadi dari tadi kita salah sangka...!!! Kita pikir display Departure itu kelebihan ngetik angka 2, ternyata memang itu adalah penerbangan yang berbeda.

Begitu keluar dari gate 31, sambil berjalan ke arah gate 37 yang ternyata letaknya di ujung lain dari sayap itu, kita melihat ke display Departure lagi. Ternyata GA833 sudah terletak di urutan pertama dan statusnya sudah Gate Closing. WHHUUAAA!!!! Pesawat itu sama sekali gak di-delay...

LARI!!!! Maksudnya... aku menyuruh Ndulo dan Ndoro lari duluan, karena aku sudah terlalu ngantuk dan jetlag untuk lari-lari... sementara aku setengah lari sambil menggeret-geret koper yang kuncinya patah. Yaa... hari itu terpaksa membawa 1 koper ke dalam kabin, karena kuncinya patah dalam perjalanan Jakarta-Singapore.

Untungnya... di depan gate 37 para penumpang masih ngantre lumayan panjang. Wah gile... untung aja gak sampe ketinggalan pesawat. Kita emang gak teliti sih... tapi mereka juga error loh, di boarding pass kan ditulis gate 35, tapi ternyata sebenarnya di gate 37....hehehe....

Tapi... kok penumpangnya banyak banget ya? Kayaknya ruang tunggunya sudah penuh, tapi masih juga ada yang ngantre... Ternyata oh ternyata... setelah kita boarding, terjawab juga keherananku: pesawatnya Airbus bok... gak naik 737 seperti waktu berangkat.

Perjalanan gak terasa lama.
Menu makanan kali ini adalah ikan, tapi sudah gak selera makan, mungkin karena tadi sudah makan roti Kaya. Karena jetlag banget, aku minum sedikit anggur, maksudnya biar kalo bobok bisa nyenyak banget, tentu saja minumnya gak sampe mabok, meskipun jadi sedikit lebih berbahagia, cengar-cengir...

Mendarat di Jakarta, seperti biasa pada ke toilet dulu, terus ngantri di Imigrasi gak terlalu lama. Nah setelah itu.... nunggu koper. Entah gimana... koper ini luar biasa lama. Sudah kopernya gak kunjung keluar, sekalinya keluar juga jarang-jarang... padahal jumlah koper yang harus dikeluarkan kan banyak, namanya juga Airbus yang terisi penuh. Saking lamanya, aku sampe jongkok di pinggiran ban berjalan.

Setelah mendapatkan kembali kedua koper yang dimasukkan bagasi, kita pun keluar dari airport... oya, naik dulu ke lantai Keberangkatan....karena biasanya dijemput di sana. Wuah... karena liftnya keliatannya gak bisa diharapkan, ya sudah.... terpaksa angkat koper sambil naik tangga.

Perjalanan dari Airport ke rumah memakan waktu gak sampai ½ jam (biasanya minimal 1 jam, kalo lagi macet banget bisa 2-3 jam). Waaaahhh... Besok harus kembali lagi ke ”dunia nyata” bersama dengan data-data SAP yang kucintai!!

never make someone you’re everything…

... cause when (s)he's gone, you've got nothing.


kalimat itu hasil dari keisengan gw menjelajahi blog orang laen. bener juga sih kalimat itu. Karena everything berarti semua, dan ketika semuanya hilang berarti hampa...

Kalo kata musik yang rada-rada jadul, Santa Esmeralda bilang You're My Everything. mungkin pas dia mengarang lagu ini, belum membaca blog yg di atas kali ya :)

ini bukan masalah lagu jadul atau bukan, tapi ini masalah konsistensi. ketika sedang "mabuk", kita bisa saja bilang semua yang indah-indah. tapi kenyataannya selalu ada antidot buat racun cinta itu. ketidakkonsistensian selalu muncul dikala racun cinta menyelimuti alam bawah sadar. terucap janji untuk selalu terus bersamanya, tapi pada kenyataannya? janji itu gak bisa ditepati dengan mudah. selalu berarti frekwensi waktu yang terus menerus. apakah kalo udah nggak diracun cinta lagi janji itu masih berlaku?

[cuma ingin mengisi ruang dan waktu sambil menanti menit-menit istirahat siang :)]

ah... racun itu masih menjalar di alam bawah sadarku...

difference between knowing the path and walking the path

kalimat itu sih bukan kalimat gw. itu kalimatnya si Morpheous di film Matrix. tapi di sini gw nggak bakal ngebahas film yg mbuat gw pusing dan baru ngerti setelah beberapa tahun gw menonton dvdnya :)

sering kali gw terwacanakan tentang sesuatu, baik dari buku-buku, majalah, koran, tabloid, ato bahkan nasihat-nasihat. sering banget gw ngeliat temen gw yang biasanya ceria, tapi pada suatu hari kok seperti dirundung mendung...

terkadang kesamaan nasib dan pengalaman dapat membuat kita menjadi merasakan kesamaan tersebut lebih dalam. berbagi apa yang telah gw alami, dan meneruskan apa yg telah gw denger. sering banget gw sendiri tersentak dan tersadarkan ketika gw menunjukkan jalan untuk temen-temen gw. gw baru sadar kalo gw sebenernya tahu jalan itu, tapi kenapa sulit banget untuk melaluinya.
sulit sekali menjalani kesedihan yang mendalam, tapi mudah sekali menunjukkan jalan untuk melewati kepedihan dan kesedihan. makanya, terkadang ketika gw lagi dirundung sedih gak jarang melihat lebih jauh. melewati dengan tertatih-tatih, dan nggak bergerak jauh dari awal kesedihan itu. meski gw udah tau dimana jalan menuju keluar dari kesedihan ini...
[kali ini gw terdistracted dari niatan awal gw untuk belajar footprinting :( it's okay, tomorrow still got little time]

happy islamic new year!

wah, udah tahun baru lagi ya.. hmm.. tahun kemarin apa aja amalan yg udah kulakukan, trus minus larangan yg (gak) sengaja kulakukan..

ah, tahun ini, pingin lebih baik dari tahun kemarin ah (cliche gak ya?) pinginnya sih tahun ini malah udah bisa memenuhi sunnah Rasulullah, sama seperti sepupu ku yang udah merit tanggal 29 Januari 2006 kemarin.. tapi apalah daya, blom ada yang mau menerima kenyataan pahit untuk hidup bersamaku :P hehehehe...

anyway,


selamat tahun baru islam
1 muharram 1427 hijriah


langkah konkritnya apaan ya? hmmm... mindahin harta produktif ke jenis simpanan yang bebas riba kali ya? baru itu yg bisa gw lakukan :) hijrahnya dikit-dikit dulu..

oiya, tahun baru islam kemarin kayanya yg paling meriah yg pernah gw tau. di depan masjid agung palembang, di malam tahun baru ada perayaan lampion yang bertuliskan Allah, SWT dan Muhammad SAW. Trus juga gak kalah menariknya fireworks, berlatarkan jembatan ampera--jembatan kebanggaan wong palembang..

nice celebration, i think..