Kemarin banjir (lagi!!), tepat seminggu setelah banjir yang pertama. Kali ini kulkas di rumah dinas kami kemasukan air, dan hari ini libur pilkada di Sorong, jadi teknisinya ndak bisa didatangkan, sehingga dari kemarin sampai besok ndak ada freezer dan fridge.
Sore ini aku memutuskan untuk menyelamatkan beberapa bahan yang ada di dalam kulkas: Bumbu K*kita Rasa Pedas, daging asap, frozen veggies, dan kentang goreng.
Kentang goreng-nya langsung digoreng buat cemilan. Sedangkan lainnya dikombinasi dengan bihun jagung simpenan, dan bertransformasi menjadi.... Bihun Goreng Pedas.
Bahannya:
80 gram bihun jagung, seduh dengan air panas
2 sdm bumbu dasar pedas buatan sendiri
frozen vegetables sisa, seduh dengan air panas
2 lembar daging asap, potong kecil-kecil
2 sdm kecap manis
1 sdt kecap asin
2 sdt minyak wijen
100 ml air
sedikit minyak goreng untuk menumis
Langkah pembuatan:
-tumis bumbu dasar sampai wangi.
-tambahkan frozen vegetable dan potongan daging asap, tumis sebentar
-tambahkan air
-tambahkan kecap asin dan minyak wijen
-masukkan bihun yang sebelumnya sudah diaduk rata dengan kecap manis
-aduk-aduk sampai air meresap, kemudian angkat.
Ini dia penampakannya... sekalian nyoba memoto jarak dekat pake kamera saku Omla.
Mau? :-)
unspoken words 2011-07-17 14:23:00
Hanimun (atau bukan?)
Officially, setelah acara kawinan kami nggak merencanakan ada honeymoon, karena beribet cuti gak cukup, masih mau ada ngunduh mantu, dan sebagainya. Tapi kebetulan sekali, 3 minggu setelah acara kawinan, ada yang ngajak ke Raja Ampat, jadi karena ini adalah perjalanan pertama kami setelah menjadi suami-istri (gak ngitung perjalanan Jakarta-Sorong ya), maka boleh lah disebut hanimun...
Ini perjalanan pertamaku dan juga Omla ke Raja Ampat. Kami cukup beruntung, karena yang mau kami datangi kali ini adalah gugus kepulauan Wayag, yang letaknya paling Barat (dan Utara) di kepulauan Raja Ampat. Dengan speed boat sekitar 4-5 jam perjalanan dari Sorong. Karena tergolong paling jauh, jadi kami gak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kami pergi bersama 11 orang lainnya, terdiri dari rombongan campur-campur, ada orang Pertamina, orang Pajak, orang Jepang, dalam perjalanan 3 hari 2 malam yang bermodal sewa speed boat, bawa tenda, dan beberapa kardus bahan makanan.
Karena Wayag termasuk dalam kawasan konservasi, jadi wajar kalau ndak ada resort di sana. Makanya kami bawa perlengkapan makan dan tidur sendiri dari Sorong.
Ini cuplikan foto-fotonya, sayang sekali ndak ada foto kami sedang belajar snorkling. Saking excited-nya sampe lupa buat foto-foto...

Ini perjalanan pertamaku dan juga Omla ke Raja Ampat. Kami cukup beruntung, karena yang mau kami datangi kali ini adalah gugus kepulauan Wayag, yang letaknya paling Barat (dan Utara) di kepulauan Raja Ampat. Dengan speed boat sekitar 4-5 jam perjalanan dari Sorong. Karena tergolong paling jauh, jadi kami gak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kami pergi bersama 11 orang lainnya, terdiri dari rombongan campur-campur, ada orang Pertamina, orang Pajak, orang Jepang, dalam perjalanan 3 hari 2 malam yang bermodal sewa speed boat, bawa tenda, dan beberapa kardus bahan makanan.
Karena Wayag termasuk dalam kawasan konservasi, jadi wajar kalau ndak ada resort di sana. Makanya kami bawa perlengkapan makan dan tidur sendiri dari Sorong.
Ini cuplikan foto-fotonya, sayang sekali ndak ada foto kami sedang belajar snorkling. Saking excited-nya sampe lupa buat foto-foto...

Ini dalam perjalanan menuju Wayag, kalo ndak salah posisinya di sekitar Teluk Kabui, Pulau Waigeo
Begitu sampai di Wayag, kami kulo nuwun sama penjaga pulo-nya, yaitu teman-teman penduduk lokal yang bekerja pada Conservation International. Terus beberes persiapan makan dan bobok untuk hari itu. Sorenya mulai belajar snorkling di bawah dermaga.
Yang namanya di bawah dermaga tu kayak kolam renang gini. Aku yang tadinya gak berniat belajar snorkling, akhirnya jadi tertarik ikut nyemplung dan belajarlah kitaaa..!!!
Dan ini Omla, di pagi-pagi hari kedua.
Ini suasana pantai di posko Conservation International, tempat kami bermalam.
Begitu cerah ya... padahal pas subuh ujan loh, sampe tendanya bocor...
Sehabis makan pagi, kami berlayar ke laguna. Itu dia pintu masuk ke laguna.
Dan semakin dekat ke laguna, orang-orang mulai pada berdiri, untuk melihat lebih jelas.
Ini di dalam laguna, airnya bukan kolam renang lagi, tapi bak mandi yang udah difilter pake Reverse Osmosis
Ini yang punya blog di dalam laguna.
Speed boat kami pun merapat, karena mau naik bukit untuk melihat pemandangan. Ini tempat merapatnya.
Sebagai gambaran, ini bukit yang kami naiki...
Yang ada orang kecil2 itu jalan masuknya ke hutan hujan tropis yang tumbuh di atas pulau karang. Sedangkan yang ada anak panahnya itu lokasi tujuan kami. Tingginya sekitar 97 m di atas permukaan laut. Gilee... mau liat pemandangan aja niat banget yak. Emang kayak apa sih?
Seperti ini. No further comment.
Ini yang ada orangnya, membuktikan bahwa ik bener-bener sampe di atas, bukan ngopy foto dari orang doang.
Tapi turunnya ngesot... hihiihi... mengerikan.
Sampe di bawah, ternyata kapalnya kandas karena air surut. Dan ik malah putu-putu...
Karena kapal kandas, diputuskan bahwa kami maksi dulu di situ. Kapal baru bisa berangkat lagi sekitar jam 4 (saat air pasang naik), jadilah kami diijinkan untuk snorklingan dulu.
Ini lagi maksi ikan sarden dan mie goreng di tempat persembunyian kami yang sekaligus berfungsi sebagai tempat ganti baju. *nyengir*
Suasana ke arah pantai pada saat itu. Penuh kedamaian. Hanya ada kami dan alam saja, tanpa turis lain.
Setelah kapal bisa jalan lagi, kami ke 1 dive site lagi, kemudian pulang ke base camp sambil melihat sunset ini dari atas speed boat.
Keesokan harinya kami kembali ke Sorong. What a trip.. Indonesia ternyata indah ya? :-)
Hanimun (atau bukan?)
Officially, setelah acara kawinan kami nggak merencanakan ada honeymoon, karena beribet cuti gak cukup, masih mau ada ngunduh mantu, dan sebagainya. Tapi kebetulan sekali, 3 minggu setelah acara kawinan, ada yang ngajak ke Raja Ampat, jadi karena ini adalah perjalanan pertama kami setelah menjadi suami-istri (gak ngitung perjalanan Jakarta-Sorong ya), maka boleh lah disebut hanimun...
Ini perjalanan pertamaku dan juga Omla ke Raja Ampat. Kami cukup beruntung, karena yang mau kami datangi kali ini adalah gugus kepulauan Wayag, yang letaknya paling Barat (dan Utara) di kepulauan Raja Ampat. Dengan speed boat sekitar 4-5 jam perjalanan dari Sorong. Karena tergolong paling jauh, jadi kami gak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kami pergi bersama 11 orang lainnya, terdiri dari rombongan campur-campur, ada orang Pertamina, orang Pajak, orang Jepang, dalam perjalanan 3 hari 2 malam yang bermodal sewa speed boat, bawa tenda, dan beberapa kardus bahan makanan.
Karena Wayag termasuk dalam kawasan konservasi, jadi wajar kalau ndak ada resort di sana. Makanya kami bawa perlengkapan makan dan tidur sendiri dari Sorong.
Ini cuplikan foto-fotonya, sayang sekali ndak ada foto kami sedang belajar snorkling. Saking excited-nya sampe lupa buat foto-foto...

Ini perjalanan pertamaku dan juga Omla ke Raja Ampat. Kami cukup beruntung, karena yang mau kami datangi kali ini adalah gugus kepulauan Wayag, yang letaknya paling Barat (dan Utara) di kepulauan Raja Ampat. Dengan speed boat sekitar 4-5 jam perjalanan dari Sorong. Karena tergolong paling jauh, jadi kami gak menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kami pergi bersama 11 orang lainnya, terdiri dari rombongan campur-campur, ada orang Pertamina, orang Pajak, orang Jepang, dalam perjalanan 3 hari 2 malam yang bermodal sewa speed boat, bawa tenda, dan beberapa kardus bahan makanan.
Karena Wayag termasuk dalam kawasan konservasi, jadi wajar kalau ndak ada resort di sana. Makanya kami bawa perlengkapan makan dan tidur sendiri dari Sorong.
Ini cuplikan foto-fotonya, sayang sekali ndak ada foto kami sedang belajar snorkling. Saking excited-nya sampe lupa buat foto-foto...

Ini dalam perjalanan menuju Wayag, kalo ndak salah posisinya di sekitar Teluk Kabui, Pulau Waigeo
Begitu sampai di Wayag, kami kulo nuwun sama penjaga pulo-nya, yaitu teman-teman penduduk lokal yang bekerja pada Conservation International. Terus beberes persiapan makan dan bobok untuk hari itu. Sorenya mulai belajar snorkling di bawah dermaga.
Yang namanya di bawah dermaga tu kayak kolam renang gini. Aku yang tadinya gak berniat belajar snorkling, akhirnya jadi tertarik ikut nyemplung dan belajarlah kitaaa..!!!
Dan ini Omla, di pagi-pagi hari kedua.
Ini suasana pantai di posko Conservation International, tempat kami bermalam.
Begitu cerah ya... padahal pas subuh ujan loh, sampe tendanya bocor...
Sehabis makan pagi, kami berlayar ke laguna. Itu dia pintu masuk ke laguna.
Dan semakin dekat ke laguna, orang-orang mulai pada berdiri, untuk melihat lebih jelas.
Ini di dalam laguna, airnya bukan kolam renang lagi, tapi bak mandi yang udah difilter pake Reverse Osmosis
Ini yang punya blog di dalam laguna.
Speed boat kami pun merapat, karena mau naik bukit untuk melihat pemandangan. Ini tempat merapatnya.
Sebagai gambaran, ini bukit yang kami naiki...
Yang ada orang kecil2 itu jalan masuknya ke hutan hujan tropis yang tumbuh di atas pulau karang. Sedangkan yang ada anak panahnya itu lokasi tujuan kami. Tingginya sekitar 97 m di atas permukaan laut. Gilee... mau liat pemandangan aja niat banget yak. Emang kayak apa sih?
Seperti ini. No further comment.
Ini yang ada orangnya, membuktikan bahwa ik bener-bener sampe di atas, bukan ngopy foto dari orang doang.
Tapi turunnya ngesot... hihiihi... mengerikan.
Sampe di bawah, ternyata kapalnya kandas karena air surut. Dan ik malah putu-putu...
Karena kapal kandas, diputuskan bahwa kami maksi dulu di situ. Kapal baru bisa berangkat lagi sekitar jam 4 (saat air pasang naik), jadilah kami diijinkan untuk snorklingan dulu.
Ini lagi maksi ikan sarden dan mie goreng di tempat persembunyian kami yang sekaligus berfungsi sebagai tempat ganti baju. *nyengir*
Suasana ke arah pantai pada saat itu. Penuh kedamaian. Hanya ada kami dan alam saja, tanpa turis lain.
Setelah kapal bisa jalan lagi, kami ke 1 dive site lagi, kemudian pulang ke base camp sambil melihat sunset ini dari atas speed boat.
Keesokan harinya kami kembali ke Sorong. What a trip.. Indonesia ternyata indah ya? :-)
Bumbu K*kita Seri Pedas
Jaman dulu juru masak terkenal Rudi Hadisu... eh...maksudnya Rudi Choiruddin pernah jadi bintang iklan bumbu K*kita A-B-C. Kalo di dunia perdokumenan, mungkin bumbu K*kita itu sama halnya dengan template. Kalo di dunia IT, dia sama dengan "function" yang udah jadi, kalo mau pake tinggal comot dan pasang di coding kita (halah...).
Nah, kalo di dunia masak-memasak... bumbu K*kita ini nama generiknya adalah BUMBU DASAR. Bermodal dua buku masak yang isinya resep-resep bumbu dasar, akhirnya aku mencoba membuat bumbu dasar yang rasa pedas. Kegunaannya untuk membuat balado, bumbu bali, nasi goreng, sambel goreng, rendang, pokoknya yang pedas-pedas.
bahan:
100 gram cabe merah keriting, kalo seneng pedes gak usah dibuang bijinya
15 biji bawang merah
10 siung bawang putih
1 buah tomat
20 gram gula pasir
garam secukupnya
minyak secukupnya
-Pertama, untuk yang gak doyan pedas, buang dulu biji cabenya. Aku dan Omla sebenernya senang pedas, tapi karena ini bumbu dasar... dia akan dipakai berulang-ulang, tingkat kepedesannya harus dalam taraf nyaman, gak boleh lebay, jadi akhirnya kuputuskan untuk membuang biji sebagian cabe. => perbuatan ini bakalan jadi bikin cerita baru deh...
-Kemudian blender semua bahan (kecuali minyak tentunya)
-Tumis sampe harum, eh sebenernya sih aku juga gak bisa bedain udah harum apa belum, perasaan dari tadi juga wangi-wangi aja tuh... jadi waktu perasaanku mengatakan kayak udah mateng... nah berarti udah mateng tuh, angkat.
-Setelah dingin, masukkan ke toples, simpan di kulkas, tahan sampe 3 minggu *kayaknya*.
Setelah itu langsung dipake buat bikin balado terong. Sangat mudah: terong 1 biji dipotong-potong sesuai selera, kemudian goreng di api kecil. Panaskan 2 sendok makan bumbu dasar pedas, tambah air dikit, kemudian masukkan terong yang sudah digoreng, aduk-aduk. Setelah air meresap, angkat.
Keesokan harinya buat bikin nasgor pedas. 1 sendok makan bumbu ditumis bersama sedikit terasi. Kemudian masukkan rombongan pemanis (aku pake jamur shiitake, ebi, dan frozen vegetable), masak beberapa saat, kemudian masukkan nasi. Tambahkan kecap manis, kecap asin, dan minyak wijen secukupnya. Aduk-aduk heboh. Setelah merata, nasgor siap diangkat dan disantap.
Pembuatan bumbu dasar pedasnya SUKSES, tapi setelah itu ada kejadian menghebohkan: tanganku kepedesan. Gara-gara mbuangin biji cabe, mungkin SOP-nya kurang begitu tepat kali ya... setelah selesai masak dan cuci piring, tanganku rasanya seperti terbakar... padahal penampakannya biasa aja... gak merah... gak bau lombok... bahkan dipake ngucek mata pun gak pedes. Aneh juga... kalo megang cabe... biasanya dengan cuci tangan saja sudah beres.
Duilee... itu panas gak ilang-ilang... kalo dikasi air enakan... tapi lama-lama abis dunk air di bak penampungan?! Berdasarkan saran Omla di sebrang sana, aku mengambil sarung tangan kuning pembagian dari kantor Omla, cemplungan di baskom, terus dipake deh... pertamanya enak emang, tapi tak lama si tangan itu sakit lagi. Olala...
Terus berdasarkan saran Ndulo, akhirnya ngambil handuk kecil, dibasahin lagi, terus digunakan untuk membungkus tangan. Karena sakitnya tinggal di ujung-ujung jari, akhirnya aku gak mbungkus tanganku, melainkan cukup dengan meremas-remas handuk basah itu...
Sampe akhirnya aku tertidur rasa terbakarnya belum hilang, untungnya ketika bangun pagi sudah gak terasa panas lagi. Huhuhu... makanan yang dimasak gak sebrapa pedas, malah tangannya yang kepedesan... tapi aku gak kapok kok, lain kali kita coba buat bumbu dasar tipe lainnya ya...
Nah, kalo di dunia masak-memasak... bumbu K*kita ini nama generiknya adalah BUMBU DASAR. Bermodal dua buku masak yang isinya resep-resep bumbu dasar, akhirnya aku mencoba membuat bumbu dasar yang rasa pedas. Kegunaannya untuk membuat balado, bumbu bali, nasi goreng, sambel goreng, rendang, pokoknya yang pedas-pedas.
bahan:
100 gram cabe merah keriting, kalo seneng pedes gak usah dibuang bijinya
15 biji bawang merah
10 siung bawang putih
1 buah tomat
20 gram gula pasir
garam secukupnya
minyak secukupnya
-Pertama, untuk yang gak doyan pedas, buang dulu biji cabenya. Aku dan Omla sebenernya senang pedas, tapi karena ini bumbu dasar... dia akan dipakai berulang-ulang, tingkat kepedesannya harus dalam taraf nyaman, gak boleh lebay, jadi akhirnya kuputuskan untuk membuang biji sebagian cabe. => perbuatan ini bakalan jadi bikin cerita baru deh...
-Kemudian blender semua bahan (kecuali minyak tentunya)
-Tumis sampe harum, eh sebenernya sih aku juga gak bisa bedain udah harum apa belum, perasaan dari tadi juga wangi-wangi aja tuh... jadi waktu perasaanku mengatakan kayak udah mateng... nah berarti udah mateng tuh, angkat.
-Setelah dingin, masukkan ke toples, simpan di kulkas, tahan sampe 3 minggu *kayaknya*.
Setelah itu langsung dipake buat bikin balado terong. Sangat mudah: terong 1 biji dipotong-potong sesuai selera, kemudian goreng di api kecil. Panaskan 2 sendok makan bumbu dasar pedas, tambah air dikit, kemudian masukkan terong yang sudah digoreng, aduk-aduk. Setelah air meresap, angkat.
Keesokan harinya buat bikin nasgor pedas. 1 sendok makan bumbu ditumis bersama sedikit terasi. Kemudian masukkan rombongan pemanis (aku pake jamur shiitake, ebi, dan frozen vegetable), masak beberapa saat, kemudian masukkan nasi. Tambahkan kecap manis, kecap asin, dan minyak wijen secukupnya. Aduk-aduk heboh. Setelah merata, nasgor siap diangkat dan disantap.
Pembuatan bumbu dasar pedasnya SUKSES, tapi setelah itu ada kejadian menghebohkan: tanganku kepedesan. Gara-gara mbuangin biji cabe, mungkin SOP-nya kurang begitu tepat kali ya... setelah selesai masak dan cuci piring, tanganku rasanya seperti terbakar... padahal penampakannya biasa aja... gak merah... gak bau lombok... bahkan dipake ngucek mata pun gak pedes. Aneh juga... kalo megang cabe... biasanya dengan cuci tangan saja sudah beres.
Duilee... itu panas gak ilang-ilang... kalo dikasi air enakan... tapi lama-lama abis dunk air di bak penampungan?! Berdasarkan saran Omla di sebrang sana, aku mengambil sarung tangan kuning pembagian dari kantor Omla, cemplungan di baskom, terus dipake deh... pertamanya enak emang, tapi tak lama si tangan itu sakit lagi. Olala...
Terus berdasarkan saran Ndulo, akhirnya ngambil handuk kecil, dibasahin lagi, terus digunakan untuk membungkus tangan. Karena sakitnya tinggal di ujung-ujung jari, akhirnya aku gak mbungkus tanganku, melainkan cukup dengan meremas-remas handuk basah itu...
Sampe akhirnya aku tertidur rasa terbakarnya belum hilang, untungnya ketika bangun pagi sudah gak terasa panas lagi. Huhuhu... makanan yang dimasak gak sebrapa pedas, malah tangannya yang kepedesan... tapi aku gak kapok kok, lain kali kita coba buat bumbu dasar tipe lainnya ya...
Bumbu K*kita Seri Pedas
Jaman dulu juru masak terkenal Rudi Hadisu... eh...maksudnya Rudi Choiruddin pernah jadi bintang iklan bumbu K*kita A-B-C. Kalo di dunia perdokumenan, mungkin bumbu K*kita itu sama halnya dengan template. Kalo di dunia IT, dia sama dengan "function" yang udah jadi, kalo mau pake tinggal comot dan pasang di coding kita (halah...).
Nah, kalo di dunia masak-memasak... bumbu K*kita ini nama generiknya adalah BUMBU DASAR. Bermodal dua buku masak yang isinya resep-resep bumbu dasar, akhirnya aku mencoba membuat bumbu dasar yang rasa pedas. Kegunaannya untuk membuat balado, bumbu bali, nasi goreng, sambel goreng, rendang, pokoknya yang pedas-pedas.
bahan:
100 gram cabe merah keriting, kalo seneng pedes gak usah dibuang bijinya
15 biji bawang merah
10 siung bawang putih
1 buah tomat
20 gram gula pasir
garam secukupnya
minyak secukupnya
-Pertama, untuk yang gak doyan pedas, buang dulu biji cabenya. Aku dan Omla sebenernya senang pedas, tapi karena ini bumbu dasar... dia akan dipakai berulang-ulang, tingkat kepedesannya harus dalam taraf nyaman, gak boleh lebay, jadi akhirnya kuputuskan untuk membuang biji sebagian cabe. => perbuatan ini bakalan jadi bikin cerita baru deh...
-Kemudian blender semua bahan (kecuali minyak tentunya)
-Tumis sampe harum, eh sebenernya sih aku juga gak bisa bedain udah harum apa belum, perasaan dari tadi juga wangi-wangi aja tuh... jadi waktu perasaanku mengatakan kayak udah mateng... nah berarti udah mateng tuh, angkat.
-Setelah dingin, masukkan ke toples, simpan di kulkas, tahan sampe 3 minggu *kayaknya*.
Setelah itu langsung dipake buat bikin balado terong. Sangat mudah: terong 1 biji dipotong-potong sesuai selera, kemudian goreng di api kecil. Panaskan 2 sendok makan bumbu dasar pedas, tambah air dikit, kemudian masukkan terong yang sudah digoreng, aduk-aduk. Setelah air meresap, angkat.
Keesokan harinya buat bikin nasgor pedas. 1 sendok makan bumbu ditumis bersama sedikit terasi. Kemudian masukkan rombongan pemanis (aku pake jamur shiitake, ebi, dan frozen vegetable), masak beberapa saat, kemudian masukkan nasi. Tambahkan kecap manis, kecap asin, dan minyak wijen secukupnya. Aduk-aduk heboh. Setelah merata, nasgor siap diangkat dan disantap.
Pembuatan bumbu dasar pedasnya SUKSES, tapi setelah itu ada kejadian menghebohkan: tanganku kepedesan. Gara-gara mbuangin biji cabe, mungkin SOP-nya kurang begitu tepat kali ya... setelah selesai masak dan cuci piring, tanganku rasanya seperti terbakar... padahal penampakannya biasa aja... gak merah... gak bau lombok... bahkan dipake ngucek mata pun gak pedes. Aneh juga... kalo megang cabe... biasanya dengan cuci tangan saja sudah beres.
Duilee... itu panas gak ilang-ilang... kalo dikasi air enakan... tapi lama-lama abis dunk air di bak penampungan?! Berdasarkan saran Omla di sebrang sana, aku mengambil sarung tangan kuning pembagian dari kantor Omla, cemplungan di baskom, terus dipake deh... pertamanya enak emang, tapi tak lama si tangan itu sakit lagi. Olala...
Terus berdasarkan saran Ndulo, akhirnya ngambil handuk kecil, dibasahin lagi, terus digunakan untuk membungkus tangan. Karena sakitnya tinggal di ujung-ujung jari, akhirnya aku gak mbungkus tanganku, melainkan cukup dengan meremas-remas handuk basah itu...
Sampe akhirnya aku tertidur rasa terbakarnya belum hilang, untungnya ketika bangun pagi sudah gak terasa panas lagi. Huhuhu... makanan yang dimasak gak sebrapa pedas, malah tangannya yang kepedesan... tapi aku gak kapok kok, lain kali kita coba buat bumbu dasar tipe lainnya ya...
Nah, kalo di dunia masak-memasak... bumbu K*kita ini nama generiknya adalah BUMBU DASAR. Bermodal dua buku masak yang isinya resep-resep bumbu dasar, akhirnya aku mencoba membuat bumbu dasar yang rasa pedas. Kegunaannya untuk membuat balado, bumbu bali, nasi goreng, sambel goreng, rendang, pokoknya yang pedas-pedas.
bahan:
100 gram cabe merah keriting, kalo seneng pedes gak usah dibuang bijinya
15 biji bawang merah
10 siung bawang putih
1 buah tomat
20 gram gula pasir
garam secukupnya
minyak secukupnya
-Pertama, untuk yang gak doyan pedas, buang dulu biji cabenya. Aku dan Omla sebenernya senang pedas, tapi karena ini bumbu dasar... dia akan dipakai berulang-ulang, tingkat kepedesannya harus dalam taraf nyaman, gak boleh lebay, jadi akhirnya kuputuskan untuk membuang biji sebagian cabe. => perbuatan ini bakalan jadi bikin cerita baru deh...
-Kemudian blender semua bahan (kecuali minyak tentunya)
-Tumis sampe harum, eh sebenernya sih aku juga gak bisa bedain udah harum apa belum, perasaan dari tadi juga wangi-wangi aja tuh... jadi waktu perasaanku mengatakan kayak udah mateng... nah berarti udah mateng tuh, angkat.
-Setelah dingin, masukkan ke toples, simpan di kulkas, tahan sampe 3 minggu *kayaknya*.
Setelah itu langsung dipake buat bikin balado terong. Sangat mudah: terong 1 biji dipotong-potong sesuai selera, kemudian goreng di api kecil. Panaskan 2 sendok makan bumbu dasar pedas, tambah air dikit, kemudian masukkan terong yang sudah digoreng, aduk-aduk. Setelah air meresap, angkat.
Keesokan harinya buat bikin nasgor pedas. 1 sendok makan bumbu ditumis bersama sedikit terasi. Kemudian masukkan rombongan pemanis (aku pake jamur shiitake, ebi, dan frozen vegetable), masak beberapa saat, kemudian masukkan nasi. Tambahkan kecap manis, kecap asin, dan minyak wijen secukupnya. Aduk-aduk heboh. Setelah merata, nasgor siap diangkat dan disantap.
Pembuatan bumbu dasar pedasnya SUKSES, tapi setelah itu ada kejadian menghebohkan: tanganku kepedesan. Gara-gara mbuangin biji cabe, mungkin SOP-nya kurang begitu tepat kali ya... setelah selesai masak dan cuci piring, tanganku rasanya seperti terbakar... padahal penampakannya biasa aja... gak merah... gak bau lombok... bahkan dipake ngucek mata pun gak pedes. Aneh juga... kalo megang cabe... biasanya dengan cuci tangan saja sudah beres.
Duilee... itu panas gak ilang-ilang... kalo dikasi air enakan... tapi lama-lama abis dunk air di bak penampungan?! Berdasarkan saran Omla di sebrang sana, aku mengambil sarung tangan kuning pembagian dari kantor Omla, cemplungan di baskom, terus dipake deh... pertamanya enak emang, tapi tak lama si tangan itu sakit lagi. Olala...
Terus berdasarkan saran Ndulo, akhirnya ngambil handuk kecil, dibasahin lagi, terus digunakan untuk membungkus tangan. Karena sakitnya tinggal di ujung-ujung jari, akhirnya aku gak mbungkus tanganku, melainkan cukup dengan meremas-remas handuk basah itu...
Sampe akhirnya aku tertidur rasa terbakarnya belum hilang, untungnya ketika bangun pagi sudah gak terasa panas lagi. Huhuhu... makanan yang dimasak gak sebrapa pedas, malah tangannya yang kepedesan... tapi aku gak kapok kok, lain kali kita coba buat bumbu dasar tipe lainnya ya...
Banjiiiirrr….
Sorong banjir. Konon kata orang-orang karena air laut lagi pasang, sehingga air buangan dari selokan dan sungai itu nggak bisa mengalir dengan lancar.
Selasa sore, waktu jalan dari kantor Omla menuju ke rumah, hujan rintik-rintik mulai turun. Karena belum terlalu besar, sampai rumah aku masih sempat cuci piring dengan ngambil air dari bak penampungan belakang. Tapi belum selesai membilas, ternyata hujannya membesar dan tak bisa ditanggulangi dengan payung kecil kami. Aku pun minggat.
Hujan makin besar. Kami pun nonton TV saja sambil browsing-browsing. Ketika kilat menyambar-nyambar, sempat mati lampu sebentar. Kemudian nyala lagi. Setelah itu kilat lagi, kali ini BTS-nya Telkomsel yang sepertinya error, karena sinyal GPRS/3G di BB dan di Tab hilang pada waktu yang bersamaan. Ndak lama muncul lagi.
Niatnya malam itu mau makan sisa krim sup, jangan lombok, dan teri gila saja. Tapi mau bergerak masak nasi saja malas karena hujannya besar. Lama-lama aku pusing. Pindah tiduran di kamar, di luar keliatannya Omla kelaparan dan mulai mengeluarkan makanan-makanan yang mau dipanaskan.
Tiba-tiba Omla masuk sambil heboh-heboh (jarang-jarang heboh gitu). Airnya masuk rumah katanya. Wualaaahh.... pusing langsung ilang. Kami pun sibuk menaik-naikkan barang-barang yang ada di lantai. Terutama alat-alat kelistrikan. Omla mengira airnya mau masuk dari halaman belakang, sudah berusaha menyumbat sana-sini, ternyata airnya malah masuk dari depan. Ealah... cabe deh...
Haha... oke deh, aku kan belum pernah kebanjiran sebelumnya, maka ini akan menjadi pengalaman baru...
Tapi... bentar deh... kayaknya sebenernya udah pernah? Tapi dimana ya? Setelah semua barang-barang aman pada tempatnya, dan setelah mencabuti semua alat listrik, bayangan gedung bengkok dengan segala tetek-bengek yang berserakan di lantai kembali dalam bayanganku. Whoooaaa!!!! Bener banget!! Aku pernah kebanjiran di Sekre PSM-ITB!!!
Semua sudut rumah kami (termasuk kamar tidur kami yang lantainya 1 inch lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya) kemasukan air yang kurang lebih setinggi mata kaki. Barang-barang ringan kami pun mulai kampul-kampul dan berjalan-jalan ke sana kemari. Omla dengan enaknya menggunakan sepatu safety, yeeeaaa.... bagemana dengan aku?! Ga punya safety shoes nih... belum dapet pembagian... Hmm... aku akhirnya menggunakan Crocs, meskipun airnya tetep masuk ke sepatu lewat atas. Tapi setidaknya aku gak takut sepatunya rusak dan kakiku pun gak langsung kena air banjir.
Sambil menunggu air surut, akhirnya kami meneruskan memasak. Beras baru setengah dicuci tadi. Omla mencuci pakai air dari dispenser, berusaha membuangnya di kamar mandi dalam, tapi aku bilang jangan, karena weks... di kamar mandi ada air masuk dari saluran pembuangan, itu air dari comberan tentunya, warnanya hitam. Aku gak pengen membayangkan beras yang aku makan pernah masuk ke ruangan itu. Akhirnya Omla membuang air cucian beras di.... tengah-tengah living room. Hahaha... lebih praktis bukan, toh ruang keluarganya juga sudah penuh air.
Kemudian kami memanaskan teri gila, menggoreng tempe (sudah sempat dibumbui oleh Omla sebelum air masuk), memanaskan sisa jangan lombok, dan memanaskan sisa sup krim ayam. Sambil menunggu nasinya masak, kami pun duduk di sofa ruang tengah, sambil menghabiskan tempe goreng yang baru matang, nonton TV dan ngadem di ruang tengah. Haha... unik juga nih, wong banjir kok masih bisa nyalain AC dan TV. Di luar, keliatannya hujannya sedikit bertambah besar. Hiks... kapan surutnya nih...
Setelah hujan berhenti, tak lama airnya surut. Kami pun bersama-sama menghalau air-air tersebut keluar rumah pakai sikat lantai kamar mandi dan sapu plastik. Ternyata lantai rumah itu tidak rata, lebih rendah di beberapa pojokan, termasuk di kamar belakang, jadi air menggenang di tempat-tempat tersebut. Tapi karena rumah kami gak pakai tanggul sama sekali, kami bisa dengan mudah mendorong air ke halaman.
Yang pertama kubersihkan adalah: kamar mandi. Iiihh... habis gak kebayang deh, kalo kamar mandinya jijay, terus gimana kalo mau ke WC... Ambil seember air bersih dari bak penampungan (yang alhamdulilah gak tercemar air banjir), terus lantai kamar mandi yang sekarang warnanya coklat itu aku semprot-semprot dulu dengan SOS. Baru setelah itu diguyur pakai air bersih itu. Bingo!! Langsung kinclong lagi tuh kamar mandi. Wangi lagi... Tinggal nyikatin bagian yang nyelip-nyelip.
Setelah dirasa lantai rumah kami cukup kering (padahal sebenernya masih basah, tapi yang penting gak terlalu becek aja), kami pun makan malam. Omla makan nasi, pake teri gila, dan jangan lombok (tempe sudah habis), sedangkan aku makan sup krim ayam langsung dari pancinya plus ditutup dengan sisa teri gila. Mungkin ini adalah keajaiban di tengah kesusahan ya, tapi sup krim ayam-nya jadi lebih enak dibandingkan waktu baru matang kemarin.
Sebelum tidur, cuci kaki dan cuci sepatu... hihihi... lucunya... baru kali ini tidur pake daster tapi melangkah sampe ke pinggir tempat tidur pake sepatu kantor. Omla malah pake safety shoes... Pas udah mau tidur hujan membesar lagi, tapi semoga tidak banjir lagi. Dan memang begitu adanya...
....sampe di keesokan harinya, aku berangkat agak telat, karena nungguin si mbak datang. Kasian si mbak, hari ini tugasnya berat: mengepel seluruh rumah, meskipun airnya sudah kami keluarkan semua semalam. Ealah... liat ke meja makan, ternyata Omla meninggalkan roti bakar jatah makan pagi. Akhirnya aku bermobil ke kantor EP dulu, mengantarkan roti. Dalam perjalanan, aku lihat di kantorku orang-orang lagi pada ngepel, di kantor Kodim orang-orang juga lagi bersih-bersih, terus di tengah jalan tiba-tiba ada sepotong sandal bagus. Hihihi... itu pasti sandal yang kampul-kampul kena banjir terus meninggalkan rumah pemiliknya.
Sampai di kantor Omla, ngobrol sebentar dengan teman-teman Omla, kemudian aku lanjut ke kantor. Ruanganku hanya kemasukan air sedikit sekali, barang-barang kami yang tergeletak di lantai selamat semua, tapi ruangan-ruangan di sebelah kiri ruanganku terendam semua ternyata. Setelah membaca koran, ternyata hampir seluruh kota Sorong kebanjiran, kecuali rumah-rumah yang berada di atas bukit.
Semalam pun Omla menawarkan untuk pindah ke rumah dinas kantor Omla yang di atas bukit. Hmm... tapi bagaimana kalau pas Omla dinas ya? Berarti aku sendirian di bukit? Lagipula tetangga di sekitar rumah dinasku ini lumayan guyub. Hmm... mari kita pikir-pikir lagi....
Selasa sore, waktu jalan dari kantor Omla menuju ke rumah, hujan rintik-rintik mulai turun. Karena belum terlalu besar, sampai rumah aku masih sempat cuci piring dengan ngambil air dari bak penampungan belakang. Tapi belum selesai membilas, ternyata hujannya membesar dan tak bisa ditanggulangi dengan payung kecil kami. Aku pun minggat.
Hujan makin besar. Kami pun nonton TV saja sambil browsing-browsing. Ketika kilat menyambar-nyambar, sempat mati lampu sebentar. Kemudian nyala lagi. Setelah itu kilat lagi, kali ini BTS-nya Telkomsel yang sepertinya error, karena sinyal GPRS/3G di BB dan di Tab hilang pada waktu yang bersamaan. Ndak lama muncul lagi.
Niatnya malam itu mau makan sisa krim sup, jangan lombok, dan teri gila saja. Tapi mau bergerak masak nasi saja malas karena hujannya besar. Lama-lama aku pusing. Pindah tiduran di kamar, di luar keliatannya Omla kelaparan dan mulai mengeluarkan makanan-makanan yang mau dipanaskan.
Tiba-tiba Omla masuk sambil heboh-heboh (jarang-jarang heboh gitu). Airnya masuk rumah katanya. Wualaaahh.... pusing langsung ilang. Kami pun sibuk menaik-naikkan barang-barang yang ada di lantai. Terutama alat-alat kelistrikan. Omla mengira airnya mau masuk dari halaman belakang, sudah berusaha menyumbat sana-sini, ternyata airnya malah masuk dari depan. Ealah... cabe deh...
Haha... oke deh, aku kan belum pernah kebanjiran sebelumnya, maka ini akan menjadi pengalaman baru...
Tapi... bentar deh... kayaknya sebenernya udah pernah? Tapi dimana ya? Setelah semua barang-barang aman pada tempatnya, dan setelah mencabuti semua alat listrik, bayangan gedung bengkok dengan segala tetek-bengek yang berserakan di lantai kembali dalam bayanganku. Whoooaaa!!!! Bener banget!! Aku pernah kebanjiran di Sekre PSM-ITB!!!
Semua sudut rumah kami (termasuk kamar tidur kami yang lantainya 1 inch lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya) kemasukan air yang kurang lebih setinggi mata kaki. Barang-barang ringan kami pun mulai kampul-kampul dan berjalan-jalan ke sana kemari. Omla dengan enaknya menggunakan sepatu safety, yeeeaaa.... bagemana dengan aku?! Ga punya safety shoes nih... belum dapet pembagian... Hmm... aku akhirnya menggunakan Crocs, meskipun airnya tetep masuk ke sepatu lewat atas. Tapi setidaknya aku gak takut sepatunya rusak dan kakiku pun gak langsung kena air banjir.
Sambil menunggu air surut, akhirnya kami meneruskan memasak. Beras baru setengah dicuci tadi. Omla mencuci pakai air dari dispenser, berusaha membuangnya di kamar mandi dalam, tapi aku bilang jangan, karena weks... di kamar mandi ada air masuk dari saluran pembuangan, itu air dari comberan tentunya, warnanya hitam. Aku gak pengen membayangkan beras yang aku makan pernah masuk ke ruangan itu. Akhirnya Omla membuang air cucian beras di.... tengah-tengah living room. Hahaha... lebih praktis bukan, toh ruang keluarganya juga sudah penuh air.
Kemudian kami memanaskan teri gila, menggoreng tempe (sudah sempat dibumbui oleh Omla sebelum air masuk), memanaskan sisa jangan lombok, dan memanaskan sisa sup krim ayam. Sambil menunggu nasinya masak, kami pun duduk di sofa ruang tengah, sambil menghabiskan tempe goreng yang baru matang, nonton TV dan ngadem di ruang tengah. Haha... unik juga nih, wong banjir kok masih bisa nyalain AC dan TV. Di luar, keliatannya hujannya sedikit bertambah besar. Hiks... kapan surutnya nih...
Setelah hujan berhenti, tak lama airnya surut. Kami pun bersama-sama menghalau air-air tersebut keluar rumah pakai sikat lantai kamar mandi dan sapu plastik. Ternyata lantai rumah itu tidak rata, lebih rendah di beberapa pojokan, termasuk di kamar belakang, jadi air menggenang di tempat-tempat tersebut. Tapi karena rumah kami gak pakai tanggul sama sekali, kami bisa dengan mudah mendorong air ke halaman.
Yang pertama kubersihkan adalah: kamar mandi. Iiihh... habis gak kebayang deh, kalo kamar mandinya jijay, terus gimana kalo mau ke WC... Ambil seember air bersih dari bak penampungan (yang alhamdulilah gak tercemar air banjir), terus lantai kamar mandi yang sekarang warnanya coklat itu aku semprot-semprot dulu dengan SOS. Baru setelah itu diguyur pakai air bersih itu. Bingo!! Langsung kinclong lagi tuh kamar mandi. Wangi lagi... Tinggal nyikatin bagian yang nyelip-nyelip.
Setelah dirasa lantai rumah kami cukup kering (padahal sebenernya masih basah, tapi yang penting gak terlalu becek aja), kami pun makan malam. Omla makan nasi, pake teri gila, dan jangan lombok (tempe sudah habis), sedangkan aku makan sup krim ayam langsung dari pancinya plus ditutup dengan sisa teri gila. Mungkin ini adalah keajaiban di tengah kesusahan ya, tapi sup krim ayam-nya jadi lebih enak dibandingkan waktu baru matang kemarin.
Sebelum tidur, cuci kaki dan cuci sepatu... hihihi... lucunya... baru kali ini tidur pake daster tapi melangkah sampe ke pinggir tempat tidur pake sepatu kantor. Omla malah pake safety shoes... Pas udah mau tidur hujan membesar lagi, tapi semoga tidak banjir lagi. Dan memang begitu adanya...
....sampe di keesokan harinya, aku berangkat agak telat, karena nungguin si mbak datang. Kasian si mbak, hari ini tugasnya berat: mengepel seluruh rumah, meskipun airnya sudah kami keluarkan semua semalam. Ealah... liat ke meja makan, ternyata Omla meninggalkan roti bakar jatah makan pagi. Akhirnya aku bermobil ke kantor EP dulu, mengantarkan roti. Dalam perjalanan, aku lihat di kantorku orang-orang lagi pada ngepel, di kantor Kodim orang-orang juga lagi bersih-bersih, terus di tengah jalan tiba-tiba ada sepotong sandal bagus. Hihihi... itu pasti sandal yang kampul-kampul kena banjir terus meninggalkan rumah pemiliknya.
Sampai di kantor Omla, ngobrol sebentar dengan teman-teman Omla, kemudian aku lanjut ke kantor. Ruanganku hanya kemasukan air sedikit sekali, barang-barang kami yang tergeletak di lantai selamat semua, tapi ruangan-ruangan di sebelah kiri ruanganku terendam semua ternyata. Setelah membaca koran, ternyata hampir seluruh kota Sorong kebanjiran, kecuali rumah-rumah yang berada di atas bukit.
Semalam pun Omla menawarkan untuk pindah ke rumah dinas kantor Omla yang di atas bukit. Hmm... tapi bagaimana kalau pas Omla dinas ya? Berarti aku sendirian di bukit? Lagipula tetangga di sekitar rumah dinasku ini lumayan guyub. Hmm... mari kita pikir-pikir lagi....
Banjiiiirrr….
Sorong banjir. Konon kata orang-orang karena air laut lagi pasang, sehingga air buangan dari selokan dan sungai itu nggak bisa mengalir dengan lancar.
Selasa sore, waktu jalan dari kantor Omla menuju ke rumah, hujan rintik-rintik mulai turun. Karena belum terlalu besar, sampai rumah aku masih sempat cuci piring dengan ngambil air dari bak penampungan belakang. Tapi belum selesai membilas, ternyata hujannya membesar dan tak bisa ditanggulangi dengan payung kecil kami. Aku pun minggat.
Hujan makin besar. Kami pun nonton TV saja sambil browsing-browsing. Ketika kilat menyambar-nyambar, sempat mati lampu sebentar. Kemudian nyala lagi. Setelah itu kilat lagi, kali ini BTS-nya Telkomsel yang sepertinya error, karena sinyal GPRS/3G di BB dan di Tab hilang pada waktu yang bersamaan. Ndak lama muncul lagi.
Niatnya malam itu mau makan sisa krim sup, jangan lombok, dan teri gila saja. Tapi mau bergerak masak nasi saja malas karena hujannya besar. Lama-lama aku pusing. Pindah tiduran di kamar, di luar keliatannya Omla kelaparan dan mulai mengeluarkan makanan-makanan yang mau dipanaskan.
Tiba-tiba Omla masuk sambil heboh-heboh (jarang-jarang heboh gitu). Airnya masuk rumah katanya. Wualaaahh.... pusing langsung ilang. Kami pun sibuk menaik-naikkan barang-barang yang ada di lantai. Terutama alat-alat kelistrikan. Omla mengira airnya mau masuk dari halaman belakang, sudah berusaha menyumbat sana-sini, ternyata airnya malah masuk dari depan. Ealah... cabe deh...
Haha... oke deh, aku kan belum pernah kebanjiran sebelumnya, maka ini akan menjadi pengalaman baru...
Tapi... bentar deh... kayaknya sebenernya udah pernah? Tapi dimana ya? Setelah semua barang-barang aman pada tempatnya, dan setelah mencabuti semua alat listrik, bayangan gedung bengkok dengan segala tetek-bengek yang berserakan di lantai kembali dalam bayanganku. Whoooaaa!!!! Bener banget!! Aku pernah kebanjiran di Sekre PSM-ITB!!!
Semua sudut rumah kami (termasuk kamar tidur kami yang lantainya 1 inch lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya) kemasukan air yang kurang lebih setinggi mata kaki. Barang-barang ringan kami pun mulai kampul-kampul dan berjalan-jalan ke sana kemari. Omla dengan enaknya menggunakan sepatu safety, yeeeaaa.... bagemana dengan aku?! Ga punya safety shoes nih... belum dapet pembagian... Hmm... aku akhirnya menggunakan Crocs, meskipun airnya tetep masuk ke sepatu lewat atas. Tapi setidaknya aku gak takut sepatunya rusak dan kakiku pun gak langsung kena air banjir.
Sambil menunggu air surut, akhirnya kami meneruskan memasak. Beras baru setengah dicuci tadi. Omla mencuci pakai air dari dispenser, berusaha membuangnya di kamar mandi dalam, tapi aku bilang jangan, karena weks... di kamar mandi ada air masuk dari saluran pembuangan, itu air dari comberan tentunya, warnanya hitam. Aku gak pengen membayangkan beras yang aku makan pernah masuk ke ruangan itu. Akhirnya Omla membuang air cucian beras di.... tengah-tengah living room. Hahaha... lebih praktis bukan, toh ruang keluarganya juga sudah penuh air.
Kemudian kami memanaskan teri gila, menggoreng tempe (sudah sempat dibumbui oleh Omla sebelum air masuk), memanaskan sisa jangan lombok, dan memanaskan sisa sup krim ayam. Sambil menunggu nasinya masak, kami pun duduk di sofa ruang tengah, sambil menghabiskan tempe goreng yang baru matang, nonton TV dan ngadem di ruang tengah. Haha... unik juga nih, wong banjir kok masih bisa nyalain AC dan TV. Di luar, keliatannya hujannya sedikit bertambah besar. Hiks... kapan surutnya nih...
Setelah hujan berhenti, tak lama airnya surut. Kami pun bersama-sama menghalau air-air tersebut keluar rumah pakai sikat lantai kamar mandi dan sapu plastik. Ternyata lantai rumah itu tidak rata, lebih rendah di beberapa pojokan, termasuk di kamar belakang, jadi air menggenang di tempat-tempat tersebut. Tapi karena rumah kami gak pakai tanggul sama sekali, kami bisa dengan mudah mendorong air ke halaman.
Yang pertama kubersihkan adalah: kamar mandi. Iiihh... habis gak kebayang deh, kalo kamar mandinya jijay, terus gimana kalo mau ke WC... Ambil seember air bersih dari bak penampungan (yang alhamdulilah gak tercemar air banjir), terus lantai kamar mandi yang sekarang warnanya coklat itu aku semprot-semprot dulu dengan SOS. Baru setelah itu diguyur pakai air bersih itu. Bingo!! Langsung kinclong lagi tuh kamar mandi. Wangi lagi... Tinggal nyikatin bagian yang nyelip-nyelip.
Setelah dirasa lantai rumah kami cukup kering (padahal sebenernya masih basah, tapi yang penting gak terlalu becek aja), kami pun makan malam. Omla makan nasi, pake teri gila, dan jangan lombok (tempe sudah habis), sedangkan aku makan sup krim ayam langsung dari pancinya plus ditutup dengan sisa teri gila. Mungkin ini adalah keajaiban di tengah kesusahan ya, tapi sup krim ayam-nya jadi lebih enak dibandingkan waktu baru matang kemarin.
Sebelum tidur, cuci kaki dan cuci sepatu... hihihi... lucunya... baru kali ini tidur pake daster tapi melangkah sampe ke pinggir tempat tidur pake sepatu kantor. Omla malah pake safety shoes... Pas udah mau tidur hujan membesar lagi, tapi semoga tidak banjir lagi. Dan memang begitu adanya...
....sampe di keesokan harinya, aku berangkat agak telat, karena nungguin si mbak datang. Kasian si mbak, hari ini tugasnya berat: mengepel seluruh rumah, meskipun airnya sudah kami keluarkan semua semalam. Ealah... liat ke meja makan, ternyata Omla meninggalkan roti bakar jatah makan pagi. Akhirnya aku bermobil ke kantor EP dulu, mengantarkan roti. Dalam perjalanan, aku lihat di kantorku orang-orang lagi pada ngepel, di kantor Kodim orang-orang juga lagi bersih-bersih, terus di tengah jalan tiba-tiba ada sepotong sandal bagus. Hihihi... itu pasti sandal yang kampul-kampul kena banjir terus meninggalkan rumah pemiliknya.
Sampai di kantor Omla, ngobrol sebentar dengan teman-teman Omla, kemudian aku lanjut ke kantor. Ruanganku hanya kemasukan air sedikit sekali, barang-barang kami yang tergeletak di lantai selamat semua, tapi ruangan-ruangan di sebelah kiri ruanganku terendam semua ternyata. Setelah membaca koran, ternyata hampir seluruh kota Sorong kebanjiran, kecuali rumah-rumah yang berada di atas bukit.
Semalam pun Omla menawarkan untuk pindah ke rumah dinas kantor Omla yang di atas bukit. Hmm... tapi bagaimana kalau pas Omla dinas ya? Berarti aku sendirian di bukit? Lagipula tetangga di sekitar rumah dinasku ini lumayan guyub. Hmm... mari kita pikir-pikir lagi....
Selasa sore, waktu jalan dari kantor Omla menuju ke rumah, hujan rintik-rintik mulai turun. Karena belum terlalu besar, sampai rumah aku masih sempat cuci piring dengan ngambil air dari bak penampungan belakang. Tapi belum selesai membilas, ternyata hujannya membesar dan tak bisa ditanggulangi dengan payung kecil kami. Aku pun minggat.
Hujan makin besar. Kami pun nonton TV saja sambil browsing-browsing. Ketika kilat menyambar-nyambar, sempat mati lampu sebentar. Kemudian nyala lagi. Setelah itu kilat lagi, kali ini BTS-nya Telkomsel yang sepertinya error, karena sinyal GPRS/3G di BB dan di Tab hilang pada waktu yang bersamaan. Ndak lama muncul lagi.
Niatnya malam itu mau makan sisa krim sup, jangan lombok, dan teri gila saja. Tapi mau bergerak masak nasi saja malas karena hujannya besar. Lama-lama aku pusing. Pindah tiduran di kamar, di luar keliatannya Omla kelaparan dan mulai mengeluarkan makanan-makanan yang mau dipanaskan.
Tiba-tiba Omla masuk sambil heboh-heboh (jarang-jarang heboh gitu). Airnya masuk rumah katanya. Wualaaahh.... pusing langsung ilang. Kami pun sibuk menaik-naikkan barang-barang yang ada di lantai. Terutama alat-alat kelistrikan. Omla mengira airnya mau masuk dari halaman belakang, sudah berusaha menyumbat sana-sini, ternyata airnya malah masuk dari depan. Ealah... cabe deh...
Haha... oke deh, aku kan belum pernah kebanjiran sebelumnya, maka ini akan menjadi pengalaman baru...
Tapi... bentar deh... kayaknya sebenernya udah pernah? Tapi dimana ya? Setelah semua barang-barang aman pada tempatnya, dan setelah mencabuti semua alat listrik, bayangan gedung bengkok dengan segala tetek-bengek yang berserakan di lantai kembali dalam bayanganku. Whoooaaa!!!! Bener banget!! Aku pernah kebanjiran di Sekre PSM-ITB!!!
Semua sudut rumah kami (termasuk kamar tidur kami yang lantainya 1 inch lebih tinggi dibandingkan ruangan lainnya) kemasukan air yang kurang lebih setinggi mata kaki. Barang-barang ringan kami pun mulai kampul-kampul dan berjalan-jalan ke sana kemari. Omla dengan enaknya menggunakan sepatu safety, yeeeaaa.... bagemana dengan aku?! Ga punya safety shoes nih... belum dapet pembagian... Hmm... aku akhirnya menggunakan Crocs, meskipun airnya tetep masuk ke sepatu lewat atas. Tapi setidaknya aku gak takut sepatunya rusak dan kakiku pun gak langsung kena air banjir.
Sambil menunggu air surut, akhirnya kami meneruskan memasak. Beras baru setengah dicuci tadi. Omla mencuci pakai air dari dispenser, berusaha membuangnya di kamar mandi dalam, tapi aku bilang jangan, karena weks... di kamar mandi ada air masuk dari saluran pembuangan, itu air dari comberan tentunya, warnanya hitam. Aku gak pengen membayangkan beras yang aku makan pernah masuk ke ruangan itu. Akhirnya Omla membuang air cucian beras di.... tengah-tengah living room. Hahaha... lebih praktis bukan, toh ruang keluarganya juga sudah penuh air.
Kemudian kami memanaskan teri gila, menggoreng tempe (sudah sempat dibumbui oleh Omla sebelum air masuk), memanaskan sisa jangan lombok, dan memanaskan sisa sup krim ayam. Sambil menunggu nasinya masak, kami pun duduk di sofa ruang tengah, sambil menghabiskan tempe goreng yang baru matang, nonton TV dan ngadem di ruang tengah. Haha... unik juga nih, wong banjir kok masih bisa nyalain AC dan TV. Di luar, keliatannya hujannya sedikit bertambah besar. Hiks... kapan surutnya nih...
Setelah hujan berhenti, tak lama airnya surut. Kami pun bersama-sama menghalau air-air tersebut keluar rumah pakai sikat lantai kamar mandi dan sapu plastik. Ternyata lantai rumah itu tidak rata, lebih rendah di beberapa pojokan, termasuk di kamar belakang, jadi air menggenang di tempat-tempat tersebut. Tapi karena rumah kami gak pakai tanggul sama sekali, kami bisa dengan mudah mendorong air ke halaman.
Yang pertama kubersihkan adalah: kamar mandi. Iiihh... habis gak kebayang deh, kalo kamar mandinya jijay, terus gimana kalo mau ke WC... Ambil seember air bersih dari bak penampungan (yang alhamdulilah gak tercemar air banjir), terus lantai kamar mandi yang sekarang warnanya coklat itu aku semprot-semprot dulu dengan SOS. Baru setelah itu diguyur pakai air bersih itu. Bingo!! Langsung kinclong lagi tuh kamar mandi. Wangi lagi... Tinggal nyikatin bagian yang nyelip-nyelip.
Setelah dirasa lantai rumah kami cukup kering (padahal sebenernya masih basah, tapi yang penting gak terlalu becek aja), kami pun makan malam. Omla makan nasi, pake teri gila, dan jangan lombok (tempe sudah habis), sedangkan aku makan sup krim ayam langsung dari pancinya plus ditutup dengan sisa teri gila. Mungkin ini adalah keajaiban di tengah kesusahan ya, tapi sup krim ayam-nya jadi lebih enak dibandingkan waktu baru matang kemarin.
Sebelum tidur, cuci kaki dan cuci sepatu... hihihi... lucunya... baru kali ini tidur pake daster tapi melangkah sampe ke pinggir tempat tidur pake sepatu kantor. Omla malah pake safety shoes... Pas udah mau tidur hujan membesar lagi, tapi semoga tidak banjir lagi. Dan memang begitu adanya...
....sampe di keesokan harinya, aku berangkat agak telat, karena nungguin si mbak datang. Kasian si mbak, hari ini tugasnya berat: mengepel seluruh rumah, meskipun airnya sudah kami keluarkan semua semalam. Ealah... liat ke meja makan, ternyata Omla meninggalkan roti bakar jatah makan pagi. Akhirnya aku bermobil ke kantor EP dulu, mengantarkan roti. Dalam perjalanan, aku lihat di kantorku orang-orang lagi pada ngepel, di kantor Kodim orang-orang juga lagi bersih-bersih, terus di tengah jalan tiba-tiba ada sepotong sandal bagus. Hihihi... itu pasti sandal yang kampul-kampul kena banjir terus meninggalkan rumah pemiliknya.
Sampai di kantor Omla, ngobrol sebentar dengan teman-teman Omla, kemudian aku lanjut ke kantor. Ruanganku hanya kemasukan air sedikit sekali, barang-barang kami yang tergeletak di lantai selamat semua, tapi ruangan-ruangan di sebelah kiri ruanganku terendam semua ternyata. Setelah membaca koran, ternyata hampir seluruh kota Sorong kebanjiran, kecuali rumah-rumah yang berada di atas bukit.
Semalam pun Omla menawarkan untuk pindah ke rumah dinas kantor Omla yang di atas bukit. Hmm... tapi bagaimana kalau pas Omla dinas ya? Berarti aku sendirian di bukit? Lagipula tetangga di sekitar rumah dinasku ini lumayan guyub. Hmm... mari kita pikir-pikir lagi....
Sup Krim Ayam
Habis migren, terus perut gak enak, pengen makan Chicken Cream Soup. Lari ke KFC Saga, ternyata mereka lagi gak jualan cream soup. Waks! Bahkan udah ngubek2 Saga, gak ada pula bubuk cream soup Knorr ataupun Maggi.
Sorenya... dengan bermodal bahan-bahan yang ada di rumah, aku pun membuat krim sup jadi-jadian...
-Pertama, bikin kaldu dulu pake air dan ayam-nya. Godok sampe mendidih. Terus matikan, angkat daging ayam-nya, potong kotak-kotak kecil.
Review:
Eniwei, setelah leftover-nya menginap 1 malam di dalam kulkas, ketika dipanaskan... supnya jadi lebih mantab rasa ayam-nya, jadi mirip beneran sama sup knorr atau maggi. Whhhuuaaa... we made it!!
Tapi tenang saja, kita kan MacGyver... tak ada rotan, akar pun jadi...
Sorenya... dengan bermodal bahan-bahan yang ada di rumah, aku pun membuat krim sup jadi-jadian...
Bahannya:
Air 1 liter
Ayam 1 ons (kurang malah kali ye)
Jamur Shiitake 4 buah, iris tipis-tipis
Susu UHT 200 ml
Pala bubuk 1/2 sdt
Merica bubuk 1/2 sdt
Bawang bombay 1/4 buah
Bawang putih 2 siung
Mentega/minyak goreng sedikit untuk menumis
Garam secukupnya
2 sendok makan tepung terigu + air 100 ml
-Pertama, bikin kaldu dulu pake air dan ayam-nya. Godok sampe mendidih. Terus matikan, angkat daging ayam-nya, potong kotak-kotak kecil.
-Bawang bombay dan bawang putih diiris tipis-tipis. Kemudian bawang2an itu ditumis dulu di wajan 24 cm kesayangan kami, setelah wangi tambahkan merica dan pala bubuk.
-Kemudian masukan ramuan ajaib itu ke kaldu ayam. Rebus lagi deh sampe mendidih. Jangan lupa masukkan ayam dan jamurnya. Dan garam sesuai selera.
-Setelah mendidih, masukkan susu UHT. Tunggu mendidih lagi.
-Kemudian masukkan tepung terigu yang sudah dilarutkan ke air 100 ml.
-Aduk-aduk sampai mengental.
-Sajikan hangat-hangat.
Review:
Taste-nya sih sudah ke jalan yang benar, meskipun rasa ayamnya masih kurang mantab. Kalau yang gak anti kaldu bubuk, silakan tambah kaldu blok rasa ayam. Sedangkan kalo yang anti, mungkin dalam pembuatan kaldu bisa menggunakan ceker/tulang ayam, daging ayam-nya dipisah saja, sehingga penggodokan bisa lebih lama tanpa khawatir daging ayam-nya hancur.
Jamur shiitake-nya gak nyambung dengan supnya ternyata, kalau mau pakai jamur, mending pakai jamur merang alias champignon (yang suka ada kalengannya itu loh).
Jamur shiitake-nya gak nyambung dengan supnya ternyata, kalau mau pakai jamur, mending pakai jamur merang alias champignon (yang suka ada kalengannya itu loh).
Eniwei, setelah leftover-nya menginap 1 malam di dalam kulkas, ketika dipanaskan... supnya jadi lebih mantab rasa ayam-nya, jadi mirip beneran sama sup knorr atau maggi. Whhhuuaaa... we made it!!
Sup Krim Ayam
Habis migren, terus perut gak enak, pengen makan Chicken Cream Soup. Lari ke KFC Saga, ternyata mereka lagi gak jualan cream soup. Waks! Bahkan udah ngubek2 Saga, gak ada pula bubuk cream soup Knorr ataupun Maggi.
Sorenya... dengan bermodal bahan-bahan yang ada di rumah, aku pun membuat krim sup jadi-jadian...
-Pertama, bikin kaldu dulu pake air dan ayam-nya. Godok sampe mendidih. Terus matikan, angkat daging ayam-nya, potong kotak-kotak kecil.
Review:
Eniwei, setelah leftover-nya menginap 1 malam di dalam kulkas, ketika dipanaskan... supnya jadi lebih mantab rasa ayam-nya, jadi mirip beneran sama sup knorr atau maggi. Whhhuuaaa... we made it!!
Tapi tenang saja, kita kan MacGyver... tak ada rotan, akar pun jadi...
Sorenya... dengan bermodal bahan-bahan yang ada di rumah, aku pun membuat krim sup jadi-jadian...
Bahannya:
Air 1 liter
Ayam 1 ons (kurang malah kali ye)
Jamur Shiitake 4 buah, iris tipis-tipis
Susu UHT 200 ml
Pala bubuk 1/2 sdt
Merica bubuk 1/2 sdt
Bawang bombay 1/4 buah
Bawang putih 2 siung
Mentega/minyak goreng sedikit untuk menumis
Garam secukupnya
2 sendok makan tepung terigu + air 100 ml
-Pertama, bikin kaldu dulu pake air dan ayam-nya. Godok sampe mendidih. Terus matikan, angkat daging ayam-nya, potong kotak-kotak kecil.
-Bawang bombay dan bawang putih diiris tipis-tipis. Kemudian bawang2an itu ditumis dulu di wajan 24 cm kesayangan kami, setelah wangi tambahkan merica dan pala bubuk.
-Kemudian masukan ramuan ajaib itu ke kaldu ayam. Rebus lagi deh sampe mendidih. Jangan lupa masukkan ayam dan jamurnya. Dan garam sesuai selera.
-Setelah mendidih, masukkan susu UHT. Tunggu mendidih lagi.
-Kemudian masukkan tepung terigu yang sudah dilarutkan ke air 100 ml.
-Aduk-aduk sampai mengental.
-Sajikan hangat-hangat.
Review:
Taste-nya sih sudah ke jalan yang benar, meskipun rasa ayamnya masih kurang mantab. Kalau yang gak anti kaldu bubuk, silakan tambah kaldu blok rasa ayam. Sedangkan kalo yang anti, mungkin dalam pembuatan kaldu bisa menggunakan ceker/tulang ayam, daging ayam-nya dipisah saja, sehingga penggodokan bisa lebih lama tanpa khawatir daging ayam-nya hancur.
Jamur shiitake-nya gak nyambung dengan supnya ternyata, kalau mau pakai jamur, mending pakai jamur merang alias champignon (yang suka ada kalengannya itu loh).
Jamur shiitake-nya gak nyambung dengan supnya ternyata, kalau mau pakai jamur, mending pakai jamur merang alias champignon (yang suka ada kalengannya itu loh).
Eniwei, setelah leftover-nya menginap 1 malam di dalam kulkas, ketika dipanaskan... supnya jadi lebih mantab rasa ayam-nya, jadi mirip beneran sama sup knorr atau maggi. Whhhuuaaa... we made it!!


