Kadang-kadang, tinggal di Sorong ini serasa tinggal di luar negeri. Bagaimana tidak... naik pesawatnya lebih lama dari ke Singapore/KL, kebiasaan-kebiasaan penduduknya juga jauh berbeda dari daerah asal tempat tinggalku. Datang ke kawinan di Sorong untuk pertama kalinya, sama canggungnya dengan datang ke kawinan di Singapore...
Namun demikian, beda halnya ketika menjelang 17 Agustus. Di sini malah lebih heboh dibandingkan di Jawa. Mengingatkan aku pada masa kecilku di Utan Kayu... yang mana rentengan bendera merah putih kecil2 dipasang di antara tiang2 telpon. Belum lagi umbul-umbulnya. Kalo di Jawa sekarang?? Yang banyak malah bendera dan umbul-umbul partai.
17 Agustus kemarin, aku berkesempatan untuk ke Klamono. Suatu tempat yang ingin kudatangi, sejak jaman masih di kantor yang lama. Menurut cerita beberapa teman yang pernah dinas ke sana, pekerja-pekerja yang ditugaskan di sana tuh menderita banget. Panas, jalan jelek, berdebu, tapi herannya... beberapa kali si Omla ke sana kok gak pernah mengeluh ya? Hehe...
Kali ini aku ke Klamono bukan dalam rangka dinas, walaupun masih untuk urusan kantor juga: survey tempat untuk Pasar Murah BUMN 2011. Berangkat dari Sorong naik mobil dobel cabin sekitar jam 10 kurang, sempet muter-muter di Aimas, gara-gara di alun-alun lagi ada upacara 17an (kalau kantorku sudah jam 7 pagi tadi), jadi jalan utama ditutup.
Begitu lewat kantor kabupaten, mata udah tak tertahankan, aku pun tidur, sepanjang perjalanan sih yang aku ingat mulus-mulus aja, kecuali di beberapa titik saja yang jelek dan mobil harus pelan-pelan. Ketika aku terbangun, ternyata sudah dekat kantor EP Klamono. Tapi kita gak mau ke situ kan, jadi lanjut lagi sampe ke "pusat persinggahan"-nya Klamono, yaitu deretan rumah makan dan warung yang ada di dekat jembatan Klamono. Dua mobil lainnya sudah sampai duluan ternyata, mereka lewat jalan tikus pas di dekat alun-alun tadi.
Begitu kami datang, rombongan langsung menuju ke Kantor Kepala Distrik Klamono (kalo di Jawa sama dengan kantor camat gitu deh) yang letaknya sekitar 2 km dari tempat kita ngumpul tadi. Dalam perjalanan menuju ke sana, aku nemu Pusat Layanan Internet. Wuiiihh... di tempat kayak gini ada juga internet yaa... (awal yang cukup optimistik).
Jalan menuju ke kantor Ka. Distrik, seperti halnya jalan-jalan di daerah terpencil, rusak. Ada jembatan kayu yang posisinya lebih tinggi dari jalan, jadi? Baiknya naik mobil tinggi gede macem dobel cabin ini kalo mau lewat. Kalo pake minibus-minibus kayak avanza, rush, innova, livina... wah gak meyakinkan deh.
Sampai di kantor Ka. Distrik, rupanya mereka baru saja selesai upacara bendera. Masih ada anak-anak usia SMP memakai baju seragam putih-putih, syal merah, dan peci: seragam pengibar bendera. Di lapangan depan kantor batang pinang dengan hadiah tergantung-gantung sudah tegak berdiri, siap untuk dimainkan.
Kami menunggu pak kepala distrik untuk menyampaikan pidato pembukaan acara 17an dulu, baru setelah itu berkumpul di kantor pak kepala distrik untuk menyampaikan maksud dan tujuan: meminta dukungan untuk pelaksanaan Pasar Murah BUMN. Ternyata si pak kepala distrik juga sudah dihubungi dari Wakil Bupati Sorong, jadi langsung nyambung lah kitaa.... beliau menyediakan sarana berupa tempat pelaksanaan pasar di Balai Kampung Klawana. Kampung Klawana itu adalah pusat pemerintahan dari Distrik Klamono. Pak kepala distrik juga meminta pak Pjs. GM yang kebetulan ikut dalam rombongan kami untuk mengumumkan sekalian tentang Pasar Murah tersebut. Mumpung masyarakatnya lagi pada ngumpul senang-senang di lapangan.
Waktu kami keluar... para pelajar berpakaian paskibra dan beberapa orang tentara lagi asik berjoget diiringi lagu dangdut. Wow... that was so INDONESIA. Suasana-nya pesta banget. Sayangnya terpaksa kami potong sebentar, karena mau kasih pengumuman terkait pasar murah.
Setelah itu kami dibawa ke rumah kepala kampung. Aku tunggu di luar, bersama salah seorang bapak dari Logistik yang bakalan ikut rombongan Klamono ketika pelaksanaan pasar murah nanti. Rupanya bapak itu adalah "orang terkenal" di Klamono. Lahir di Teminabuan, jaman kecilnya sering sekali mampir ke Klamono dalam perjalanan menuju Sorong. Kami duduk di kursi teras panjang, yang... aku agak ragu-ragu untuk mendudukinya, takut ambrol. Menurut bapak itu, beliau ragu kalau paket yang akan kami jual Rp.100.000/paket-nya bisa habis terjual di Klamono.
Kemudian kami dibawa ke balai kampung/desa. Sayangnya, pak sekretaris desa-nya ada di mobil dobel cabin yang paling belakang. Aku ada di mobil tengah. Pak Pjs. GM dkk ada di mobil paling depan. Kami melewati suatu bangunan yang reot, pintunya udah bolong, di depannya ada papan nama bertuliskan "Kantor Kepala Kampung Klawana", tapi papan tulisan itu gak kalah usang dengan bangunan di belakangnya.
Aku membaca tulisan itu. Eh? Apa bener ini kantornya? Ini bukan "bekas kantor" yang udah ditinggalkan? Driver kami sepertinya gak ngeh dengan tulisan itu. Bablas aja melewati gedung itu. Setelah lewat beberapa meter, aku bilang berhenti dulu sebentar... kita amati mobil belakang berhenti atau nggak di depan bangunan itu. Ternyata... mereka berhenti!!
Mobil paling depan malahan udah bablas melewati jembatan kayu yang tadi, sehingga kami harus menelpon mereka supaya mereka berbalik arah. Wah... jadi beneran balai desanya yang reot itu tadi... aslinya merupakan bangunan bertembok setengah, setengahnya lagi terbuat dari papan kayu, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Aku bayangkan.. kalau bangunan ini letaknya di Jawa, meskipun dibangun secara sederhana, mungkin setidaknya dalam keadaan bersih, catnya juga rapi, dan pintunya tidak bolong. Biasanya di Jawa, kalau ndak ada drop dana dari pemerintah, ya mereka merawat secara swadaya aja. Gak punya duit, ya mungkin bisa nyumbang kayu. Gak punya kayu, paling nggak ya nyumbang tenaga buat ngerjain secara gotong royong. Kalo di Klamono? Mungkin program penyuluhan yang menggerakkan kegiatan gotong royong aja jarang-jarang sampe situ...
Di hari peringatan kemerdekaan ke-66, masih ada tempat dengan kondisi menyedihkan seperti itu di Indonesia... tapi herannya, penduduknya masih bisa tertawa-tawa gembira di lapangan tadi. Yaya... kebahagiaan memang gak bisa diukur dengan materi ya.
Kalo dipikir-pikir, kayaknya penduduk di Klamono itu ndak peduli dengan kasus-kasus korupsi anggota dewan yang lagi marak akhir-akhir ini deh... mereka juga ndak kebayang, uang Rp. 6 T yang katanya dikorupsi itu sebanyak apa sih... apalagi kasus bank Century... boro-boro Century, bank BUMN yang biasanya masuk sampe ke pelosok-pelosok aja gak bisa ditemukan di sana. Tapi... sadly... begitu juga sebaliknya...jangan-jangan penduduk di Klamono itu juga gak pernah terlintas dalam pikiran para anggota dewan yang terlalu sibuk ber-SDM-ria (selamatkan diri masing-masing). Meskipun masih untung lah ada perhatian dari pemda setempat... kalo gak, ndak mungkin kan kita diarahkan untuk jualan di sana.
Setelah survey selesai, kami pun mampir ke kantor EP Klamono. Hmmm... tentunya setelah berkunjung ke tempat tadi, masuk ke mess bungalow yang ber-AC, berkarpet, ber-Wifi, ber-TV Indovision itu adalah kemewahan bintang lima. Ndak usah dibandingkan dengan keadaan penduduk lokal, dengan keadaan mess kami di Kasim sana saja yang di Klamono itu tergolong bagus. Apalagi sudah terhidang makanan yang konon kabarnya endyang markondyang itu (eh lagi puasa, jadi gak nyobain). Jadi, dengan segala fasilitas "bintang lima" tadi apakah masih ada yang mau mengeluh disuruh pergi dinas ke lapangan Klamono?
Pasar Murah-nya sendiri dilaksanakan tgl 20 Agustus 2011, di 3 tempat: Kantor Walikota Sorong, Klamono, dan Pasar Salawati. Harga paket yang dijual Rp. 100.000 (aslinya Rp.143.000, tapi disubsidi oleh BUMN sebesar 30%), isinya: 5 kg beras bulog, 2 liter minyak goreng Filma/Kunci Mas, 2 kg gula pasir, 2 botol sirup ABC Squash, 10 bungkus Supermie, 2 bungkus biskuit kelapa Roma, 1 bungkus wafer Fullo, dan 2 sachet mentega Blue Band. Ternyata... dengan harga yang segitu, paket "murah" itu gak segera terjual habis. Entah publikasinya kurang, atau emang kemahalan untuk daya beli masyarakat target kita, atau banyak yang merasa berat di ongkos transport untuk PP dari tempat tinggal masing-masing ke lokasi pasar murah. Denger-denger ada yang terpaksa pinjam-pinjam uang ke tetangganya supaya bisa beli paket 100rebu itu.
Parahnya lagi... di tengah-tengah Pasar Murah itu, ada yang nanya: kok di tempat lain ada yang bagi-bagi sembako gratis, kenapa yang ini gak gratis? Ibu-ibu itu menunjukkan pamfletnya. Jreng... ternyata ada salah satu parpol yang bagi-bagi sembako gratis di tempat lain. Eh? Curi start kampanye ya? Berusaha membeli suara dengan sembako gratis? Nanti kalo sudah kepilih, bakalan merhatiin nasib "orang kecil" yang kemaren loe bagi-bagi sembako gak? *meragukan deh*
Akhirnya 5000 paket yang kami buat terjual habis juga hari Minggu-nya, setelah dilakukan penjualan keliling dengan beberapa mobil pickup/dobel cabin kantor. Salut deh sama bapak-bapak yang pada jualan keliling. Aku mah udah terlalu teler, jadi nunggu di kantor aja, sambil sesekali bantuin ngangkut barang naik ke atas pickup. Segitu aja teler, maklum deh biasa kerja kantor, dah lama gak kerja kuli (haha... emang kapan pernah kerja kuli??), baru dipake kerja kuli 3 hari berturut-turut aja udah rontok rasanya. Tapi happy kok! Senang karena kumpul2 rame-rame sama panitia lainnya, senang ngetawain bapak-bapak yang kerjanya mbecandain orang-orang yang mau beli paket murah, seneng aja liat wajah-wajahnya para pembeli yang antusias mau beli paketnya. Lucu-lucu... ada yang hamil, ada yang bawa anaknya masih kecil banget (duh mbaakk... gemana mau ngangkut sembako-nya?), ada yang udah tua, biasanya kalo ketemu kasus begini bapak2 panitia dengan baik hatinya akan membantu ngangkut sampe dengan ojek terdekat. Alhamdulillah pasar murah ini ternyata kasih rejeki sama tukang ojek juga.
Next time, pas deket natal mau bikin pasar murah lagi (katanya). Ikut lagi aaahhh... semoga barang yang dijual gak seribet yang sekarang. Yang praktis-praktis aja lah, yang penting terjangkau dan emang dibutuhkan sama yang beli kan?
Pasar Murah BUMN 2011
Kadang-kadang, tinggal di Sorong ini serasa tinggal di luar negeri. Bagaimana tidak... naik pesawatnya lebih lama dari ke Singapore/KL, kebiasaan-kebiasaan penduduknya juga jauh berbeda dari daerah asal tempat tinggalku. Datang ke kawinan di Sorong untuk pertama kalinya, sama canggungnya dengan datang ke kawinan di Singapore...
Namun demikian, beda halnya ketika menjelang 17 Agustus. Di sini malah lebih heboh dibandingkan di Jawa. Mengingatkan aku pada masa kecilku di Utan Kayu... yang mana rentengan bendera merah putih kecil2 dipasang di antara tiang2 telpon. Belum lagi umbul-umbulnya. Kalo di Jawa sekarang?? Yang banyak malah bendera dan umbul-umbul partai.
17 Agustus kemarin, aku berkesempatan untuk ke Klamono. Suatu tempat yang ingin kudatangi, sejak jaman masih di kantor yang lama. Menurut cerita beberapa teman yang pernah dinas ke sana, pekerja-pekerja yang ditugaskan di sana tuh menderita banget. Panas, jalan jelek, berdebu, tapi herannya... beberapa kali si Omla ke sana kok gak pernah mengeluh ya? Hehe...
Kali ini aku ke Klamono bukan dalam rangka dinas, walaupun masih untuk urusan kantor juga: survey tempat untuk Pasar Murah BUMN 2011. Berangkat dari Sorong naik mobil dobel cabin sekitar jam 10 kurang, sempet muter-muter di Aimas, gara-gara di alun-alun lagi ada upacara 17an (kalau kantorku sudah jam 7 pagi tadi), jadi jalan utama ditutup.
Begitu lewat kantor kabupaten, mata udah tak tertahankan, aku pun tidur, sepanjang perjalanan sih yang aku ingat mulus-mulus aja, kecuali di beberapa titik saja yang jelek dan mobil harus pelan-pelan. Ketika aku terbangun, ternyata sudah dekat kantor EP Klamono. Tapi kita gak mau ke situ kan, jadi lanjut lagi sampe ke "pusat persinggahan"-nya Klamono, yaitu deretan rumah makan dan warung yang ada di dekat jembatan Klamono. Dua mobil lainnya sudah sampai duluan ternyata, mereka lewat jalan tikus pas di dekat alun-alun tadi.
Begitu kami datang, rombongan langsung menuju ke Kantor Kepala Distrik Klamono (kalo di Jawa sama dengan kantor camat gitu deh) yang letaknya sekitar 2 km dari tempat kita ngumpul tadi. Dalam perjalanan menuju ke sana, aku nemu Pusat Layanan Internet. Wuiiihh... di tempat kayak gini ada juga internet yaa... (awal yang cukup optimistik).
Jalan menuju ke kantor Ka. Distrik, seperti halnya jalan-jalan di daerah terpencil, rusak. Ada jembatan kayu yang posisinya lebih tinggi dari jalan, jadi? Baiknya naik mobil tinggi gede macem dobel cabin ini kalo mau lewat. Kalo pake minibus-minibus kayak avanza, rush, innova, livina... wah gak meyakinkan deh.
Sampai di kantor Ka. Distrik, rupanya mereka baru saja selesai upacara bendera. Masih ada anak-anak usia SMP memakai baju seragam putih-putih, syal merah, dan peci: seragam pengibar bendera. Di lapangan depan kantor batang pinang dengan hadiah tergantung-gantung sudah tegak berdiri, siap untuk dimainkan.
Kami menunggu pak kepala distrik untuk menyampaikan pidato pembukaan acara 17an dulu, baru setelah itu berkumpul di kantor pak kepala distrik untuk menyampaikan maksud dan tujuan: meminta dukungan untuk pelaksanaan Pasar Murah BUMN. Ternyata si pak kepala distrik juga sudah dihubungi dari Wakil Bupati Sorong, jadi langsung nyambung lah kitaa.... beliau menyediakan sarana berupa tempat pelaksanaan pasar di Balai Kampung Klawana. Kampung Klawana itu adalah pusat pemerintahan dari Distrik Klamono. Pak kepala distrik juga meminta pak Pjs. GM yang kebetulan ikut dalam rombongan kami untuk mengumumkan sekalian tentang Pasar Murah tersebut. Mumpung masyarakatnya lagi pada ngumpul senang-senang di lapangan.
Waktu kami keluar... para pelajar berpakaian paskibra dan beberapa orang tentara lagi asik berjoget diiringi lagu dangdut. Wow... that was so INDONESIA. Suasana-nya pesta banget. Sayangnya terpaksa kami potong sebentar, karena mau kasih pengumuman terkait pasar murah.
Setelah itu kami dibawa ke rumah kepala kampung. Aku tunggu di luar, bersama salah seorang bapak dari Logistik yang bakalan ikut rombongan Klamono ketika pelaksanaan pasar murah nanti. Rupanya bapak itu adalah "orang terkenal" di Klamono. Lahir di Teminabuan, jaman kecilnya sering sekali mampir ke Klamono dalam perjalanan menuju Sorong. Kami duduk di kursi teras panjang, yang... aku agak ragu-ragu untuk mendudukinya, takut ambrol. Menurut bapak itu, beliau ragu kalau paket yang akan kami jual Rp.100.000/paket-nya bisa habis terjual di Klamono.
Kemudian kami dibawa ke balai kampung/desa. Sayangnya, pak sekretaris desa-nya ada di mobil dobel cabin yang paling belakang. Aku ada di mobil tengah. Pak Pjs. GM dkk ada di mobil paling depan. Kami melewati suatu bangunan yang reot, pintunya udah bolong, di depannya ada papan nama bertuliskan "Kantor Kepala Kampung Klawana", tapi papan tulisan itu gak kalah usang dengan bangunan di belakangnya.
Aku membaca tulisan itu. Eh? Apa bener ini kantornya? Ini bukan "bekas kantor" yang udah ditinggalkan? Driver kami sepertinya gak ngeh dengan tulisan itu. Bablas aja melewati gedung itu. Setelah lewat beberapa meter, aku bilang berhenti dulu sebentar... kita amati mobil belakang berhenti atau nggak di depan bangunan itu. Ternyata... mereka berhenti!!
Mobil paling depan malahan udah bablas melewati jembatan kayu yang tadi, sehingga kami harus menelpon mereka supaya mereka berbalik arah. Wah... jadi beneran balai desanya yang reot itu tadi... aslinya merupakan bangunan bertembok setengah, setengahnya lagi terbuat dari papan kayu, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Aku bayangkan.. kalau bangunan ini letaknya di Jawa, meskipun dibangun secara sederhana, mungkin setidaknya dalam keadaan bersih, catnya juga rapi, dan pintunya tidak bolong. Biasanya di Jawa, kalau ndak ada drop dana dari pemerintah, ya mereka merawat secara swadaya aja. Gak punya duit, ya mungkin bisa nyumbang kayu. Gak punya kayu, paling nggak ya nyumbang tenaga buat ngerjain secara gotong royong. Kalo di Klamono? Mungkin program penyuluhan yang menggerakkan kegiatan gotong royong aja jarang-jarang sampe situ...
Di hari peringatan kemerdekaan ke-66, masih ada tempat dengan kondisi menyedihkan seperti itu di Indonesia... tapi herannya, penduduknya masih bisa tertawa-tawa gembira di lapangan tadi. Yaya... kebahagiaan memang gak bisa diukur dengan materi ya.
Kalo dipikir-pikir, kayaknya penduduk di Klamono itu ndak peduli dengan kasus-kasus korupsi anggota dewan yang lagi marak akhir-akhir ini deh... mereka juga ndak kebayang, uang Rp. 6 T yang katanya dikorupsi itu sebanyak apa sih... apalagi kasus bank Century... boro-boro Century, bank BUMN yang biasanya masuk sampe ke pelosok-pelosok aja gak bisa ditemukan di sana. Tapi... sadly... begitu juga sebaliknya...jangan-jangan penduduk di Klamono itu juga gak pernah terlintas dalam pikiran para anggota dewan yang terlalu sibuk ber-SDM-ria (selamatkan diri masing-masing). Meskipun masih untung lah ada perhatian dari pemda setempat... kalo gak, ndak mungkin kan kita diarahkan untuk jualan di sana.
Setelah survey selesai, kami pun mampir ke kantor EP Klamono. Hmmm... tentunya setelah berkunjung ke tempat tadi, masuk ke mess bungalow yang ber-AC, berkarpet, ber-Wifi, ber-TV Indovision itu adalah kemewahan bintang lima. Ndak usah dibandingkan dengan keadaan penduduk lokal, dengan keadaan mess kami di Kasim sana saja yang di Klamono itu tergolong bagus. Apalagi sudah terhidang makanan yang konon kabarnya endyang markondyang itu (eh lagi puasa, jadi gak nyobain). Jadi, dengan segala fasilitas "bintang lima" tadi apakah masih ada yang mau mengeluh disuruh pergi dinas ke lapangan Klamono?
Pasar Murah-nya sendiri dilaksanakan tgl 20 Agustus 2011, di 3 tempat: Kantor Walikota Sorong, Klamono, dan Pasar Salawati. Harga paket yang dijual Rp. 100.000 (aslinya Rp.143.000, tapi disubsidi oleh BUMN sebesar 30%), isinya: 5 kg beras bulog, 2 liter minyak goreng Filma/Kunci Mas, 2 kg gula pasir, 2 botol sirup ABC Squash, 10 bungkus Supermie, 2 bungkus biskuit kelapa Roma, 1 bungkus wafer Fullo, dan 2 sachet mentega Blue Band. Ternyata... dengan harga yang segitu, paket "murah" itu gak segera terjual habis. Entah publikasinya kurang, atau emang kemahalan untuk daya beli masyarakat target kita, atau banyak yang merasa berat di ongkos transport untuk PP dari tempat tinggal masing-masing ke lokasi pasar murah. Denger-denger ada yang terpaksa pinjam-pinjam uang ke tetangganya supaya bisa beli paket 100rebu itu.
Parahnya lagi... di tengah-tengah Pasar Murah itu, ada yang nanya: kok di tempat lain ada yang bagi-bagi sembako gratis, kenapa yang ini gak gratis? Ibu-ibu itu menunjukkan pamfletnya. Jreng... ternyata ada salah satu parpol yang bagi-bagi sembako gratis di tempat lain. Eh? Curi start kampanye ya? Berusaha membeli suara dengan sembako gratis? Nanti kalo sudah kepilih, bakalan merhatiin nasib "orang kecil" yang kemaren loe bagi-bagi sembako gak? *meragukan deh*
Akhirnya 5000 paket yang kami buat terjual habis juga hari Minggu-nya, setelah dilakukan penjualan keliling dengan beberapa mobil pickup/dobel cabin kantor. Salut deh sama bapak-bapak yang pada jualan keliling. Aku mah udah terlalu teler, jadi nunggu di kantor aja, sambil sesekali bantuin ngangkut barang naik ke atas pickup. Segitu aja teler, maklum deh biasa kerja kantor, dah lama gak kerja kuli (haha... emang kapan pernah kerja kuli??), baru dipake kerja kuli 3 hari berturut-turut aja udah rontok rasanya. Tapi happy kok! Senang karena kumpul2 rame-rame sama panitia lainnya, senang ngetawain bapak-bapak yang kerjanya mbecandain orang-orang yang mau beli paket murah, seneng aja liat wajah-wajahnya para pembeli yang antusias mau beli paketnya. Lucu-lucu... ada yang hamil, ada yang bawa anaknya masih kecil banget (duh mbaakk... gemana mau ngangkut sembako-nya?), ada yang udah tua, biasanya kalo ketemu kasus begini bapak2 panitia dengan baik hatinya akan membantu ngangkut sampe dengan ojek terdekat. Alhamdulillah pasar murah ini ternyata kasih rejeki sama tukang ojek juga.
Next time, pas deket natal mau bikin pasar murah lagi (katanya). Ikut lagi aaahhh... semoga barang yang dijual gak seribet yang sekarang. Yang praktis-praktis aja lah, yang penting terjangkau dan emang dibutuhkan sama yang beli kan?
Namun demikian, beda halnya ketika menjelang 17 Agustus. Di sini malah lebih heboh dibandingkan di Jawa. Mengingatkan aku pada masa kecilku di Utan Kayu... yang mana rentengan bendera merah putih kecil2 dipasang di antara tiang2 telpon. Belum lagi umbul-umbulnya. Kalo di Jawa sekarang?? Yang banyak malah bendera dan umbul-umbul partai.
17 Agustus kemarin, aku berkesempatan untuk ke Klamono. Suatu tempat yang ingin kudatangi, sejak jaman masih di kantor yang lama. Menurut cerita beberapa teman yang pernah dinas ke sana, pekerja-pekerja yang ditugaskan di sana tuh menderita banget. Panas, jalan jelek, berdebu, tapi herannya... beberapa kali si Omla ke sana kok gak pernah mengeluh ya? Hehe...
Kali ini aku ke Klamono bukan dalam rangka dinas, walaupun masih untuk urusan kantor juga: survey tempat untuk Pasar Murah BUMN 2011. Berangkat dari Sorong naik mobil dobel cabin sekitar jam 10 kurang, sempet muter-muter di Aimas, gara-gara di alun-alun lagi ada upacara 17an (kalau kantorku sudah jam 7 pagi tadi), jadi jalan utama ditutup.
Begitu lewat kantor kabupaten, mata udah tak tertahankan, aku pun tidur, sepanjang perjalanan sih yang aku ingat mulus-mulus aja, kecuali di beberapa titik saja yang jelek dan mobil harus pelan-pelan. Ketika aku terbangun, ternyata sudah dekat kantor EP Klamono. Tapi kita gak mau ke situ kan, jadi lanjut lagi sampe ke "pusat persinggahan"-nya Klamono, yaitu deretan rumah makan dan warung yang ada di dekat jembatan Klamono. Dua mobil lainnya sudah sampai duluan ternyata, mereka lewat jalan tikus pas di dekat alun-alun tadi.
Begitu kami datang, rombongan langsung menuju ke Kantor Kepala Distrik Klamono (kalo di Jawa sama dengan kantor camat gitu deh) yang letaknya sekitar 2 km dari tempat kita ngumpul tadi. Dalam perjalanan menuju ke sana, aku nemu Pusat Layanan Internet. Wuiiihh... di tempat kayak gini ada juga internet yaa... (awal yang cukup optimistik).
Jalan menuju ke kantor Ka. Distrik, seperti halnya jalan-jalan di daerah terpencil, rusak. Ada jembatan kayu yang posisinya lebih tinggi dari jalan, jadi? Baiknya naik mobil tinggi gede macem dobel cabin ini kalo mau lewat. Kalo pake minibus-minibus kayak avanza, rush, innova, livina... wah gak meyakinkan deh.
Sampai di kantor Ka. Distrik, rupanya mereka baru saja selesai upacara bendera. Masih ada anak-anak usia SMP memakai baju seragam putih-putih, syal merah, dan peci: seragam pengibar bendera. Di lapangan depan kantor batang pinang dengan hadiah tergantung-gantung sudah tegak berdiri, siap untuk dimainkan.
Kami menunggu pak kepala distrik untuk menyampaikan pidato pembukaan acara 17an dulu, baru setelah itu berkumpul di kantor pak kepala distrik untuk menyampaikan maksud dan tujuan: meminta dukungan untuk pelaksanaan Pasar Murah BUMN. Ternyata si pak kepala distrik juga sudah dihubungi dari Wakil Bupati Sorong, jadi langsung nyambung lah kitaa.... beliau menyediakan sarana berupa tempat pelaksanaan pasar di Balai Kampung Klawana. Kampung Klawana itu adalah pusat pemerintahan dari Distrik Klamono. Pak kepala distrik juga meminta pak Pjs. GM yang kebetulan ikut dalam rombongan kami untuk mengumumkan sekalian tentang Pasar Murah tersebut. Mumpung masyarakatnya lagi pada ngumpul senang-senang di lapangan.
Waktu kami keluar... para pelajar berpakaian paskibra dan beberapa orang tentara lagi asik berjoget diiringi lagu dangdut. Wow... that was so INDONESIA. Suasana-nya pesta banget. Sayangnya terpaksa kami potong sebentar, karena mau kasih pengumuman terkait pasar murah.
Setelah itu kami dibawa ke rumah kepala kampung. Aku tunggu di luar, bersama salah seorang bapak dari Logistik yang bakalan ikut rombongan Klamono ketika pelaksanaan pasar murah nanti. Rupanya bapak itu adalah "orang terkenal" di Klamono. Lahir di Teminabuan, jaman kecilnya sering sekali mampir ke Klamono dalam perjalanan menuju Sorong. Kami duduk di kursi teras panjang, yang... aku agak ragu-ragu untuk mendudukinya, takut ambrol. Menurut bapak itu, beliau ragu kalau paket yang akan kami jual Rp.100.000/paket-nya bisa habis terjual di Klamono.
Kemudian kami dibawa ke balai kampung/desa. Sayangnya, pak sekretaris desa-nya ada di mobil dobel cabin yang paling belakang. Aku ada di mobil tengah. Pak Pjs. GM dkk ada di mobil paling depan. Kami melewati suatu bangunan yang reot, pintunya udah bolong, di depannya ada papan nama bertuliskan "Kantor Kepala Kampung Klawana", tapi papan tulisan itu gak kalah usang dengan bangunan di belakangnya.
Aku membaca tulisan itu. Eh? Apa bener ini kantornya? Ini bukan "bekas kantor" yang udah ditinggalkan? Driver kami sepertinya gak ngeh dengan tulisan itu. Bablas aja melewati gedung itu. Setelah lewat beberapa meter, aku bilang berhenti dulu sebentar... kita amati mobil belakang berhenti atau nggak di depan bangunan itu. Ternyata... mereka berhenti!!
Mobil paling depan malahan udah bablas melewati jembatan kayu yang tadi, sehingga kami harus menelpon mereka supaya mereka berbalik arah. Wah... jadi beneran balai desanya yang reot itu tadi... aslinya merupakan bangunan bertembok setengah, setengahnya lagi terbuat dari papan kayu, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Aku bayangkan.. kalau bangunan ini letaknya di Jawa, meskipun dibangun secara sederhana, mungkin setidaknya dalam keadaan bersih, catnya juga rapi, dan pintunya tidak bolong. Biasanya di Jawa, kalau ndak ada drop dana dari pemerintah, ya mereka merawat secara swadaya aja. Gak punya duit, ya mungkin bisa nyumbang kayu. Gak punya kayu, paling nggak ya nyumbang tenaga buat ngerjain secara gotong royong. Kalo di Klamono? Mungkin program penyuluhan yang menggerakkan kegiatan gotong royong aja jarang-jarang sampe situ...
Di hari peringatan kemerdekaan ke-66, masih ada tempat dengan kondisi menyedihkan seperti itu di Indonesia... tapi herannya, penduduknya masih bisa tertawa-tawa gembira di lapangan tadi. Yaya... kebahagiaan memang gak bisa diukur dengan materi ya.
Kalo dipikir-pikir, kayaknya penduduk di Klamono itu ndak peduli dengan kasus-kasus korupsi anggota dewan yang lagi marak akhir-akhir ini deh... mereka juga ndak kebayang, uang Rp. 6 T yang katanya dikorupsi itu sebanyak apa sih... apalagi kasus bank Century... boro-boro Century, bank BUMN yang biasanya masuk sampe ke pelosok-pelosok aja gak bisa ditemukan di sana. Tapi... sadly... begitu juga sebaliknya...jangan-jangan penduduk di Klamono itu juga gak pernah terlintas dalam pikiran para anggota dewan yang terlalu sibuk ber-SDM-ria (selamatkan diri masing-masing). Meskipun masih untung lah ada perhatian dari pemda setempat... kalo gak, ndak mungkin kan kita diarahkan untuk jualan di sana.
Setelah survey selesai, kami pun mampir ke kantor EP Klamono. Hmmm... tentunya setelah berkunjung ke tempat tadi, masuk ke mess bungalow yang ber-AC, berkarpet, ber-Wifi, ber-TV Indovision itu adalah kemewahan bintang lima. Ndak usah dibandingkan dengan keadaan penduduk lokal, dengan keadaan mess kami di Kasim sana saja yang di Klamono itu tergolong bagus. Apalagi sudah terhidang makanan yang konon kabarnya endyang markondyang itu (eh lagi puasa, jadi gak nyobain). Jadi, dengan segala fasilitas "bintang lima" tadi apakah masih ada yang mau mengeluh disuruh pergi dinas ke lapangan Klamono?
Pasar Murah-nya sendiri dilaksanakan tgl 20 Agustus 2011, di 3 tempat: Kantor Walikota Sorong, Klamono, dan Pasar Salawati. Harga paket yang dijual Rp. 100.000 (aslinya Rp.143.000, tapi disubsidi oleh BUMN sebesar 30%), isinya: 5 kg beras bulog, 2 liter minyak goreng Filma/Kunci Mas, 2 kg gula pasir, 2 botol sirup ABC Squash, 10 bungkus Supermie, 2 bungkus biskuit kelapa Roma, 1 bungkus wafer Fullo, dan 2 sachet mentega Blue Band. Ternyata... dengan harga yang segitu, paket "murah" itu gak segera terjual habis. Entah publikasinya kurang, atau emang kemahalan untuk daya beli masyarakat target kita, atau banyak yang merasa berat di ongkos transport untuk PP dari tempat tinggal masing-masing ke lokasi pasar murah. Denger-denger ada yang terpaksa pinjam-pinjam uang ke tetangganya supaya bisa beli paket 100rebu itu.
Parahnya lagi... di tengah-tengah Pasar Murah itu, ada yang nanya: kok di tempat lain ada yang bagi-bagi sembako gratis, kenapa yang ini gak gratis? Ibu-ibu itu menunjukkan pamfletnya. Jreng... ternyata ada salah satu parpol yang bagi-bagi sembako gratis di tempat lain. Eh? Curi start kampanye ya? Berusaha membeli suara dengan sembako gratis? Nanti kalo sudah kepilih, bakalan merhatiin nasib "orang kecil" yang kemaren loe bagi-bagi sembako gak? *meragukan deh*
Akhirnya 5000 paket yang kami buat terjual habis juga hari Minggu-nya, setelah dilakukan penjualan keliling dengan beberapa mobil pickup/dobel cabin kantor. Salut deh sama bapak-bapak yang pada jualan keliling. Aku mah udah terlalu teler, jadi nunggu di kantor aja, sambil sesekali bantuin ngangkut barang naik ke atas pickup. Segitu aja teler, maklum deh biasa kerja kantor, dah lama gak kerja kuli (haha... emang kapan pernah kerja kuli??), baru dipake kerja kuli 3 hari berturut-turut aja udah rontok rasanya. Tapi happy kok! Senang karena kumpul2 rame-rame sama panitia lainnya, senang ngetawain bapak-bapak yang kerjanya mbecandain orang-orang yang mau beli paket murah, seneng aja liat wajah-wajahnya para pembeli yang antusias mau beli paketnya. Lucu-lucu... ada yang hamil, ada yang bawa anaknya masih kecil banget (duh mbaakk... gemana mau ngangkut sembako-nya?), ada yang udah tua, biasanya kalo ketemu kasus begini bapak2 panitia dengan baik hatinya akan membantu ngangkut sampe dengan ojek terdekat. Alhamdulillah pasar murah ini ternyata kasih rejeki sama tukang ojek juga.
Next time, pas deket natal mau bikin pasar murah lagi (katanya). Ikut lagi aaahhh... semoga barang yang dijual gak seribet yang sekarang. Yang praktis-praktis aja lah, yang penting terjangkau dan emang dibutuhkan sama yang beli kan?
Pasar Murah BUMN 2011
Kadang-kadang, tinggal di Sorong ini serasa tinggal di luar negeri. Bagaimana tidak... naik pesawatnya lebih lama dari ke Singapore/KL, kebiasaan-kebiasaan penduduknya juga jauh berbeda dari daerah asal tempat tinggalku. Datang ke kawinan di Sorong untuk pertama kalinya, sama canggungnya dengan datang ke kawinan di Singapore...
Namun demikian, beda halnya ketika menjelang 17 Agustus. Di sini malah lebih heboh dibandingkan di Jawa. Mengingatkan aku pada masa kecilku di Utan Kayu... yang mana rentengan bendera merah putih kecil2 dipasang di antara tiang2 telpon. Belum lagi umbul-umbulnya. Kalo di Jawa sekarang?? Yang banyak malah bendera dan umbul-umbul partai.
17 Agustus kemarin, aku berkesempatan untuk ke Klamono. Suatu tempat yang ingin kudatangi, sejak jaman masih di kantor yang lama. Menurut cerita beberapa teman yang pernah dinas ke sana, pekerja-pekerja yang ditugaskan di sana tuh menderita banget. Panas, jalan jelek, berdebu, tapi herannya... beberapa kali si Omla ke sana kok gak pernah mengeluh ya? Hehe...
Kali ini aku ke Klamono bukan dalam rangka dinas, walaupun masih untuk urusan kantor juga: survey tempat untuk Pasar Murah BUMN 2011. Berangkat dari Sorong naik mobil dobel cabin sekitar jam 10 kurang, sempet muter-muter di Aimas, gara-gara di alun-alun lagi ada upacara 17an (kalau kantorku sudah jam 7 pagi tadi), jadi jalan utama ditutup.
Begitu lewat kantor kabupaten, mata udah tak tertahankan, aku pun tidur, sepanjang perjalanan sih yang aku ingat mulus-mulus aja, kecuali di beberapa titik saja yang jelek dan mobil harus pelan-pelan. Ketika aku terbangun, ternyata sudah dekat kantor EP Klamono. Tapi kita gak mau ke situ kan, jadi lanjut lagi sampe ke "pusat persinggahan"-nya Klamono, yaitu deretan rumah makan dan warung yang ada di dekat jembatan Klamono. Dua mobil lainnya sudah sampai duluan ternyata, mereka lewat jalan tikus pas di dekat alun-alun tadi.
Begitu kami datang, rombongan langsung menuju ke Kantor Kepala Distrik Klamono (kalo di Jawa sama dengan kantor camat gitu deh) yang letaknya sekitar 2 km dari tempat kita ngumpul tadi. Dalam perjalanan menuju ke sana, aku nemu Pusat Layanan Internet. Wuiiihh... di tempat kayak gini ada juga internet yaa... (awal yang cukup optimistik).
Jalan menuju ke kantor Ka. Distrik, seperti halnya jalan-jalan di daerah terpencil, rusak. Ada jembatan kayu yang posisinya lebih tinggi dari jalan, jadi? Baiknya naik mobil tinggi gede macem dobel cabin ini kalo mau lewat. Kalo pake minibus-minibus kayak avanza, rush, innova, livina... wah gak meyakinkan deh.
Sampai di kantor Ka. Distrik, rupanya mereka baru saja selesai upacara bendera. Masih ada anak-anak usia SMP memakai baju seragam putih-putih, syal merah, dan peci: seragam pengibar bendera. Di lapangan depan kantor batang pinang dengan hadiah tergantung-gantung sudah tegak berdiri, siap untuk dimainkan.
Kami menunggu pak kepala distrik untuk menyampaikan pidato pembukaan acara 17an dulu, baru setelah itu berkumpul di kantor pak kepala distrik untuk menyampaikan maksud dan tujuan: meminta dukungan untuk pelaksanaan Pasar Murah BUMN. Ternyata si pak kepala distrik juga sudah dihubungi dari Wakil Bupati Sorong, jadi langsung nyambung lah kitaa.... beliau menyediakan sarana berupa tempat pelaksanaan pasar di Balai Kampung Klawana. Kampung Klawana itu adalah pusat pemerintahan dari Distrik Klamono. Pak kepala distrik juga meminta pak Pjs. GM yang kebetulan ikut dalam rombongan kami untuk mengumumkan sekalian tentang Pasar Murah tersebut. Mumpung masyarakatnya lagi pada ngumpul senang-senang di lapangan.
Waktu kami keluar... para pelajar berpakaian paskibra dan beberapa orang tentara lagi asik berjoget diiringi lagu dangdut. Wow... that was so INDONESIA. Suasana-nya pesta banget. Sayangnya terpaksa kami potong sebentar, karena mau kasih pengumuman terkait pasar murah.
Setelah itu kami dibawa ke rumah kepala kampung. Aku tunggu di luar, bersama salah seorang bapak dari Logistik yang bakalan ikut rombongan Klamono ketika pelaksanaan pasar murah nanti. Rupanya bapak itu adalah "orang terkenal" di Klamono. Lahir di Teminabuan, jaman kecilnya sering sekali mampir ke Klamono dalam perjalanan menuju Sorong. Kami duduk di kursi teras panjang, yang... aku agak ragu-ragu untuk mendudukinya, takut ambrol. Menurut bapak itu, beliau ragu kalau paket yang akan kami jual Rp.100.000/paket-nya bisa habis terjual di Klamono.
Kemudian kami dibawa ke balai kampung/desa. Sayangnya, pak sekretaris desa-nya ada di mobil dobel cabin yang paling belakang. Aku ada di mobil tengah. Pak Pjs. GM dkk ada di mobil paling depan. Kami melewati suatu bangunan yang reot, pintunya udah bolong, di depannya ada papan nama bertuliskan "Kantor Kepala Kampung Klawana", tapi papan tulisan itu gak kalah usang dengan bangunan di belakangnya.
Aku membaca tulisan itu. Eh? Apa bener ini kantornya? Ini bukan "bekas kantor" yang udah ditinggalkan? Driver kami sepertinya gak ngeh dengan tulisan itu. Bablas aja melewati gedung itu. Setelah lewat beberapa meter, aku bilang berhenti dulu sebentar... kita amati mobil belakang berhenti atau nggak di depan bangunan itu. Ternyata... mereka berhenti!!
Mobil paling depan malahan udah bablas melewati jembatan kayu yang tadi, sehingga kami harus menelpon mereka supaya mereka berbalik arah. Wah... jadi beneran balai desanya yang reot itu tadi... aslinya merupakan bangunan bertembok setengah, setengahnya lagi terbuat dari papan kayu, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Aku bayangkan.. kalau bangunan ini letaknya di Jawa, meskipun dibangun secara sederhana, mungkin setidaknya dalam keadaan bersih, catnya juga rapi, dan pintunya tidak bolong. Biasanya di Jawa, kalau ndak ada drop dana dari pemerintah, ya mereka merawat secara swadaya aja. Gak punya duit, ya mungkin bisa nyumbang kayu. Gak punya kayu, paling nggak ya nyumbang tenaga buat ngerjain secara gotong royong. Kalo di Klamono? Mungkin program penyuluhan yang menggerakkan kegiatan gotong royong aja jarang-jarang sampe situ...
Di hari peringatan kemerdekaan ke-66, masih ada tempat dengan kondisi menyedihkan seperti itu di Indonesia... tapi herannya, penduduknya masih bisa tertawa-tawa gembira di lapangan tadi. Yaya... kebahagiaan memang gak bisa diukur dengan materi ya.
Kalo dipikir-pikir, kayaknya penduduk di Klamono itu ndak peduli dengan kasus-kasus korupsi anggota dewan yang lagi marak akhir-akhir ini deh... mereka juga ndak kebayang, uang Rp. 6 T yang katanya dikorupsi itu sebanyak apa sih... apalagi kasus bank Century... boro-boro Century, bank BUMN yang biasanya masuk sampe ke pelosok-pelosok aja gak bisa ditemukan di sana. Tapi... sadly... begitu juga sebaliknya...jangan-jangan penduduk di Klamono itu juga gak pernah terlintas dalam pikiran para anggota dewan yang terlalu sibuk ber-SDM-ria (selamatkan diri masing-masing). Meskipun masih untung lah ada perhatian dari pemda setempat... kalo gak, ndak mungkin kan kita diarahkan untuk jualan di sana.
Setelah survey selesai, kami pun mampir ke kantor EP Klamono. Hmmm... tentunya setelah berkunjung ke tempat tadi, masuk ke mess bungalow yang ber-AC, berkarpet, ber-Wifi, ber-TV Indovision itu adalah kemewahan bintang lima. Ndak usah dibandingkan dengan keadaan penduduk lokal, dengan keadaan mess kami di Kasim sana saja yang di Klamono itu tergolong bagus. Apalagi sudah terhidang makanan yang konon kabarnya endyang markondyang itu (eh lagi puasa, jadi gak nyobain). Jadi, dengan segala fasilitas "bintang lima" tadi apakah masih ada yang mau mengeluh disuruh pergi dinas ke lapangan Klamono?
Pasar Murah-nya sendiri dilaksanakan tgl 20 Agustus 2011, di 3 tempat: Kantor Walikota Sorong, Klamono, dan Pasar Salawati. Harga paket yang dijual Rp. 100.000 (aslinya Rp.143.000, tapi disubsidi oleh BUMN sebesar 30%), isinya: 5 kg beras bulog, 2 liter minyak goreng Filma/Kunci Mas, 2 kg gula pasir, 2 botol sirup ABC Squash, 10 bungkus Supermie, 2 bungkus biskuit kelapa Roma, 1 bungkus wafer Fullo, dan 2 sachet mentega Blue Band. Ternyata... dengan harga yang segitu, paket "murah" itu gak segera terjual habis. Entah publikasinya kurang, atau emang kemahalan untuk daya beli masyarakat target kita, atau banyak yang merasa berat di ongkos transport untuk PP dari tempat tinggal masing-masing ke lokasi pasar murah. Denger-denger ada yang terpaksa pinjam-pinjam uang ke tetangganya supaya bisa beli paket 100rebu itu.
Parahnya lagi... di tengah-tengah Pasar Murah itu, ada yang nanya: kok di tempat lain ada yang bagi-bagi sembako gratis, kenapa yang ini gak gratis? Ibu-ibu itu menunjukkan pamfletnya. Jreng... ternyata ada salah satu parpol yang bagi-bagi sembako gratis di tempat lain. Eh? Curi start kampanye ya? Berusaha membeli suara dengan sembako gratis? Nanti kalo sudah kepilih, bakalan merhatiin nasib "orang kecil" yang kemaren loe bagi-bagi sembako gak? *meragukan deh*
Akhirnya 5000 paket yang kami buat terjual habis juga hari Minggu-nya, setelah dilakukan penjualan keliling dengan beberapa mobil pickup/dobel cabin kantor. Salut deh sama bapak-bapak yang pada jualan keliling. Aku mah udah terlalu teler, jadi nunggu di kantor aja, sambil sesekali bantuin ngangkut barang naik ke atas pickup. Segitu aja teler, maklum deh biasa kerja kantor, dah lama gak kerja kuli (haha... emang kapan pernah kerja kuli??), baru dipake kerja kuli 3 hari berturut-turut aja udah rontok rasanya. Tapi happy kok! Senang karena kumpul2 rame-rame sama panitia lainnya, senang ngetawain bapak-bapak yang kerjanya mbecandain orang-orang yang mau beli paket murah, seneng aja liat wajah-wajahnya para pembeli yang antusias mau beli paketnya. Lucu-lucu... ada yang hamil, ada yang bawa anaknya masih kecil banget (duh mbaakk... gemana mau ngangkut sembako-nya?), ada yang udah tua, biasanya kalo ketemu kasus begini bapak2 panitia dengan baik hatinya akan membantu ngangkut sampe dengan ojek terdekat. Alhamdulillah pasar murah ini ternyata kasih rejeki sama tukang ojek juga.
Next time, pas deket natal mau bikin pasar murah lagi (katanya). Ikut lagi aaahhh... semoga barang yang dijual gak seribet yang sekarang. Yang praktis-praktis aja lah, yang penting terjangkau dan emang dibutuhkan sama yang beli kan?
Namun demikian, beda halnya ketika menjelang 17 Agustus. Di sini malah lebih heboh dibandingkan di Jawa. Mengingatkan aku pada masa kecilku di Utan Kayu... yang mana rentengan bendera merah putih kecil2 dipasang di antara tiang2 telpon. Belum lagi umbul-umbulnya. Kalo di Jawa sekarang?? Yang banyak malah bendera dan umbul-umbul partai.
17 Agustus kemarin, aku berkesempatan untuk ke Klamono. Suatu tempat yang ingin kudatangi, sejak jaman masih di kantor yang lama. Menurut cerita beberapa teman yang pernah dinas ke sana, pekerja-pekerja yang ditugaskan di sana tuh menderita banget. Panas, jalan jelek, berdebu, tapi herannya... beberapa kali si Omla ke sana kok gak pernah mengeluh ya? Hehe...
Kali ini aku ke Klamono bukan dalam rangka dinas, walaupun masih untuk urusan kantor juga: survey tempat untuk Pasar Murah BUMN 2011. Berangkat dari Sorong naik mobil dobel cabin sekitar jam 10 kurang, sempet muter-muter di Aimas, gara-gara di alun-alun lagi ada upacara 17an (kalau kantorku sudah jam 7 pagi tadi), jadi jalan utama ditutup.
Begitu lewat kantor kabupaten, mata udah tak tertahankan, aku pun tidur, sepanjang perjalanan sih yang aku ingat mulus-mulus aja, kecuali di beberapa titik saja yang jelek dan mobil harus pelan-pelan. Ketika aku terbangun, ternyata sudah dekat kantor EP Klamono. Tapi kita gak mau ke situ kan, jadi lanjut lagi sampe ke "pusat persinggahan"-nya Klamono, yaitu deretan rumah makan dan warung yang ada di dekat jembatan Klamono. Dua mobil lainnya sudah sampai duluan ternyata, mereka lewat jalan tikus pas di dekat alun-alun tadi.
Begitu kami datang, rombongan langsung menuju ke Kantor Kepala Distrik Klamono (kalo di Jawa sama dengan kantor camat gitu deh) yang letaknya sekitar 2 km dari tempat kita ngumpul tadi. Dalam perjalanan menuju ke sana, aku nemu Pusat Layanan Internet. Wuiiihh... di tempat kayak gini ada juga internet yaa... (awal yang cukup optimistik).
Jalan menuju ke kantor Ka. Distrik, seperti halnya jalan-jalan di daerah terpencil, rusak. Ada jembatan kayu yang posisinya lebih tinggi dari jalan, jadi? Baiknya naik mobil tinggi gede macem dobel cabin ini kalo mau lewat. Kalo pake minibus-minibus kayak avanza, rush, innova, livina... wah gak meyakinkan deh.
Sampai di kantor Ka. Distrik, rupanya mereka baru saja selesai upacara bendera. Masih ada anak-anak usia SMP memakai baju seragam putih-putih, syal merah, dan peci: seragam pengibar bendera. Di lapangan depan kantor batang pinang dengan hadiah tergantung-gantung sudah tegak berdiri, siap untuk dimainkan.
Kami menunggu pak kepala distrik untuk menyampaikan pidato pembukaan acara 17an dulu, baru setelah itu berkumpul di kantor pak kepala distrik untuk menyampaikan maksud dan tujuan: meminta dukungan untuk pelaksanaan Pasar Murah BUMN. Ternyata si pak kepala distrik juga sudah dihubungi dari Wakil Bupati Sorong, jadi langsung nyambung lah kitaa.... beliau menyediakan sarana berupa tempat pelaksanaan pasar di Balai Kampung Klawana. Kampung Klawana itu adalah pusat pemerintahan dari Distrik Klamono. Pak kepala distrik juga meminta pak Pjs. GM yang kebetulan ikut dalam rombongan kami untuk mengumumkan sekalian tentang Pasar Murah tersebut. Mumpung masyarakatnya lagi pada ngumpul senang-senang di lapangan.
Waktu kami keluar... para pelajar berpakaian paskibra dan beberapa orang tentara lagi asik berjoget diiringi lagu dangdut. Wow... that was so INDONESIA. Suasana-nya pesta banget. Sayangnya terpaksa kami potong sebentar, karena mau kasih pengumuman terkait pasar murah.
Setelah itu kami dibawa ke rumah kepala kampung. Aku tunggu di luar, bersama salah seorang bapak dari Logistik yang bakalan ikut rombongan Klamono ketika pelaksanaan pasar murah nanti. Rupanya bapak itu adalah "orang terkenal" di Klamono. Lahir di Teminabuan, jaman kecilnya sering sekali mampir ke Klamono dalam perjalanan menuju Sorong. Kami duduk di kursi teras panjang, yang... aku agak ragu-ragu untuk mendudukinya, takut ambrol. Menurut bapak itu, beliau ragu kalau paket yang akan kami jual Rp.100.000/paket-nya bisa habis terjual di Klamono.
Kemudian kami dibawa ke balai kampung/desa. Sayangnya, pak sekretaris desa-nya ada di mobil dobel cabin yang paling belakang. Aku ada di mobil tengah. Pak Pjs. GM dkk ada di mobil paling depan. Kami melewati suatu bangunan yang reot, pintunya udah bolong, di depannya ada papan nama bertuliskan "Kantor Kepala Kampung Klawana", tapi papan tulisan itu gak kalah usang dengan bangunan di belakangnya.
Aku membaca tulisan itu. Eh? Apa bener ini kantornya? Ini bukan "bekas kantor" yang udah ditinggalkan? Driver kami sepertinya gak ngeh dengan tulisan itu. Bablas aja melewati gedung itu. Setelah lewat beberapa meter, aku bilang berhenti dulu sebentar... kita amati mobil belakang berhenti atau nggak di depan bangunan itu. Ternyata... mereka berhenti!!
Mobil paling depan malahan udah bablas melewati jembatan kayu yang tadi, sehingga kami harus menelpon mereka supaya mereka berbalik arah. Wah... jadi beneran balai desanya yang reot itu tadi... aslinya merupakan bangunan bertembok setengah, setengahnya lagi terbuat dari papan kayu, catnya sudah terkelupas di sana-sini. Aku bayangkan.. kalau bangunan ini letaknya di Jawa, meskipun dibangun secara sederhana, mungkin setidaknya dalam keadaan bersih, catnya juga rapi, dan pintunya tidak bolong. Biasanya di Jawa, kalau ndak ada drop dana dari pemerintah, ya mereka merawat secara swadaya aja. Gak punya duit, ya mungkin bisa nyumbang kayu. Gak punya kayu, paling nggak ya nyumbang tenaga buat ngerjain secara gotong royong. Kalo di Klamono? Mungkin program penyuluhan yang menggerakkan kegiatan gotong royong aja jarang-jarang sampe situ...
Di hari peringatan kemerdekaan ke-66, masih ada tempat dengan kondisi menyedihkan seperti itu di Indonesia... tapi herannya, penduduknya masih bisa tertawa-tawa gembira di lapangan tadi. Yaya... kebahagiaan memang gak bisa diukur dengan materi ya.
Kalo dipikir-pikir, kayaknya penduduk di Klamono itu ndak peduli dengan kasus-kasus korupsi anggota dewan yang lagi marak akhir-akhir ini deh... mereka juga ndak kebayang, uang Rp. 6 T yang katanya dikorupsi itu sebanyak apa sih... apalagi kasus bank Century... boro-boro Century, bank BUMN yang biasanya masuk sampe ke pelosok-pelosok aja gak bisa ditemukan di sana. Tapi... sadly... begitu juga sebaliknya...jangan-jangan penduduk di Klamono itu juga gak pernah terlintas dalam pikiran para anggota dewan yang terlalu sibuk ber-SDM-ria (selamatkan diri masing-masing). Meskipun masih untung lah ada perhatian dari pemda setempat... kalo gak, ndak mungkin kan kita diarahkan untuk jualan di sana.
Setelah survey selesai, kami pun mampir ke kantor EP Klamono. Hmmm... tentunya setelah berkunjung ke tempat tadi, masuk ke mess bungalow yang ber-AC, berkarpet, ber-Wifi, ber-TV Indovision itu adalah kemewahan bintang lima. Ndak usah dibandingkan dengan keadaan penduduk lokal, dengan keadaan mess kami di Kasim sana saja yang di Klamono itu tergolong bagus. Apalagi sudah terhidang makanan yang konon kabarnya endyang markondyang itu (eh lagi puasa, jadi gak nyobain). Jadi, dengan segala fasilitas "bintang lima" tadi apakah masih ada yang mau mengeluh disuruh pergi dinas ke lapangan Klamono?
Pasar Murah-nya sendiri dilaksanakan tgl 20 Agustus 2011, di 3 tempat: Kantor Walikota Sorong, Klamono, dan Pasar Salawati. Harga paket yang dijual Rp. 100.000 (aslinya Rp.143.000, tapi disubsidi oleh BUMN sebesar 30%), isinya: 5 kg beras bulog, 2 liter minyak goreng Filma/Kunci Mas, 2 kg gula pasir, 2 botol sirup ABC Squash, 10 bungkus Supermie, 2 bungkus biskuit kelapa Roma, 1 bungkus wafer Fullo, dan 2 sachet mentega Blue Band. Ternyata... dengan harga yang segitu, paket "murah" itu gak segera terjual habis. Entah publikasinya kurang, atau emang kemahalan untuk daya beli masyarakat target kita, atau banyak yang merasa berat di ongkos transport untuk PP dari tempat tinggal masing-masing ke lokasi pasar murah. Denger-denger ada yang terpaksa pinjam-pinjam uang ke tetangganya supaya bisa beli paket 100rebu itu.
Parahnya lagi... di tengah-tengah Pasar Murah itu, ada yang nanya: kok di tempat lain ada yang bagi-bagi sembako gratis, kenapa yang ini gak gratis? Ibu-ibu itu menunjukkan pamfletnya. Jreng... ternyata ada salah satu parpol yang bagi-bagi sembako gratis di tempat lain. Eh? Curi start kampanye ya? Berusaha membeli suara dengan sembako gratis? Nanti kalo sudah kepilih, bakalan merhatiin nasib "orang kecil" yang kemaren loe bagi-bagi sembako gak? *meragukan deh*
Akhirnya 5000 paket yang kami buat terjual habis juga hari Minggu-nya, setelah dilakukan penjualan keliling dengan beberapa mobil pickup/dobel cabin kantor. Salut deh sama bapak-bapak yang pada jualan keliling. Aku mah udah terlalu teler, jadi nunggu di kantor aja, sambil sesekali bantuin ngangkut barang naik ke atas pickup. Segitu aja teler, maklum deh biasa kerja kantor, dah lama gak kerja kuli (haha... emang kapan pernah kerja kuli??), baru dipake kerja kuli 3 hari berturut-turut aja udah rontok rasanya. Tapi happy kok! Senang karena kumpul2 rame-rame sama panitia lainnya, senang ngetawain bapak-bapak yang kerjanya mbecandain orang-orang yang mau beli paket murah, seneng aja liat wajah-wajahnya para pembeli yang antusias mau beli paketnya. Lucu-lucu... ada yang hamil, ada yang bawa anaknya masih kecil banget (duh mbaakk... gemana mau ngangkut sembako-nya?), ada yang udah tua, biasanya kalo ketemu kasus begini bapak2 panitia dengan baik hatinya akan membantu ngangkut sampe dengan ojek terdekat. Alhamdulillah pasar murah ini ternyata kasih rejeki sama tukang ojek juga.
Next time, pas deket natal mau bikin pasar murah lagi (katanya). Ikut lagi aaahhh... semoga barang yang dijual gak seribet yang sekarang. Yang praktis-praktis aja lah, yang penting terjangkau dan emang dibutuhkan sama yang beli kan?
Godok-Godok
Bermula dari panen pisang di halaman rumah dinas, jadi punya 3 sisir pisang. Gak jelas pula, pisangnya pisang apa.... bentuk dan warna kayak pisang ambon, tapi ukuran lebih mirip pisang raja. Jadi anggap sajalah ini pisang persilangan... hahaha...
Putaran pertama dan kedua adalah kolak dengan santan yang tak terlalu pekat dan rasa yang manis tapi nggak manis banget. Pas deh buat kami, Omla yang paling anti makanan manis pun mau ikut makan. Jadi inget tahun lalu... di Prabumulih, bantuin mbak Ita bikin kolak tanpa gula merah.
Putaran ketiga? Aku mencoba membuat pisang goreng... Ambil resep dari Almost Bourdain. Tapi apa yang terjadi?? Karena ini sudah putaran ketiga, tentu pisang-pisang itu sudah terlalu mateng untuk dibuat jadi pisang goreng tepung. Ketika dalam keadaan panas, cairannya keluar, membuat hasil gorengannya jadi basah, bukannya crispy seperti yang diharapkan.
Untungnya aku curhat di fesbuk, sehingga datanglah saran dari mbak Ita dan bu Any untuk membuat yang disebut "Godok-Godok". Intinya sih pisang matang yang dihaluskan, kemudian diuleni dengan tepung terigu dan digoreng. Konon "godok-godok" adalah makanan yang banyak beredar di daerah Sumatera/Melayu. Di Aceh ada penampakannya, di Medan ada, di Sumatera Barat juga ada. Begitu juga di Malaysia, di sana makanan ini disebut juga sebagai "Kuih Kodok".
Mengambil resep dari sini (yang cekodok pisang), aku ambil 2/3 resep jadi:
2 buah pisang blasteran, haluskan dengan garpu
1/3 cangkir (6 sdm) tepung terigu
1/4 sdt baking powder
sejumput garam
minyak untuk menggoreng
Cara membuat:
Campur tepung terigu, baking powder, dan garam. Aduk rata.
Masukkan campuran tepung terigu ke bubur pisang. Uleni sampai rata.
Panaskan minyak untuk menggoreng secara deep-fried.
Kemudian goreng adonan pisang sampai kecoklatan, gunakan sendok makan untuk menakar.
Hasilnya seperti ini:
Yummmyyy.... but I really have to learn more about food photography... wakakakak... karena penampakan di foto tidak seindah aslinya...
Berdasarkan informasi dari kawan-kawan, adonan tersebut di atas bisa juga dicampur dengan telur dan/atau susu dan/atau parutan kelapa...
Putaran pertama dan kedua adalah kolak dengan santan yang tak terlalu pekat dan rasa yang manis tapi nggak manis banget. Pas deh buat kami, Omla yang paling anti makanan manis pun mau ikut makan. Jadi inget tahun lalu... di Prabumulih, bantuin mbak Ita bikin kolak tanpa gula merah.
Putaran ketiga? Aku mencoba membuat pisang goreng... Ambil resep dari Almost Bourdain. Tapi apa yang terjadi?? Karena ini sudah putaran ketiga, tentu pisang-pisang itu sudah terlalu mateng untuk dibuat jadi pisang goreng tepung. Ketika dalam keadaan panas, cairannya keluar, membuat hasil gorengannya jadi basah, bukannya crispy seperti yang diharapkan.
Untungnya aku curhat di fesbuk, sehingga datanglah saran dari mbak Ita dan bu Any untuk membuat yang disebut "Godok-Godok". Intinya sih pisang matang yang dihaluskan, kemudian diuleni dengan tepung terigu dan digoreng. Konon "godok-godok" adalah makanan yang banyak beredar di daerah Sumatera/Melayu. Di Aceh ada penampakannya, di Medan ada, di Sumatera Barat juga ada. Begitu juga di Malaysia, di sana makanan ini disebut juga sebagai "Kuih Kodok".
Mengambil resep dari sini (yang cekodok pisang), aku ambil 2/3 resep jadi:
2 buah pisang blasteran, haluskan dengan garpu
1/3 cangkir (6 sdm) tepung terigu
1/4 sdt baking powder
sejumput garam
minyak untuk menggoreng
Cara membuat:
Campur tepung terigu, baking powder, dan garam. Aduk rata.
Masukkan campuran tepung terigu ke bubur pisang. Uleni sampai rata.
Panaskan minyak untuk menggoreng secara deep-fried.
Kemudian goreng adonan pisang sampai kecoklatan, gunakan sendok makan untuk menakar.
Hasilnya seperti ini:
Yummmyyy.... but I really have to learn more about food photography... wakakakak... karena penampakan di foto tidak seindah aslinya...
Berdasarkan informasi dari kawan-kawan, adonan tersebut di atas bisa juga dicampur dengan telur dan/atau susu dan/atau parutan kelapa...
Godok-Godok
Bermula dari panen pisang di halaman rumah dinas, jadi punya 3 sisir pisang. Gak jelas pula, pisangnya pisang apa.... bentuk dan warna kayak pisang ambon, tapi ukuran lebih mirip pisang raja. Jadi anggap sajalah ini pisang persilangan... hahaha...
Putaran pertama dan kedua adalah kolak dengan santan yang tak terlalu pekat dan rasa yang manis tapi nggak manis banget. Pas deh buat kami, Omla yang paling anti makanan manis pun mau ikut makan. Jadi inget tahun lalu... di Prabumulih, bantuin mbak Ita bikin kolak tanpa gula merah.
Putaran ketiga? Aku mencoba membuat pisang goreng... Ambil resep dari Almost Bourdain. Tapi apa yang terjadi?? Karena ini sudah putaran ketiga, tentu pisang-pisang itu sudah terlalu mateng untuk dibuat jadi pisang goreng tepung. Ketika dalam keadaan panas, cairannya keluar, membuat hasil gorengannya jadi basah, bukannya crispy seperti yang diharapkan.
Untungnya aku curhat di fesbuk, sehingga datanglah saran dari mbak Ita dan bu Any untuk membuat yang disebut "Godok-Godok". Intinya sih pisang matang yang dihaluskan, kemudian diuleni dengan tepung terigu dan digoreng. Konon "godok-godok" adalah makanan yang banyak beredar di daerah Sumatera/Melayu. Di Aceh ada penampakannya, di Medan ada, di Sumatera Barat juga ada. Begitu juga di Malaysia, di sana makanan ini disebut juga sebagai "Kuih Kodok".
Mengambil resep dari sini (yang cekodok pisang), aku ambil 2/3 resep jadi:
2 buah pisang blasteran, haluskan dengan garpu
1/3 cangkir (6 sdm) tepung terigu
1/4 sdt baking powder
sejumput garam
minyak untuk menggoreng
Cara membuat:
Campur tepung terigu, baking powder, dan garam. Aduk rata.
Masukkan campuran tepung terigu ke bubur pisang. Uleni sampai rata.
Panaskan minyak untuk menggoreng secara deep-fried.
Kemudian goreng adonan pisang sampai kecoklatan, gunakan sendok makan untuk menakar.
Hasilnya seperti ini:
Yummmyyy.... but I really have to learn more about food photography... wakakakak... karena penampakan di foto tidak seindah aslinya...
Berdasarkan informasi dari kawan-kawan, adonan tersebut di atas bisa juga dicampur dengan telur dan/atau susu dan/atau parutan kelapa...
Putaran pertama dan kedua adalah kolak dengan santan yang tak terlalu pekat dan rasa yang manis tapi nggak manis banget. Pas deh buat kami, Omla yang paling anti makanan manis pun mau ikut makan. Jadi inget tahun lalu... di Prabumulih, bantuin mbak Ita bikin kolak tanpa gula merah.
Putaran ketiga? Aku mencoba membuat pisang goreng... Ambil resep dari Almost Bourdain. Tapi apa yang terjadi?? Karena ini sudah putaran ketiga, tentu pisang-pisang itu sudah terlalu mateng untuk dibuat jadi pisang goreng tepung. Ketika dalam keadaan panas, cairannya keluar, membuat hasil gorengannya jadi basah, bukannya crispy seperti yang diharapkan.
Untungnya aku curhat di fesbuk, sehingga datanglah saran dari mbak Ita dan bu Any untuk membuat yang disebut "Godok-Godok". Intinya sih pisang matang yang dihaluskan, kemudian diuleni dengan tepung terigu dan digoreng. Konon "godok-godok" adalah makanan yang banyak beredar di daerah Sumatera/Melayu. Di Aceh ada penampakannya, di Medan ada, di Sumatera Barat juga ada. Begitu juga di Malaysia, di sana makanan ini disebut juga sebagai "Kuih Kodok".
Mengambil resep dari sini (yang cekodok pisang), aku ambil 2/3 resep jadi:
2 buah pisang blasteran, haluskan dengan garpu
1/3 cangkir (6 sdm) tepung terigu
1/4 sdt baking powder
sejumput garam
minyak untuk menggoreng
Cara membuat:
Campur tepung terigu, baking powder, dan garam. Aduk rata.
Masukkan campuran tepung terigu ke bubur pisang. Uleni sampai rata.
Panaskan minyak untuk menggoreng secara deep-fried.
Kemudian goreng adonan pisang sampai kecoklatan, gunakan sendok makan untuk menakar.
Hasilnya seperti ini:
Yummmyyy.... but I really have to learn more about food photography... wakakakak... karena penampakan di foto tidak seindah aslinya...
Berdasarkan informasi dari kawan-kawan, adonan tersebut di atas bisa juga dicampur dengan telur dan/atau susu dan/atau parutan kelapa...
Source Code
Banyak orang mendengung-dengungkan open source, namun sebagian orang mempertanyakan ini: lalu kalau punya sourcenya, buat apa? saya kan bukan programmer?. Bukan cuma programmer yang bisa diuntungkan secara langsung dengan ketersediaan source code. Pertama perlu saya ceritakan sedikit sejarah open source … Continue reading
Related posts:
Been a while away from home 2011-08-03 08:37:00
miss them soo muchkangen kemp pikka jacky more than ever...indescribable, unexplainable, indefineable, unspeakable, ineffable.....(sigh). ...kayaknya perempuan yang menarik itu yang ceria n laki2 yang menarik itu yang misterius....Pikka ceria, .... eh tp jacky misterius and kemp ceria ding. Jacky, geffy, murfy cool semua. Tp Noddie cool juga. Tp doggie....ceria. Hmmm kayaknya yang cowo banyakan
Been a while away from home 2011-08-03 08:37:00
miss them soo muchkangen kemp pikka jacky more than ever...indescribable, unexplainable, indefineable, unspeakable, ineffable.....(sigh). ...kayaknya perempuan yang menarik itu yang ceria n laki2 yang menarik itu yang misterius....Pikka ceria, .... eh tp jacky misterius and kemp ceria ding. Jacky, geffy, murfy cool semua. Tp Noddie cool juga. Tp doggie....ceria. Hmmm kayaknya yang cowo banyakan
unspoken words 2011-08-02 04:52:00
Macaroni Saus Tuna Alfredo Secukupnya
Selasa siang, istirahat kantor gak jadi mampir ke kedai makan langganan. Jadi mikir, masak apa ya?
Hmm... Aku pengen pasta. Ada macaroni di lemari, tapi masak saus apa ya? Ada susu, ada terigu, ada sedikit keju. Bisa bikin alfredo. Buat "daging"-nya ada tuna kaleng. Yang gak ada cuma 1: resepnya!! Ada di laptop di kantor, dan kalo mau browsing nyari resep dulu pake BB, kelamaan kaalleee... Jadi mari kita bikin resep kira-kira!
Bahan:
*70-75 gram macaroni, rebus dalam air yg diberi sedikit minyak goreng
*2 siung bawang putih, rajang halus (kayaknya 1 juga cukup deh)
*susu UHT, secukupnya
*1/3 bagian tuna kaleng kecil
*3 sdm minyak dari kaleng tuna
*parutan keju, secukupnya
*merica bubuk, secukupnya
*pala bubuk, secukupnya
*tepung terigu, secukupnya
Kebanyakan bahan diukur "secukupnya", karena aku emang gak nakar secara detail. Bahkan terigunya juga langsung ditumpahkan dari plastik ke pan, karena terigunya pas tinggal dikit sih.
Cara meramu:
*tumis bawang putih dgn minyak dari kaleng tuna sampai wangi
*masukkan tuna, aduk2 sebentar (tapi mengerikan deh, tunanya meletus-letus!!)
*masukkan susu. karena tunanya sudah mateng, boleh juga masukkan susunya duluan kalo takut sama letusan tuna.
*masukkan parutan keju
*masukkan pala dan merica, aduk rata.
*setelah mendidih, masukkan terigu. Aduk.
*matikan kompor, masukkan makaroni yang telah direbus, aduk rata. Dan jadilah makan siangku!!
Alfredo vs Carbonara. Penampakannya serupa, putih2 gitu... tapi ternyata tak sama. Saus aslinya yang diciptakan oleh pak Alfredo ini hanya terbuat dari mentega (bukan margarin ya) ditambah dengan keju parmesan. Sedangkan carbonara aslinya tersusun dari telur, daging asap, keju, dan krim. Namun dengan menyebarnya saus-saus pasta itu ke seluruh dunia, terjadi modifikasi sana-sini, maka ingredients-nya pun makin kompleks. Yang membuat aku memilih "alfredo" dan bukan "carbonara" sebagai nama saus jadi-jadianku tadi adalah telurnya. Alfredo tidak memakai telur sebagai salah satu bahannya, begitu juga saus bikinanku.
Hmm... Aku pengen pasta. Ada macaroni di lemari, tapi masak saus apa ya? Ada susu, ada terigu, ada sedikit keju. Bisa bikin alfredo. Buat "daging"-nya ada tuna kaleng. Yang gak ada cuma 1: resepnya!! Ada di laptop di kantor, dan kalo mau browsing nyari resep dulu pake BB, kelamaan kaalleee... Jadi mari kita bikin resep kira-kira!
Bahan:
*70-75 gram macaroni, rebus dalam air yg diberi sedikit minyak goreng
*2 siung bawang putih, rajang halus (kayaknya 1 juga cukup deh)
*susu UHT, secukupnya
*1/3 bagian tuna kaleng kecil
*3 sdm minyak dari kaleng tuna
*parutan keju, secukupnya
*merica bubuk, secukupnya
*pala bubuk, secukupnya
*tepung terigu, secukupnya
Kebanyakan bahan diukur "secukupnya", karena aku emang gak nakar secara detail. Bahkan terigunya juga langsung ditumpahkan dari plastik ke pan, karena terigunya pas tinggal dikit sih.
Cara meramu:
*tumis bawang putih dgn minyak dari kaleng tuna sampai wangi
*masukkan tuna, aduk2 sebentar (tapi mengerikan deh, tunanya meletus-letus!!)
*masukkan susu. karena tunanya sudah mateng, boleh juga masukkan susunya duluan kalo takut sama letusan tuna.
*masukkan parutan keju
*masukkan pala dan merica, aduk rata.
*setelah mendidih, masukkan terigu. Aduk.
*matikan kompor, masukkan makaroni yang telah direbus, aduk rata. Dan jadilah makan siangku!!
Alfredo vs Carbonara. Penampakannya serupa, putih2 gitu... tapi ternyata tak sama. Saus aslinya yang diciptakan oleh pak Alfredo ini hanya terbuat dari mentega (bukan margarin ya) ditambah dengan keju parmesan. Sedangkan carbonara aslinya tersusun dari telur, daging asap, keju, dan krim. Namun dengan menyebarnya saus-saus pasta itu ke seluruh dunia, terjadi modifikasi sana-sini, maka ingredients-nya pun makin kompleks. Yang membuat aku memilih "alfredo" dan bukan "carbonara" sebagai nama saus jadi-jadianku tadi adalah telurnya. Alfredo tidak memakai telur sebagai salah satu bahannya, begitu juga saus bikinanku.

