Ke kampung halaman

Menurut KBBI kampung halaman adalah daerah atau desa tempat kelahiran;. Dengan definisi itu, karena sudah ke Jakarta berarti kami sudah ke kampung halaman Risna. Berikutnya kami menuju kampung halaman saya, di Sukoharjo. Perjalanan dilakukan dengan mobil Fortuner yang dikendarai adik saya (Yosi), dan kami pergi bersama keluarga Yosi plus opungnya Jonathan. Kami berangkat tanggal 27 … Continue reading "Ke kampung halaman"

Monumen Pancasila Sakti

Posting ini singkat saja karena dua hal: pertama kami tidak merencanakan pergi ke tempat ini, dan kedua: tempat ini masih kurang cocok untuk usia Jonathan/Joshua. Sulit menjelaskan kekejaman manusia terhadap sesama karena perbedaan ideologi. Kami pergi ke Monumen Pancasila Sakti karena dua hal: kami belum pernah ke sini (atau mungkin pernah waktu masih kecil, sudah … Continue reading "Monumen Pancasila Sakti"

Jakarta dan Monas

Hari Sabtu, tanggal 25 Juni 2016 kami memutuskan untuk pergi keliling Jakarta plus ke monumen nasional alias monas. Sebelum ke monas, kami naik bus keliling jakarta (TransJakarta) yang gratis. Jonathan suka sekali Busnya cukup sepi di hari Sabtu, mungkin karena bulan puasa. Kami bisa leluasa memilih tempat duduk. Sebagai bagian dari berbagi rejeki, kami menggunakan … Continue reading "Jakarta dan Monas"

Parahnya Internet mobile di Indonesia

Setelah lebih dari seminggu di Indonesia dalam rangka liburan, sekarang saya mulai mengerti berbagai komplain terhadap internet di sini. Karena saya hanya memakai koneksi mobile, maka di judul ini saya sebutkan “mobile”, koneksi yang lain mungkin lebih baik (tapi mungkin juga tidak). Yang sudah saya ketahui dan alami dari dulu adalah blokir DNS. Berbagai situs … Continue reading "Parahnya Internet mobile di Indonesia"

HP Lama untuk IOT

Setelah membaca blognya pak Budi Raharjo yang mempertanyakan apakah HP lama bisa untuk IOT (Internet Of Things), saya ingin berkomentar , tapi karena panjang jadi saya tulis saja jadi posting blog tersendiri. HP sudah ada cukup lama, saya memakainya sejak 1999, dan sekarang sudah ada banyak generasi HP. Generasi awal biasanya bisa dimanfaatkan sebagai modem … Continue reading "HP Lama untuk IOT"

Facebook Instant Articles dan Google Accelerated Mobile Pages

Akhir-akhir ini ketika membuka Facebook app mobile, semakin banyak berita atau artikel yang bisa dibaca secara instan. Ketika kita men-tap linknya, artikel langsung muncul instan di dalam aplikasi Facebook (bukan di browser). Artikel semacam ini memiliki versi Instant Articles yang disimpan oleh Facebook, dan ada simbol petir di kanan atas link untuk menunjukkan hal tersebut. Tujuan … Continue reading "Facebook Instant Articles dan Google Accelerated Mobile Pages"

Catatan Apps: Android

Sejak jaman dulu saya suka memakai HP yang bisa diinstall aplikasi. Saya dulu bahkan membeli SL45i, HP pertama dengan J2ME.  Sejak jaman dulu sudah ada banyak aplikasi saya coba baik itu di J2ME, Symbian, Blakcberry, iOS, Windows Mobile maupun Android. Tidak seperti aplikasi PC yang mudah sekali untuk kembali bernostalgia  dengan DOSBox, VirtualBox dan aplikasi sejenis lainnya, … Continue reading "Catatan Apps: Android"

Hubungan Benci Tapi Rindu Dengan Senen-Lb.Bulus

Tadi pagi, waktu lagi duduk nyaman dan adem di atas bus feeder transjakarta jurusan Lb. Bulus-Senen dalam perjalanan 20 menit dari Kuningan ke Istiqlal, aku jadi feeling nostalgic

Bisa duduk (ataupun berdiri) dengan tenang, nyaman, dan adem di bus itu sebenernya menggambarkan kemajuan ke arah yg lebih baik dalam urusan public transport Indonesia, khususnya Jakarta. Sekarang ini lalu lintas Jakarta makin menjijikkan karena kapasitas jalan gak semakin bertambah, tapi jumlah kendaraannya bertumbuh terus. Mending kalo pengguna jalan mau diatur, nah ini kebanyakan sih gak tau aturan, gak mau tau, atau pura-pura gak tau (bedanya tipis deh), Jadi lah perjalanan naik mobil sekarang umumnya aku pake misuh-misuh. Tapi untunglah, kalo naik public transport jadi sedikit berkurang misuh-misuh-nya. Hubunganku dengan si bus Lb.Bulus-Senen ini cukup menggambarkan hal itu. 

Jadi ceritanya si Lb.Bulus-Senen ini udah beberapa kali beralih rupa. Aku sendiri berkenalan dengan bus itu sejak SMP, bisa dibilang sejak pertama kali bisa naik bus sendiri. Dulu bentuknya bus Kopaja yang warna putih-ijo tanpa AC itu, trayeknya disebut P20. Aku biasa naik bus itu seminggu sekali pp dari rumah ke kolam renang Lebak Bulus. Jaman dulu sih sepenuh-penuhnya bus Kopaja, rasanya masih bearable. Palingan bete kalo mau turun di halte Madrasah aja. Susah menembus kerumunan penumpang yang berdiri. Itu waktu kelas 1 SMP. 

Ketemu lagi dengan bus itu waktu kelas 3 SMP, waktu itu lokasi sekolahnya di pinggir jalan TB Simatupang, beda dengan kelas 1 dan 2 yang di dekat Pondok Pengayom Satwa, jadi dilewati oleh bus itu. Waktu naik kelas 3 sih senang: "Hore! Sekarang bisa langsung naik P20 itu, sekali aja sampe di halte Madrasah. Gak harus tuker bus di pertigaan Mangga Besar." Itulah harapannya. Kenyataannya? Ternyata P20 itu jarang-jarang lewat! Giliran lewat di depan sekolah, biasanya penuh. Ujung-ujungnya naik bus 2 kali juga deh. 

SMU dan Kuliah gak ketemu sama bus itu. Waktu awal-awal kerja cuman sekali-sekali aja naik bus itu, Nah, akhirnya kembali berhubungan erat dengan bus itu waktu aku kembali kerja di Jakarta, setelah pindah dari Sorong. Ini dia nih.... 

Waktu itu ternyata P20 punya versi upgraded, yaitu P20 AC. Bus dengan trayek yang sama, tapi pake AC dan lewat jalur busway. Pas pertama nyoba untuk pulang dari kantor ke Buncit, lumayan juga. Agak-agak pegel karena berdiri dan penuuuhh pisan, tapi 1 jam aja udah sampe.

Nah lama-lama jadi makin nyebelin aja si P20 AC ini, apalagi kalo udah ketemu temannya sesama P20 AC: kebut-kebutan jreng! Kadang-kadang sampe mengorbankan penumpang. Jadi kapan itu si P20 AC mencoba menyusul kawannya dengan cara keluar dari jalur busway di Kuningan. Hasilnya 1 halte busway jadi terlewat. Padahal ada penumpang mau turun di halte itu. Pas penumpangnya protes, malah dimarahin sama kernetnya. Bikin pengen nabok aja kan?

Selain P20 AC, P20 versi original juga masih ada. Aku biasa naik P20 original ini kalo berangkat kantor, setelah pindah rumah ke Ps Minggu. Biasanya aku ikut Omla sampai ke depan Depkes Kuningan, kalau waktunya masih panjang aku akan naik P20 original ini sampai kantor. Lumayan lah. Kalau naik taksi 40rebu, naik P20 cuma abis 4000.

P20 original gak banyak kebut-kebutan (berdasarkan pengalamanku lho ya). Tapi... dia menyebalkan ketika sampai di stasiun Gondangdia. Umumnya mereka akan mengoper penumpang ke bus di depannya karena pengen ngetem untuk menampung penumpang yang turun KRL. Huuuhh.... yang ada lari-lari di gang senggol Gondangdia yang penuh banget itu deh.... Udah gitu bus tujuan pengoperan itu umumnya penuh dengan orang-orang turun KRL, jadi pasti fully loaded (pake banget).

Naik bus Kopaja versi original ataupun yang AC itu banyak pengen ngomel, karena:
1) Sekali-sekali ada tukang ngamen ataupun minta sumbangan, ada yang setengah malak.
2) Suka musuhan sama temannya, jadinya kebut-kebutan deh.
3) Kalo lagi baikan sama temannya, mereka suka saling mengoper penumpang. Kadang-kadang dengan skema yang merugikan penumpang => duit yang dibalikin cuma 1/2 full fare, terus di bus berikutnya ditagihin full fare.
4) Berhenti di sembarang tempat, saking seringnya berhenti akhirnya gak nyampe-nyampe.
5) Selain sembarang titik, berhentinya juga sering di jalur kanan, jadi penumpang yang turun mesti bersaing sama sepeda motor dan mobil yang lewat di sebelah kirinya si bus.
6) pokoknya penumpang itu gak dianggap sebagai konsumen deh! (dimana konsumen adalah raja).

Alkisah di pertengahan bulan Januari 2016, si P20 AC tiba-tiba menghilang selama beberapa minggu. Gak lama kemudian muncul trayek TransJakarta Lb.Bulus-Senen dengan bus-bus mini P20 AC yang sudah dicat ulang dan diatur ulang interiornya. Sistem penggajian krunya tidak menggunakan sistem setoran, melainkan menggunakan sistem yang sama dengan bus-bus TransJakarta lainnya. Supirnya sebagian ada yang eks supir P20 AC yang sudah diseleksi.

Naik bus TransJakarta baru itu ternyata menyenangkan, meskipun dalam keadaan penuh. Karena kernetnya sopan, helpful, dan punya otoritas untuk menegur kalo ada penumpang rese yang meresahkan penumpang lain. Terus supirnya gak ngebut kayak dikejar setan. Plus gak ada pengamen ataupun yang tiba-tiba minta sumbangan. Plus gak berhenti di sembarang tempat pula, jadi relatif lebih cepat sampai ke tujuan.

Saking senengnya naik bus baru itu, sampe-sampe waktu berangkat ke kantor naik taksi, kejadiannya seperti ini: awalnya berencana naik taksi ke kantor Omla, ngedrop Omla, terus lanjut ke kantor pake taksi yang sama. Di tengah jalan ngeliat banyak bus TransJakarta Lb.Bulus-Senen, akhirnya minta diturunin di halte Depkes sama supir taksinya, dan buru-buru lari ke halte biar kebagian bus TransJakarta arah Senen itu.

Yah begitu lah.... rasanya terharu juga, ternyata bisa juga aku seneng naik bus di Jakarta. Semoga perbaikan seperti ini gak hanya terjadi di sarana transportasi umum, tapi juga terjadi di bidang-bidang lainnya dan di seluruh Indonesia juga. Biar makin betah (dan bangga) jadi warga Indonesia!

Pi Zero, Roseapple Pi, Orange Pi PC, dan Raspberry PI 3

Akhir-akhir ini selain Raspberry Pi 1 & 2 yang sudah saya miliki (plus Beaglebone XM yang sudah saya punya dari dulu), saya menambah beberapa Single Board Computer (SBC) lagi. Pi Zero Benda pertama adalah Raspberry Pi Zero. Semestinya ini adalah SBC termurah (5 USD saja), tapi sampai saat ini setiap kali ada stock langsung habis. … Continue reading "Pi Zero, Roseapple Pi, Orange Pi PC, dan Raspberry PI 3"