Siapa suruh datang Jakarta
Siapa suruh datang Jakarta
sendiri susah sendiri rasa
edo’e…. sayang….(Koes Plus - Siapa Suruh Datang Jakarta)
Selasa malam (22/7), kira-kira pukul 21.10 pesawat Mandala jurusan MES-CGK akhirnya mendarat mulus di landasan pacu Bandara Sukarno-Hatta, Jakarta. Muncul sedikit rasa gentar saat menginjakkan kaki kembali di Jakarta yang sudah ditinggalkan sejak beberapa tahun lalu. Berita-berita kriminal yang acap kali muncul dalam siaran berita televisi seakan-akan mengingatkan bahwa betapa kerasnya hidup di ibukota ini. Pukul 21.30, saya keluar dari terminal kedatangan dan segera bergegas ke tempat pemberhentian bus damri yang akan membawa saya keluar dari bandara ini. Namun sialnya, bus damri jurusan Blok M baru saja lewat dari sana. Alhasil terpaksa saya menunggu dengan harap-harap cemas apakah masih ada bus dengan jurusan yang sama beroperasi meski waktu sudah menunjukkan pukul hampir 10 malam sementara tempat yang dituju masih jauh. Seorang bapak dengan pakaian dinas perhubungan dan memegang sebuah handie-talkie, mengatakan bahwa bus dengan jurusan tersebut masih ada.
Setengah jam berlalu, bus yang ditunggu tak kunjung datang. Akhirnya dengan mengingat kembali ruas-ruas jalan di Jakarta, saya memilih naik jurusan Pasar Minggu karena sang kenek mengatakan bahwa bus tersebut akan melewati tugu Pancoran. Aha…kalau begitu, berarti bus ini akan lewat jalan Gatot Subroto, dan saya bisa turun di perempatan Kuningan dan melanjutkan perjalanan yang tinggal sedikit lagi ke Mal Ambasador, Casablanca. Namun saya salah perhitungan sedikit, karena sepanjang jalan bus tersebut masuk tol dan baru keluar di Pancoran. Tak apalah, saya pikir, karena dari Pancoran ke Ambasador tidak terlalu jauh lagi.
Di Ambasador, saya mestinya bertemu dengan seorang teman dan menginap di tempatnya. Saya sudah wanti-wanti ke dia, bahwa saya sudah di Jakarta dan sedang on the way ke sana. Lagi-lagi nasib sial, tak sekalipun telpon saya ke handphone-nya diangkat - dia ketiduran. Ah…..terpaksa saya mengubah rencana dan menginap di rumah tulang (red - paman, saudara perempuan dari ibu) di kawasan UKI, Cawang. Sebenarnya saya tidak terlalu suka tinggal di sana, bukan karena ada masalah dengan keluarga tulang, namun lokasinya menurut saya cukup jauh dari kota (kawasan sudirman, kuningan dkk). Belum lagi jalur itu (depan UKI, MT Haryono, Gatot Subroto, dkk) sangat macet pagi dan sore membuat saya mesti pulang cepat agar tidak kemalaman tiba di rumah.
Saya tiba di depan rumah pukul 11.30 malam, semua orang sudah tidur. Akhirnya dengan mata yang masih ngantuk, pagar dibuka langsung oleh tulang. Basa-basi sebentar, akhirnya tulang kembali masuk kamar dan saya naik ke lantai dua. Kalau saya kebetulan ke Jakarta dan menginap di sana, saya biasanya tidur di kamar anak lelakinya di lantai dua. Berharap segera mendapat tempat tidur yang empuk, saya mencoba membuka pintu kamar. Dua kali saya coba namun tidak pernah terbuka. Ah….kesialan ketiga yang terjadi beruntun dalam waktu tiga jam. Akhirnya saya pun mencoba tidur di kursi panjang yang ada di sana. Huhh…bukannya tidur nyenyak, malah jadi sasaran gigitan nyamuk. Sudah capek, becek, gak ada ojek - eh, gak bisa tidur maksudnya. Alhasil malam itu saya cuma bisa tidur selama dua jam plus badan merah-merah bekas garukan. Tapi untunglah, dua jam itu cukup efektif untuk beraktivitas sepanjang hari berikutnya.
Piuffhhhhh…..ini jakarta bung! Siapa suruh datang Jakarta….



