Selasa siang, istirahat kantor gak jadi mampir ke kedai makan langganan. Jadi mikir, masak apa ya?
Hmm... Aku pengen pasta. Ada macaroni di lemari, tapi masak saus apa ya? Ada susu, ada terigu, ada sedikit keju. Bisa bikin alfredo. Buat "daging"-nya ada tuna kaleng. Yang gak ada cuma 1: resepnya!! Ada di laptop di kantor, dan kalo mau browsing nyari resep dulu pake BB, kelamaan kaalleee... Jadi mari kita bikin resep kira-kira!
Bahan:
*70-75 gram macaroni, rebus dalam air yg diberi sedikit minyak goreng
*2 siung bawang putih, rajang halus (kayaknya 1 juga cukup deh)
*susu UHT, secukupnya
*1/3 bagian tuna kaleng kecil
*3 sdm minyak dari kaleng tuna
*parutan keju, secukupnya
*merica bubuk, secukupnya
*pala bubuk, secukupnya
*tepung terigu, secukupnya
Kebanyakan bahan diukur "secukupnya", karena aku emang gak nakar secara detail. Bahkan terigunya juga langsung ditumpahkan dari plastik ke pan, karena terigunya pas tinggal dikit sih.
Cara meramu:
*tumis bawang putih dgn minyak dari kaleng tuna sampai wangi
*masukkan tuna, aduk2 sebentar (tapi mengerikan deh, tunanya meletus-letus!!)
*masukkan susu. karena tunanya sudah mateng, boleh juga masukkan susunya duluan kalo takut sama letusan tuna.
*masukkan parutan keju
*masukkan pala dan merica, aduk rata.
*setelah mendidih, masukkan terigu. Aduk.
*matikan kompor, masukkan makaroni yang telah direbus, aduk rata. Dan jadilah makan siangku!!
Alfredo vs Carbonara. Penampakannya serupa, putih2 gitu... tapi ternyata tak sama. Saus aslinya yang diciptakan oleh pak Alfredo ini hanya terbuat dari mentega (bukan margarin ya) ditambah dengan keju parmesan. Sedangkan carbonara aslinya tersusun dari telur, daging asap, keju, dan krim. Namun dengan menyebarnya saus-saus pasta itu ke seluruh dunia, terjadi modifikasi sana-sini, maka ingredients-nya pun makin kompleks. Yang membuat aku memilih "alfredo" dan bukan "carbonara" sebagai nama saus jadi-jadianku tadi adalah telurnya. Alfredo tidak memakai telur sebagai salah satu bahannya, begitu juga saus bikinanku.
Singapore (bukan)-Claypot Chicken Rice
Aku suka nasi claypot. Dari jaman kafe kembang yang jualan nasi claypot masih eksis di depan Melsa Bandung, sampe kafe kembang pindah ke dekat Dayang Sumbi, sampe akhirnya tutup: aku.suka.nasi.claypot.
Bahkan pergi ke resto mahal pun aku pesan nasi claypot (kalo ada). Suatu hari di tahun 2007, aku pernah diajak boss besar makan di resto terkenal di Dago Atas, karena kulihat ada menu Singapore Claypot Chicken Rice, aku pun pesan menu itu. Ternyata... Rasanya gak sebanding dengan reputasi dan harga makanan restoran tersebut. Ndak enak... Bumbunya kurang menyerap ke dalam nasinya. Hmm... Tapi lucunya... Kalau lihat foto acara makan di Dago Atas itu... Mari kita lihat:
Ini nasi claypot mahal yang tampangnya oke, tapi rasa gak oke. Di sebelahnya, itu aku lagi makan nasi claypot. Tapi ngapain ya pria kurus berbaju biru itu duduk di sebelahku? Senggol. Senggol. Senggol. => sekarang berani senggol-senggol... ^_^
Jadi... Untuk menyambut kedatangan Omla dari dinas ke Bandung minggu yang lalu (padahal bilang aja emang aku yang pengen makan...), aku membuat Singapore Claypot Chicken Rice, tapi tentunya tanpa claypot. Di mana coba cari claypot di Sorong?
Untungnya tersedia resep dari sini: http://rasamalaysia.com/claypot-chicken-rice-without-claypot/ . Setelah aku adaptasi, maka menjadi seperti ini:
1 dada ayam boneless => emang selalu nyimpen barang ini di freezer
3 buah jamur shiitake => potong kecil2
1 batang daun bawang
1/2 sdt bubuk jahe (harusnya sih pake jahe betulan dicincang)
Sejumput ikan asin jambal roti
1 takaran/cangkir beras
Bumbu rendam buat ayam:
2 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
1/2 sdt maizena
1/2 sdt minyak wijen
1 jumput bubuk lada putih
1/4 sdt gula pasir
Semua bahan diaduk-aduk
Bumbu buat menanak nasi:
1 sdm kecap asin
1/2 sdt kecap manis
1 sdt minyak wijen
1 jumput garam
* Potong kecil-kecil dada ayam, kemudian campur dengan bumbu rendam. Rendam dalam kulkas selama 1 jam (istilah kerennya: marinate the chicken for an hour).
* Setelah ayam dikulkas selama 1 jam: Cuci beras. Masukkan ke dalam panci rice cooker, tambahkan air sesuai ketentuan. Tambahkan campuran "bumbu buat menanak nasi", aduk rata. Tekan tombol cook.
* Setelah itu tumis ayam yang telah direndam (bersama bumbu rendamannya) bersama dengan jamur shiitake dan sedikit minyak. Tambahkan bubuk jahe. Aduk-aduk sampai ayam setengah matang. Sebelum diangkat, tambahkan daun bawang. Aduk-aduk sebentar, kemudian angkat.
* Sesekali tengok rice cooker, begitu airnya hampir habis (ketinggian air = ketinggian nasi/beras), masukkan tumisan ayam dan jamur. Letakkan di atas nasi.
* Sambil menunggu nasi matang, goreng ikan asin jambal yang sudah dirajang kecil-kecil.
* Begitu tombol rice cooker berpindah ke mode warm, tunggu sekitar 15-20 menit sebelum menyantap hidangan. Hidangkan dengan taburan ikan asin jambal.
Ini dia penampakannya...
Tampang emang gak sekeren yang di resto mahal itu, tapi rasanya boleh diadu deh. Oya, ini porsinya untuk 2 orang ya... jadi kalo mau bikin untuk se-RT, tinggal dikalikan dengan jumlah orang di satu RT itu, terus dibagi 2.
Untuk nasi yang lebih gurih, bisa juga ditambahkan sepotong kecil ayam (diambil dari daging ayam yang telah direndam selama 1 jam) ke dalam rice cooker dari sejak pertama kali menekan tombol cook. Daging ayamnya akan menyebarkan kaldu ke seluruh beras yang lagi dimasak.
Kalau malas menggoreng ikan asin jambal, nasi claypot ini enak juga dimakan dengan telur asin. Ternyata telur asin yang berasal dari Brebes ataupun Bantul itu cocok dikombinasikan dengan masakan peranakan ini.
Akhirnya kerinduan bertaun-taun akan nasi claypot terlampiaskan sudah... Tak perlu ke Singapore atau ke mall besar kan untuk makan nasi claypot? Karena di Sorong juga ada...
Bahkan pergi ke resto mahal pun aku pesan nasi claypot (kalo ada). Suatu hari di tahun 2007, aku pernah diajak boss besar makan di resto terkenal di Dago Atas, karena kulihat ada menu Singapore Claypot Chicken Rice, aku pun pesan menu itu. Ternyata... Rasanya gak sebanding dengan reputasi dan harga makanan restoran tersebut. Ndak enak... Bumbunya kurang menyerap ke dalam nasinya. Hmm... Tapi lucunya... Kalau lihat foto acara makan di Dago Atas itu... Mari kita lihat:
Ini nasi claypot mahal yang tampangnya oke, tapi rasa gak oke. Di sebelahnya, itu aku lagi makan nasi claypot. Tapi ngapain ya pria kurus berbaju biru itu duduk di sebelahku? Senggol. Senggol. Senggol. => sekarang berani senggol-senggol... ^_^
Jadi... Untuk menyambut kedatangan Omla dari dinas ke Bandung minggu yang lalu (padahal bilang aja emang aku yang pengen makan...), aku membuat Singapore Claypot Chicken Rice, tapi tentunya tanpa claypot. Di mana coba cari claypot di Sorong?
Untungnya tersedia resep dari sini: http://rasamalaysia.com/claypot-chicken-rice-without-claypot/ . Setelah aku adaptasi, maka menjadi seperti ini:
1 dada ayam boneless => emang selalu nyimpen barang ini di freezer
3 buah jamur shiitake => potong kecil2
1 batang daun bawang
1/2 sdt bubuk jahe (harusnya sih pake jahe betulan dicincang)
Sejumput ikan asin jambal roti
1 takaran/cangkir beras
Bumbu rendam buat ayam:
2 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
1/2 sdt maizena
1/2 sdt minyak wijen
1 jumput bubuk lada putih
1/4 sdt gula pasir
Semua bahan diaduk-aduk
Bumbu buat menanak nasi:
1 sdm kecap asin
1/2 sdt kecap manis
1 sdt minyak wijen
1 jumput garam
* Potong kecil-kecil dada ayam, kemudian campur dengan bumbu rendam. Rendam dalam kulkas selama 1 jam (istilah kerennya: marinate the chicken for an hour).
* Setelah ayam dikulkas selama 1 jam: Cuci beras. Masukkan ke dalam panci rice cooker, tambahkan air sesuai ketentuan. Tambahkan campuran "bumbu buat menanak nasi", aduk rata. Tekan tombol cook.
* Setelah itu tumis ayam yang telah direndam (bersama bumbu rendamannya) bersama dengan jamur shiitake dan sedikit minyak. Tambahkan bubuk jahe. Aduk-aduk sampai ayam setengah matang. Sebelum diangkat, tambahkan daun bawang. Aduk-aduk sebentar, kemudian angkat.
* Sesekali tengok rice cooker, begitu airnya hampir habis (ketinggian air = ketinggian nasi/beras), masukkan tumisan ayam dan jamur. Letakkan di atas nasi.
* Sambil menunggu nasi matang, goreng ikan asin jambal yang sudah dirajang kecil-kecil.
* Begitu tombol rice cooker berpindah ke mode warm, tunggu sekitar 15-20 menit sebelum menyantap hidangan. Hidangkan dengan taburan ikan asin jambal.
Ini dia penampakannya...
Tampang emang gak sekeren yang di resto mahal itu, tapi rasanya boleh diadu deh. Oya, ini porsinya untuk 2 orang ya... jadi kalo mau bikin untuk se-RT, tinggal dikalikan dengan jumlah orang di satu RT itu, terus dibagi 2.
Untuk nasi yang lebih gurih, bisa juga ditambahkan sepotong kecil ayam (diambil dari daging ayam yang telah direndam selama 1 jam) ke dalam rice cooker dari sejak pertama kali menekan tombol cook. Daging ayamnya akan menyebarkan kaldu ke seluruh beras yang lagi dimasak.
Kalau malas menggoreng ikan asin jambal, nasi claypot ini enak juga dimakan dengan telur asin. Ternyata telur asin yang berasal dari Brebes ataupun Bantul itu cocok dikombinasikan dengan masakan peranakan ini.
Akhirnya kerinduan bertaun-taun akan nasi claypot terlampiaskan sudah... Tak perlu ke Singapore atau ke mall besar kan untuk makan nasi claypot? Karena di Sorong juga ada...
Singapore (bukan)-Claypot Chicken Rice
Aku suka nasi claypot. Dari jaman kafe kembang yang jualan nasi claypot masih eksis di depan Melsa Bandung, sampe kafe kembang pindah ke dekat Dayang Sumbi, sampe akhirnya tutup: aku.suka.nasi.claypot.
Bahkan pergi ke resto mahal pun aku pesan nasi claypot (kalo ada). Suatu hari di tahun 2007, aku pernah diajak boss besar makan di resto terkenal di Dago Atas, karena kulihat ada menu Singapore Claypot Chicken Rice, aku pun pesan menu itu. Ternyata... Rasanya gak sebanding dengan reputasi dan harga makanan restoran tersebut. Ndak enak... Bumbunya kurang menyerap ke dalam nasinya. Hmm... Tapi lucunya... Kalau lihat foto acara makan di Dago Atas itu... Mari kita lihat:
Ini nasi claypot mahal yang tampangnya oke, tapi rasa gak oke. Di sebelahnya, itu aku lagi makan nasi claypot. Tapi ngapain ya pria kurus berbaju biru itu duduk di sebelahku? Senggol. Senggol. Senggol. => sekarang berani senggol-senggol... ^_^
Jadi... Untuk menyambut kedatangan Omla dari dinas ke Bandung minggu yang lalu (padahal bilang aja emang aku yang pengen makan...), aku membuat Singapore Claypot Chicken Rice, tapi tentunya tanpa claypot. Di mana coba cari claypot di Sorong?
Untungnya tersedia resep dari sini: http://rasamalaysia.com/claypot-chicken-rice-without-claypot/ . Setelah aku adaptasi, maka menjadi seperti ini:
1 dada ayam boneless => emang selalu nyimpen barang ini di freezer
3 buah jamur shiitake => potong kecil2
1 batang daun bawang
1/2 sdt bubuk jahe (harusnya sih pake jahe betulan dicincang)
Sejumput ikan asin jambal roti
1 takaran/cangkir beras
Bumbu rendam buat ayam:
2 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
1/2 sdt maizena
1/2 sdt minyak wijen
1 jumput bubuk lada putih
1/4 sdt gula pasir
Semua bahan diaduk-aduk
Bumbu buat menanak nasi:
1 sdm kecap asin
1/2 sdt kecap manis
1 sdt minyak wijen
1 jumput garam
* Potong kecil-kecil dada ayam, kemudian campur dengan bumbu rendam. Rendam dalam kulkas selama 1 jam (istilah kerennya: marinate the chicken for an hour).
* Setelah ayam dikulkas selama 1 jam: Cuci beras. Masukkan ke dalam panci rice cooker, tambahkan air sesuai ketentuan. Tambahkan campuran "bumbu buat menanak nasi", aduk rata. Tekan tombol cook.
* Setelah itu tumis ayam yang telah direndam (bersama bumbu rendamannya) bersama dengan jamur shiitake dan sedikit minyak. Tambahkan bubuk jahe. Aduk-aduk sampai ayam setengah matang. Sebelum diangkat, tambahkan daun bawang. Aduk-aduk sebentar, kemudian angkat.
* Sesekali tengok rice cooker, begitu airnya hampir habis (ketinggian air = ketinggian nasi/beras), masukkan tumisan ayam dan jamur. Letakkan di atas nasi.
* Sambil menunggu nasi matang, goreng ikan asin jambal yang sudah dirajang kecil-kecil.
* Begitu tombol rice cooker berpindah ke mode warm, tunggu sekitar 15-20 menit sebelum menyantap hidangan. Hidangkan dengan taburan ikan asin jambal.
Ini dia penampakannya...
Tampang emang gak sekeren yang di resto mahal itu, tapi rasanya boleh diadu deh. Oya, ini porsinya untuk 2 orang ya... jadi kalo mau bikin untuk se-RT, tinggal dikalikan dengan jumlah orang di satu RT itu, terus dibagi 2.
Untuk nasi yang lebih gurih, bisa juga ditambahkan sepotong kecil ayam (diambil dari daging ayam yang telah direndam selama 1 jam) ke dalam rice cooker dari sejak pertama kali menekan tombol cook. Daging ayamnya akan menyebarkan kaldu ke seluruh beras yang lagi dimasak.
Kalau malas menggoreng ikan asin jambal, nasi claypot ini enak juga dimakan dengan telur asin. Ternyata telur asin yang berasal dari Brebes ataupun Bantul itu cocok dikombinasikan dengan masakan peranakan ini.
Akhirnya kerinduan bertaun-taun akan nasi claypot terlampiaskan sudah... Tak perlu ke Singapore atau ke mall besar kan untuk makan nasi claypot? Karena di Sorong juga ada...
Bahkan pergi ke resto mahal pun aku pesan nasi claypot (kalo ada). Suatu hari di tahun 2007, aku pernah diajak boss besar makan di resto terkenal di Dago Atas, karena kulihat ada menu Singapore Claypot Chicken Rice, aku pun pesan menu itu. Ternyata... Rasanya gak sebanding dengan reputasi dan harga makanan restoran tersebut. Ndak enak... Bumbunya kurang menyerap ke dalam nasinya. Hmm... Tapi lucunya... Kalau lihat foto acara makan di Dago Atas itu... Mari kita lihat:
Ini nasi claypot mahal yang tampangnya oke, tapi rasa gak oke. Di sebelahnya, itu aku lagi makan nasi claypot. Tapi ngapain ya pria kurus berbaju biru itu duduk di sebelahku? Senggol. Senggol. Senggol. => sekarang berani senggol-senggol... ^_^
Jadi... Untuk menyambut kedatangan Omla dari dinas ke Bandung minggu yang lalu (padahal bilang aja emang aku yang pengen makan...), aku membuat Singapore Claypot Chicken Rice, tapi tentunya tanpa claypot. Di mana coba cari claypot di Sorong?
Untungnya tersedia resep dari sini: http://rasamalaysia.com/claypot-chicken-rice-without-claypot/ . Setelah aku adaptasi, maka menjadi seperti ini:
1 dada ayam boneless => emang selalu nyimpen barang ini di freezer
3 buah jamur shiitake => potong kecil2
1 batang daun bawang
1/2 sdt bubuk jahe (harusnya sih pake jahe betulan dicincang)
Sejumput ikan asin jambal roti
1 takaran/cangkir beras
Bumbu rendam buat ayam:
2 sdm saus tiram
1 sdm kecap asin
1/2 sdt maizena
1/2 sdt minyak wijen
1 jumput bubuk lada putih
1/4 sdt gula pasir
Semua bahan diaduk-aduk
Bumbu buat menanak nasi:
1 sdm kecap asin
1/2 sdt kecap manis
1 sdt minyak wijen
1 jumput garam
* Potong kecil-kecil dada ayam, kemudian campur dengan bumbu rendam. Rendam dalam kulkas selama 1 jam (istilah kerennya: marinate the chicken for an hour).
* Setelah ayam dikulkas selama 1 jam: Cuci beras. Masukkan ke dalam panci rice cooker, tambahkan air sesuai ketentuan. Tambahkan campuran "bumbu buat menanak nasi", aduk rata. Tekan tombol cook.
* Setelah itu tumis ayam yang telah direndam (bersama bumbu rendamannya) bersama dengan jamur shiitake dan sedikit minyak. Tambahkan bubuk jahe. Aduk-aduk sampai ayam setengah matang. Sebelum diangkat, tambahkan daun bawang. Aduk-aduk sebentar, kemudian angkat.
* Sesekali tengok rice cooker, begitu airnya hampir habis (ketinggian air = ketinggian nasi/beras), masukkan tumisan ayam dan jamur. Letakkan di atas nasi.
* Sambil menunggu nasi matang, goreng ikan asin jambal yang sudah dirajang kecil-kecil.
* Begitu tombol rice cooker berpindah ke mode warm, tunggu sekitar 15-20 menit sebelum menyantap hidangan. Hidangkan dengan taburan ikan asin jambal.
Ini dia penampakannya...
Tampang emang gak sekeren yang di resto mahal itu, tapi rasanya boleh diadu deh. Oya, ini porsinya untuk 2 orang ya... jadi kalo mau bikin untuk se-RT, tinggal dikalikan dengan jumlah orang di satu RT itu, terus dibagi 2.
Untuk nasi yang lebih gurih, bisa juga ditambahkan sepotong kecil ayam (diambil dari daging ayam yang telah direndam selama 1 jam) ke dalam rice cooker dari sejak pertama kali menekan tombol cook. Daging ayamnya akan menyebarkan kaldu ke seluruh beras yang lagi dimasak.
Kalau malas menggoreng ikan asin jambal, nasi claypot ini enak juga dimakan dengan telur asin. Ternyata telur asin yang berasal dari Brebes ataupun Bantul itu cocok dikombinasikan dengan masakan peranakan ini.
Akhirnya kerinduan bertaun-taun akan nasi claypot terlampiaskan sudah... Tak perlu ke Singapore atau ke mall besar kan untuk makan nasi claypot? Karena di Sorong juga ada...
Acara Gosip Yang Aneh…
Tapi acara gosip mana sih yang gak aneh?
Barusan aja scanning channel-channel TV... Terus nemu acara gosip yang ditayangkan di stasiun TV tempat aku pernah bekerja (sebentar). Sebelum aku pindah channel lagi, ini informasi yg aku "serap":
* acara TV tersebut baru saja selesai membahas pernikahan seorang artis perempuan yg berusia 41 tahun. Kalimatnya itu lho: "Setelah R**a R*****n yang menikah di usia senja...". Weks, jadi usia 41 tahun itu menurut mereka tergolong "usia senja" ya?
* kemudian acara TV tersebut membahas tentang mantan artis cilik yg akan segera menikah untuk kedua kalinya. Menurut mereka, pernikahan itu ditutup-tutupi, buktinya si artis nggak datang sendiri ke KUA tempat dia berdomisili untuk meminta surat rekomendasi/pengantar. Lha terus apa masalahnya? Rakyat jelata yang bukan artis macam diriku aja gak pernah datang ke KUA untuk mengurusi pernikahan karena jadwal gak memungkinkan... Jadi kalo si artis ini gak datang sendiri ke KUA, biasa aja kaalliii...
Akhirnya aku pindah channel. Kalo sebel mending gak usah nonton ah, kecuali niatnya emang mencela-cela.
Sampe saat ini, mungkin acara macam itu masih diperlukan. Untuk yang males liat berita politik yang makin hari makin bikin sakit perut, acara gosip artis yang ringan dan gak perlu banyak dicerna bisa jadi alternatif. Begitu juga yang lagi butuh mencela, misalnya untuk melepas stress, lebih baik nonton gosip. Kadang bisa mencela artisnya, atau bisa mencela beritanya, atau presenternya, tergantung bagian mana yg lagi absurd.
Barusan aja scanning channel-channel TV... Terus nemu acara gosip yang ditayangkan di stasiun TV tempat aku pernah bekerja (sebentar). Sebelum aku pindah channel lagi, ini informasi yg aku "serap":
* acara TV tersebut baru saja selesai membahas pernikahan seorang artis perempuan yg berusia 41 tahun. Kalimatnya itu lho: "Setelah R**a R*****n yang menikah di usia senja...". Weks, jadi usia 41 tahun itu menurut mereka tergolong "usia senja" ya?
* kemudian acara TV tersebut membahas tentang mantan artis cilik yg akan segera menikah untuk kedua kalinya. Menurut mereka, pernikahan itu ditutup-tutupi, buktinya si artis nggak datang sendiri ke KUA tempat dia berdomisili untuk meminta surat rekomendasi/pengantar. Lha terus apa masalahnya? Rakyat jelata yang bukan artis macam diriku aja gak pernah datang ke KUA untuk mengurusi pernikahan karena jadwal gak memungkinkan... Jadi kalo si artis ini gak datang sendiri ke KUA, biasa aja kaalliii...
Akhirnya aku pindah channel. Kalo sebel mending gak usah nonton ah, kecuali niatnya emang mencela-cela.
Sampe saat ini, mungkin acara macam itu masih diperlukan. Untuk yang males liat berita politik yang makin hari makin bikin sakit perut, acara gosip artis yang ringan dan gak perlu banyak dicerna bisa jadi alternatif. Begitu juga yang lagi butuh mencela, misalnya untuk melepas stress, lebih baik nonton gosip. Kadang bisa mencela artisnya, atau bisa mencela beritanya, atau presenternya, tergantung bagian mana yg lagi absurd.
Acara Gosip Yang Aneh…
Tapi acara gosip mana sih yang gak aneh?
Barusan aja scanning channel-channel TV... Terus nemu acara gosip yang ditayangkan di stasiun TV tempat aku pernah bekerja (sebentar). Sebelum aku pindah channel lagi, ini informasi yg aku "serap":
* acara TV tersebut baru saja selesai membahas pernikahan seorang artis perempuan yg berusia 41 tahun. Kalimatnya itu lho: "Setelah R**a R*****n yang menikah di usia senja...". Weks, jadi usia 41 tahun itu menurut mereka tergolong "usia senja" ya?
* kemudian acara TV tersebut membahas tentang mantan artis cilik yg akan segera menikah untuk kedua kalinya. Menurut mereka, pernikahan itu ditutup-tutupi, buktinya si artis nggak datang sendiri ke KUA tempat dia berdomisili untuk meminta surat rekomendasi/pengantar. Lha terus apa masalahnya? Rakyat jelata yang bukan artis macam diriku aja gak pernah datang ke KUA untuk mengurusi pernikahan karena jadwal gak memungkinkan... Jadi kalo si artis ini gak datang sendiri ke KUA, biasa aja kaalliii...
Akhirnya aku pindah channel. Kalo sebel mending gak usah nonton ah, kecuali niatnya emang mencela-cela.
Sampe saat ini, mungkin acara macam itu masih diperlukan. Untuk yang males liat berita politik yang makin hari makin bikin sakit perut, acara gosip artis yang ringan dan gak perlu banyak dicerna bisa jadi alternatif. Begitu juga yang lagi butuh mencela, misalnya untuk melepas stress, lebih baik nonton gosip. Kadang bisa mencela artisnya, atau bisa mencela beritanya, atau presenternya, tergantung bagian mana yg lagi absurd.
Barusan aja scanning channel-channel TV... Terus nemu acara gosip yang ditayangkan di stasiun TV tempat aku pernah bekerja (sebentar). Sebelum aku pindah channel lagi, ini informasi yg aku "serap":
* acara TV tersebut baru saja selesai membahas pernikahan seorang artis perempuan yg berusia 41 tahun. Kalimatnya itu lho: "Setelah R**a R*****n yang menikah di usia senja...". Weks, jadi usia 41 tahun itu menurut mereka tergolong "usia senja" ya?
* kemudian acara TV tersebut membahas tentang mantan artis cilik yg akan segera menikah untuk kedua kalinya. Menurut mereka, pernikahan itu ditutup-tutupi, buktinya si artis nggak datang sendiri ke KUA tempat dia berdomisili untuk meminta surat rekomendasi/pengantar. Lha terus apa masalahnya? Rakyat jelata yang bukan artis macam diriku aja gak pernah datang ke KUA untuk mengurusi pernikahan karena jadwal gak memungkinkan... Jadi kalo si artis ini gak datang sendiri ke KUA, biasa aja kaalliii...
Akhirnya aku pindah channel. Kalo sebel mending gak usah nonton ah, kecuali niatnya emang mencela-cela.
Sampe saat ini, mungkin acara macam itu masih diperlukan. Untuk yang males liat berita politik yang makin hari makin bikin sakit perut, acara gosip artis yang ringan dan gak perlu banyak dicerna bisa jadi alternatif. Begitu juga yang lagi butuh mencela, misalnya untuk melepas stress, lebih baik nonton gosip. Kadang bisa mencela artisnya, atau bisa mencela beritanya, atau presenternya, tergantung bagian mana yg lagi absurd.
Hari Gini…
Indonesia sudah merdeka berapa tahun ya? 66 tahun kan ya?
Herannya, masih ada aja yang mengkotak-kotakkan sesamanya berdasarkan SARA. Dan itu saya jumpai di sini, kota pendatang yang penduduknya cukup plural, yang seharusnya sudah lama meninggalkan hal-hal seperti itu. Dan sikap itu ditunjukkan oleh beberapa orang pendatang, yang menurut saya aneh. Lhaaa... begimane loe bisa jadi pendatang kalo loe gak bisa menerima perbedaan? Datang ke tempat baru itu kan sudah pasti dimana-mana ada perbedaan...
Tempat saya membutuhkan tenaga kerja baru, untuk menggantikan tenaga kerja lama yang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan ketika saya menerima masukan dari kanan-kiri, banyak (gak cuma satu loh) yang menambahkan: "Jangan bu, soalnya dia agamanya N...". Saya kaget...
Saya pernah mendengar ada beberapa orang di perusahaan ini yang masih sangat membedakan orang berdasarkan SARA, tapi terus terang saja saya belum pernah menjumpai langsung. Kebetulan tempat-tempat saya yang lama suasana-nya cukup rukun antar suku, antar agama, antar ras, dan juga antar berat badan... Jadi saya pikir, ah mungkin yang saya dengar itu hanya gosip gak jelas aja...
Kali ini, untuk urusan pencarian tenaga kerja ini, saya sudah menjumpai beberapa kali. Dan parahnya, salah satu orang yang memberikan masukan seperti itu, usianya jauh lebih muda daripada saya. Generasi yang baru lulus kuliah. Udah gitu dulu kuliahnya di sebuah kota yang terkenal dengan kota pelajar, sehingga setahu saya di kota Y itu mahasiswanya beragam dari Sabang sampe Merauke. Main sama siapa aja dia selama kuliah?! Kemana kah menguapnya pelajaran tentang Bhineka Tunggal Ika yang diberikan sejak SD itu??
Saya cukup beruntung, waktu kuliah saya bergaul di PSM-ITB. Syarat mutlak di PSM adalah: kami gak boleh membedakan teman berdasarkan suku, ras, agama, dan berat badan... kalo SARA masih jadi isu di PSM, ya begimane bisa nyanyi bareng?? Tentunya kami (kalo lagi nyanyi) membedakan orang berdasarkan golongan suaranya: Sopran, Alto, Tenor, Bass. Kalo loe orang golongan suaranya Sopran, awas jangan deket-deket sama saya kalo lagi nyanyi... pergi sana ke barisan Sopran. Eh, bukan berarti di jurusan saya pergaulannya gak campur lho ya, tapi kebetulan saya emang lebih banyak nongkrong di PSM, jadi contoh yang bisa saya kasih juga lebih banyak dari sana.
Sepertinya perjalanan masih panjang... Indonesia bakalan gampang dipecah belah kalo orang-orangnya masih mengkotak-kotakkan berdasarkan SARA. Kayaknya orang-orang itu harus dijejelin buku Nasional.Is.Me-nya mas Pandji deh... Di sana dijelaskan bahwa kita harus bersatu. Gak mau kan kalo hidup kita jadi gak aman karena sekeliling kita banyak kerusuhan? Kalau mau hidup tenang, hidup aman, ya mulai dunk belajar untuk menerima keanekaragaman. Jangan sampe kita mengkotak-kotakkan orang berdasarkan SARA, tapi giliran ada kerusuhan antar etnis, antar agama, kita marah-marah sama pemerintah, sama polisi, sama orang yang rusuh, karena orang-orang itu gak bisa menjaga ketentraman...
Jadi... biar kata hari ini seseorang pake gadget yang paling mutakhir, tapi kalo masih belum bisa menerima keanekaragaman... itu tuh ketinggalan jaman banget. Termasuk orang-orang yang kasih masukan aneh ke saya itu. Kasian deh lo!!
Herannya, masih ada aja yang mengkotak-kotakkan sesamanya berdasarkan SARA. Dan itu saya jumpai di sini, kota pendatang yang penduduknya cukup plural, yang seharusnya sudah lama meninggalkan hal-hal seperti itu. Dan sikap itu ditunjukkan oleh beberapa orang pendatang, yang menurut saya aneh. Lhaaa... begimane loe bisa jadi pendatang kalo loe gak bisa menerima perbedaan? Datang ke tempat baru itu kan sudah pasti dimana-mana ada perbedaan...
Tempat saya membutuhkan tenaga kerja baru, untuk menggantikan tenaga kerja lama yang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan ketika saya menerima masukan dari kanan-kiri, banyak (gak cuma satu loh) yang menambahkan: "Jangan bu, soalnya dia agamanya N...". Saya kaget...
Saya pernah mendengar ada beberapa orang di perusahaan ini yang masih sangat membedakan orang berdasarkan SARA, tapi terus terang saja saya belum pernah menjumpai langsung. Kebetulan tempat-tempat saya yang lama suasana-nya cukup rukun antar suku, antar agama, antar ras, dan juga antar berat badan... Jadi saya pikir, ah mungkin yang saya dengar itu hanya gosip gak jelas aja...
Kali ini, untuk urusan pencarian tenaga kerja ini, saya sudah menjumpai beberapa kali. Dan parahnya, salah satu orang yang memberikan masukan seperti itu, usianya jauh lebih muda daripada saya. Generasi yang baru lulus kuliah. Udah gitu dulu kuliahnya di sebuah kota yang terkenal dengan kota pelajar, sehingga setahu saya di kota Y itu mahasiswanya beragam dari Sabang sampe Merauke. Main sama siapa aja dia selama kuliah?! Kemana kah menguapnya pelajaran tentang Bhineka Tunggal Ika yang diberikan sejak SD itu??
Saya cukup beruntung, waktu kuliah saya bergaul di PSM-ITB. Syarat mutlak di PSM adalah: kami gak boleh membedakan teman berdasarkan suku, ras, agama, dan berat badan... kalo SARA masih jadi isu di PSM, ya begimane bisa nyanyi bareng?? Tentunya kami (kalo lagi nyanyi) membedakan orang berdasarkan golongan suaranya: Sopran, Alto, Tenor, Bass. Kalo loe orang golongan suaranya Sopran, awas jangan deket-deket sama saya kalo lagi nyanyi... pergi sana ke barisan Sopran. Eh, bukan berarti di jurusan saya pergaulannya gak campur lho ya, tapi kebetulan saya emang lebih banyak nongkrong di PSM, jadi contoh yang bisa saya kasih juga lebih banyak dari sana.
Sepertinya perjalanan masih panjang... Indonesia bakalan gampang dipecah belah kalo orang-orangnya masih mengkotak-kotakkan berdasarkan SARA. Kayaknya orang-orang itu harus dijejelin buku Nasional.Is.Me-nya mas Pandji deh... Di sana dijelaskan bahwa kita harus bersatu. Gak mau kan kalo hidup kita jadi gak aman karena sekeliling kita banyak kerusuhan? Kalau mau hidup tenang, hidup aman, ya mulai dunk belajar untuk menerima keanekaragaman. Jangan sampe kita mengkotak-kotakkan orang berdasarkan SARA, tapi giliran ada kerusuhan antar etnis, antar agama, kita marah-marah sama pemerintah, sama polisi, sama orang yang rusuh, karena orang-orang itu gak bisa menjaga ketentraman...
Jadi... biar kata hari ini seseorang pake gadget yang paling mutakhir, tapi kalo masih belum bisa menerima keanekaragaman... itu tuh ketinggalan jaman banget. Termasuk orang-orang yang kasih masukan aneh ke saya itu. Kasian deh lo!!
Hari Gini…
Indonesia sudah merdeka berapa tahun ya? 66 tahun kan ya?
Herannya, masih ada aja yang mengkotak-kotakkan sesamanya berdasarkan SARA. Dan itu saya jumpai di sini, kota pendatang yang penduduknya cukup plural, yang seharusnya sudah lama meninggalkan hal-hal seperti itu. Dan sikap itu ditunjukkan oleh beberapa orang pendatang, yang menurut saya aneh. Lhaaa... begimane loe bisa jadi pendatang kalo loe gak bisa menerima perbedaan? Datang ke tempat baru itu kan sudah pasti dimana-mana ada perbedaan...
Tempat saya membutuhkan tenaga kerja baru, untuk menggantikan tenaga kerja lama yang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan ketika saya menerima masukan dari kanan-kiri, banyak (gak cuma satu loh) yang menambahkan: "Jangan bu, soalnya dia agamanya N...". Saya kaget...
Saya pernah mendengar ada beberapa orang di perusahaan ini yang masih sangat membedakan orang berdasarkan SARA, tapi terus terang saja saya belum pernah menjumpai langsung. Kebetulan tempat-tempat saya yang lama suasana-nya cukup rukun antar suku, antar agama, antar ras, dan juga antar berat badan... Jadi saya pikir, ah mungkin yang saya dengar itu hanya gosip gak jelas aja...
Kali ini, untuk urusan pencarian tenaga kerja ini, saya sudah menjumpai beberapa kali. Dan parahnya, salah satu orang yang memberikan masukan seperti itu, usianya jauh lebih muda daripada saya. Generasi yang baru lulus kuliah. Udah gitu dulu kuliahnya di sebuah kota yang terkenal dengan kota pelajar, sehingga setahu saya di kota Y itu mahasiswanya beragam dari Sabang sampe Merauke. Main sama siapa aja dia selama kuliah?! Kemana kah menguapnya pelajaran tentang Bhineka Tunggal Ika yang diberikan sejak SD itu??
Saya cukup beruntung, waktu kuliah saya bergaul di PSM-ITB. Syarat mutlak di PSM adalah: kami gak boleh membedakan teman berdasarkan suku, ras, agama, dan berat badan... kalo SARA masih jadi isu di PSM, ya begimane bisa nyanyi bareng?? Tentunya kami (kalo lagi nyanyi) membedakan orang berdasarkan golongan suaranya: Sopran, Alto, Tenor, Bass. Kalo loe orang golongan suaranya Sopran, awas jangan deket-deket sama saya kalo lagi nyanyi... pergi sana ke barisan Sopran. Eh, bukan berarti di jurusan saya pergaulannya gak campur lho ya, tapi kebetulan saya emang lebih banyak nongkrong di PSM, jadi contoh yang bisa saya kasih juga lebih banyak dari sana.
Sepertinya perjalanan masih panjang... Indonesia bakalan gampang dipecah belah kalo orang-orangnya masih mengkotak-kotakkan berdasarkan SARA. Kayaknya orang-orang itu harus dijejelin buku Nasional.Is.Me-nya mas Pandji deh... Di sana dijelaskan bahwa kita harus bersatu. Gak mau kan kalo hidup kita jadi gak aman karena sekeliling kita banyak kerusuhan? Kalau mau hidup tenang, hidup aman, ya mulai dunk belajar untuk menerima keanekaragaman. Jangan sampe kita mengkotak-kotakkan orang berdasarkan SARA, tapi giliran ada kerusuhan antar etnis, antar agama, kita marah-marah sama pemerintah, sama polisi, sama orang yang rusuh, karena orang-orang itu gak bisa menjaga ketentraman...
Jadi... biar kata hari ini seseorang pake gadget yang paling mutakhir, tapi kalo masih belum bisa menerima keanekaragaman... itu tuh ketinggalan jaman banget. Termasuk orang-orang yang kasih masukan aneh ke saya itu. Kasian deh lo!!
Herannya, masih ada aja yang mengkotak-kotakkan sesamanya berdasarkan SARA. Dan itu saya jumpai di sini, kota pendatang yang penduduknya cukup plural, yang seharusnya sudah lama meninggalkan hal-hal seperti itu. Dan sikap itu ditunjukkan oleh beberapa orang pendatang, yang menurut saya aneh. Lhaaa... begimane loe bisa jadi pendatang kalo loe gak bisa menerima perbedaan? Datang ke tempat baru itu kan sudah pasti dimana-mana ada perbedaan...
Tempat saya membutuhkan tenaga kerja baru, untuk menggantikan tenaga kerja lama yang mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Dan ketika saya menerima masukan dari kanan-kiri, banyak (gak cuma satu loh) yang menambahkan: "Jangan bu, soalnya dia agamanya N...". Saya kaget...
Saya pernah mendengar ada beberapa orang di perusahaan ini yang masih sangat membedakan orang berdasarkan SARA, tapi terus terang saja saya belum pernah menjumpai langsung. Kebetulan tempat-tempat saya yang lama suasana-nya cukup rukun antar suku, antar agama, antar ras, dan juga antar berat badan... Jadi saya pikir, ah mungkin yang saya dengar itu hanya gosip gak jelas aja...
Kali ini, untuk urusan pencarian tenaga kerja ini, saya sudah menjumpai beberapa kali. Dan parahnya, salah satu orang yang memberikan masukan seperti itu, usianya jauh lebih muda daripada saya. Generasi yang baru lulus kuliah. Udah gitu dulu kuliahnya di sebuah kota yang terkenal dengan kota pelajar, sehingga setahu saya di kota Y itu mahasiswanya beragam dari Sabang sampe Merauke. Main sama siapa aja dia selama kuliah?! Kemana kah menguapnya pelajaran tentang Bhineka Tunggal Ika yang diberikan sejak SD itu??
Saya cukup beruntung, waktu kuliah saya bergaul di PSM-ITB. Syarat mutlak di PSM adalah: kami gak boleh membedakan teman berdasarkan suku, ras, agama, dan berat badan... kalo SARA masih jadi isu di PSM, ya begimane bisa nyanyi bareng?? Tentunya kami (kalo lagi nyanyi) membedakan orang berdasarkan golongan suaranya: Sopran, Alto, Tenor, Bass. Kalo loe orang golongan suaranya Sopran, awas jangan deket-deket sama saya kalo lagi nyanyi... pergi sana ke barisan Sopran. Eh, bukan berarti di jurusan saya pergaulannya gak campur lho ya, tapi kebetulan saya emang lebih banyak nongkrong di PSM, jadi contoh yang bisa saya kasih juga lebih banyak dari sana.
Sepertinya perjalanan masih panjang... Indonesia bakalan gampang dipecah belah kalo orang-orangnya masih mengkotak-kotakkan berdasarkan SARA. Kayaknya orang-orang itu harus dijejelin buku Nasional.Is.Me-nya mas Pandji deh... Di sana dijelaskan bahwa kita harus bersatu. Gak mau kan kalo hidup kita jadi gak aman karena sekeliling kita banyak kerusuhan? Kalau mau hidup tenang, hidup aman, ya mulai dunk belajar untuk menerima keanekaragaman. Jangan sampe kita mengkotak-kotakkan orang berdasarkan SARA, tapi giliran ada kerusuhan antar etnis, antar agama, kita marah-marah sama pemerintah, sama polisi, sama orang yang rusuh, karena orang-orang itu gak bisa menjaga ketentraman...
Jadi... biar kata hari ini seseorang pake gadget yang paling mutakhir, tapi kalo masih belum bisa menerima keanekaragaman... itu tuh ketinggalan jaman banget. Termasuk orang-orang yang kasih masukan aneh ke saya itu. Kasian deh lo!!
Koteka Cabulita
Tinggal jauh dari ibukota ada untungnya: gak pake macet, dapet fasilitas enak, gak banyak godaan belanja, dekat ke obyek wisata yang indahnya bukan main, dan seterusnya. Beberapa hal gak enak sudah berhasil diatasi sebagian, seperti: ninggalin keluarga jaman sekarang dibandingkan 15 tahun yang lalu pastinya beda bebannya, kalo sekarang ada GSM, email, fb, skype, google+, twitter, dan banyak lagi alternatif cara komunikasi. Kemudian soal makanan, gak bisa makan masakannya Si Mbok, ya sudah belajar masak sendiri.
Tapi ada juga yang gak bisa tergantikan, biar kata bisa lewat dunia maya, tetep aja pertemuan fisik dengan keluarga lebih jadi pilihan. Juga kesempatan-kesempatan lainnya yang gak bisa dilakukan kalau kita gak di dekat ibu kota, seperti ikut workshop-workshop yang menarik, atau seperti yang baru saja saya lewatkan: Konser Alumni PSM-ITB.
Uhuuuyy... yaaa... kakak-kakak, teman-teman, adik-adik alumni PSM-ITB baru saja menyelenggarakan konser di Jakarta dan Bandung. Dan saya... salah satu aktivis pas jaman kuliah dulu (PSM kan tempat kuliah saya...), terpaksa melewatkan kesempatan untuk yang satu ini. Udah tempatnya jauh di ibu kota, cuti saya juga sudah mepet jaya... Jadi boro-boro ikut nyanyi, nonton aja gak bisaa...
Padahal buat kami para anggota paduan suara, tampil di atas panggung itu tak tergantikan deh sensasinya. Bahkan nyanyi di karaokean atau di orgen tunggal family gathering pun gak bisa menggantikan sensasi tersebut. Ada kepuasan yang gimana gitu... setelah berbulan-bulan latian, terus akhirnya menampilkan yang terbaik. Bahkan kalopun ada sesuatu yang error pas tampil, itu akhirnya bisa jadi bahan tertawaan selama berbulan-bulan.
Karena kekecewaan saya, akhirnya saya menulis di wall Alumni PSM-ITB, seperti ini...
Membaca kata nomer 2 dari akhir, saya harus cengar-cengir sendiri, karena jadi teringat sesuatu. 12 tahun yang lalu... pada saat liburan musim panas yang cerah, saya dan teman-teman PSM-ITB pergi berlibur ke Carita. Kami menginap di Koteka Cabulita. Koteka merupakan plesetan dari Cottage, sedangkan Cabulita adalah nama julukan saya. Hahaha... bukan saya suka melakukan hal-hal cabul loh... tapi karena saya paling cepet nyambung kalo teman-teman PSM sedang mengeluarkan joke-joke cabul. Jadi... Koteka Cabulita kurang lebih artinya Cottage-nya Gita.
Saya masih ingat, yang pertama kali menemukan sebutan Koteka itu adalah Mr. Rumpiselalu alias Michael, kakak kelas yang merupakan Master of Solutions: selalu bisa menjelaskan semua permasalahan yang kami temui. Dulu, menurut saya nama itu sudah lucu. Sekarang ternyata jadi lebih lucu lagi. Michael tidak hanya Master of Solutions, melainkan juga Visioner. Siapa sangka...?? 11 tahun setelah perjalanan ke "Koteka Cabulita" itu, ternyata si Cabulita pindah ke daerah yang memproduksi Koteka....
Tapi ada juga yang gak bisa tergantikan, biar kata bisa lewat dunia maya, tetep aja pertemuan fisik dengan keluarga lebih jadi pilihan. Juga kesempatan-kesempatan lainnya yang gak bisa dilakukan kalau kita gak di dekat ibu kota, seperti ikut workshop-workshop yang menarik, atau seperti yang baru saja saya lewatkan: Konser Alumni PSM-ITB.
Uhuuuyy... yaaa... kakak-kakak, teman-teman, adik-adik alumni PSM-ITB baru saja menyelenggarakan konser di Jakarta dan Bandung. Dan saya... salah satu aktivis pas jaman kuliah dulu (PSM kan tempat kuliah saya...), terpaksa melewatkan kesempatan untuk yang satu ini. Udah tempatnya jauh di ibu kota, cuti saya juga sudah mepet jaya... Jadi boro-boro ikut nyanyi, nonton aja gak bisaa...
Padahal buat kami para anggota paduan suara, tampil di atas panggung itu tak tergantikan deh sensasinya. Bahkan nyanyi di karaokean atau di orgen tunggal family gathering pun gak bisa menggantikan sensasi tersebut. Ada kepuasan yang gimana gitu... setelah berbulan-bulan latian, terus akhirnya menampilkan yang terbaik. Bahkan kalopun ada sesuatu yang error pas tampil, itu akhirnya bisa jadi bahan tertawaan selama berbulan-bulan.
Karena kekecewaan saya, akhirnya saya menulis di wall Alumni PSM-ITB, seperti ini...
baru sempet buka fb lagi, ngeliat liputan video, audio, dan putu-putuna... mantaabbhhh euy!! keerreen... ngiiirrii... pengen ikut nyanyi juga. Taun depan bisa gak ya? Kalo masih gak bisa, ntar nyumbang kostum aja dari sini (koteka gitu...) ^_^
Membaca kata nomer 2 dari akhir, saya harus cengar-cengir sendiri, karena jadi teringat sesuatu. 12 tahun yang lalu... pada saat liburan musim panas yang cerah, saya dan teman-teman PSM-ITB pergi berlibur ke Carita. Kami menginap di Koteka Cabulita. Koteka merupakan plesetan dari Cottage, sedangkan Cabulita adalah nama julukan saya. Hahaha... bukan saya suka melakukan hal-hal cabul loh... tapi karena saya paling cepet nyambung kalo teman-teman PSM sedang mengeluarkan joke-joke cabul. Jadi... Koteka Cabulita kurang lebih artinya Cottage-nya Gita.
Saya masih ingat, yang pertama kali menemukan sebutan Koteka itu adalah Mr. Rumpiselalu alias Michael, kakak kelas yang merupakan Master of Solutions: selalu bisa menjelaskan semua permasalahan yang kami temui. Dulu, menurut saya nama itu sudah lucu. Sekarang ternyata jadi lebih lucu lagi. Michael tidak hanya Master of Solutions, melainkan juga Visioner. Siapa sangka...?? 11 tahun setelah perjalanan ke "Koteka Cabulita" itu, ternyata si Cabulita pindah ke daerah yang memproduksi Koteka....
Koteka Cabulita
Tinggal jauh dari ibukota ada untungnya: gak pake macet, dapet fasilitas enak, gak banyak godaan belanja, dekat ke obyek wisata yang indahnya bukan main, dan seterusnya. Beberapa hal gak enak sudah berhasil diatasi sebagian, seperti: ninggalin keluarga jaman sekarang dibandingkan 15 tahun yang lalu pastinya beda bebannya, kalo sekarang ada GSM, email, fb, skype, google+, twitter, dan banyak lagi alternatif cara komunikasi. Kemudian soal makanan, gak bisa makan masakannya Si Mbok, ya sudah belajar masak sendiri.
Tapi ada juga yang gak bisa tergantikan, biar kata bisa lewat dunia maya, tetep aja pertemuan fisik dengan keluarga lebih jadi pilihan. Juga kesempatan-kesempatan lainnya yang gak bisa dilakukan kalau kita gak di dekat ibu kota, seperti ikut workshop-workshop yang menarik, atau seperti yang baru saja saya lewatkan: Konser Alumni PSM-ITB.
Uhuuuyy... yaaa... kakak-kakak, teman-teman, adik-adik alumni PSM-ITB baru saja menyelenggarakan konser di Jakarta dan Bandung. Dan saya... salah satu aktivis pas jaman kuliah dulu (PSM kan tempat kuliah saya...), terpaksa melewatkan kesempatan untuk yang satu ini. Udah tempatnya jauh di ibu kota, cuti saya juga sudah mepet jaya... Jadi boro-boro ikut nyanyi, nonton aja gak bisaa...
Padahal buat kami para anggota paduan suara, tampil di atas panggung itu tak tergantikan deh sensasinya. Bahkan nyanyi di karaokean atau di orgen tunggal family gathering pun gak bisa menggantikan sensasi tersebut. Ada kepuasan yang gimana gitu... setelah berbulan-bulan latian, terus akhirnya menampilkan yang terbaik. Bahkan kalopun ada sesuatu yang error pas tampil, itu akhirnya bisa jadi bahan tertawaan selama berbulan-bulan.
Karena kekecewaan saya, akhirnya saya menulis di wall Alumni PSM-ITB, seperti ini...
Membaca kata nomer 2 dari akhir, saya harus cengar-cengir sendiri, karena jadi teringat sesuatu. 12 tahun yang lalu... pada saat liburan musim panas yang cerah, saya dan teman-teman PSM-ITB pergi berlibur ke Carita. Kami menginap di Koteka Cabulita. Koteka merupakan plesetan dari Cottage, sedangkan Cabulita adalah nama julukan saya. Hahaha... bukan saya suka melakukan hal-hal cabul loh... tapi karena saya paling cepet nyambung kalo teman-teman PSM sedang mengeluarkan joke-joke cabul. Jadi... Koteka Cabulita kurang lebih artinya Cottage-nya Gita.
Saya masih ingat, yang pertama kali menemukan sebutan Koteka itu adalah Mr. Rumpiselalu alias Michael, kakak kelas yang merupakan Master of Solutions: selalu bisa menjelaskan semua permasalahan yang kami temui. Dulu, menurut saya nama itu sudah lucu. Sekarang ternyata jadi lebih lucu lagi. Michael tidak hanya Master of Solutions, melainkan juga Visioner. Siapa sangka...?? 11 tahun setelah perjalanan ke "Koteka Cabulita" itu, ternyata si Cabulita pindah ke daerah yang memproduksi Koteka....
Tapi ada juga yang gak bisa tergantikan, biar kata bisa lewat dunia maya, tetep aja pertemuan fisik dengan keluarga lebih jadi pilihan. Juga kesempatan-kesempatan lainnya yang gak bisa dilakukan kalau kita gak di dekat ibu kota, seperti ikut workshop-workshop yang menarik, atau seperti yang baru saja saya lewatkan: Konser Alumni PSM-ITB.
Uhuuuyy... yaaa... kakak-kakak, teman-teman, adik-adik alumni PSM-ITB baru saja menyelenggarakan konser di Jakarta dan Bandung. Dan saya... salah satu aktivis pas jaman kuliah dulu (PSM kan tempat kuliah saya...), terpaksa melewatkan kesempatan untuk yang satu ini. Udah tempatnya jauh di ibu kota, cuti saya juga sudah mepet jaya... Jadi boro-boro ikut nyanyi, nonton aja gak bisaa...
Padahal buat kami para anggota paduan suara, tampil di atas panggung itu tak tergantikan deh sensasinya. Bahkan nyanyi di karaokean atau di orgen tunggal family gathering pun gak bisa menggantikan sensasi tersebut. Ada kepuasan yang gimana gitu... setelah berbulan-bulan latian, terus akhirnya menampilkan yang terbaik. Bahkan kalopun ada sesuatu yang error pas tampil, itu akhirnya bisa jadi bahan tertawaan selama berbulan-bulan.
Karena kekecewaan saya, akhirnya saya menulis di wall Alumni PSM-ITB, seperti ini...
baru sempet buka fb lagi, ngeliat liputan video, audio, dan putu-putuna... mantaabbhhh euy!! keerreen... ngiiirrii... pengen ikut nyanyi juga. Taun depan bisa gak ya? Kalo masih gak bisa, ntar nyumbang kostum aja dari sini (koteka gitu...) ^_^
Membaca kata nomer 2 dari akhir, saya harus cengar-cengir sendiri, karena jadi teringat sesuatu. 12 tahun yang lalu... pada saat liburan musim panas yang cerah, saya dan teman-teman PSM-ITB pergi berlibur ke Carita. Kami menginap di Koteka Cabulita. Koteka merupakan plesetan dari Cottage, sedangkan Cabulita adalah nama julukan saya. Hahaha... bukan saya suka melakukan hal-hal cabul loh... tapi karena saya paling cepet nyambung kalo teman-teman PSM sedang mengeluarkan joke-joke cabul. Jadi... Koteka Cabulita kurang lebih artinya Cottage-nya Gita.
Saya masih ingat, yang pertama kali menemukan sebutan Koteka itu adalah Mr. Rumpiselalu alias Michael, kakak kelas yang merupakan Master of Solutions: selalu bisa menjelaskan semua permasalahan yang kami temui. Dulu, menurut saya nama itu sudah lucu. Sekarang ternyata jadi lebih lucu lagi. Michael tidak hanya Master of Solutions, melainkan juga Visioner. Siapa sangka...?? 11 tahun setelah perjalanan ke "Koteka Cabulita" itu, ternyata si Cabulita pindah ke daerah yang memproduksi Koteka....
Bihun Goreng Pedas aka Misi Penyelamatan Leftovers
Kemarin banjir (lagi!!), tepat seminggu setelah banjir yang pertama. Kali ini kulkas di rumah dinas kami kemasukan air, dan hari ini libur pilkada di Sorong, jadi teknisinya ndak bisa didatangkan, sehingga dari kemarin sampai besok ndak ada freezer dan fridge.
Sore ini aku memutuskan untuk menyelamatkan beberapa bahan yang ada di dalam kulkas: Bumbu K*kita Rasa Pedas, daging asap, frozen veggies, dan kentang goreng.
Kentang goreng-nya langsung digoreng buat cemilan. Sedangkan lainnya dikombinasi dengan bihun jagung simpenan, dan bertransformasi menjadi.... Bihun Goreng Pedas.
Bahannya:
80 gram bihun jagung, seduh dengan air panas
2 sdm bumbu dasar pedas buatan sendiri
frozen vegetables sisa, seduh dengan air panas
2 lembar daging asap, potong kecil-kecil
2 sdm kecap manis
1 sdt kecap asin
2 sdt minyak wijen
100 ml air
sedikit minyak goreng untuk menumis
Langkah pembuatan:
-tumis bumbu dasar sampai wangi.
-tambahkan frozen vegetable dan potongan daging asap, tumis sebentar
-tambahkan air
-tambahkan kecap asin dan minyak wijen
-masukkan bihun yang sebelumnya sudah diaduk rata dengan kecap manis
-aduk-aduk sampai air meresap, kemudian angkat.
Ini dia penampakannya... sekalian nyoba memoto jarak dekat pake kamera saku Omla.
Mau? :-)
Sore ini aku memutuskan untuk menyelamatkan beberapa bahan yang ada di dalam kulkas: Bumbu K*kita Rasa Pedas, daging asap, frozen veggies, dan kentang goreng.
Kentang goreng-nya langsung digoreng buat cemilan. Sedangkan lainnya dikombinasi dengan bihun jagung simpenan, dan bertransformasi menjadi.... Bihun Goreng Pedas.
Bahannya:
80 gram bihun jagung, seduh dengan air panas
2 sdm bumbu dasar pedas buatan sendiri
frozen vegetables sisa, seduh dengan air panas
2 lembar daging asap, potong kecil-kecil
2 sdm kecap manis
1 sdt kecap asin
2 sdt minyak wijen
100 ml air
sedikit minyak goreng untuk menumis
Langkah pembuatan:
-tumis bumbu dasar sampai wangi.
-tambahkan frozen vegetable dan potongan daging asap, tumis sebentar
-tambahkan air
-tambahkan kecap asin dan minyak wijen
-masukkan bihun yang sebelumnya sudah diaduk rata dengan kecap manis
-aduk-aduk sampai air meresap, kemudian angkat.
Ini dia penampakannya... sekalian nyoba memoto jarak dekat pake kamera saku Omla.
Mau? :-)



