Middle Earth Trip: Day 9


Pagi ini dimulai dengan sarapan di dapurnya Nomads, menunya pie diskonan yang aku beli di Queenstown, sedikit biskuit table water yang beli di Franz Josef, dan teh hangat. Ternyata pie sapi lada hitam yg diskonan itu enak. Sayangnya cuma beli 1 (meskipun ukurannya XL) jadi mesti makan berdua.

Selesai makan dan menyelesaikan urusan setoran pagi, kami check out dengan menyerahkan kunci dan sarung bantal di resepsionis. Jam 08.30 kami geret-geret koper ke kantornya Apex Rental yang kata Google Maps hanya 600 meter dari Nomads.

Ternyata kantornya mudah ditemukan. Waktu kami masuk ke lapangan parkir depan yang mungil, aku mencoba cari mobil Yaris. Ada, tapi warna pink gonjreng. Eh masa' sih mobil pesenan kami yang pinky itu?

Aku segera masuk ke kantornya. Kami orang terakhir yang ambil pesanan mobil pagi itu. Hehe, emang dah telat 1 jam dari rencana semula sih.

Aku segera menyelesaikan urusan administrasi. Karena kami ambil full coverage insurance jadi gak pakai acara inspeksi body mobil. Ternyata emang mobil pesanan kami yang warna pink gonjreng tadi. Derajat kegonjrengannya mengingatkan aku sama ijo gonjreng bolu Majestyk aka Mama Dino.

Selesai urusan admin dan penjelasan tentang prosedur keadaan darurat (misal mesti ganti ban karena mobilnya gak dilengkapi ban serep untuk menghemat space), kami segera menuju ke mobil. Ngecheck mesin sebentar, terus berusaha memasukkan 2 koper kami ke bagasi. Ternyata dengan ukuran koper yang gak terlalu besar pun perlu trik khusus biar bisa muat. Ini dia alasannya kenapa aku gak memilih mobil hatchback buat sehari-hari.

State Highway 1
Setelah manasin mobil dan install GPS di dashboard, sedikit membiasakan diri dengan GPS, kami bergerak menuju State Highway 1.

Hari ini kami menyusuri SH1 dari Wellington sampai Taupo kemudian pindah ke SH5 (Thermal Explorer Highway) sampai ke Rotorua.

Di North Island masih Autumn
Berbeda dengan di South Island yang dapat Winter lebih cepat, cuaca di North Island masih benar-benar Autumn. Beberapa jenis pohon sudah menguning daunnya meskipun ada juga yang masih hijau (mungkin itu emang spesies yang gak pake menguning tapi tau-tau rontok aja).

Sebagian besar SH1 terdiri dari 2 jalur seperti ini
Waktu baru masuk SH1 di Wellington, jalannya seperti jalan tol di Indonesia, terdiri dari 6-8 jalur. Tapi itu hanya sekian puluh km pertama. Setelah itu jadi 2 jalur saja, hanya di beberapa titik saja jadi 3-4 jalur yang emang disediakan untuk menyusul/take over.

Di Otaki kami berhenti di Supermarket New World. Tadinya berharap ada toilet di supermarket, ternyata enggak ada. Kami beli cemilan anti ngantuk berupa dark chocolate Whittaker rasa mint, kacang mete, dan buah anggur.

Tempat khusus buat anjing
Setelah kecewa gak nemu toilet, kami jalan lagi dan baru berhenti di sebuah taman di Levin untuk ke toilet plus meluruskan kaki. Toilet di taman yg sepi gitu aja bersih dan ada air hangatnya. Yang menarik dari taman tersebut: adanya larangan untuk membawa anjing masuk ke taman. Ketika aku pikir: wah kesian banget anjingnya, aku melihat tulisan lain: tempat bermain KHUSUS buat anjing!

Ini mobil pinky-nya!
Setelah foto dengan mobil sewaan pinky, kami melanjutkan perjalanan. Di Bulls kami berbelok ke kanan menuju jalan yg lewat Tongariro National Park dan Lake Taupo.

Rest Area dekat Mahokine Viaduct
Pemberhentian selanjutnya adalah di dekat Makohine Viaduct untuk meluruskan kaki dan ngemil. Sayangnya tidak seperti tempat istirahat di tol Indonesia, ga ada WC di situ. Kalau mau yang ada toiletnya harus singgah di taman atau bumi perkemahan.

Selain padang rumput, ketemu pemandangan bebatuan seperti ini juga
Di etape Wellington-Taupo ini, yang paling memorable adalah waktu menjelang Desert Road. Suasananya berubah jadi Mordor banget. Mungkin karena jenis tanaman dan ciri geologisnya. Kebetulan pas lagi mendung juga. Jadi sesuai dengan cuaca yang ada di film: suram. Aku langsung nyari tanda jalan untuk mengkonfirmasi posisi kami. Gak lama kami melewati papan nama Desert Road, disusul dengan papan nama Tongariro National Park dan tanda daerah milik militer. Persis seperti info yang aku dapat dari DVD. Ternyata emang beneran lagi melintas di Mordor! Sayangnya karena mendung gunung Ngauruhoe (aka Mt.Doom) tertutup awan, jadi gak terlihat.

Menjelang Desert Road
Desert Road kata GPS
Setelah melewati Mordor kami mulai bingung mau maksi dimana. Sempet berhenti sebentar di taman di Turangi untuk istirahat lagi. Mikir2 mau makan di cafe dekat situ, tapi akhirnya memutuskan untuk lanjut ke Taupo. Kami belum lapar banget, karena sepanjang jalan ngunyah terus. Kalo gak cokelat Whittaker, anggur, atau water table biscuit.

Suasana Kemordoran
Kurang lebih jam 3 sore kami sampai di Taupo. Kalau gak mau mampir makan, sebenarnya gak perlu masuk kota. Menjelang kota Taupo, masih belum menentukan mau makan apa. Omla cuman bolak-balik bilang pengen makan ayam.

KFC!!
Untungnya yang pertama kami jumpai di dalam kota adalah deretan resto franchise di pinggir danau. Dari kejauhan terlihat mukanya Colonel Sanders memanggil-manggil. Jadi jelas kan mau makan siang dimana?

Pas masuk ke parkiran, pas banyak yg kosong. Kayaknya emang Colonel Sanders udah menyiapkan kedatangan kami. Ahahahaha. Tentu saja sepi. Namanya jg NZ, udah lewat jam maksi pula.

Omla pesan paket hemat yg isi 2 ayam + 1 fries + 1 mashed potato + 1 roti + minum. Sedangkan aku, karena udah tauk menu karbohidrat di pahenya Omla sangat berlimpah, cuma pesan paket isi sayap ayam dan minum. Karbohidratnya ngambil mashed potato pahe pesenannya Omla. Begitu duduk kami langsung foto2 dengan muka sumringah. Sumringah karena nemu KFC...

Danau Taupo
Selesai makan, foto2 sebentar dengan background danau Taupo dan mobil pink, kemudian melanjutkan perjalanan ke Rotorua. GPS mengarahkan kami ke SH5 alias Thermal Explorer Highway. Kalau kata GPS sih perkiraan dalam 1 jam bisa tiba di Rotorua.

Autumn Color
Kenapa namanya Thermal Explorer? Sepertinya sih karena di sepanjang jalan banyak terlihat kepulan asap sumber panas bumi yang gak jauh dari jalan raya.

Kami tiba di Rotorua jam 5, ketika matahari mulai terbenam. Gak susah untuk menemukan hotel Ibis yang ternyata 1 halaman dengan Novotel.

Tiba di Rotorua pas Maghrib
Kami mencari parkir di basementnya Ibis, tapi udah nemu. Di parkiran luar yang nempel sama gedung hotel juga udah penuh. Akhirnya parkir di luar yang agak jauh, masih di halaman belakangnya Ibis juga sih. Tepatnya di belakang restoran Pizza Hut. Sayangnya kami masih kenyang habis makan KFC.

Setelah check in dan masuk kamar, Omla langsung tidur. Sementara itu aku keluar lagi untuk melihat kondisi sekitar. Siapa tahu ada toko souvenir.

Aku jalan keliling sendiri dari Ibis, lewat depan Novotel, terus masuk ke kompleks restoran dan bar di dekat situ. Malam itu lagi ada acara, ada panggung di tengah kompleks itu. Mungkin karena itu malam Sabtu ya.

Aku hanya jalan sampai ke ujung kompleks restoran, terus balik arah untuk kembali ke hotel. Malam itu sebenernya udaranya gak terlalu dingin kalau dibanding South Island. Tapi berhubung aku hanya pakai jaket 1 lapis jadi lumayan kedinginan juga.

Sampai kembali di hotel, aku mandi dan kemudian tidurrr...

Middle Earth Trip: Day 8

Pagi ini kami berangkat jam 5 dari hotel. Sarapan seadanya saja dengan sedikit biskuit dan minum teh/cokelat. Niatnya sih mau jalan kaki ke airport. Tapi berhubung ada tamu hotel lain yang mau ke airport dengan naik shuttle complimentary dari hotel, ya sudah yuk mari naik shuttle.

Sampai di airport kami melakukan printing boarding pass, kemudian menyetor koper ke bagasi. Lagi-lagi bisa dapat antrian yang cepat karena sudah online check-in. Setelah proses check-in, kami masuk ke lantai keberangkatan. Omla menghilang untuk setoran pagi dulu. Sementara Omla ke toilet, aku malah belanja boneka domba di toko buku Relay.

Mamak-mamak yang jadi kasir di toko buku Relay gak ngasih kantong kertas atau kantong plastik. Aku mau minta kok gengsi, takut dikira gak cinta lingkungan… Jadi awalnya aku gendong-gendong aja boneka itu. Pas Omla selesai dari toilet dan kami mau ke ruang tunggu dalam, baru deh bingung karena harus lewat X-Ray: masa’ domba warna putih mau dilewatkan di conveyornya X-Ray tanpa dibungkus? Untung nemu kantong plastik cadangan di dalam ransel. Si domba masuk ransel deh.

ruang tunggu Christchurch Airport yang sederhana tapi nyaman
Setelah melewati X-Ray, kami tiba di ruang tunggu dalam yang lebih mirip living room besar. Kursinya berbentuk sofa. Meskipun interiornya gak wah, tapi mungkin ini airport dengan ruang tunggu ternyaman yang pernah aku jumpai.

Jam 6 kurang kami dipanggil untuk boarding. Waktu pesawatnya take off di luar masih gelap. Di pesawat kami tidur aja. Gak kerasa tiba-tiba udah mau mendarat aja. Pas mendarat di Wellington, matahari baru mulai terbit. Suasananya persis seperti waktu kami mendarat di Sydney seminggu yang lalu.

Wellington Airport Apron
Waktu kami turun dari pesawat, dan melihat ke apron bandara Wellington, baru deh aku heboh dan bener-bener bangun…. Jadi di apron-nya ada tulisan besar dengan font yang cukup familiar: “Middle of Middle Earth”. Terus jalan sedikit ke arah pertokoan di lantai keberangkatan ada instalasi Gollum dan Gandalf + The Eagles, ukurannya lumayan gede. Norak-norak bergembira deh….

So juicy sweet.... Gollum... Gollum...
Setelah norak-norak bergembira di depan Gollum, kami turun ke baggage claim untuk mengambil koper (yang cepet banget tersedia kalo dibandingkan dengan di Jakarta hihihihi). Setelah itu berjalan ke tempat parkir airport shuttle. Pagi ini kami naik SuperShuttle lagi.

Waktu shuttle kami keluar menuju bandara, baru ngeh kalo ternyata di luar gerimis. Yaah… terus nanti siang gimana ya? Kan mau ikutan tour ke Mt.Victoria…. ntar kehujanan dong. Kalo menurut prakiraan cuaca sih shower-nya hanya pagi aja. Mudah-mudahan akurat ya….
Suasana kota Wellington
Kami termasuk yang diantar duluan (urutan kedua), karena tujuan kami ke Nomads Backpackers yang terletak di pusat kota.  Sampai di Nomads, langsung titip koper di gudangnya Nomads, habis itu bengong sebentar di ruang duduknya Nomads. Bingung mau ngapain dulu. Antara laper dan enggak, karena tadi pagi baru sarapan seadanya.

Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba naik cable car. Dari Nomads kami jalan kaki ke Talavera Cable Car Station. Dengan bermodal offline maps dari Google Maps di Galaxy Tab jadul, ternyata sampai juga di tempat tujuan. Jalannya lumayan menanjak ternyata, kalo di Google Maps gak keliatan. Hihihihi….

Talavera Cable Car Station
Sampe di Cable Car Station, kami kebingungan. Gak ada loket tempat beli tiket, adanya hanya petunjuk harga tiket saja. Lagi bengong-bengong gitu, terdengar bunyi bel yang menandakan cable carnya mau lewat. Rupanya kami ada di sisi yang salah. Harusnya yang ke arah atas ada di sisi sebrang. Kami cepat-cepat nyebrang lewat jembatan penyeberangan. Tapi gak keburu mengejar pas cable carnya berada sejajar dengan peron. Jadi kami menunggu cable car berikutnya saja sambil (tentu saja) berfoto.

Kira-kira 10 menit kemudian, bel berbunyi lagi. Ternyata cable carnya gak pindah jalur, hanya balik arah saja. Jadi kami salah jalur lagi. Lari lagi lewat jembatan penyeberangan. Kali ini cukup cepat sehingga kami tiba di peron seberang sebelum cable carnya berhenti di peron. Masinisnya tanya apa kami mau naik ke arah uphill? Kami tanya balik: tiketnya gimana? Dia bilang naik saja dulu, tiket bayar di atas.

Suasana di dalam cable car
Kami pun berhasil naik sampai ke stasiun paling atas. Kami bayar tiket ke masinisnya, seorang mbak-mbak. Karena gak ada uang pas, si mbak hanya minta NZD 4 saja…. padahal harusnya kami membayar NZD 8 untuk berdua.

Wellington dari Wellington Botanic Garden
Keluar dari Stasiun, kami melihat-lihat sekitarnya. Di sana ada museum Cable Car dan pintu masuk Wellington Botanic Garden. Aku berharap ada cafe buat sarapan, kalau kata Google Maps harusnya ada, tapi sepertinya sudah tutup. Hanya ada bangunannya saja. Museum Cable Car belum buka karena masih terlalu pagi. Sambil menunggu museum itu buka jam 9.30 kami mengambil gambar ke arah pantai. Wellington ini mengingatkanku pada Balikpapan. Cukup metropolitan, tapi gedung-gedungnya gak terlalu pencakar langit, plus ada gunung-gunungnya.

Sayangnya foto-fotonya gak terlalu seru karena cuaca masih gerimis. Nah pada saat gegerimisan itu, aku baru sadar kalau scarf cotton ink merah yang dari tadi pagi aku pakai gak ada. Dicari di tas juga gak ada. Kemanakah gerangan scarf itu? Aku mencoba mencari di dalam stasiun. Gak ada juga…

Wellington Botanic Garden
Guess what? Pas cable car yang kami naiki tadi kembali ke stasiun paling atas, ternyata scarfku ada di dalam cable car, tergantung dengan manisnya di kursi paling depan. Huhuhu…. mau nangis terharu. Ternyata scarfnya masih rejekiku. Kalo di Jakarta udah diembat orang kali ya…

Museum akhirnya buka, kami masuk bareng dengan anak-anak SD yang sepertinya lagi karyawisata. Mereka tiba dengan cable car setelah kami. Di museum dijelaskan tentang sejarah Cable Car di Wellington, cara kerja Cable Car (info yang akhirnya membuat kami mengerti kenapa tadi kami sampai dua kali salah peron), dan juga beberapa benda koleksi. Ternyata oh ternyata, cable car itu dibangun sebagai sarana transportasi untuk para commuter yang tinggal di atas bukit. Jaman dulu ditawarkan tempat tinggal di atas bukit, tapi kalau tidak ada sarana transportasi yang memadai, perumahan tersebut pasti gak ada yang berminat.
Selesai dari museum, kami diskusi mau kemana selanjutnya. Omla sempat mau ke Zealandia, tapi shuttle ke Zealandia baru saja berangkat, kalo jalan kaki lumayan juga. Kemudian Omla usul untuk turun ke bawah jalan kaki via Botanic Garden, tapi menurutku terlalu buang waktu (dan buang energi, belum sarapan niy). Jadi aku menyarankan untuk turun ke bawah naik Cable Car lagi, kemudian langsung cari makan, habis itu ke Te Papa Museum. Berdasarkan info yang aku dapat, museum itu gede dan bagus banget, jadi gak mungkin cukup waktunya kalau hanya sebentar.

Kami turun sampai ke stasiun paling bawah di Lambton Quay yang ternyata berada di tengah-tengah deretan pertokoan. Bentuk pertokoannya mengingatkan aku pada George St. di Sydney. Keluar dari stasiun, kami berjalan menyusuri pertokoan ke arah Nomads sambil cari-cari restoran yang menarik. Ternyata…. gak nemu restoran yang oke. Jadi aku menyarankan untuk makan saja di cafe-nya Te Papa Museum. Kalau kata Google Maps ada cafe-nya, mudah-mudahan gak sesat infonya seperti cafe yang di dekat Cable Car Museum.

Te Papa Tongarewa
Waktu kami jalan menuju ke Te Papa, gerimis berangin masih terus berlangsung. Lumayan dingin sih… meskipun gak freezing kayak di Queenstown. Sampai di Te Papa, nitip tas dan jaket di penitipan, terus masuk cafe. Omla makan sandwich, aku makan muesli dengan saus blueberry.

Cumi Kolosal koleksi Te Papa
Toilet dalam bahasa Maori
Selesai makan, kami langsung masuk ke ruang pamer. Jadi museum Te Papa ini gede banget. Mungkin kalo di Indonesia tuh saingannya Museum Indonesia di TMII. Bedanya kalo Museum Indonesia  isinya hanya tentang kebudayaan saja, sedangkan museum Te Papa ini isinya dari mulai flora dan fauna (baik yang native maupun pendatang), geologis, lingkungan, kebudayaan, sampai sejarah migrasi masyarakat yang sekarang ada di NZ. Cara penyajiannya sudah tentu sangat menarik. Oh ya, museum ini gratis. jadi karena kami tau waktunya gak bakalan cukup, nanti sore bakal balik lagi ke sini.

Jam 13.30 kami balik ke seputaran Nomads. Otw ke sana, kami lewat venue yang lagi dipakai wisuda. Terus sempet galau sebentar di depan i-Site (sebrangnya Nomads), karena ga ada rekonfirmasi sama sekali dari Wellington Movie Tours. Ditelpon kantornya gak ada yang angkat pula. Begitu jam 2, kami check in di Nomads. Omla agak lama ngambil kopernya, ternyata koper-koper kami udah terhalang dengan koper titipan orang lain.  

Kami ke kamar sebentar untuk meletakkan barang, ke toilet, dan lain-lain. Sempet bingung nyariin perlengkapan lenongnya Omla (kalo gak salah sih beanie), kirain ilang, ternyata jatuh di depan pintu kamar. Masih rejeki berarti…. Setelah selesai urusan siap-siap, kami turun ke lobby lagi untuk menunggu Tour LOTR di seberang, tapi untuk keluar dari lantai 3 sempet hampir kesasar gara-gara layoutnya gedung itu agak membingungkan.  

Sambil berharap-harap cemas, kami menunggu di bus stop khusus tour LOTR di seberang Nomads. Datang gak ya….? Kartu kredit yang dipake untuk booking belum terdebet, makanya gak yakin apakah bookingnya terkonfirmasi.

Ternyata… jam 14.30, mobilnya datang. Penumpangnya ada 4 orang (3 lelaki bule + 1 mbak-mbak oriental), driver/guidenya mbak-mbak blondie bernama Alice. Dan nama kami sudah ada di daftar penumpang. Gak pake lama, kami segera naik.

Baru jalan sebentar, Alice menurunkan mas-mas bule 3 orang tadi di dekat Embassy Theatre. Rupanya mereka memang hanya mengikuti tour LOTR yang ke Kaitoke Regional Park aka Rivendell. Mbak-mbak oriental (yang ternyata dari Hongkong) mengikuti tour full day, sementara kami hanya mengikuti tour yang di dalam kota Wellington.
Wellington dari Mt.Victoria
Destinasi pertama adalah Mt.Victoria - Wellington Town Belt. Di lokasi ini jaman tahun 1999 dulu dilakukan syuting pertama film Lord of The Rings: adegan “Shortcut to Mushroom” dimana 4 hobbits jatuh terguling-guling lari dari kejaran Farmer Maggots sebelum ketemu sama Black Rider. Selain itu kami juga mendatangi pohon yang digunakan untuk syuting scene yang hanya ada di Extended Edition DVD (The Passing of the Elves), plus tempat 4 hobbits kejar-kejaran sama Black Riders sebelum lari ke Buckleberry Ferry.

Lokasi Shortcut to Mushroom
Tentunya kami foto-foto. Foto di pohon tempat Frodo dan Sam istirahat sebelum ngeliat rombongan Elves mau ke Grey Haven. Foto di cerukan tempat the hobbits sembunyi dari kejaran Black Rider. Foto di pepohonan dekat “Buckleberry Ferry”. Alice membawakan beberapa property yang bisa digunakan untuk pose: wajan lengkap dengan bacon-nya Sam + replica The One Ring.

Frodo dan Sam lagi leyeh-leyeh di Shire
Untuk berkeliling di seputaran hutan Mt.Victoria, perlu beberapa pre-requisites: 1) sepatu yang enak dan gak bikin kepleset, 2) fitness level yang gak jelek-jelek amat, karena tracknya turun-naik.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Miramar, di sisi Wellington yang lain. Di daerah ini lah fasilitas produksinya Peter Jackson tersebar. Ada yg bentuknya gudang biasa, ada yg gedung klasik, macem-macem. Tapi mostly sih gak pakai identitas.

Stone Street Studio, yang ngejreng itu Giant Green Screen untuk outdoor scene
Kami singgah di luar Stone Street Studio. Dari luar terlihat tumpukan container yg digunakan untuk giant green screen. Di depan green screen itulah banyak scene outdoor (yg sulit untuk diambil di lokasi) dibuat.

Park Road Post, post production facilities
Dari Stone Street, kami lanjut ke Weta. Jadi kami dibawa ke sebuah toko souvenir yang terletak di pojokan jalan. Di depannya ada patung 3 ekor cave troll. Di dalam toko ada patung Gollum dan Gandalf, theatre kecil, barang-barang koleksi yang bisa dibeli (dengan harga fantastis tentu saja), dan mini museum yang memamerkan props aseli yang pernah digunakan untuk syuting.

Gollum! Gollum! Preccciiioouuss...
Sekitar jam 4.15, kami ikut tour keliling Workshop. Weta Workshop terletak di belakang toko souvenir tadi. Kami diantar oleh Matthew sebagai guide. Sebelum memulai tour, Matthew memastikan bahwa kami gak akan mengambil foto di dalam Workshop.

Sebagian besar cerita dalam tour itu adalah tentang proses pembuatan props dan sedikit tentang miniature/bigature. Membahas props aja bisa makan waktu lumayan lama. Mereka menggunakan teknologi yang tinggi, misalnya menggunakan alat pemotong laser yang bisa memotong sesuai pola dari komputer untuk pembuatan cetakan model. Tadinya cuman aku aja yang aktif bertanya. Tapi begitu masuk ke daerah pedang-pedangan… Omla langsung bersemangat.

Jadi… pedang yang digunakan di film itu bahannya minimal ada 3 opsi: stainless steel (ini otentik, paling berat), aluminium (ringan, kilaunya mirip dengan steel, tapi gampang bengkok, bayangin panci aluminium deh), dan plastik (ringan, kilaunya didapat dari cat, lebih tahan bengkok). Yang paling banyak dibawa-bawa oleh aktor adalah yang plastik, kecuali Viggo Mortensen, dia memilih untuk membawa pedang steel.

Bahan plastik ini cukup menakjubkan…. mereka bisa bikin plastik jadi terlihat seperti logam untuk digunakan sebagai pedang dan chainmail. Yang bikin lebih takjub lagi, mereka bisa menggunakan plastik untuk menggantikan kulit! Bahkan dari jarak sangat dekat pun terlihat seperti kulit. Keren yaa….

Waktu kami sampai di bagian puppet dan costume, ada 3 mbak-mbak lagi kerja. Ada yang lagi jahit kostum, ada yang lagi menggerak-gerakkan puppet. Bonekanya terlihat hidup. Aahh.. jadi inget gerombolan Tjetjunguk di Jakarta.

Kemudian masuklah seorang bapak-bapak. Wajahnya cukup familiar. Aku pernah lihat di extra yang di dvd extended edition. Bedanya  bapak ini terlihat lebih besar dari yang di dvd. Matthew memperkenalkan bapak itu sebagai Richard Taylor. Wwwooowww.... itu kan salah satu partnernya Peter Jackson di Weta.

Aku jadi salting. Sebenernya pengen foto tapi gak boleh moto kan di dalam workshop. Kami mengobrol. Waktu tauk kalau kami dari Jakarta, dia kagum gitu, katanya dia belum pernah ke Jakarta.

Setelah Richard pergi, kami menyelesaikan tour. Kemudian balik ke toko. Sebelum meninggalkan TKP, gak lupa foto sama cave troll dulu.

Weta Cave
Dari Weta, Alice sempat membawa kami melewati daerah Seatoun. Di tempat ini banyak villa-villa pinggir pantai. Viewnya ke arah teluk. Konon waktu syuting Lord of the Rings, aktor-aktornya disewakan rumah/villa di tempat itu (kecuali Ian McKellen yang memilih tinggal di disi lain kota). Pantas saja mereka betah di NZ, bahkan ketika banyak stay di kota besar macam Wellington.

Pemandangan sore hari dari Seatoun
Kami sempat berhenti untuk mengambil foto teluk, tapi sudah mulai gelap. Sebelum jalan balik ke tempat nginep, kami transaksi dulu. Rupanya kartu kreditku memang belum terdebet. Kemudian Alice mengantar kami ke downtown lagi. Di tengah jalan dia sempat menunjukkan tempat syuting desa Bree dari kejauhan.

Kami minta diturunkan di dekat Te Papa Museum, karena emang niatnya mau melanjutkan ekskursi. Karena hari itu adalah Kamis, Te Papa buka sampai jam 9 malam.

Sebelum melanjutkan Te Papa, kami makan malam dulu di McD di yang terletak di kompleks SPBU.

Setelah itu lanjut nonton Te Papa lagi sampai jam 20.30. Kemudian pulang jalan kaki ke Nomads. Waktunya istirahat...

Di Te Papa gak lupa foto sama backdrop ini

Middle Earth Trip: Day 7

Pagi-pagi bangun terus sarapan, pake indomie gelas aja gitu. Sebelum matahari terbit kami udah checkout dan geret-geret koper ke halte bus di Athol Street. Hari ini adalah perjalanan ke Christchurch via Mt.Cook. Jam 7.30 dijadwalkan busnya berangkat dari Athol Street.


Waktu kami menunggu bus di halte tersebut, ternyata bus yang standby untuk keberangkatan jam segitu ada beberapa. Ada yang ke arah Milford Sound, ada yang ke Christchurch tapi gak lewat Mt.Cook, dan ada bus kami: Christchurch via Mt.Cook.

Selamat pagi Queenstown!
Setelah berangkat dari halte Athol Street, kami menjemput beberapa penumpang lain ke beberapa penginapan, kemudian berangkat dari Queenstown. Guide kami hari ini bernama Bryan dengan asistennya ibu-ibu Jepang yang aku lupa siapa namanya.


Dari seluruh perjalanan kami dengan Intercity Group, Bryan adalah guide yang paling ramah, sedikit lebih ramah dari John (first leg of our Franz Josef-Queenstown bus trip). Dia banyak cerita dan topiknya juga bermacam-macam. Dari mulai domba shrek, desa yang isinya hanya 12 orang, politik, sampai joke OZ-NZ.


Jones Family Fruit Stall
Pemberhentian pertama adalah Jones Family Fruit Stall yang sudah kami singgahi dalam perjalanan menuju Queenstown. Setelah jalanan mulai menanjak dan berbelok-belok menuju ke Lindis Pass. Sebenernya dari tadi di tepian Kawarau Gorge juga sudah berbelok-belok siy, tapi gak terlalu naik turun dibandingkan jalan menuju Lindis Pass. Lindis Pass ini adalah jalan dengan elevasi tertinggi di Pulau Selatan (971 m di atas permukaan laut). Sedikit lebih tinggi dari jalan yang menuju ke Milford Sound.   


Memasuki Lindis Pass, pemandangannya kayak di planet lain. Kalau dari kemarin-kemarin pemandangannya Sound of Music (gunung, salju, dan pepohonan) yang terlihat segar, yang di Lindis Pass ini pemandangannya gunung dan salju tapi terlihat gersang. Kayak gak ada kehidupan gitu…


Lindis Pass
Setelah melewati Lindis Pass, kami melewati Tarras. Menjelang Tarras, Bryan bercerita tentang Shrek, seekor domba dari daerah Tarras yang bertahun-tahun berhasil menghindar untuk gak dicukur, sehingga ketika dia ditemukan (sebelum menjadi tenar), bentuknya sudah seperti buntelan wool besar. Shrek jadi tenar di seantero NZ sampai pada tahun 2011 dia terpaksa disuntik mati karena usia lanjut.


Setelah melewati Tarras, kami singgah di Omarama, tepatnya di Merino Country Cafe. Kami hanya melihat-lihat souvenir dan foto-foto saja, gak pake snacking karena masih kenyang. Aku sempat melihat-lihat es krim Tiptop yang dijual di cafe, sempet heran… siapa ya mau makan es krim di cuaca dingin gini?


Merino Country Cafe
Kami jalan lagi, terus ketika memasuki daerah Twizel, aku merasa seperti memasuki Pelennor Fields. Warna rumputnya… bentuk lembahnya… gunung-gunung di sekitarnya… yang kurang cuman tentara Rohan, tentara Gondor, tentara Haradrim, Orcs, Mumakil,  ternyata banyak kurangnya ya? Peperangan di  Pelennor Fields sebagian memang diambil gambarnya di Twizel itu.


Lake Pukaki
Di Twizel ini, bis belok ke kiri menuju ke arah Mt.Cook. Pemandangan di sebelah kanan kami adalah Lake Pukaki. Warna airnya hijau telor asin jernih, karena mengandung glacial flour. Somehow, Lake Pukaki ini kelihatan familiar. Setelah browsing di BB, baru tahu kalau ternyata pinggiran Lake Pukaki ini jadi salah satu lokasi yang jadi pinggiran Lake Town di The Hobbit: Desolation of Smaug! Haa!! Another Middle Earth location!


Aoraki / Mt.Cook
Sebelum sampai ke Mt.Cook Village, kami singgah dulu di lookout point untuk mengambil gambar Lake Pukaki dengan latar belakang Aoraki/Mt.Cook. Kata Bryan kami cukup beruntung, karena hari itu bisa melihat puncak Aoraki Mt.Cook yang biasanya tertutup awan. Pemandangan Lake Pukaki dengan latar belakang Aoraki Mt.Cook benar-benar mengingatkan pada Long Lake dan Lonely Mountain. Eh sebenernya sebaliknya sih….


Yang ini turis lagi ambil foto Aoraki / Mt.Cook
Kami singgah di The Hermitage, hotel mewah di kaki Aoraki Mt.Cook, puncak tertinggi di New Zealand. Konon hotel ini adalah tempat favorit dari Sir Edmund Hillary (penakluk puncak Everest pertama yang tercatat dalam sejarah), mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan puncak tertinggi di New Zealand. Saat ini, di hotel itu ada museum yang didedikasikan untuk Sir Edmund Hillary.  


Jika cuaca dan kantong memungkinkan, kita bisa mengambil tur opsional naik helikopter ke atas Aoraki Mt.Cook. Waktu singgahnya mencukupi untuk itu. Tapi hari itu gak ada yang berminat untuk melakukan tur helikopter tersebut, jadi hanya makan siang saja.


Great Sights/Intercity Group sebenarnya menyediakan opsi untuk buffet lunch di The Alpine Restaurant, salah satu restorannya The Hermitage. Harga buffet lunch per orang adalah sebesar NZD52!! Karena menurutku harganya gak masuk akal, aku gak pesan opsi buffet lunch tersebut. Berharap selain buffet lunch, ada cafe lain ataupun bisa pesan menu ketengan. Kalau ternyata gak ada cafe lain, ya kami akan makan bekal berupa pie daging yang semalam aku beli di Queenstown. Ternyata… sebagian besar penumpang bis lainnya juga tidak memesan buffet lunch tersebut, dan memang ada cafe lain, namanya Sir Edmund Hillary Cafe and Bar.  

Kumara Soup
Kami makan di Sir Edmund Hillary Cafe and Bar, lokasinya persis di atas museum Sir Edmund Hillary dan menghadap ke puncak Aoraki Mt.Cook. Menu yang kami pesan siang ini awalnya adalah Kumara Soup (buat aku, meskipun aku gak ngerti sebenernya Kumara itu benda apa) dan Beef Sandwich (buat Omla). Karena habis itu masih lapar, habis itu pesan lagi Yoghurt dan Muesli (buat aku) + Kumara Soup (buat Omla). Semuanya hanya menghabiskan NZ27. Udah kenyang-nyang-nyang…. Emang perut kami mudah terkenyangkan, untungnya Omla gak butuh nasi untuk menjadi kenyang, jadi gak pusing nyari makanan di negeri orang. Aku sempet melirik ke meja tetangga yang berisi sepasang orang bule… masing-masing orang memesan 1 bunderan Pizza, tipis kering sih, tapi kayaknya ukurannya minimal ekivalen yang reguler di pizza hut. Ngeliat aja udah ikut jadi kekenyangan….


Btw, Kumara ternyata adalah ubi atau sweet potato. Di NZ termasuk makanan pokok yang cukup populer. Jaman dulu kumara dimasak secara tradisional di dalam Hangi Oven.

Puncak Aoraki / Mt.Cook tertutup awan
Habis makan, terus kami foto-foto di samping patung Sir Edmund Hillary. Seharusnya kami bisa melihat Aoraki/Mt.Cook dengan lebih dekat di depan The Hermitage itu, tapi sayangnya tadi ketika kami tiba di parkiran The Hermitage, awan yang semula malu-malu jadi menutupi puncak Aoraki/Mt.Cook.


Setelah itu bis melanjutkan perjalanan lagi, ibu-ibu jepang yang jadi asistennya Bryan aplusan di situ, digantikan dengan ibu-ibu lain yang aku juga lupa namanya. Beberapa penumpang ada yang turun di situ, dan ada juga penumpang yang baru naik. Kami sempat mampir ke hostel yang berada di dekat The Hermitage untuk menjemput penumpang.

Church of the Good Shepherd, Lake Tekapo 


Next destination adalah Lake Tekapo. Sebelum lepas dari tepi Lake Pukaki, aku masih sibuk ngambil foto Aoraki Mt.Cook yang kembali muncul dari balik awan. Gak puas-puas ngeliat warna biru telor asin Lake Pukaki.


Patung Anjing Collie
Gak lama, kami singgah di tepi Lake Tekapo untuk melihat (dan tentu saja berfoto) di Church of The Good Shepherd dan patung anjing collie. Patung anjing tersebut adalah untuk menghargai jasa-jasa anjing ras collie yang telah berjasa untuk perkembangan Mackenzie Country. Yaa… tentu saja anjing tersebut banyak yang bertugas menjadi penggembala domba.  


Waktu jalan lagi dari Lake Tekapo, aku tiba-tiba pengen makan es krim!! Hahaha…. tadi di Omarama sempet heran liat es krim, sekarang malah pengen makan es krim. Jadi aku bertekad di pemberhentian berikutnya aku mesti beli es krim (kalo ada).


Pemberhentian berikutnya adalah di Geraldine, tapi sebelumnya kami sempat melewati desa kecil yang berisi orang Perancis. Penduduknya hanya 12 orang, dan di desa itu ada lebih dari 1 art gallery. Bryan bilang kalo lewat desa itu biasanya sepi banget. Baru aja dia ngomong begitu, ternyata bus kami melewati orang yang sedang berdiri di pinggir jalan. Bryan langsung komentar: Wah! Ternyata kita beruntung hari ini, bisa ketemu orang di desa ini!


Di Geraldine, kami singgah di Kiwi Country Cafe. Aku termasuk penumpang yang turun duluan dan langsung menggeruduk ke counter es krim!! Hahaha… Beli es krim boysenberry seharga NZD 2.50 lengkap dengan wafer cone-nya. Omla kemudian menyusul masuk ke cafe dan membeli Cappuccino. 

Boysenberry Ice Cream, Kiwi Country Cafe
Setelah kenyang makan/minum dan melihat-lihat di toko souvenir, saatnya melanjutkan perjalanan. Kami melewati Canterbury Plains, daerah yang relatif datar. Menjelang Christchurch, kami melewati lagi daerah yang sudah kami lewati waktu pergi ke Edoras, termasuk jembatan panjang melintasi Rakaia River.


Karena kami request untuk diturunkan di hotel Sudima dekat Christchurch Airport, maka kami jadi penumpang pertama yang diantarkan ke tempat tujuan. Kami tiba di Sudima hotel sekitar jam 19.30. Langsung check in, masuk kamar sebentar, kemudian mencari makan di…. McDonalds… hahaha…. standar banget ya…Makanannya juga standar, hanya saja kali ini aku mencoba untuk minum Mountain Dew.  


Setelah itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat, tapi sebelumnya aku mencoba untuk melakukan online check in ke Jetstar. Sayangnya baik Blekberi maupun Nokia-nya Omla gak compatible dengan web online check-in-nya Jetstar. Proses check-in terhenti sampai di bagian konfirmasi peraturan bagasi. Akhirnya aku mencoba melakukan online check-in dengan menggunakan Galaxy Tab (padahal gak ada koneksi internetnya). Terus gimana? Galaxy Tab-nya terconnect ke Nokia Omla via wifi! Alhamdulillah proses check in bisa dilakukan sampai tuntas. Dan kami pun bisa bobok dengan tenang…  

Middle Earth Trip: Day 6

We’re going to Paradise! Iya pagi ini acaranya adalah pergi ke Paradise dan sekitarnya, lagi-lagi salah satu (salah banyak sih) lokasi pengambilan gambar untuk Lord of The Rings. Setelah sarapan (masih roti Pita rasa garlic juga), kami siap di lobby jam 8. Setelah menunggu sebentar, datanglah mobil 4WD milik Nomad Safari Tour. Driver/Guide-nya turun, seorang wanita bernama Flip. Setelah Flip melakukan checking voucher booking tour sebentar, kami langsung dipersilakan naik ke mobil. Rupanya hari itu pesertanya hanya kami berdua.


Kami langsung menuju ke Glenorchy, sekitar 40 km dari Queenstown. Setelah sedikit perkenalan, Flip menanyakan: apakah kami fans Lord of The Rings? Kalo iya, tipe yang seperti apa? Hahaha… kami gak melakukan cosplay ataupun bicara dalam bahasa Quenya atau Sindarin, tapi seperti halnya dengan Star Trek (dimana aku bisa ingat 178 episode Star Trek: The Next Generation), aku sudah mulai memorize detail-detail yang ada di buku ataupun film.   

The Remarkables - masih mengintip dari balik awan
Pemberhentian pertama kami adalah salah satu lookout point di jalan Queenstown-Glenorchy untuk memandang dan ngambil foto The Remarkables. Gunung yang banyak jadi background di Lord of The Rings.


Pagi ini cuacanya… cerah tapi dingin. Malah lebih dingin dibandingkan waktu cuacanya gak cerah. Yah, kayak Bandung di musim kemarau aja. Dingin… tapi tau-tau bikin kulit menghitam. Kalau kata Flip cuaca pagi ini: refreshing. Sedangkan kata Omla: freezing. Beda tipis ya…. hihihihi….


Perjalanan menyusuri tepi danau Wakatipu
Sepanjang perjalanan kami ngobrol macem-macem. Kebanyakan sih Flip bercerita tentang behind-the-scene story (Lord of The Rings tentu saja…). Sebagian besar sudah pernah aku lihat di DVD Extras. Tapi diselingi juga dengan pembicaraan tentang trivia tentang NZ (khususnya Queenstown). Termasuk tentang peternak sapi yang 1 sapi jantannya (bull) melayani 3000 sapi betina.


Ternyata Flip termasuk guide senior, untuk guide-guide yang lebih junior baru akan menerima pelatihan winter driving (seharusnya) kemarin. Tapi berhubung tiba-tiba turun salju, jadi dia diterjunkan kembali untuk melayani kami. Hihihi…

Di depan Pig Island, Tree Island, dan Pigeon Island
Pemberhentian selanjutnya adalah di lookout point lainnya untuk melihat Pig Island, Tree Island, dan Pigeon Island. Kalo Tree dan Pigeon Island sih udah kebayang kenapa namanya begitu. Nah, kalo Pig Island? Jadi Flip cerita kalau jaman dulu ada peternak babi yang meletakkan babi-babinya di pulau itu. Alasannya adalah agar dia gak perlu repot-repot membangun pagar di sekeliling peternakannya, terus babi-babinya tinggal makan rumput yang ada di pulau itu.


Alasan yang aneh… Iya sih gak perlu bangun pagar, tapi kan dia mesti membawa babinya naik kapal ke pulau itu, terus kalo mau dijual harus dibawa balik ke daratan. Lebih repot gak sih? Yaa… Flip juga berpendapat demikian. Menurut dia, orang yang punya ide untuk ternak babi di pulau itu cuman liat sisi gampangnya aja, gak mikirin sisi sulitnya. Pada akhirnya rumput di pulau itu habis, kecepatan regrowth dari rerumputan itu gak bisa mengejar populasi babi di peternakan itu. Terus peternak itu juga repot mesti bolak-balik naik perahu ke pulau tersebut. Sehingga dia memutuskan untuk merelokasi babi-babinya ke lokasi daratan yang berpagar tapi lebih masuk akal.

Mt. Earnslaw
Wakatipu Lake Shore
Snowy Farm
Persinggahan berikutnya (tapi kami hanya mengambil gambar dari mobil saja) adalah “Dead Marshes”. Ini adalah “rawa-rawa” yang merupakan tumbuh-tumbuhan pinggir danau. Konon kata Flip, tadinya syuting adegan di Dead Marshes mau dilakukan di tempat tersebut, sudah dibangun set agar bisa rawa tersebut dilalui oleh para aktor. Tapi kemudian set yang telah dibangun itu tenggelam. Sehingga syuting dipindahkan ke… Stone Street Studio, Wellington. (kalau untuk syuting panorama Dead Marshes dilakukan di dekat Te Anau).

Dead Marshes Wannabe
Di musim gugur seperti saat itu, aku langsung bisa menebak dengan benar ketika Flip menghentikan mobil di depan “Dead Marshes” dan bertanya: “Kalau tempat ini kenal atau gak?”. Menurut Flip, di musim panas semak belukarnya penuh dengan daun, sehingga pengunjung biasanya berkomentar: “Gak mirip Dead Marshes”.


Setelah “Dead Marshes”, pemberhentian berikutnya adalah Glenorchy.  Sebuah kota kecil yang konon populasi kuda-nya lebih banyak dari populasi manusia-nya. Penduduk Glenorchy banyak yang berpartisipasi dalam syuting Lord of The Rings, terutama yang berhubungan dengan perkudaan. Bayarannya lumayan, sehari NZD500.


Sebelum berhenti di dermaga, kami berhenti dulu untuk melihat perpustakaan Glenorchy (dari luar saja). Hmm… ukuran perpusnya lebih kecil dari pos sekuriti di kantor. Kecil banget. Cuman buka hari rabu dan jumat. Tapi keren, desa kecil yang penduduknya cuman 200 orang aja punya perpustakaan.


Kemudian kami pun berhenti di tepi dermaga. Melihat museum mini yang berbentuk seperti gudang. Isinya tentang sejarah The Head of Lake Wakatipu. Setelah foto-foto isi museum, kami ke dermaga. Dermaganya berlapis salju tipis, jadi lumayan licin. Sambil jalan ke arah dermaga, aku melihat Flip beberapa kali dengan sengaja menginjak “genangan air”. Setelah aku perhatikan lebih seksama, ternyata “genangan air” itu sudah berbentuk es tipis. Kalo diinjak, es tersebut akan pecah. Dan kepuasan menginjak es itu setara dengan mencet-mencet bubble wrap (plastik pembungkus perangkat elektronik).


Setelah foto-foto sedikit di dermaga, sempet disapa sebentar oleh labrador hitam. Setelah itu mampir ke toilet, karena kata Flip setelah itu gak ada toilet lagi. Waktu di toilet, Flip cerita bahwa di jalan itu tadinya ada toko yang menjual produk bulu-bulu (terutama bulu possum). Tapi baru saja menutup tokonya pada awal bulan Mei 2014, entah karena tokonya sepi, atau karena emang gak mampu berproduksi.

Earnslaw Burn
Next destination adalah: Paradise. Jadi sebelum sampai ke tujuan akhir, kami melewati perbatasan Earnslaw Burn, kemudian melewati pinggiran hutan yang merupakan bagian dari Mt. Aspiring National Park. Hutannya terdiri dari Beech Tree yang luarnya diselimuti dengan parasit Old Man’s Beard. Hutan pinggiran ini adalah tempat pengambilan gambar Lothlorien dan Amon Hen. Selain itu X-Men Origins: Wolverine juga mengambil hutan tersebut sebagai salah satu lokasi film. Kami gak mampir, rencananya akan mampir nanti dalam perjalanan kembali ke Queenstown.


Akhirnya kami tiba di Paradise. Sebelum sampai ke tempat tujuan, ada rumah pertanian besar yang menghadap ke Diamond Lake. Ceritanya dibangun oleh seorang bapak-bapak untuk isterinya. It was a romantic thing (for him): building a home in paradise for his lovely wife. Tapi ternyata isterinya itu gak suka. Entah kenapa. Mungkin karena sepi, atau jauh dari pusat perbelanjaan. Akhirnya suami-isteri itu bercerai, rumah itu dijual. Pemiliknya sekarang sepertinya cukup bahagia dengan rumah itu.

Beorn's House Location
Tempat tujuan kami adalah pinggir jalan yang viewnya ke arah selatan digunakan sebagai backdrop untuk Orthanc / Tower of Isengard / Menara-nya Saruman. Trus view ke arah timur adalah padang rumput yang digunakan sebagai lokasi rumahnya Beorn (dari The Hobbit). Seharusnya rumputnya hijau, tapi karena kemarin dulu habis hujan salju, jadi warnanya hijau muda. Pemandangannya emang indah ke segala arah. Emang sesuai dengan nama tempat itu: Paradise.


Putangitangi
Kami berfoto sebentar, kemudian balik ke arah Queenstown. Di jalan kami sempat mendapatkan momen pas untuk mengambil foto bebek lokal Paradise alias Paradise Shelduck / Tadorna variegata / Putangitangi. Warnanya khas, beda antara yang jantan dan yang betina.


Di hutan “Lothlorien”/”Amon Hen”, kami berhenti untuk menikmati snack pagi. Snack pagi kami ternyata diletakkan di cooler box yang diikat di bagian atas mobil. Flip harus memanjat bagian belakang mobil untuk mengambilnya. Kami bertiga sama-sama memilih hot chocolate. Kemudian aku menghabiskan entah berapa potong fruit cake. Fruit cake-nya enak banget. Berhubung hanya ada kami bertiga, aku jadi bebas mau ngambil fruit cake sesukanya. Well, selain kami bertiga ada juga sih penikmat lain: burung liar yang sepertinya sudah kenal Flip karena selalu nimbrung setiap kali Flip singgah di tempat itu.  


Di lantai hutan itu, ada tanaman yang namanya horopito atau biasa disebut pepper leaf. Flip memetiknya dari tanah, kemudian mengulum satu bagian dan memberikan bagian lainnya ke aku. Aku sempat terpikir: “Ih itu kan dari tanah, kalo bekas diinjek orang gimana?”, tapi pikiran itu hanya terlintas sesaat, karena tau-tau daun rasa pedes itu udah masuk ke mulut. Hahaha….
Setelah (lagi-lagi) foto di hutan itu, kami jalan lagi ke arah Queenstown. Sebelum keluar dari kawasan hutan, Flip menunjukkan tanaman yang dijadikan model untuk tongkatnya Gandalf.


Sepanjang perjalanan kami membicarakan tentang macem-macem dari mulai tokoh favorit di Lord of The Rings, Frodo haters, matanya Legolas, sampe perubahan undang-undang yang dilakukan oleh pemerintah New Zealand demi supaya syuting The Hobbit bisa dilakukan di New Zealand.


Aku sempet terkantuk-kantuk, hihihihi…. udaranya, dikombinasikan dengan gerakan mobil, dan ceritanya Flip yang soothing membuat jadi pengen tidur… sebelum terus dikeplak sama Omla. Iya emang gak sopan sih… tidur waktu si Flip lagi asik cerita.

Nomad Safari's Car - Twelve Mile Delta aka Ithilien
Sebelum tiba kembali di Queenstown, kami singgah di pos terakhir: Twelve-Mile Delta. Tempat ini adalah campsite yang jadi lokasi pengambilan gambar untuk Ithilien Camp, yaitu lokasi waktu Frodo dan Sam pertama kali melihat mumakil (gajah ala Middle Earth). “Sayang”nya hari itu gak terlihat seperti Ithilien Camp, karena tanahnya banyak tertutup salju! Selain berfoto dengan Omla, aku minta difoto dengan Flip dan juga dengan mobil Nomad Safari. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali ke Queenstown. Sebelum sampai di Queenstown, Flip minta kami untuk mengisi buku tamu. Dia juga memberikan info tentang sewa sepeda. Dan akhirnya menurunkan kami di Shotover Street supaya kami bisa mengunjungi toko Lord of The Rings. Waktu kami tiba lagi di Queenstown, cuacanya terang benderang. Perfect day for gowes deh!


Kami berkunjung ke toko Lord of The Rings sebentar, hanya melihat-lihat, kemudian lanjut ke mall kecil di Beach Street: cari McDonalds. Isi perut dulu sebelum cari sewaan sepeda. Omla seperti biasa pesan paket burger, kentang, dan soft drink. Sementara aku hanya pesan Pie Daging dan Apple Pie… wajib banget tuh apple pie kalo pas ke McD.


Selesai makan, kami mampir ke penginapan sebentar untuk ke toilet dan meletakkan beberapa barang yang gak perlu dibawa. Kemudian keluar lagi untuk mencari sewaan sepeda. Di pojokan Shotover Street dan Brecon Street, kami menemukan sewaan sepeda sesuai petunjuk Flip, tapi ternyata tokonya tutup karena staf-nya lagi training. Yah… kecewa….


Aku berusaha browsing untuk mencari sewaan sepeda lain. Tapi untungnya, nemu papan petunjuk di toko yang berada di pojokan Brecon Street dan Duke Street, namanya Alta Bike. Mereka menyewakan sepeda seharga NZD 29/half day (4 jam). Kami pun segera masuk ke toko tersebut. Ternyata sepedanya masih ada stock, sehingga tanpa pikir panjang langsung aku lunasi untuk 2 sepeda. Ukurannya juga cocok (meskipun bannya lebih gede dibandingkan sepeda gunung kami, tapi kayaknya sih ukuran ban itu standar untuk di NZ). Merknya Mondraker.


Setelah urusan bayar membayar dan milih helm selesai, masalah berikutnya adalah: gak mungkin kan menggunakan beanies di dalam helm sepeda? Padahal dinginnya enggak temenan banget sama kuping. Akhirnya kami menggunakan syal wool untuk bandana, baru dilapis dengan helm sepeda.

Frankton Arms Bike Trail
Setelah setelan sadel pas, kami berangkat menuju jalur sepeda paling gampang di seputaran Queenstown: Lake Wakatipu Ride yaitu menyusuri Frankton Arm dari pusat kota Queenstown sampai ke Kawarau Falls Bridge. Kurang lebih sejauh 10 km sekali jalan. Jalur sepeda di seputaran Queenstown (atau biasa disebut Queenstown Trail) saat ini ada sekitar 110 km, terdiri dari berbagai tingkat kesulitan. Berhubung kami udah lama gak naik sepeda, ambil yang paling gampang saja lah.


The Remarkables
Pemandangan di sepanjang jalur sepeda adalah The Remarkables. Kali ini bersih gak tertutup awan. Sayangnya posisi matahari di akhir musim gugur itu gak terlalu bersahabat buat foto-foto. Mayoritas track kami berada di bawah bayang-bayang gunung, sehingga supaya wajah obyek manusianya terlihat harus pakai blitz. Berhubung kami bukan penggiat fotografi, agak susah untuk mendapatkan pencahayaan yang terlihat natural.


Selain pemandangan alam, di dekat Frankton juga ada villa-villa di pinggir danau. Menjelang Kawarau Falls Bridge, mulai disambut dengan pesawat komersil yang mendarat dan take off. Kawarau Falls Bridge itu lokasinya dekat dengan bandara Queenstown.


Track sepedanya terdiri dari jalan sirtu dan ada sedikit bagian yang melewati jalan aspal. Rambu-rambu petunjuk arah cukup jelas dan mudah ditemukan. Sepanjang perjalanan tracknya hanya sedikit naik turun, kecuali menjelang Kawarau Falls Bridge ada bagian yang agak curam, batunya agak lepas-lepas, dan ada sedikit lapisan saljunya. Hihihi… jadi terpaksa tuntun sepeda deh.


Yang ini masih tebaallll.... 
Kami jalan sebentar ke Kawarau Falls Bridge, yang ternyata juga tertutup salju sehingga agak licin, foto-foto, kemudian kembali ke pusat kota Queenstown (10 km lagi!!). Setengah perjalanan, kupingku mulai gatal karena nempel ke syal wool yang dipakai sebagai bandana. Akhirnya kembali ke cara tradisional: lepas bandana dan hanya pake helm sepeda. Ternyata dinginnya gak separah yang aku bayangkan sebelumnya.


Untuk kostum sendiri, aku pakai 4 lapis: long john (base layer), kaos biasa, fleece jacket (middle layer), dan gore-tex jacket (outer layer). Meskipun dipake naik sepeda, gak keringetan sama sekali. Beda banget sama naik sepeda di Ragunan ya… (eyaa laahh). Untuk bawahannya pakai 3 lapis: long john, legging katun, dan celana quick dry. Nah… baru sadar kalo selama bertahun-tahun naik sepeda gunung, aku selalu pakai celana capri atau celana pendek, gak pernah pakai celana panjang. Kalopun naik sepeda pakai celana panjang (untuk ke kantor), aku pakai sepeda lipat yang punya tutup rantai di sisi kanan. Jadi ini pertama kali naik sepeda gunung pakai celana panjang. Hasilnya? Nyaris aja tuh celana quick dry kebanggaan nyangkut di rantai, sehingga pipa celana sebelah kanan terpaksa dilipat sampai dengkul. Biarin aja keliatan aneh, yang penting celana gue gak robeekk….


Kami sampai di Queenstown sekitar jam 4 sore. Langsung mengembalikan sepeda, kemudian jalan kaki ke Skyline Gondola untuk naik kereta gantung. Lumayan jauh juga jalannya, nanjak pula. Di tengah jalan ketemu lagi dengan “Harry Kim bersaudara”…. teman perjalanan kami dari Franz Josef.


Biaya untuk naik gondola adalah NZD 27/orang. Mahal banget ya bok? Kalo naik di Ancol atau Taman Mini berapa? Pasti gak segitunya kan? Nah, setelah kami berada di dalam gondola dan mulai bergerak ke atas gunung, melewati hutan di lereng gunung, baru deh kerasa kenapa harga tiketnya harus segitu mahal.  Tracknya curam banget. Kami naik sampai dengan ketinggian kurleb 450 meter di atas Queenstown. Gak kebayang kalo fasilitas gondola itu gak dimaintain dengan baik… Jadi kita bayar mahal (semoga) untuk merawat fasilitas gondola.


Pemandangan Queenstown dari Bob's Peak
Pemandangan di atas keren banget. Gak puas-puas ngambil gambar panorama ke arah Lake Wakatipu. Selain lihat pemandangan, kalau mau kita bisa main Luge, tapi aku gak tertarik. Sebelum sampai di Queenstown sempat menimbang-nimbang: mau main Luge atau nyepedah? Berhubung nyepedah lebih sesuai dengan kepribadian kami, jadi pilihannya jelas (gitu aja kok repot memutuskannya).


Setelah puas di atas Bob’s Peak (itu nama puncak gunung tempat stasiun gondola berada), kami turun kembali ke Queenstown. Matahari hampir terbenam ketika kami sampai kembali di Shotover Street. Kami langsung mampir ke toko Lord of The Rings untuk membeli buku Lord of The Rings: Location Guide Extended Edition-nya Ian Brodie.


Setelah berhasil membawa pulang buku Location Guide, kami nyebrang ke Fergburger. Tadi pagi Flip bilang hukumnya wajib untuk mencicipi Fergburger. Hmmm…. Untungnya mereka memasang daftar menu besar-besar di depan restoran, jadi kami bisa pilih menu yang gak pakai bacon/babi/sodara-sodaranya. Omla tadinya kekeuh mau pesan 1 orang 1 burger. Tapi aku curiga lihat harganya. NZD 11/porsi untuk yang original. Bener aja… sedikit ngelirik ke tamu lain yang lagi asik makan burger, porsinya tuh lebay gedenya. Jadi aku menugaskan Omla untuk pesan 1 aja, sementara aku ke Night n Day Foodstore buat cari perbekalan dan sarapan untuk besok. Di Night n Day, aku nemu pie daging lada hitam seharga NZD 2 sajah… karena hari itu lagi diskon pie. Beli aja buat jaga-jaga kalo ternyata Fergburgernya kurang.

Si Raksasa Fergburger
Waktu aku balik ke Fergburger, burgernya belum juga keluar. Saking banyak peminatnya. Setelah (akhirnya) burgernya keluar, kami langsung kembali ke penginapan. Belah burgernya pakai apa ya? Pakai pisau lipat mahal. Ternyata ½ porsi emang pas aja, gak kurang. Kebayang kenyangnya kalo terpaksa makan 1 porsi.


Setelah makan, aku keluar lagi sendirian. Mau cari oleh-oleh. Tujuan pertama adalah: Unichem Pharmacy, mau cari Neutrogena. Ada sih, tapi pilihannya gak seheboh di Singapore. Gak jadi beli deh. Tujuan berikutnya adalah ke Koha, beli boneka anak domba yang diskonan kemarin. Setelah pilih-pilih yang paling gak cacat, beli yang kakinya biru. Waktu aku bayar, penjaga tokonya tanya: apakah aku dari Malaysia atau Indonesia? Rupanya dia aslinya dari Malaysia. Seneng banget gitu ngeliat sodara satu kawasan….


Selanjutnya aku nyebrang ke toko Mary’s Sheep. Di sini pilihan oleh-olehnya lebih banyak. Tapi malah jadi bingung sendiri. Akhirnya hanya beli lip gloss, kaos buat Anton, dan gantungan kunci buat kulkasnya mbak Rani. Habis itu balik ke penginapan dan beristirahat… sebelum tidur gak lupa posting foto di WA.

Komunitas Indonesia di Chiang Mai

Berawal dari ajakan iseng ngopi bareng, akhirnya tadi pagi jadi seperti acara kumpul warga Indonesia di Chiang Mai. Ini belum formasi lengkap loh, masih banyak yang kebetulan lagi gak di Chiang Mai ataupun lagi ga ngopi. Biasanya kalau kumpul dengan … Continue reading

Middle Earth Trip: Day 5

Waktu kami bangun keesokan paginya, cuaca emang beneran cerah. Langit masih gelap, ketahuannya kalo cerah itu karena bebintangan terlihat bersinar terang, termasuk bintang kejora. Itu aja udah bikin terpukau, tapi lebih terpukau lagi ketika matahari mulai ngintip dari balik gunung: ternyata desa Franz Josef itu dikelilingi gunung-gunung dengan puncak bersalju…. kemarin-kemarin gak keliatan karena mendung dan hujan terus.


Good morning, Franz Josef!
Kami sarapan dengan roti Pita, tuna kaleng, susu, dan minuman hangat. Setelah mandi dan cuci piring, jam 7.15 kami jalan ke halte bus lagi. Rupanya pagi ini hanya kami berdua yang menunggu di halte bus. Yang lain menunggu di depan YHA atau dijemput di penginapan masing-masing.


Seperti pada umumnya, dibandingkan kemarin waktu hujan, ketika cuaca cerah malah terasa lebih dingin. Dan herannya…. John gak datang-datang. Kalo kemarin jam 7.30 sudah tiba di halte, sekarang baru mulai berkeliaran di penginapan2 seputar Franz Josef, kemudian ke depan YHA, baru jam 7.45 tiba di halte tempat aku dan Omla menunggu.  Sementara menunggu busnya datang, aku semangat ngambil foto gunung (meskipun cahayanya kurang begitu menunjang) dan melihat-lihat WC semi permanen yang katanya bisa terbuka setiap sekian menit sekali. (lhaa… kalo lagi asik-asik boker gimana dong?)

Terms & Conditions Toilet di dekat Franz Josef bus stop
Ketika akhirnya John tiba dengan busnya, dia langsung bertanya: pasti kamu kira saya gak jadi datang ya? Kami pun masuk ke bus, kemudian menunggu sebentar (entah ada urusan apa), beberapa saat kemudian bus berangkat menuju Fox Glacier. Penumpang yang kemarin ikut bus tersebut sudah ada di dalam bus semua, ditambah beberapa penumpang baru. Yang aku inget dari penumpang kemarin adalah: pasangan Eropa, keluarga India, sepasang cowok yang bertampang seperti Harry Kim (sepertinya orang China), sepasang cewek Jepang, beberapa orang solo traveler yang akhirnya membuat 1 kelompok sendiri (termasuk mbak-mbak yang kemarin duduk di seberangku).


Pemandangan di jalan lebih indah daripada kemarin, karena puncak gunung bersalju terlihat dengan sangat jelas hari ini. Sebelum kehilangan sinyal, aku sempatkan untuk nulis email ke penyelenggara tour Milford Sound (Jucy Cruize) untuk membatalkan tour kami besok. Harap-harap cemas duitnya balik apa enggak. Kalo pun enggak, ya udah diikhlaskan 298 NZD. Hiks… Nanti paling coba claim ke asuransi (kalo bisa).


Pagi ini kami mampir lagi (untuk ketiga kalinya) ke The Salmon Farm. Kami minum hangat saja. Waktu aku jalan-jalan ke terasnya mereka, ternyata di lantai kayu dan meja-kursi yang tidak tertutup atap ada Morning Frost! Hampir aku kepeleset. Heheheh…. langsung agak2 norak gitu… pertama kali liat Morning Frost.


Setelah kami jalan lagi dari The Salmon Farm, John memberikan info bahwa hari ini kita bisa lewat Haast Pass!!! YEEEEYYY!!!! Semua penumpang (terutama yang kemarin sudah bergabung dengan bus yang sama) bersorak gembira. John cerita bahwa kita akan bertukar supir di Thunder Creek Falls. Jadi bus yang dari arah Queenstown akan ketemu sama kita di sana, kemudian tuker supir, dan melanjutkan perjalanan lagi ke tempat tujuannya masing-masing. Dia cerita bahwa supir penggantinya bernama Peter, yang alergi sama kacang tanah, jadi sebaiknya kami gak makan kacang tanah di atas bus. Takutnya dengan mencium aroma-nya aja si Peter gak tahan.


Pemandangan The Sound of Music
Kami singgah sebentar di desa Haast untuk mengambil penumpang dan mampir toilet (karena setelah itu toilet berikutnya adalah di Makarora), kemudian memasuki jalan yang kemarin gak jadi kami lewati.  Kami menyusuri Haast River dan kemudian memasuki Mount Aspiring National Park. Pemandangannya? Hmm… Kayak di film The Sound of Music… aarrgghh… mau nangis terharu liatnya…. Gunung2 dengan puncak bersalju, dan air terjun kecil-kecil yang berasal dari es di atas gunung. Pengennya bisa turun dari bis terus lari-lari sambil nyanyi: “The hills are alive…”.


Sebelum sampai di Thunder Creek Falls, kami melewati daerah yang longsor beberapa minggu lalu (dan ditutup karena salju kemarin). Di pinggir jalan salju masih menumpuk meskipun tidak tebal lagi. Salju? Bisa pegang atau gak ya?

Thunder Creek Falls
Kami sampai duluan di Thunder Creek Falls (dibandingkan bus yang dari Queenstown) . Penumpang diijinkan untuk turun dan melihat ke air terjun. Kami melewati jalan setapak sekitar 50 meter untuk sampai ke tepi air terjun. Tak lama setelah selesai foto-foto, datang rombongan lain. Rupanya bus yang dari Queenstown sudah datang. Waktu kami kembali ke bus, John sedang mengobrol dengan Peter. See you, John, thanks for being a sweet guide!


Rombongan kami berangkat lagi….  Pemberhentian berikutnya adalah Makarora untuk makan siang. Kami berhenti di Makarora Country Cafe. Kata Peter yang khas dari Makarora Country Cafe adalah Soup Sayurannya. Aku makan pie daging sapi, sedangkan Omla makan sop dan roti. Sop Sayurannya mengingatkan aku sama sop kentang saring di rumah. Yang ini malah lebih encer, hmm… gimana bisa kenyang ya?


Pie Daging Sapi
Setelah selesai makan, aku melihat-lihat souvenir sebentar. Yang eye-catching adalah barang rajutan merino-possum merk Lothlorian (sounds like Lady Galadriel’s home). Hmm… possum itu kan dilindungi kalo di Aussie, tapi di NZ justru jadi hama, makanya dijadikan campuran bahan rajut dengan wool merino. Katanya sih lebih lembut dari wool biasa. Tapi aku belum mau beli-beli di Makarora situ.


Pemandangan Makarora 
Sambil menunggu penumpang lain selesai makan, kami foto-foto di lapangan parkir cafe. Makarora itu terletak di lembah yang dikelilingi gunung-gunung dan padang rumput. Padang rumput yang semi vertikal tapi tetep penuh dengan domba. Lagi-lagi Sound of Music yang terbayang…
Is it Lake Wanaka or Lake Hawea?
Setelah semua penumpang selesai makan, kami jalan lagi. Dalam perjalanan ini, pas sesaat dapat sinyal, aku sempat check email. Ternyata sudah ada balasan dari Jucy Cruize. Ternyata mereka bersedia untuk mengurus pengembalian uang yang sudah kami bayarkan!! Alhamdulillah… gak jadi rugi NZD298. Keren banget…

Menjelang Wanaka, salju sudah mulai mencair
Gak lama, kami ketemu dengan sisi utaranya Lake Wanaka. Kemudian setelah beberapa saat menyusuri pinggir danau, ketemu dengan danau lainnya yaitu Lake Hawea, dan kemudian mendekati kota Wanaka (yang berada di sisi selatan Lake Wanaka). Menjelang Wanaka, mulai kelihatan hamparan salju meskipun sudah mulai mencair.

Wanaka ini kota wisata seperti Queenstown, banyak penginapan dan juga outdoor activity. Kami berhenti di tepi danau untuk menurunkan dan menjemput penumpang. Penumpang eksisting dipersilakan turun 5 menit untuk foto-foto di pinggir danau. Aku berhasil menemukan sisa-sisa salju di rerumputan. Well, that’s it! My childhood dream just came true: megang salju!!


Pegang salju
Setelah foto-foto, kami jalan lagi. Di bagian-bagian yang gak tersentuh sinar matahari, salju masih tebal. Gak puas-puas lihatnya… Tak lama kami mampir di Cromwell, tepatnya di Jones Family Fruit Stall. Toko buah gitu deh. Harganya lumayan murah, bahkan dibandingkan harga di Indonesia, sayangnya kemasannya besar-besar. Kami hanya beli anggur yang kebetulan lumayan ringkas kemasannya. Plus madu Manuka kemasan kecil juga.


Sebelum naik ke bus, mampir ke WC dulu. Kemudian bus meneruskan perjalanan ke etape terakhir menuju Queenstown. Bus memasuki jalan berliku di tepian Kawarau Gorge. Warna airnya khas banget, hijau telor asin bening gitu: Anduin!! Sungai ini salah satu dari beberapa sungai yang berperan sebagai Anduin River.

Kawarau Gorge
Waktu berangkat dari Cromwell, pemandangan pinggir jalannya tidak bersalju, tapi makin mendekati Queenstown (elevasinya makin tinggi), saljunya makin tebal. Sampai di daerah Gibbston, kami disambut dengan beberapa Winery (perkebunan anggur) yang tertutup salju. Bener-bener terlihat seperti winter. Jadi ini kayaknya musim dingin yang datang lebih cepat.


Menjelang Queenstown, saljunya tebaallll....
Kami lewat di dekatnya jembatan gantung jadul Kawarau yang merupakan tempat bungy jumping komersial pertama di dunia. Kemudian setelah jalan berbelok-belok menyusuri sungai Anduin… eh… Kawarau… berakhir kami memasuki daerah Frankton, di kiri-kanan mulai banyak penginapan. Dan tak lama kemudian: Queenstown!! Wooww…. Akhirnya…. rasanya kayak menikmati happy ending dari film menegangkan…. hahaha….

QUEENSTOWN!!!
Beneran happy ending sih. Setelah turun di halte Atol St, kemudian berjalan menuju Beach St. (tempat Absoloot Value Accommodation), di depan penginapan pemandangannya danau Wakatipu dengan background gunung-gunung yang putih semua.


Dermaga Queenstown
Kami gak istirahat lama-lama, setelah check-in dan meletakkan barang di kamar, kami jalan ke pinggir danau untuk melihat pemandangan, foto-foto, dan setelah gelap: cari makan malam. Kami menyusuri pertokoan di sekitar Beach St. Melihat toko souvenir. Salah satu toko souvenir bernama Koha menjual boneka anak domba obralan. Hmm… besok sore mungkin aku balik lagi untuk beli anak domba itu. Setelah bingung menentukan tempat makan, aku melihat suatu logo yang sangat familiar. Dan Omla pasti langsung setuju: Colonel Sanders alias KFC. Bener aja… begitu aku menunjukkan KFC, Omla langsung semangat.


KFC-nya sudah tentu gak menjual nasi, tapi setelah berhari-hari makan sandwich, sup, roti pita, dan pizza… buat Omla, ayam goreng dan kentang itu merupakan a little taste of home. Paket hematnya giling abis: soft drink + 2 potong ayam + kentang goreng + dinner roll + mashed potato with gravy. Aku pesen soft drink + twister. Twisternya gak kayak di Jakarta/Sorong. Yang ini padet dan besar. Jadinya kami pesen agak kebanyakan.


Waktu kami baru selesai pesan dan lagi mengatur tempat duduk, kami ketemu dengan dua orang “Harry Kim” yang barengan naik bus dari Franz Josef. Mereka lagi milih-milih tempat makan. Mereka gak jadi masuk ke KFC, hanya dadah-dadah aja waktu lihat kami lagi di dalam KFC. Padahal selama perjalanan gak pake ngobrol ataupun kenalan. Yah itulah indahnya jalan-jalan…


Setelah selesai makan, kami ke supermarket 4 Square buat beli tambahan makanan untuk sarapan besok. Habis itu mampir ke toko souvenir yang masih buka buat lihat-lihat dulu. Terus balik ke penginapan. Malam ini aku mencuci-cuci pakaian dalam (termasuk long john) dan celana panjang quick dry yang udah berhari-hari gak diganti.Sedikit tricky sih, karena kamar mandinya mungil banget, terus long johnnya susah banget diperes, jadi mesti dijemur dulu di kamar mandi sampe airnya berhenti netes-netes sebelum bisa diangin-angin di bawah AC. Ajaibnya, sebelum aku tidur, si celana quick dry itu udah kering aja gitu… berarti “quick dry”-nya bukan hoax…. hehehe….

Setelah itu leyeh2 sambil internetan pake wifi gretong. Tak lupa mengupload foto sesaljuan ke grup WA rumah. Setelah itu tidur….

Middle Earth Trip: Day 4

Waktu kami bangun pagi, cuaca masih hujan dan mendung. Setelah mandi, sarapan, dan beberes, kami geret koper sambil kegerimisan ke halte seberang Supermarket Four Square untuk menunggu bus ke arah Queenstown jam 7.30. Di halte beberapa orang turis lain sudah menunggu.


Bus datang tepat waktu. Drivernya turun dan mengabsen penumpang, kemudian dia menggolongkan bagasi berdasarkan tujuan (Queenstown, Wanaka, atau lainnya).  Tak lama kami pun berangkat.


Drivernya memperkenalkan diri sebagai John. Dia membicarakan tentang cuaca. (Percayalah ini bukan basa-basi, kali ini cuaca adalah hal yang sangat penting).  Dia bilang semalam hujan dan di tempat yang lebih tinggi: badai salju. Jadi jalan Haast Pass yang tadinya dibuka tutup karena longsor (buka jam 10 pagi, tutup jam 5 sore), ada kemungkinan sama sekali gak bisa dilewati. Haast Pass itu lokasinya agak tinggi, jadi jalannya ketutup salju. Lha trus? John mengajak para penumpang untuk “cross our fingers”, berdoa saja biar bisa lewat, dan tetap berusaha untuk mendekati tempat tersebut. Semoga pas kita dekat di sana, jalannya dibuka seperti kemarin-kemarin.


Karena John membahas tentang di gunung turun salju, kami jadi ngeliat ke luar. Eehh… bener loh, di puncak-puncak gunung emang ada salju, meskipun tipis dan agak-agak ketutup awan atau kabut. Aaahh…. bisa pegang gak ya?


Pemberhentian pertama adalah Fox Glacier. Sekitar ½ jam dari Franz Josef. Kami singgah di mini market On The Spot, John mengantar paket, dan menjemput penumpang. Selain penumpang dengan backpacker, naik juga bapak-bapak tua dengan overcoat coklat. “Omla, itu Gandalf!”.  

On the Spot convenience store
Bus melanjutkan perjalanan lagi. Makin lama hujan makin deras, sempat disertai angin pula. Bus sempat berhenti untuk menurunkan Pak Gandalf di rumahnya yang di luar kota. Sepanjang perjalanan John bercerita tentang sejarah daerah West Coast, termasuk tentang jalan yang kami lalui yang ternyata relatif baru (diresmikan tahun 1965). Sebelumnya daerah tersebut tergolong “isolated”. Hmm… sekarang aja sepi, jarang banget ketemu mobil, rumah, apalagi orang. Gimana jaman dulu ya?

The Salmon Farm Cafe - Paringa
Kami singgah di The Salmon Farm-Paringa untuk snack pagi. Cuacanya masih juga gerimis dan berangin. Rasanya menderita banget kalo berada di luar ruangan. Omla pesan cappuccino (atau teman2nya, aku gak ngerti apa bedanya), sedangkan aku pesan salmon sandwich. Salmon Farm ini cafe in the middle of nowhere. Sebelahnya hutan dan gunung doang. Gak ada restoran atau toko lain.

Salmon Sandwich dari Paringa
20 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan. Kami sempat singgah di Knight’s Point Lookout, untuk foto-foto. Meskipun cuacanya gak menunjang penampilan foto yang keren. Sekitar jam 11 lebih kami sampai di Haast Visitor Center. Kata John, saat ini Haast Pass masih ditutup karena salju, kabar selanjutnya akan disampaikan jam 12 nanti. Kami (para penumpang) akhirnya berkeliaran aja di Visitor Center. Gedungnya lumayan menyenangkan, ada display museum mini yang menjelaskan tentang flora dan fauna serta kehidupan di West Coast, dan juga ada mini movie theatre. Setelah pegel berdiri, aku dan Omla masuk ke movie theatre. Sebenernya ada sofa-sofa yang keliatannya nyaman, tapi sudah digunakan oleh penumpang lain.

Knight's Point Lookout
Our Franz Josef-Queenstown Bus
Jam 12 kurang, mamak-mamak petugas Visitor Center mencetak update informasi tentang Haast Pass. Ternyata… Masih juga ditutup. Huaaa…. :(( John menerima perintah dari Intercity untuk kembali saja ke Franz Josef.


Pengumuman Penutupan Jalan
Tentunya para penumpang pada ngambek semua. Aku mulai panik… gimana coba bookingan yang udah pada diconfirm itu? Ada bookingan penginapan, terus bookingan tour ke Milford Sound dan tour LOTR ke Glenorchy… Arrggghhh…. Mana udah pada dibayar pula (kecuali yang penginapan). Tapi penginapan tuh kalo dibatalin dibawah 48 jam sebelumnya kena charge 1 malam (kata booking.com). Trus… siapa yang jamin kalo besok kita lewat situ lagi, Haast Pass-nya bakalan sudah bisa dilewati?


Sebelum jalan menuju Franz Josef, bus berhenti sebentar di bengkel untuk cek-dan-ricek. Kemudian John jalan menyusuri gang di tengah bus untuk ngajak ngobrol penumpang satu-persatu. Nanyain rencana kami gimana. Oh how sweet… Aku cuman nanya, gimana bisa yakin kalo besok jalannya bisa dilewati? John menunjukkan prakiraan cuaca di HP-nya bahwa besok adalah sunny day. Es/salju-nya bakalan mencair dan jalannya bisa dilewati.


Aku sudah sempat mikir mau cari sewaan mobil untuk balik arah ke Christchurch dan mencoba untuk mencapai Queenstown dari arah Christchurch. Tapi… mana ada sewaan mobil di Franz Josef. Wong penduduknya aja mungkin lebih sedikit dari desa di Gunkid (cuma 300an orang). Omla mbujukin supaya kita pasrah aja besok ikut bus lagi ke Queenstown.


Sepanjang perjalanan kembali ke Queenstown para penumpang lesu semua. Kami mampir lagi di The Salmon Farm untuk makan siang yang agak terlambat. Karena memang gak ada tempat lain yang bisa dimampiri untuk makan siang.  Mbak-mbak solo traveler yang duduk di bangku sebrang kami sempat tanya ke John: Gak ada tempat lain lagi? John bilang emang gak ada. Mbak-mbak: terus besok mampir sini lagi buat morning snack? John: "IYA." GUBRAK!

Salmon Pizza yang yummy
Untuk makan siang ini kami pesan Pizza dengan topping Salmon. Entah kenapa pas Pizza-nya siap, ibu-ibu pemilik toko sulit menemukan nomor meja kami, padahal sudah digantung di tempat yang benar. Akhirnya John yang membawakan pizza tersebut ke meja kami.


Begitu sampai di Fox Glacier dan mendapatkan sinyal HP, aku buka booking.com untuk membuking Alpine Glacier Motel lagi. Tadinya aku nawarin apa gak mau cari penginapan yang lebih murah, sekalian nyoba penginapan lain. Tapi Omla maunya Alpine Glacier, karena seneng sama thermal blanketnya itu.

Sampai di Franz Josef, kami check in lagi di Alpine Glacier Motel. Dapet kamar yang sama dengan kemarin. Bapak-bapak resepsionis terheran-heran melihat kami lagi: So you’re stranded… Dan kami boleh mengambil sekotak susu lagi.


Begitu masuk kamar, kami langsung menelpon ke Queenstown: ke Absoloot Value Accomodation, ke Jucy Cruize, dan ngimel ke Nomad Safari. Absoloot Value langsung reskedul check in untuk besok (tanpa kena denda loh). Sedangkan Jucy Cruize juga reskedul untuk lusa (harusnya besok). Yang Nomad Safari hanya ngasih tauk bahwa ada kemungkinan batal karena delay perjalanan. Sementara Jucy Cruize (Milford Sound) emang jadi bentrok jadwalnya sama Nomad Safari (LOTR ke Glenorchy). Mau dipikir-pikir dulu mana yang mau dikorbankan….


Malam ini males mau kemana-mana karena bete (lagipula mau kemana juga? Berendam di kolam air anget?). Kami gak makan malam hari ini, karena masih kenyang sama pizza salmon yang tadi sore. Jadi langsung tidur-tiduran di atas electric blanket, meratapi nasib ceritanya…


Sambil tiduran, aku browsing-browsing websitenya New Zealand Traffic Authority. Ternyata di website itu ada pengumuman tentang penutupan jalan. Nah, dari halaman pengumuman itu aku jadi tahu kalo yang ditutup karena salju bukan cuman Haast Pass, tapi juga Lindis Pass (yang dilewati kalo dari Christchurch mau ke Queenstown) dan satu titik di Milford Road (yang dilewati kalo dari Queenstown mau ke Milford Sound). Bedanya kalo Lindis Pass ditutup, masih ada jalur lain sebagai alternatif. Sedangkan Haast Pass gak ada jalur lain kecuali muter lewat Christchurch, dan yang lebih parah lagi Milford Road, gak ada jalan lain sama sekali. Dengan kata lain: Milford Sound terisolir kecuali lewat udara (kalo cuaca memungkinkan) atau lewat laut.


Setelah membaca tentang Milford Road tersebut, maka aku pun memutuskan bahwa kami akan mengorbankan Milford Sound. Alasannya:
1) Risikonya lebih tinggi. Kalau pas kami di Milford Sound (misal lusa saljunya sudah mencair), kemudian cuaca jadi buruk dan jalannya tertutup lagi, kami bakalan stranded di Milford Sound, gak bisa balik ke Queenstown.
2) harga paket tour lebih mahal yang LOTR ke Glenorchy dibandingkan yang Milford Sound (NZD179/pax vs NZD150), jadi kalopun uang yang sudah dibayarkan gak bisa dikembalikan, kerugiannya lebih kecil.
3) Kalo kami ke Milford Sound, kami jadi gak menikmati kota Queenstown sama sekali, karena tour ke Milford Sound itu full day, dari jam 8 sampe jam 8.

Dengan pengambilan keputusan tersebut, aku bisa tidur dengan agak lebih nyenyak. Tapi pas kami pergi tidur, cuaca masih hujan. Hmm… beneran nih besok cerah? Kata prakiraan cuaca dari beberapa sumber sih besok emang cerah. Dan katanya langit baru berangsur-angsur bersih setelah jam 12 malam nanti. Kita tunggu saja besok, selamat tidur….

Middle Earth Trip: Day 3

Pagi ini kami bangun agak lebih pagi, karena jam 7.30 sudah harus siap di depan Canterbury Museum untuk naik shuttle ke Greymouth. Seperti biasa mandi, terus sarapan. Omla sarapan indomie lagi plus sedikit Naan Bread, sedangkan aku sarapan Naan Bread plus sedikit coconut bar (dari trip Edoras kemarin). Setelah itu aku sempat mampir ke dapur untuk mencuci sendok garpu.


Waktu kami jalan sekitar jam 7 dari hotel, langit masih gelap. Kami berjalan sekitar 300 meter, kemudian menunggu Atomic Shuttle yang jadwalnya 7.30. Pas jam 7.30, shuttlenya baru datang. Ternyata penumpangnya hanya ber-4. Ya mungkin karena emang lagi low season, dan sebagian orang memilih menggunakan TranzAlpine yang harganya lumayan jauh lebih mahal untuk berpindah dari Christchurch ke Greymouth.

Di depan Canterbury Museum


Drivernya mengumumkan bahwa jalan yang melalui Arthur’s Pass ketutup karena longsor, jadi kita akan deroute lewat Lewis Pass, jalan yang lebih ke utara dibandingkan Arthur’s Pass. Kita akan terlambat sekitar 45 menit, tapi masih cukup banyak waktu untuk mengejar connecting bus ke arah Franz Josef.

Biri-biri di atas bukit


Hari ini agak mendung, sepanjang perjalanan melalui jalan Lewis Pass itu pemandangannya adalah bukit-bukit, rumput, dan biri-biri. Sebelum memasuki kawasan forest park, kami sempat mampir toilet dulu di depan bumi perkemahan, tapi aku dan Omla belum pengen. Lepas dari kawasan bukit dan rumput, kami melewati kawasan hutan, dan di beberapa tempat yang kami lewati ada tempat wisata panas bumi juga.

More Biri-biri


Perjalanan kali ini dinikmati dengan melihat pemandangan sambil sesekali tidur sampe ngiler. Untuk mengobati ngantuk, sesekali kami nyuil coconut bar (masih yang dari Edoras kemarin). Coconut bar itu rasanya manis banget, jadi makannya gak bisa sekaligus banyak.


Sekitar jam 10 lebih kami singgah di Reefton untuk toilet dan refreshment. Kami foto-foto sebentar, kemudian mencari toilet di i-site. Toiletnya terlihat kuno, tapi yang penting bersih dan ada air hangatnya. Di cuaca gerimis dan berangin gitu, air panas menjadi penting. Kami gak sempet cari refreshment (tapi emang gak niat sih), setelah itu sudah waktunya jalan lagi.


Jam 12 kami sampai di Greymouth. Kami diturunkan di depan i-Site yang letaknya di sebelah stasiun kereta. Kereta TranzAlpine berhenti di stasiun tersebut. Di sebelahnya adalah jajaran supermarket besar, ada The Warehouse, Countdown. Terus ada beberapa fastfood chain juga.

Di stasiun Greymouth


Kami menitipkan koper di i-Site dengan biaya $1/item. Kemudian berjalan menyusuri pertokoan di Mackay St. Karena memang gak ada niatan untuk mampir ke toko, setelah agak jauh kami memutuskan untuk balik lagi ke dekat i-Site dan mencari makan.


Pertokoan di Greymouth


Apa artinya nama Greymouth? Grey-mouth adalah mulut sungai Grey. Di pinggir sungai kami lihat ada penanda awal West Coast Wilderness Trail, bagian dari ratusan (atau ribuan) km jalur sepeda di NZ.

Setelah tiba kembali di dekat i-Site, aku berhasil membujuk Omla untuk makan di Subway (dan bukan McD) di komplek supermarket dekat stasiun. Makanannya apa? Pilihannya sandwich atau flatbread dengan topping yang tailor-made dan porsi yang agak ngamuk meskipun udah pesen yang 6-inch (bukan footlong).  


Selesai makan, aku ngajak ke The Warehouse. Pengen liat-liat aja. Setahu aku barang di situ relatif murah-murah. Bener aja kan… ternyata dapet sarung tangan kutung cuman $4 saja. Sarung tangan kulit yang dibawa dari Jakarta, meskipun hangat dan terlihat gaya, tapi ternyata gak oke kalo kena basah. Kalopun pas lagi gak basah, ternyata terasa rese’ karena jarinya gak bisa mencet-mencet kamera atau HP. Sarung tangan The Warehouse ini yang bakalan aku pakai terus selama di South Island, sampe bolong-bolong.


Dari The Warehouse, kami lihat bus yang sepertinya bakal membawa kami ke Franz Josef sudah datang. Jadi kami memutuskan untuk jalan ke i-Site lagi untuk ke toilet, ambil koper, tak lama setelah kami siap di depan bus, driver busnya mulai mengabsen para penumpang yang akan naik dari Greymouth.


Kami berangkat dari Greymouth jam 13.30, menyusuri jalan utama pantai Barat ke arah Selatan. Driver bus bertindak juga sebagai guide. Jadi sepanjang jalan dia beberapa kali bercerita tentang kehidupan orang-orang di Pantai Barat, tentang cuaca, dan beberapa hal lainnya.


Dalam perjalanan Greymouth-Franz Josef ini pemandangannya adalah pantai, rumah di tepi pantai, dan hujan. Kami singgah di Hokitika, kebetulan cuara cerah waktu kami diturunkan di depan National Kiwi Center. Konon produk khas dari Hokitika adalah batu jade/greenstone. Karena kami gak tertarik sama bebatuan, kami jalan kaki ke tepi pantai. Dari tempat parkir bis ke tepi pantai melewati pertokoan. Sebagian besar toko sudah tutup sejak jam 13-14 tadi (karena hari Sabtu), ada sebagian kecil yang buka sampai jam 5 sore. Hanya supermarket yang buka sampai jam 8 malam.


Pantai Hokitika


Pantainya berpasir hitam dan berbatu-batu, anginnya besar dan dingin. Kami berfoto-foto sebentar, habis itu cepat-cepat kembali ke pertokoan. Karena di balik pertokoan, anginnya gak terlalu besar. Habis itu mampir ke Supermarket New World, beli cemilan (langsung napsu liat coklat Snickers harganya lebih murah dari di Jakarta).


20 menit sejak bus berhenti, kami jalan lagi. Waktu kami masuk bus, cuaca mulai gerimis lagi. Cuaca terus gerimis sepanjang perjalanan sampai kami tiba di Franz Josef sekitar jam 5 kurang dikit.


Kami turun waktu busnya berhenti di dekat YHA Franz Josef Glacier. Cuaca masih gerimis dan…. diiiingggiiinn!!!! Motel kami gak jauh dari YHA: Alpine Glacier Motel. Kami langsung ke front office, mencari-cari officernya yang tak kunjung muncul meskipun sudah dipanggil pakai bel yang tersedia di atas meja.


Untungnya kami gak nunggu terlalu lama, om-om resepsionis yang ramah akhirnya muncul. Dia cukup kagum waktu tauk kami orang Indonesia, terus menyangka bahwa pakaian musim dingin kami pasti baru beli di NZ… ahahaha…. gak separah itu kali…. Dia bilang kami mendapat kamar yang lebih besar dari yang kami pesan (upgrade). Wow… Sebelum kami meninggalkan front office, dia bilang kami boleh ambil 1 box susu yang tersedia di kulkas front office. Lumayan… 300 ml. Bisa buat berdua biarpun agak ngirit.

Balkon yang menghadap pemandangan bak The Sound of Music
Tempat tidur dengan thermal blanket
Alat makan lengkap

mini pantry


Waktu masuk kamar, baru deh terheran-heran liat ukuran dan fasilitas yang ada di kamar. Lengkapnya di review penginapan. Terus waktu lagi nyoba-nyoba lampu kamar mandi (yang ada pemanasnya)… baru sadar kalo ternyata udaranya diiinngggiiin banget. Ukuran kamar yang besar membuat pemanasnya gak cepet nyebar.

Kamar mandi dengan lampu pemanas

Gara-gara dingin, Omla pengen Indomie… Ha…Indomie lagi…?? Aku setuju dengan makanan dan minuman yang hangat-hangat. Jadi sebelum semakin malam, kami memutuskan untuk keluar ke supermarket. Di jalan utama Franz Josef, ada supermarket Four Square, hanya 5 menit jalan kaki dari penginapan kami. Sepertinya di Franz Josef ini semua serba dekat, wong desanya kecil banget. Penduduknya hanya 300-an orang.


Supermarketnya lumayan lengkap (untuk ukurannya yang gak terlalu besar). Di sana ada Indomie, tapi sekali beli harus 5 bungkus. Aku keberatan beli Indomie, karena masak Indomie itu harus pakai kompor. Padahal di kami hanya menginap 1 malam di Franz Josef, penginapan kami yang berikutnya ga ada kompor. Apalagi kalo pake telor segala. Sekali beli juga minimal 5. Gimana cara bawanya? Kalo ditaroh di koper bisa-bisa mencemari segala perlengkapan lainnya.


Untungnya di rak yg sama dengan Indomie nemu mie instan bikinan Thailand yang ada tulisannya halal. Jadi aku bujukin Omla untuk beli yang 1 aja 2 bungkus (dan tanpa telor). Selain itu kami beli drinking chocolate dan juga cream soup yang tinggal diseduh. Pokoknya segala yang bisa membawa kehangatan deh.


Setelah selesai di supermarket, kami jalan mengelilingi blok, malam ini aku mulai menjalankan layering pakaian hangat, lengkap deh dari mulai longjohn sampe gore-tex semua dimainkan. Setelah blok tersebut habis dikelilingi (padahal ukurannya lebih kecil dari 1 blok di kompleks Buncit Indah), kemudian kembali ke motel untuk menyiapkan makan malam. Menu malam ini adalah pita bread, tuna kaleng, baked beans, dan mushroom soup.

Ada apa di Franz Josef? Di dekatnya ada Franz Josef Glacier. Kalau di musim panas (Oktober-April) bagi traveler yang naik bus Intercity dan hanya punya 1 malam di Franz Josef, bisa ikut tour Glacier Valley Walk yg sesi malam (berangkat jam 5.30), sayangnya saat itu sudah memasuki akhir musim Gugur. Atau kalau mau aktivitas yang lebih “fisik”, bisa stay 2 malam di Franz Josef untuk mengambil Ice Explorer Tour, berjalan di atas es abadi! Hmm, maybe next time ya…

Kembali ke makan malam lagi… makanan-makanan hangat yang kami bikin cepet sekali dinginnya (relatif dibandingkan di Jakarta), tapi jadi lebih aman buat lidah sih. Biasanya kalau makan cream soup aku suka gak sabar, masih panas sudah dihajar, bikin sariawan aja. Nah, kalo di Franz Josef belum sempet dihajar udah keburu dingin…


Pita Bread, Tuna Kaleng, Baked Bean, Mushroom Soup for Dinner


Selesai makan, aku cuci piring dulu. Awalnya cuek aja pake air dingin buat cuci piring (serasa di rumah), ternyata lama-lama tangannya kedinginan. Omla langsung masuk ke dalam selimut. Menikmati electric thermal blanket yang tersedia di tempat tidur. Sementara itu di luar mulai hujan lagi. Makin lama makin besar.


Habis cuci piring, kami pun tidur…

Middle Earth Trip: Day 2

Setelah perjalanan panjang dari Jakarta-Sydney-Auckland-Christchurch kemarin (dan kemarin dulu), untungnya hari ini tour lokal kami dimulai jam 9 pagi. Jadi bisa bangun jam 7 pagi. Yang mana… jam 7 pagi itu masih gelap. Kayak jam 5.30 aja kalau di Jakarta.
Setelah mandi dan menyiapkan barang-barang yang mau dibawa, kami sarapan pagi. Omla makan indomie goreng gelas dan aku makan Naan Bread, dua-duanya dibeli di Relay Auckland Airport kemarin pas baru mendarat di Auckland. Pagi ini aku gak ke dapur, Omla aja yang ke dapur cari air panas. Sekalian isi tumbler buat bekal selama tour.

Di depan Thomas's Hotel
Jam 9 kurang dikit kami udah siap di depan hotel. Kemana kami hari ini? EDORAS!!! Ya kami ikut Edoras Tour yang diselenggarakan oleh Hassle Free Tours. Tujuannya adalah ke Mt.Sunday, sebuah bukit di dekat Mt.Potts Station yang dipergunakan untuk shooting istananya King Theoden of Rohan di film Lord of The Rings: The Two Towers. Apa specialnya dari tempat itu? Hmm… pemandangannya indah: bukit kecil dikelilingi oleh pegunungan yang kalo waktunya tepat diselimuti oleh sedikit salju di puncak-puncaknya. Dan satu lagi: anginnya yang gede banget. Tentang angin ini dibahas dengan cukup mendalam di Extra-nya LOTR Extended Edition DVD, karena Peter Jackson pernah kehilangan kacamata gara-gara tertiup angin di atas bukit itu. Aku melakukan booking untuk tour ini melalui bookme.co.nz, lumayan dapat diskon 50%.
Setelah foto-foto sebentar di depan hotel, tak lama mobil 4WD dengan kaca besar berhenti di depan hotel. Hmm… kayaknya itu mobilnya bikin sendiri deh. Supirnya keluar dan memperkenalkan diri sebagai Brent. Awalnya aku dengernya “Breen”. Aku pikir: Wow keren banget… tour guide Edoras Tour namanya kayak alien di Star Trek! Ternyata maksudnya BRENT.
Di dalam mobil sudah ada 2 orang mamak-mamak dari Australia. Sebenernya mereka bukan asli orang Australia sih, orang Amerika yang menikah dengan orang Australia dan sekarang tinggal di Australia. Karena aturan keimigrasian, setiap sekian tahun sekali mereka harus keluar dari Australia selama beberapa hari. Kali ini yang dipilih adalah ke Christchurch. Dan ketika tanya ke i-Site tour apa yang direkomendasikan, i-Site memberikan info tentang Edoras Tour itu. Jadi mereka bukan penggemar LOTR.
Di pengkolan selanjutnya (tepatnya di depan Canterbury Museum), kami berhenti dan menjemput dua penumpang lagi: pasangan lokal. Ceweknya, Kirsten, kerja di i-Site. Sepertinya dia dalam rangka semacam dinas. Karena dia kerja di i-Site yang tugasnya memberikan informasi wisata, dia harus tahu tentang tour-tour lokal yang ditawarkan di Christchurch. Supaya kalau ngasih info itu valid. Jadi bukan penggemar LOTR juga.
Dengan 6 peserta kami pun berangkat meninggalkan Christchurch. Sepanjang perjalanan Brent cerita tentang macem-macem. Bahkan ketika lewat jembatan terpanjang di NZ (kalau gak salah memotong sungai Rakaia), dia nanya: jembatan terpanjang di Indonesia berapa meter panjangnya? Yang terpikirkan sama aku hanya jembatan di tol Cipularang, sekitar 500-600 meteran. Trus Omla nanya: Emang Suramadu berapa panjang? Eh iya, ada Suramadu, tapi meneketehe berapa panjang, habis belum pernah lewat sih…  Tapi harusnya sih lebih panjang dari 1,9 km ya? 1,9 km = panjang jembatan Rakaia.
Setelah lewat jembatan, tak lama kami mampir di Salmon World. Waktunya sarapan pagi, kata Brent. Omla beli cappuccino, dan aku beli salmon sandwich. Tak lupa ke toilet. Setelah 20 menit, kami kembali jalan, kali ini menuju ke Mt Somers. Di kiri-kanan pemandangannya mulai padang rumput ber-sapi dan domba dengan background pegunungan.

Toilet di Mt. Somers dan mobil Hassle Free
Kami mampir lagi di Mt Somers, di camping groundnya tepatnya. Emang sengaja mampir untuk ke toilet, karena setelah itu susah menemukan toilet. Waktu turun dari mobil, anginnya mulai gede. Toiletnya sederhana, lantainya semen, tapi seperti toilet-toilet lain di NZ: Bersih.
Waktu kami naik mobil lagi, hujan mulai turun rintik-rintik. Brent melihat ke langit di atas daerah tujuan kami. Kemudian dia bilang bahwa habis ini kita bakalan kena hujan deras. Hmmm…. Kami melanjutkan perjalanan. Bener aja…. di jalan hujan lumayan lebat, ditambah mendung berkabut pula. Puncak-puncak pegunungan di sekeliling kami jadi kurang jelas.

Lake Clear Water
Kami sempat berhenti di tepi Lake Clear Water yang tepiannya penuh dengan holiday home, kalo kata Omla itu seperti nama daerah di Gunung Kidul: Banyu Meneng. Danau dengan tempat piknik gitu. Kalau cuacanya cerah pasti lebih bagus lagi pemandangannya buat foto-foto. Kalau dengan gerimis-gerimis gitu, yang ada malahan heboh takut lensa kamera kena hujan.
Dari tepi Lake Clear Water, kami melanjutkan perjalanan lagi (masih gerimis juga, malah sempat hujan deras). Jalanan sudah berubah jadi semacam sirtu. Bukan jalan aspal lagi. Sebelum sampai di tempat tujuan, kami berhenti di salah satu lookout point. Brent menunjukkan lokasi yang kami tuju. Di sana loohh… Tapi aku masih nggak ngeh juga, yang mana siihh? Soal ditunjukin tempat yang jauh-jauh gitu, aku suka agak lemot emang… hihihi…
Terus mobilnya jalan lagi, semakin mendekati. Waktu kami udah 1 level sama bukit Mt.Sunday, baru deh dari balik kabut kelihatan…. EDORAS!!! Brent mengemudikan mobil keluar dari jalan, kemudian berhenti di depan pagar yang tertutup. Setelah dia membuka pagar, mobil masuk untuk mendekati Mt.Sunday, terus kami berhenti di dekat kali dengan jembatan gantung kecil.  
Sambil mengamati ke arah bukit Edoras (aka Mt.Sunday), Brent menjelaskan adegan-adegan dalam film yang menggunakan lokasi tersebut. Dia juga menjelaskan bahwa selain Mt Sunday di dekat situ ada bukit yang jadi background untuk wide shot-nya Helm’s Deep.
Terus Brent tanya ke kami semua, mau naik ke bukit atau gak? Mamak-mamak OZ-USA semangat. Sementara aku malah tanya: Oh… Boleh ya? Setengah gak percaya gitu, boleh naik ke Edoras? Brent mengeluarkan perlengkapan: jas hujan dan celana waterproof buat yang gak siap dengan perlengkapan lenong. Kalo kami sih sudah siap.dengan perlengkapan lenong. Saatnya menguji ketangguhan celana quick dry!!
Selain perlengkapan lenong, Brent juga mengeluarkan beberapa Props: swords and axe. Pedang-nya kayaknya pedang Aragorn (tapi bukan yang Anduril, melainkan yang di Fellowship of the Ring, waktu dia masih Mere Ranger) sama 1 pedang yang aku gak kenal. Waktu aku tanya Brent, dia bilang itu pedangnya Theoden.

Tampang bahagia bawa pedang Aragorn yang bukan Anduril
Dengan sedikit kena gerimis, kami pun berjalan pelan-pelan menuju ke bukit Edoras. Omla sambil membawa pedang Aragorn, sepertinya senang sekali bisa bawa pedang itu. Di atas rumput kami menemui banyak telek sapi. Kalau kata Omla: telek of Rohan. Jadi itu bukan telek sembarangan.
Makin lama tracknya makin curam dan licin (karena basah), anginnya juga makin gede. Ugh… jadi inget Wayag. Ini kira-kira turunnya bakalan ngesot kayak di Wayag apa enggak ya?
Ketika akhirnya sampai di puncak bukit, gerimisnya sudah reda tapi anginnya masih juga besar. Gunung-gunung yang dekat mulai mengintip dari balik kabut. Bener-bener... Edoras... 360 derajat pemandangannya gunung, meskipun sebagian tertutup awan. Kalau Brent bilang, shooting adegan di Edoras itu dilakukan sekitar bulan Agustus-September (early Spring). Jadi gunungnya masih bersalju-salju, tapi cuacanya gak gegerimisan kayak late Autumn begini.
Ternyata puncak bukitnya itu gak sebesar yang aku bayangkan. Bayanganku Golden Hall itu gede banget. Sepertinya untuk mendirikan Golden Hall, mereka (kru film LOTR) mendirikan platform sedikit di bawah puncak bukit supaya bagian yang rata jadi lebih luas.

Anginnyaaa..... gede banget!!!


Di atas bukit kami foto-foto. Brent mengeluarkan bendera Rohan. Aku dengan senang hati foto megang bendera Rohan, sambil takut benderanya terbang ketiup angin. Setelah puas kena angin, gerimis, dan melihat pemandangan, kami pun turun bukit. Wow… ternyata aku gak perlu ngesot. Thanks to sepatu outdoor yang beli di bukalapak.com… terbukti maknyos… gak licin dan kaki gak kebasahan.

Sungai di dekat Mt.Sunday


Setelah tiba di mobil lagi, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Christchurch. Hujan sedikit membesar. Brent agak-agak pecicilan mengendarai mobil. Mentang-mentang 4WD. Sungai dihajar dengan kecepatan tinggi. Airnya nyiprat sampe menyiram badan mobil.


Gara-gara pecicilan gitu, bener aja deh…. pas udah masuk jalan aspal lagi (dan pas lagi enak-enak nonton film), dia merasa ada yang salah dengan mobilnya. Terus tiba-tiba dia berhenti di pinggir jalan dan bilang kalo ada sesuatu yang patah di bagian bawah mobil, jadi kita gak bisa terus. Ups… terus?


Sementara menunggu Brent mencoba menghubungi kantornya dengan menggunakan radio (gak ada sinyal HP di situ, komplit sudah), dia membagikan bekal piknik kami: sandwich, champagne, dan orange juice. Khusus kami, sandwichnya ayam, yang lain ada yang ayam atau babi. Roti-nya enak banget, karena ada lelehan keju panggang di atasnya. Tapi ukurannya amit-amit gedenya. Potongan ayamnya juga banyak dan gede-gede. Udah susah ngabisin sandwichnya, Brent mengeluarkan lagi sejumlah “dessert”. Ada ANZAC Biscuit sama Coconut Bar (sebenernya sih aku gak tauk itu coconut bar apa bukan namanya, tapi berhubung tekstur dan rasanya kelapa banget, jadi aku kemudian menyebutnya sebagai coconut bar). Kami kebagian coconut bar yang rasa Pineapple Ginger. Berhubung udah kenyang banget, jadi coconut barnya kami simpan untuk lain waktu.


Brent berhasil menghubungi kantornya, meskipun putus-putus. Dia melaporkan tentang kerusakan mobil dan minta dikirimkan bantuan. Kami para peserta akhirnya saling mengobrol. Kirsten (sebagai praktisi pariwisata) nanya-nanya tentang rencana perjalananku. Dia cukup heran setelah tauk bahwa waktu kami sempit (cuman 11 hari) dan tempat yang mau dikunjungi cukup banyak. Dia tanya apakah aku mempersiapkan semuanya via internet, dan apakah gampang untuk menemukan info wisata. Kirsten, jangan khawatir… negaramu ini bisa dikatakan cukup user friendly. Gampang banget menemukan info di internet.

Mobil mogok


Setelah mati gaya, kami keluar dari mobil, melihat-lihat tanaman di pinggir jalan. Pemandangannya sebenarnya indah. Tapi berhubung gak jelas kapan bisa jalan lagi, ya bete aja. Kirsten dan partnernya mencoba mencari toilet di villa yang gak terlalu jauh dari tempat mobil berhenti. Tak lama mamak-mamak OZ juga ikutan. Ternyata mereka gak menemukan toilet yang bisa digunakan.


Gak berapa lama setelah mereka kembali ke mobil, akhirnya ada mobil lain lewat. Kelihatannya minibus untuk antar jemput sekolah. Brent menghentikan minibus tersebut. Dan kami pun menumpang sampai dengan Mt Somers. Lumayan, kalo di Mt Somers ada sinyal HP. Jadi Brent gak perlu teriak-teriak untuk berkomunikasi dengan kantornya.


Kami menunggu di bar yang terletak di sebrang tempat camping Mt Somers (yang tadi pagi dimampiri untuk ke toilet). Australians dan New Zealanders pada minum liquor. Aku dan Omla sih hot chocolate saja. Plus ngemil kripik kentang. Pemilik bar menyalakan perapiannya karena emang di luar agak dingin sih.

Bar di Mt.Somers


Tak lama Brent masuk ke bar tersebut, dan menyatakan ke pemilik bar bahwa minuman dan makanan yang kita beli itu dibayari oleh Hassle Free Tours. Kemudian dia memberitahu bahwa tak lama kita akan segera jalan lagi ke Methven pakai mobil sewaan. Kami pun segera kukut-kukut membawa kripik kentang yang belum habis dan segera menghabiskan minuman.


Sampai di Methven, kami diturunkan di depan Blue Pub. Kata Brent, itu pub tempat Chris Pine (aka Capt.Kirk) pesta sebelum tertangkap karena nyupir di bawah pengaruh alkohol bulan Maret lalu. Yang lain langsung masuk ke pub tersebut. Ha? Another drink? Ewww…. gak mau ah… masuk pub artinya makan atau minum lagi. Rasanya udah kenyang banget, plus kalo minum lagi kan gak mungkin air putih. Pasti pake rasa-rasa, yang artinya: gegulaan.

Blue Pub


Aku memutuskan untuk cari supermarket. Berhubung kita bakal terlambat sampai di Christchurch, aku harus ke supermarket sekarang untuk cari perbekalan. Kapan lagi? Besok pagi-pagi sudah jalan ke Franz Josef, terus aku khawatir di Franz Josef (kota yang jauh lebih kecil) gak ada supermarket yang buka sampai malam. Lagipula ada yang gak bawa cukuran jenggot dari Jakarta. Kalo dibiarkan tanpa cukuran jenggot, bisa gawat….  


Aku dan Omla berjalan menyusuri jalan utama Methven untuk cari supermarket. Ternyata gak ada, kebanyakan toko pakaian outdoor. Kayaknya kota tersebut memang kota wisata ski kalau musim dingin. Tapi ketika berjalan kembali ke arah Blue Pub, aku melihat ada supermarket agak masuk ke dalam. Wow… ternyata supermarket yang cukup lengkap. Kami beli sandwich spread rasa salmon dan udang, pita bread, baked bean kalengan, tuna kaleng, dan gak lupa: cukuran jenggot.


Kemudian cepat-cepat balik ke Blue Pub lagi. Kami duduk-duduk di taman kecil dekat Blue Pub. Sekitar 15 menit kemudian (tapi rasanya panjang banget), Brent memanggil kami. Rupanya mobil bantuan sudah datang. Aku pikir temannya bakal membawa mobil tersebut, kemudian kami sama-sama balik ke Christchurch. Ternyata temannya itu membawa truk tronton, di atasnya ada mobil 4WD yang modelnya lebih aneh dibandingkan mobil yang rusak itu.


Sambil menunggu Brent dan temannya menurunkan mobil tersebut dari tronton, kami menonton bintang di langit. Di tengah kota kecil seperti itu, bintangnya cukup jelas. Milky Way-nya kelihatan. Wow…


Proses penurunan mobil ternyata sangat simple dan singkat. Aku sampe terheran-heran, gara-gara terbiasa melihat proses naik turun alat berat dari tronton di Kasim yang selalu menghebohkan dan butuh banyak orang. Yang ini hanya dikerjakan oleh 2 orang, tanpa usaha keras pula. Another wow…


Setelah mobil diturunkan, Brent memanggil 4 penumpang lainnya. Mobilnya terdiri dari 2 kompartemen penumpang yang posisinya jauh lebih tinggi dari kompartemen supir. Aku, Omla, dan mamak-mamak OZ duduk di kompartemen depan. Kirsten dan partnernya duduk di kompartemen belakang.


Sepanjang jalan terkantuk-kantuk, dan sempet beneran tidur. Tapi masih sempet nonton bebintangan dari balik jendela mobil. Omla bilang pemandangan bintangnya beda dengan di Indonesia (iya harusnya sih).


Sekitar jam 8 malam kami akhirnya sampai di depan Thomas’ Hotel. Untungnya kami masih sangat kenyang, thanks to sandwich raksasa yang tadi siang. Jadi gak perlu cari makan lagi. Sampai di kamar, kami langsung mandi, beres-beres koper, kemudian tidur.

Hari yang… um… apa ya? Campur-campur deh… Senang sudah pasti, capek juga udah pasti, terus “harusnya” sebel (karena mobilnya rusak, karena kedinginan, karena kena hujan)... tapi anehnya aku gak merasa sebel. Mobil rusak, kehujanan, dan kedinginan sepertinya emang jadi bagian dari pengalaman baru… yang harus dinikmati aja. Lagipula selama kesulitan mobil tadi, guide kita: Brent, tetep cool dan gak keliatan panik. Trus dia memperlakukan kami sebagai konsumen (yang mana konsumen adalah raja). Semuanya ditanggung oleh Hassle Free. Sayangnya kami sebagai orang Indonesia berperut minimalis tidak dapat mempergunakan status raja tadi dengan sebaik-baiknya. Hehehe….

Middle Earth Trip: Day 1

Waktu akhirnya terbangun dari tidur yang gak nyenyak-nyenyak amat, di luar masih gelap. Karena pesawat masih di ketinggian jelajah, jadi pemandangannya adalah bintang-bintang. Melihat langit dengan banyak bintang adalah pengalaman langka jaman sekarang. Tahun lalu aku sering terbang malam, tapi karena judulnya buat kerja jadi selalu dilalui dengan tidur dan duduk di sisi aisle.


Gak lama kemudian, sarapan dihidangkan. Muffin, Yoghurt, dan Juice. Yoghurtnya merk Biokul, salah satu merk yang biasa aku beli buat sarapan. Hmm… ini pasti hasil karya Aerowisata (karena yoghurtnya merk Biokul), pantesan rotinya tadi malem lembut dan empuk, roti kesukaan orang Indonesia… Sayangnya aku gak cocok sama roti jenis begitu. :(


Kami mendarat jam 6 lebih dikit waktu Sydney. Langit masih gelap, matahari masih mengintip dalam bentuk segaris fajar. Lagi-lagi pemandangan yang jarang dinikmati di Jakarta, karena biasanya masih tidur pada saat fajar menyingsing. Hehehe….


Kami keluar dari pesawat, kemudian langsung melewati Security Gate yang ke arah terminal keberangkatan international. Waktu yang tepat sekali untuk mendarat…. karena setelah lewat pemeriksaan security, aku langsung masuk ke toilet untuk menunaikan panggilan alam. Alhamdulillah, gak pake jetlag kalo untuk urusan boker…. biar kata di Jakarta masih jam 3 pagi, tetep bisa lancar. Mungkin karena habis makan yoghurt.

Di Sydney Airport
Kami jalan-jalan di terminal keberangkatan. Kebetulan departure gatenya agak jauh. Sampai di departure gate, cuman duduk aja sambil liat-liat pesawat dan agak-agak ketiduran. Habis mau belanja bawa Dollar Australia-nya pas-pasan. Lagipula masa’ belum nyampe ke tujuan udah bebelanjaan. Mau makan, masih kenyang. Paling bolak-balik ke toilet (total ke toilet sampe 3 kali!).


Jam 9 kami boarding lagi. Waktu jalan ke tangga pesawat, kerasa angin pagi Sydney, agak-agak dingin seger gitu. Waktu pesawat take off, aku mencoba mencari Sydney Opera House dan Harbour Bridge. Eh ketemu loh, meskipun terlihat kecil dan agak ketutup kabut.


Kali ini pesawatnya B737-800. Seperti biasa dengan bunyi mesinnya yang bising. Jadi kalau ngomong mesti pake teriak-teriak. Giliran ditawarin makanan, gak kedengeran pilihannya apa. Terus Omla dengan sok teu milih ayam, dan milihin aku menu yang sama. Aku protes awalnya, lha habis pengen tauk pilihan satunya apaan. Tapi berhubung si pramugari udah nyodorin paket ayam, ya udah aku terima aja.

Ayam dan Ubi yang ternyata endyang.... 
Ternyata ayamnya endyang markondyang…. karbohidratnya bukan kentang, tapi sweet potato alias ubi dikukus. Saladnya juga enak. Pake balsamic vinaigrette. Emang top deh Qantas ini… makanannya enak-enak. Yang semalam juga enak, kecuali rotinya aja yg gak cocok. Setelah kenyang dengan ayam, ubi, dan salad, waktunya untuk dessert: Es Krim Mangga!  

Es Krim Mangga Maknyus
Setelah sibuk makan, baca majalah, dan nonton on board entertainment, akhirnya terlihat daratan: New Zealand! Lengkap dengan awan-awan putih di atasnya. Wow… Land of long white cloud beneran… It’s one of those moments… ketika kita akhirnya melihat tempat yang udah lama pengen kita kunjungi.


Selain awan yang berbaris, pemandangan lainnya adalah tanah peternakan dan pertanian. Bahkan sedekat itu ke kota Auckland… di bawah yang kelihatan perbukitan dengan rerumputan, atau kebon. Kami mendarat di Auckland jam 2 lebih waktu setempat. Lewat Imigrasi dengan lancar, kecuali Omla yang agak lama karena ditanya mau nginep dimana jadi harus mengeluarkan contekan itinerary yang sudah aku buatkan. Setelah itu ambil bagasi juga gak pake lama. Kemudian lewat custom juga lancar. Aku declare kalo sepatu outdoorku agak kotor (jadi kemungkinan ada tanah-tanah nempel), tapi ibu-ibu petugas yang mukanya serem itu bilang gak jadi masalah. Setelah itu melewati X-Ray di Custom kemudian ketemu sama anjing beagle.


Anjing beagle ini emang fungsinya untuk mendeteksi makanan yang gak boleh masuk ke NZ. Kalo si beagle gak mau lepas dari tas kita, nah lo… siap-siap aja digeledah. Kalopun gak ada makanan, ada kemungkinan di tas itu pernah ditaroh makanan dan baunya masih nempel.  Untungnya si beagle cuman ngendus-ngendus sebentar tas kami, habis itu kami dicuekin aja. Good dog… Good dog…


Keluar dari custom, kami langsung menukar uang USD kami ke NZD di Travelex. Yang jualan bapak-bapak India. Dia bilang dia terima uang Rupiah. Ahahaha…. Rate-nya berapa pak’e? Tadi sempet liat, kalo jual 8000, beli 11000… gak bagus kan? Lagian uang rupiah kami tinggal 5000 doang, dapat 1 NZD pun enggak.


Kemudian belanja SIM Card. Nah ini dia nih…. ternyata Gtab-ku gak compatible dengan frekuensi-nya Telecom NZ. Padahal udah ngebayangin browsing pake gtab selama perjalanan. Baru kerasa deh kalo barang itu udah jadul (udah 3 tahun lebih gitu umurnya, untuk gadget itu umur pakainya sudah habis). Jadi terpaksa SIM Card-nya dipasang di Blekberi. Akibatnya jadi gak bisa WA, FB, BBM, dan email… kecuali pas ketemu Wifi, karena WA dll di BB menggunakan Blekberi Internet Service. Tapi untungnya masih bisa browsing, karena browsernya BB bisa dipakai dengan data connection biasa (gak harus pakai BIS).


Urusan SIM Card ini cukup melelahkan. Sempet gak bisa langsung dipake, mana low batt pula Blekberi-nya, tapi untung petugasnya helpful. Ketika kami meninggalkan counternya Telecom kedua SIM Card sudah aktif dan bisa dipake nelpon. Setelah itu, aku belanja makan pagi buat besok di mini market Relay. Beli Naan Bread dan Indomie Cup. Nyoba nyari susu UHT kotakan tapi gak nemu.


Kemudian kami bergerak ke terminal domestic yang ternyata jaraknya cukup jauh. Pesawat kami berikutnya adalah Auckland-Christchurch dengan JetStar. Begitu keluar dari Arrival Hall…. ZING!!! Ternyata di luar dingin!! Giling! Kok malah di luar yang ada AC-nya?!
Selain dingin, anginnya lumayan besar… Eh atau sebenernya dia kerasa dingin karena anginnya besar ya?

Jalan antara terminal International-Domestik yang berliku-liku
Gak cuma jauh, jalan menuju ke terminal dometik juga berliku-liku melewati banyak tempat parkir dan gedung perkantoran bandara, untungnya selain petunjuk berupa papan, ada juga garis hijau di trotoar yang tinggal kita ikuti saja.


Waktu akhirnya sampai di terminal domestik khusus JetStar, kami langsung self-check-in di mesin. Tapi belum bisa menyetor bagasi, karena counter baggage drop off baru buka 2 jam sebelum jadwal keberangkatan. Kami menunggu di dekat check in counter JetStar, karena sebenarnya 2 jam sebelum keberangkatan itu kurang dari 30 menit lagi. Aku sambil menukar jaket dari dalam koper. Tadinya memakai jaket fleece, aku tukar dengan jaket outer layer (yg waterproof), karena si outer layer ini lebih gak bikin sumuk kalau dipakai di indoor.


Aku tadinya pengen web-check-in. Tapi waktu mencari di websitenya JetStar gak ketemu menunya. Nah, sambil check in di mesin self-check-in tadi aku perhatikan ada beberapa orang bawa HP/tablet yang isinya dokumen bukti web-check-in. Nah berarti ada dong ya? Berarti aku aja yang kurang heboh nyari menu-nya. Nanti dicoba ah untuk flight Christchurch-Wellington.


Setelah menyetor bagasi ke baggage drop off, kami menuju ke dekat security gate. Ternyata ada food court. Karena sudah mendekati jam 5-6 sore, diputuskan untuk makan malam dulu. Supaya nanti di Christchurch gak repot cari makan lagi. Makan apa kita? McDonalds… ahahaha….

Apple Pie McD!!! 
Omla pesan burger dan french fries, sedangkan aku pesan Apple Pie!! Iya penting banget apple pie itu… di McD Malaysia aja ada menu Apple Pie, kenapa di Endonesa bisa menghilang?


Setelah selesai makan, kami liat-liat di toko Relay sebentar, kemudian melewati security gate untuk ke departure gate. Nah… petunjuk di display TV itu agak membingungkan, beda dengan boarding pass. Yang satu bilang di gate 23, satu lagi bilang di 20. Akhirnya kami nunggu di 20. Banyak orang kebingungan juga di situ.


Sambil nunggu, aku memanfaatkan PC berinternet gratisan buat ngirim email ke the HORSEY!s. Ngasih kabar aja bahwa udah sampe Auckland. Lagi asik-asik nulis cerita, ada panggilan boarding, ternyata emang di gate 23!! Email langsung di-send, tutup browser, udah gitu bergerak ke gate 23. Untuk pindah dari gate 20 ke gate 23 yang berbeda lantai, pilihannya pake lift atau lewat semacam tangga darurat, gak ada eskalator ke arah  turun.


Waktu sampe di gate 23, pesawat kami belum boarding, baru siap-siap boarding saja. Yang sudah boarding yang di gate 24: pesawat Air New Zealand, kalo gak salah sama-sama jurusan Christchurch juga.


Tapi gak lama pesawat kami boarding. Kami dapat tempat duduk agak ke depan (baris ke-2 aja gitu). Yang menyebalkan dari duduk di depan itu adalah biasanya kompartemen carry-on baggage sudah terpakai untuk menyimpan logistiknya crew pesawat (selimut, bantal, P3K, dll). Jadi waktu kami sampai di atas pesawat, udah gak kebagian kompartemen atas, terpaksa naroh ransel di bawah kursi depan deh…. yah, tapi toh terbangnya cuman 1 jam 20 menit ini.


Lagipula karena sebelumnya habis perjalanan panjang, selama penerbangan bawaannya pengen tidur aja. Jadilah rasanya 1 jam 20 menit tersingkat yang pernah aku jalani. Hehehe…. gak kerasa tiba-tiba udah mau mendarat di Christchurch aja.


Wow!! Akhirnya… South Island! Kami turun dari pesawat, langsung menuju ke conveyor belt. Ternyata bagasinya cepet banget keluarnya. (eya lah…. emangnya Soetta yang udah overload).
South Island!!
Sambil nunggu koper kami keluar, Omla ke WC dulu. Selesai dari WC tas kami udah keluar dua-duanya. Kemudian langsung menuju ke tempat ngetemnya Super Shuttle. Gak sulit untuk ditemukan. Namaku juga sudah tercatat di manifest penumpang. Kami nunggu beberapa penumpang shuttle lainnya. Selain yang sudah booking sebelumnya, ada juga yang go-show.


Setelah mobilnya penuh, pak supir langsung mengabsen penumpang yang sudah booking sebelumnya, kemudian kami pun berangkat. Pemberhentian pertama adalah di Jailhouse Accommodation. Ternyata kami adalah penumpang kedua yang diantar.


Sampai di depan Thomas’ Hotel jam 9 teng. Sebenarnya aku sudah diberi kode untuk membuka kunci depan via email, dan katanya kunci kamar kami akan diletakkan di meja resepsionis, karena resepsionis hanya buka sampai dengan jam 9. Ternyata waktu kami sampai di hotel, resepsionis masih buka, baru bersiap-siap untuk tutup. Waktu aku masuk ke lobby, bapak-bapak yang menyambut langsung tanya: Laksmi?  

Setelah urusan bayar-membayar, kami pun masuk ke kamar di lantai 2 (agak ngangkat koper sambil naik tangga gitu deh). Setelah mandi, maka kami pun istirahat….