Di forum theonering.net lagi ramai memperingati 15 tahun The Fellowship of The Ring. Jadi 15 tahun yang lalu, film The Lord of The Rings yang pertama mulai tayang di bioskop di seluruh dunia. Di Indonesia, kayaknya baru di awal 2002 filmnya tayang sih.
Aku ingat nonton bareng dengan beberapa orang teman. Kalau gak salah ada Rama, Mamih, mungkin Kiki. Kesimpulannya pada saat itu? Aku gak ngerti jalan ceritanya! Huahahahaha.... Ngapain orang-orang itu pada berlari-larian naik turun gunung-keluar masuk hutan-nyebrang kali demi sebuah cincin?! Makanya terus gak nonton yang The Two Towers sama The Return of The King.
15 tahun yang lalu gak kepikiran deh, bahwa ternyata film itu memang belum waktunya untuk aku pahami. Butuh waktu 12 tahun (kurang dikit sih) untuk akhirnya ngerti jalan cerita Lord of The Rings. Yang novel dan yang film.
Yang pasti sekarang aku kudu berterima kasih sama Tolkien (dan juga Peter Jackson) untuk menciptakan dunia imajinasi Middle-Earth (dan juga untuk visualisasinya yang membuat novelnya jadi lebih mudah dimengerti). Dunia imajiner itu telah membuat aku dan si Om bisa berbagi imajinasi yang sama dan punya satu hal khusus untuk dinikmati bersama. Hasil karya visualisasinya pun telah memberikan pengalaman dan petualangan yang gak akan kami lupakan. Naik turun gunung-keluar masuk hutan dan nyebrang kali....
- Roads go ever ever on,
- Over rock and under tree,
- By caves where never sun has shone,
- By streams that never find the sea;
- Over snow by winter sown,
- And through the merry flowers of June,
- Over grass and over stone,
- And under mountains in the moon.
 |
| Terima kasih untuk Middle-Earth! |